JAKARTA, INDONESIA — Sistem penentuan waktu yang digunakan di seluruh dunia berpotensi mengalami perubahan besar. Para ahli pengukuran internasional tengah membahas rencana untuk menghentikan penggunaan leap second atau detik kabisat, penyesuaian satu detik yang selama ini digunakan untuk menjaga kesesuaian antara waktu atom dan rotasi Bumi.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam pertemuan Konferensi Umum untuk Ukuran dan Timbangan (CGPM) di Versailles, Prancis, pada Oktober 2026. Jika usulan disetujui, sistem waktu universal terkoordinasi atau Coordinated Universal Time (UTC) akan beralih menuju sistem yang lebih berkesinambungan, dengan penerapan yang diusulkan mulai 20 Mei 2027.
Perubahan ini bukan berarti jam sehari-hari akan langsung bergerak lebih cepat atau lebih lambat. Tujuan utamanya adalah mengurangi penyesuaian waktu mendadak yang berpotensi mengganggu sistem digital, jaringan komunikasi, navigasi satelit, dan infrastruktur lain yang memerlukan pencatatan waktu sangat presisi.
Apa Itu Leap Second dan Mengapa Digunakan?
Leap second adalah penambahan satu detik pada skala waktu UTC ketika perbedaan antara waktu atom dan waktu berdasarkan rotasi Bumi mendekati batas yang telah ditetapkan.
Jam atom mengukur waktu dengan tingkat kestabilan sangat tinggi berdasarkan sifat atom. Sementara itu, waktu astronomis berkaitan dengan rotasi Bumi dan posisi Matahari. Kedua sistem tersebut tidak selalu bergerak dengan kecepatan yang sama.
Rotasi Bumi Tidak Selalu Berlangsung dengan Kecepatan Konstan
Satu hari secara umum dikenal sebagai 24 jam, tetapi rotasi Bumi tidak benar-benar seragam. Berbagai faktor, termasuk dinamika inti Bumi, pergerakan atmosfer, dan interaksi dengan lautan, dapat memengaruhi kecepatan rotasi planet.
Karena itu, waktu yang dihitung berdasarkan jam atom secara bertahap dapat berbeda dari waktu yang ditentukan berdasarkan rotasi Bumi. Leap second sebelumnya digunakan untuk menjaga agar selisih tersebut tetap berada dalam batas yang telah disepakati secara internasional.
Sejak sistem ini diperkenalkan pada 1972, sebanyak 27 detik kabisat telah ditambahkan. Penambahan terakhir berlangsung pada akhir Desember 2016.
Mengapa Para Ahli Ingin Menghapusnya?
Penyesuaian satu detik tampak kecil bagi manusia, tetapi dapat menjadi persoalan bagi perangkat lunak dan sistem digital yang mengandalkan urutan waktu secara konsisten.
Berbagai sistem memiliki cara berbeda untuk menangani detik kabisat. Perbedaan implementasi ini dapat menimbulkan kesalahan pencatatan waktu, gangguan layanan, atau masalah sinkronisasi apabila perangkat lunak tidak dirancang untuk menghadapinya.
Pada 2022, negara-negara anggota CGPM telah menyepakati arah kebijakan untuk memperbesar batas selisih antara UTC dan waktu rotasi Bumi pada atau sebelum 2035. Pertemuan pada Oktober 2026 membahas langkah lanjutan untuk menerapkan perubahan tersebut lebih awal.
Mengapa Perubahan Sistem Waktu Penting bagi Teknologi?
Waktu yang akurat menjadi fondasi bagi berbagai teknologi modern. Sistem keuangan, pusat data, jaringan telekomunikasi, dan navigasi satelit bergantung pada penanda waktu yang konsisten untuk mengurutkan transaksi, mengoordinasikan komunikasi, dan menentukan posisi.
Dampak terhadap Jaringan Komputer dan Transaksi Digital
Banyak aplikasi digital memerlukan pencatatan waktu hingga pecahan detik yang sangat kecil. Ketika sebuah detik ditambahkan secara mendadak, sistem yang tidak menangani perubahan tersebut dengan benar dapat mengalami ketidaksesuaian waktu.
Gangguan semacam ini pernah dikaitkan dengan masalah pada layanan komputer dan situs web ketika detik kabisat diterapkan pada 2012. Pengalaman tersebut memperkuat kekhawatiran industri teknologi terhadap penyesuaian waktu yang tidak berlangsung secara kontinu.
Menghapus penyesuaian mendadak berpotensi menyederhanakan pengelolaan waktu pada infrastruktur digital. Namun, perubahan aturan juga membutuhkan perencanaan agar perangkat lunak, standar teknis, dan sistem distribusi waktu dapat menyesuaikan diri.
