Kami persilakan kepada Saudara Menteri Kesehatan untuk bisa menyampaikan paparannya. Mudah-mudahan tidak lebih dari 20 menit ya, Pak Menteri. Ya. Ya, dipersilakan. Terima kasih, Bapak Ibu pimpinan anggota dewan yang kami hormati. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya didampingi sama Pak Wamen Dr. Benny karena beliau ini di kita nanti yang pegang apa? Penyakit menular. Jadi mungkin nanti kalau ada tambahan beliau bisa menambahkan dan juga lebih ahli daripada saya l mengenai penyakitnya
karena beliau praktik juga. Langsung aja ke yang capak. Jadi memang capak ini virusnya sudah lama Bapak Ibu dan merupakan penyakit menular yang penularannya paling tinggi. Kita ngomongnya reproduction rate-nya. Jadi kalau COVID dulu di awal-awal satu orang nularin tiga, nularin empat, waktu omikron bisa 8 gitu ya. Nah, campak ini satu orang bisa nularin sampai 18 ya. Katanya sih rata-rata 15. Jadi ini penyakit yang di seluruh dunia penyakit menular yang paling menular ya. paling menular dia obatnya juga sudah ada
maksudnya treatmennya sudah ada efektif dan biasanya enggak mematikan. Dia mematikan karena ada efek sampingnya biasanya bisa infeksi di paru atau infeksi juga di otak gitu ya. Jadi meninggalnya karena efek samping dari penyakit ini sendiri. Sama seperti COVID juga meninggalnya karena efek samping dari antibodinya kita terhadap ee virus itu ya. Nah, dia sudah ada vaksinnya sama seperti COVID. Jadi hampir semua penyakit menular begitu sudah ada vaksinnya harusnya bisa tangani. Jadi kalau ada outbreakoutbreak
itu sudah hampir pasih karena vaksinasinya enggak berjalan dengan baik. Nah, itu yang kita alami juga di campak ini ya. Jadi sekali lagi dia adalah penyakit menular yang sudah lama. Ini penyakit menular yang paling tinggi penularannya. Kemudian sebenarnya tidak apa istilahnya tidak semematikan penyakit seperti ebola atau even tuberkulosis. Dan penyebab pematiannya adalah karena efek sampingnya. Karena efek sampingnya. Nah, yang kedua di halaman berikutnya kita juga lihat kalau dari data di dunia
campak itu kok lucu seakan musimannya. Jadi kalau nanti kita bicara denggi, denggi itu benar-benar ada musiman tergantung dari elnina tuh elnino. Elnino. Kalau jadi elnino naik dan naik tuh jadi musiman. ini campak kelihatannya juga seperti itu. Jadi di seluruh dunia di awal tahun selalu tinggi. Jadi saya sempat tanya-tanya apakah ada dampak musim atau cuaca? Ternyata tidak. Itu dampaknya karena mobilitas. Jadi di seluruh dunia tuh awal tahun biasanya nih anak-anak sekolah mulai sekolah. Nah, di situlah
penularan terjadi karena penularannya cepat. Ya, itu juga yang terjadi di awal tahun ini. Tapi kita lihat memang selalu naik dan tingginya justru di daerah negara dingin. Karena kalau di Januari juga karena dingin orang jadi ngumpulnya dekat-dekatan gitu. Kalau di kita kan lebih main di luar enggak enggak hanya ngumpul di satu ruangan tertentu sehingga pada saat dekat-dekat musim dingin biasanya terjadi kenaikan juga dari campak ya. Jadi ini lebih kepada mobilitas. Kenapa terjadi penularan ini gitu ya. Nah, di halaman selanjutnya
kita lihat yang terjadi di Indonesia. Jadi sama Indonesia biasanya sedang tapi kemudian di 2025 naik akhir tahun di awal tahun mungkin anak-anak sekolah ini penyebarannya tinggi jadi naik ya penularannya tinggi. Nah, bagaimana kita merespon? Karena responnya efektif sama seperti COVID. Kita tahu begitu penyakit menular ada vaksinnya turun langsung. Nah, kita juga tahu campak ini sudah ada vaksinnya. Cuma masalahnya waktu COVID sempat bergeser fokus kita memvaksinasi COVID sehingga banyak orang tua yang
kemudian lewat campaknya. Karena campak ini vaksinasinya kalau saya enggak salah nanti harus tiga kali. Dan yang kedua memang ini ada isu halal haram vaksin ini. Jadi sempat sempat ramai dan agak susah masuknya. Walaupun saya sebagai orang Islam juga, saya juga ngerti bahannya yang diramaikan itu sama dengan bahan yang dipakai di vaksin meningitis. Jadi meningitis kan disuntikkan untuk setiap orang yang wajib umrah dan haji. Jadi kalau kita ngomong, “Wah, ini bahannya gimana gitu ya.” Artinya meningitis
kalau ini enggak enggak boleh disutikan, artinya semua oleh orang tua ke anaknya. Artinya semua orang tua yang mau naik yang mau naik haji umrah ya dia disuntikan dengan bahan yang sama juga dengan yang dipakai di vaksin campak rubela ini ya. Jadi memang ada beberapa vaksin yang masih membutuhkan bahan tertentu. Nah, sebagai outons-nya apa yang kita lakukan di Almen? Kita langsung lakukan ori. Jadi ori itu outback respon immunization. Begitu daerah-daerah yang tinggi langsung udah disuntik apa enggak disuntik, kita
suntik sekali lagi anak-anaknya ya. Langsung kita sapu bersih aja lah. Kita sapu bersih. Ini sama seperti polio kemarin pada saat outbreak. Jadi ini adalah 10 kabupaten kota yang paling tinggi kasusnya. Semua anak-anaknya kita suntikin. Progresnya hasilnya juga sudah mulai baik. Di halaman selanjutnya kita lihat nih sudah terjadi penurunan ya. Jadi begitu imunisasinya naik langsung kasusnya menurun di anak-anak. Dan sekali lagi susahnya apa? Susahnya hanya meyakinkan orang tua bahwa anaknya divaksinasi.
Ya. Jadi dengan adanya beberapa kasus yang anaknya meninggal itu secara berita membantu kita tuh. Kenapa? Karena orang tuanya jadi lebih apa? lebih ingin anaknya divaksinasi. Karena masalah utama di Campak Rubela ini adalah golongan yang tidak percaya vaksinasi itu besar sekali ya. Padahal ini justru yang mematikan ee anak-anak kita ya. Jadi itu sudah menurun sekarang. Nah, kemarin yang sempat di yang di Cianjur ya eh di mana yang kita kena tuh ada satu dokter dokter spesialis anak yang kena ya yang
kena tapi kita sudah audit kita bisa bilang bahwa yang bersangkutan benar kena kena campak tapi memang karena telat dirawat di rumah sakit karena dia mengobati dirinya sendiri meninggalnya itu lebih karena itu karena keluarganya juga dokter ya jadi dirawat di keluarganya enggak dikirim ke rumah sakit begitu dikirim ke rumah sakit kondisinya sudah terlambat ya. Sehingga melihat itu kita juga selain anak-anak yang kita ori, kita juga suntikan ini ke semua tenaga medis dan kesehatan. Ini ada proses
sedikit karena memang vaksin campak itu indikasinya di awal hanya diberikan ke anak-anak. Tapi karena kita melihat kemarin ada kejadian, kita minta BPOM supaya dibuka, diberikan juga ke ee orang dewasa terutama tenaga kesehatan. Karena sekali lagi ini kan penyakit yang menular ya, penyakit yang menularnya cepat. Sehingga sekarang kita sudah jalankan sekarang kita sedang sisir tuh semua tenaga kesehatan untuk disuntikkan cap. Nah, itu yang mencampak Bapak Ibu. Sekarang kita yang denggi ini biar biar
cepat ya. Nah, denggi ini sama ini juga virus. Cuma kalau campak nularinya lewat droplet sama seperti COVID kalau ngomong bicara kemudian ada ee ludahnya apa ininya dropletnya keluar itu nular. Kalau ini tularinnya lewat nyamuk ya. Kita ada dua, ada yang satu malaria, yang satu denggi lah. Sama ini virus eh satu parasit, satu virus yang ditularkan lewat nyamuk. Nah, ini penularannya di bawah campak. Kalau campak tadi 12 sampai 18, rata-rata 15, ini 2 sampai 10 deh. Mungkin rata-ratanya 5 sampai 6.