Peran GPS dan Sistem Navigasi Satelit
Sistem navigasi satelit memerlukan pengukuran waktu yang sangat presisi untuk memperkirakan jarak antara satelit dan penerima di Bumi. Kesalahan waktu yang kecil pun dapat memengaruhi perhitungan posisi.
GPS Amerika Serikat dan Galileo milik Uni Eropa memiliki pendekatan teknis yang berbeda dalam pengelolaan waktu dibandingkan beberapa sistem navigasi lain. Karena itu, perubahan standar internasional memerlukan koordinasi antarlembaga agar tidak menimbulkan ketidakselarasan baru.
Mengapa Rotasi Bumi yang Lebih Cepat Mempercepat Perdebatan?
Dalam jangka panjang, rotasi Bumi cenderung melambat. Namun, pengamatan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan periode ketika Bumi berputar relatif lebih cepat daripada rata-rata jangka panjangnya.
Perubahan ini memunculkan kemungkinan bahwa sistem waktu suatu saat memerlukan negative leap second, yakni pengurangan satu detik alih-alih penambahan. Penyesuaian seperti itu belum pernah diterapkan dan dapat menimbulkan tantangan teknis yang lebih besar bagi sistem yang belum siap.
Risiko Detik Kabisat Negatif
Sebagian ahli menilai bahwa menghilangkan satu detik dari urutan waktu berpotensi lebih sulit ditangani oleh perangkat lunak daripada menambahkan satu detik. Sistem yang mengasumsikan waktu selalu berjalan melalui urutan tertentu perlu diuji untuk memastikan tidak terjadi kesalahan.
Namun, tidak semua ilmuwan sepakat bahwa penghapusan leap second merupakan pilihan terbaik. Sebagian ahli berpendapat bahwa mempertahankan hubungan yang dekat antara waktu resmi dan rotasi Bumi memiliki nilai ilmiah dan praktis.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa perubahan sistem waktu bukan hanya persoalan teknologi, melainkan juga keputusan mengenai bagaimana masyarakat mempertahankan hubungan antara jam modern dan fenomena alam.
Apa yang Akan Berubah bagi Masyarakat?
Jika usulan tersebut disetujui dan diterapkan sesuai jadwal, masyarakat kemungkinan tidak akan melihat perubahan langsung pada jam tangan atau jam di ponsel. Jam sehari-hari tetap mengikuti zona waktu yang berlaku di masing-masing negara.
Perubahan utama akan berlangsung pada aturan teknis yang digunakan untuk menjaga hubungan antara UTC dan rotasi Bumi. Dengan memberi ruang bagi selisih waktu yang lebih besar sebelum diperlukan penyesuaian, para ahli berharap skala waktu internasional dapat dipertahankan secara lebih kontinu selama jangka panjang.
Apakah Leap Second Akan Digantikan Leap Hour?
Salah satu gagasan yang dibahas adalah membiarkan selisih antara waktu atom dan waktu rotasi Bumi bertambah hingga mencapai batas yang lebih besar, berpotensi setara dengan satu jam. Dalam pemberitaan, pendekatan ini terkadang disebut sebagai leap hour.
Istilah tersebut tidak berarti jam sehari-hari akan langsung ditambah satu jam. Konsepnya adalah memperbesar batas selisih yang diizinkan sebelum koreksi besar mungkin diperlukan, sehingga penyesuaian tidak perlu dilakukan setiap beberapa tahun.
Besaran batas baru, prosedur penerapan, dan aturan teknis terkait harus mengikuti keputusan resmi serta standar internasional yang ditetapkan.
Keputusan Internasional Menentukan Masa Depan Waktu Dunia
Pertemuan para ahli pengukuran internasional di Versailles menjadi tahap penting dalam menentukan masa depan sistem UTC. Jika usulan perubahan disetujui, lembaga pemerintah, penyedia layanan teknologi, dan operator infrastruktur penting harus memastikan sistem mereka siap mengikuti standar baru.
Bagi masyarakat umum, dampaknya mungkin tidak langsung terasa. Namun, bagi industri yang bergantung pada sinkronisasi waktu berpresisi tinggi, perubahan tersebut dapat menentukan bagaimana transaksi, komunikasi, dan navigasi berlangsung pada masa mendatang.
Perkembangan berikutnya bergantung pada hasil keputusan resmi dan proses implementasinya. Hingga hasil tersebut dikonfirmasi, penghapusan leap second mulai 2027 tetap harus diperlakukan sebagai perubahan yang diusulkan, bukan sebagai kebijakan yang sudah berlaku.
Comment