Jadi satu orang nularin 5 sampai 6. Itu namanya reproduction rate-nya dan memang terjadi lebih di perkotaan ya karena nyamuknya denggi beda dengan nyamuk malaria. Kalau nyamuk malaria itu banyak di daerah-daerah yang masih banyak hutannya, desa gitu ya. Kalau denggi ini banyaknya justru di perkotaan. Nah, denggi ini sebenarnya kalau dari sisi sama seperti campak, treatmennya juga sudah ada. Jadi, dokter-dokter kita sudah tahu bagaimana cara merawat denggi sama cara merawat campak. Jadi, harusnya
kematiannya tuh bisa ditekan sekali rendah ya. Dan kasusnya dia ada seasonality-nya. Ini benar-benar mengikuti polanya Elnodo. E, saya enggak bawa chartnya di sini. Tapi kalau Bapak Ibu yang anggota lama pernah kita presentasikan dulu, denggi itu ngikutin Elnino. Begitu dia ada langsung naik. Karena ini benar-benar tergantung dari cuaca. Ya, saya kasih gambaran aja ke Ibu ya, Bapak Ibu nih untuk nasional ya. Kalau TBC setahun yang kena R1 juta. HIV Rp570.000, malaria R52.000, denggi itu Rp150.000.
Jadi kalau dari campak di bawah itu sebenarnya kayak tadi ya, campak itu kan ordennya kalau penularan di Indonesia paling ribuan enggak sampai enggak sampai 10.000 ya. Tapi kalau yang ratus-ratus ribu itu ranking satunya tuh TBC yang kena tuh se tahun R juta. HIV R570.000 malaria 522 denggi 151. Nah, tapi kalau dari kematian TBC tetap paling tinggi 126. HIV nomor 2 tetap. Nah, malaria 132 denggi lebih tinggi dari Male ya. Jadi kalau dari urut-urutan apa yang kena TB R1 juta, HIV ee HIV 570, malaria 522.000 setahun,
denggi 151. Tapi kalau dari kematian denggi sama malaria tukeran. Denggi lebih di atas ya. Denggi lebih di atas dari malaria. Nah, kalau kita lihat denginya kita relatif lebih baik, lebih terkontrol di tahun 2026 ini dibandingkan tahun 2025. Kita sempat puncaknya saya lupa tuh 2024 atau 2023 pada saat Elno. Itu tinggi sekali ya dan pada naik itu seluruh dunia kena seluruh dunia kena terutama di Amerika Selatan. di halaman berikutnya ini sebarannya ini kota-kota dengan insiden rate tertinggi. Nah, kalau ini memang harus ada
modifikasi dari vektornya dan lingkungannya terutama ya. Sedangkan yang di halaman berikutnya adalah kota-kota dengan kematian tertinggi. Nah, ini intervensinya adalah bagaimana kita memperbaiki rumah sakit-rumah sakit di daerah-daerah ini supaya bisa merawat dengan baik. Karena harusnya sih denggi itu kalau dirawat dengan baik tidak akan menjadi denggi syok atau yang benar-benar apa jadi kayak demam berdarah kemudian perdarahan keluar itu harusnya bisa tetangani. Dan dokter-dokter kita sudah pengalaman.
Saya ingat waktu saya dulu masih di perbankan ada satu di rout perusahaan terbuka besar Indonesia kena dengki dibawa ke Singapura malah meninggal. Karena di sana kan enggak mereka enggak biasa menangani penyakit ini ya. Jadi feelingnya enggak tahu. Kalau dokter-dokter di Indonesia harusnya sudah tahu. Nah, seperti yang saya sampaikan tadi, denggi ini caranya intervensinya lingkungan dan nyamuknya. Vaksinnya udah ada? Ada. Kalau ditanya, “Pak, sudah ada kenapa enggak dimasalkan aja seperti ee campak ya?” Karena kita
melihatnya itu tadi penyakit menular yang paling tinggi ee prevalensi sama kematian itu TBC. Ya, itu sebabnya kita kejar dulu. Karena kan nambah vaksin ini enggak populer juga. Ibu-ibu enggak senang tuh kalau tiap anaknya kemudian vaksin nambah lagi, vaksin nambah lagi, beritanya di luar juga enggak baik. Jadi, mendingan kalau kita nambah vaksin, kita berikan strateginya ke penyakit menular yang paling banyak prevalensinya dan paling berat fatality rate-nya, which is kita sudah lihat nomor satu TBC. Karena vaksin TBC itu
sebentar lagi mungkin sudah available. Jadi kalau kita suruh milih apakah kita kasih TBC atau dengki, kita kasihnya TBC dulu ya. Karena kematiannya dan ee prevalensinya paling besar. Nah, sekarang baru masuk ke program vaksinasi nasional. Bapak, Ibu saya masuk jadi MKAS tuh vaksinasi kita kemudian ternyata agak membingungkan juga tuh halaman 17 ya. Jadi ada vaksinasi imunisasi bayi lengkap. Bayi itu di bawah 2 tahun ya. Eh ya eh bayi lengkap tuh bayi sampai sampai 11 12 bulan ya 1 tahun. Kemudian ada
imunisasi baduta lengkap jadi 12 sampai 24 bulan ada imunisasi dewasa itu dari sisi usianya tuh kan. Nah tapi selain itu ada juga imunisasi berdasarkan antigen. Antigennya kita ada 13 ya sekarang ya? 14. Jadi ada 14 kita suntikan ya, ada nama program gitu kan, ada bias, ada apa segala macam namanya lah. Nah, tapi kira-kira kalau kita lihat dari usia, nah ini vaksinasi yang kita berikan ya. Jadi emang saya kebayang sih ibu-ibu tuh kalau divaksinasi kan ada demam, anaknya kadang-kadang sakit. Jadi kekhawatiran
mereka dengan makin banyak yang vaksinasi itu kita bisa pahami. Kita bisa pahami ya. Ya. Tapi vaksinasi ini secara ilmiah sudah terbukti sebagai jenis intervensi kesehatan preventif yang efektivitasnya tinggi sekali. Jadi costnya murah tapi benar-benar mengurangi nyawa atau menghilangkan ee insiden penyakit ya. Kita sudah lihat di cacar cacar air gitu ya. Kemudian lihat di ditferi waktu itu juga tetanus semuanya tuh benar-benar COVID. Begitu vaksinnya ketemu langsung kasusnya turun jauh ya. Langsung kasusnya turun jauh.
Nah, ini juga sekarang yang mendapat banyak sekali serangan dari beberapa kelompok orang-orang yang anti vaksin ya. Orang yang anti vaksin. Nah, padahal ini sudah terbukti di seluruh dunia adalah program intervensi kesehatan yang paling efektif. Nah, kalau kita lihat ini cakupannya memang saya sih enggak enggak apa lihat masih banyak PR-nya lah. Masih banyak PR-nya walaupun di berapa provinsi sudah membaik. Ini kan ini angka triwulan 1. Jadi kalau kita maunya 100% tercapai dalam 12 bulan, sebulan itu harusnya 8%.
Jadi kalau 3 bulan harusnya 24%-an lah ya. Nah, ini kita lihat provinsi mana saja yang sudah capai angka itu ya. Dan karena ini memang dilakukannya di level Pusesmas, kita harus pintar-pintar memobilisasi teman-teman di pemda ni ya. Jadi kita lihat memang secara agregat nasional imunisasi kita dari 24% baru 11 10 11%-an sekarang. Nah, itu PR-nya kita tuh. Nah, kalau yang kita lihat tapi balik lagi itu yang di balita baduta yang dilakukan di pusat. Tapi kalau yang dilakukan di anak sekolah kita lihat
hasilnya bagus ya. Itu sebabnya kalau anak sekolah tuh 91%-an. Karena lebih mudah karena anaknya ngumpul jadi satu ada di sana langsung disuntikin. Nah, kalau anaknya belum sekolah yang tadi tuh bayi baru lahir atau baru 2 tahun itu cara vaksinasi melalui Puskesus Mas emang jauh lebih berat gitu dibandingkan dengan kita imunisasinya masuk ke sekolah ya. Kemudian sesudahnya kita ada juga yang dewasa. Yang dewasa ini banyak terutama didukung sesudah HPV kita jalankan. Karena ini kan buat wanita balik lagi
ini sangat efektif melindungi dari kanker servic. Jadi seluruh dunia tuh kanker servix kematiannya turun di Indonesia kematiannya naik. Kenapa? Karena memang belum HPV itu diluncurkan secara nasional. Sekarang sudah kita luncurkan ke secara nasional untuk usia 1011. Sekarang sudah dikejar juga 1516. Rencananya kita mau naik ke 2021 yang belum sempat diimunisasi dan tahun depan kita mau ke laki-laki ya. Oh, tahun ini tahun ini kita mau juga ke laki-laki. Kenapa laki-laki adalah cariernya, pembawanya gitu. Jadi mereka bisa
menularkan ke wanita, tapi mereka tidak akan kena kan aker servix karena memang enggak punya servixnya. Tapi dia yang menularkan. Dan kita lihat di seluruh dunia kalau yang disuntik laki dan wanita, si wanitanya merasa lebih nyaman gitu. Karena disuntik enggak enggak mereka sendiri gitu disuntik juga dengan teman-teman yang laki-laki ya. Nah, kemarin diceritain, “Wah, ini kenapa nih Indonesia sudah lama sekali campaknya masih enggak hilang-hilang?” Sesudah kita lihat, ya emang vaksinasi
campak kita justru baru membaik sesudah COVID, ya. Justru baru membaik sesudah COVID. Sebelumnya emang rendah. Itu sebabnya kenapa kejadian gitu. Kenapa banyak kejadian? Tapi sebelumnya memang ee imunisasi campaknya kita rendah t saya ngejar-ngejar ni teman-teman Kemenkes teman-teman bilang, “Pak, kita justru lebih baik dibandingkan dulu gitu ininya ee imunisasinya. Cuma dampak yang dulu ini yang tidak memproteksi anak-anak kita, ya. Tidak memproteksi anak-anak kita. Nah, kita juga sekarang
sudah jauh lebih agresif karena sekarang kan anak-anak lihatnya di medsos gitu ya. Jadi sekarang kita campaign-nya tuh benar-benar dilakukan di medsos dan balik lagi ini terjadi apa perdebatan yang cukup ramai juga kalau Bapak Ibu lihat gitu kan saya sendiri ikut beberapa WA grup udah di inikan aja kalau enggak di imunisasi enggak boleh masuk sekolah wah itu pembela pendidikan marah semua gitu kan bilang itu hak asasi manusia jangan kita memenuhi hak asasi kesehatan tapi hak asasi pendidikan di diabaikan itu perdebatan
ini mengenai mengenai imunisasi emang makin ke sini makin ramai itu di sosial media ya. Tapi kita benar-benar sekarang mendorong dan kita pakai juga ee dokter-dokter anak ya untuk lebih dorong walaupun memang setelah kita lihat harusnya memang orang umum karena kadang-kadang dokter anak terlalu terlalu saentific menjelaskannya sehingga yang nge-like-nya atau forward-nya sedikit ya setelah kita amati. Jadi memang kita harus pakai juga beberapa orang-orang yang memang bisa membicarakannya dengan bahasa yang
gampang dimengerti oleh terutama ibu dan bapak. Jadi yang ngelarang anaknya diimunisasi itu bapaknya juga ada gitu. J saya kadang-kadang juga baru sadar begitu ngelihat oh bapaknya enggak dikasih, bapaknya baru mengizinkan sesudah dia anaknya ada yang kena atau meninggal. Nah, biasanya bapaknya tuh kadang-kadang ini butuh ada ada yang dari PKB gitu ya. Karena ini ada isu mengenai halal haram ya. Padahal saya juga bisa bilang barang yang dipakai haram di campak, vaksin campak itu sama dengan bahan yang dipakai di ibu ini di
meningitis. Padahal imunisasi meningitis itu dicari oleh seluruh orang muslim setiap mau umrah sama haji gitu kan. Jadinya kan. Jadi sebenarnya kalau ngomong halal haramnya sebenarnya sama itu bahannya itu sama saya bajak kok. Ada bapak yang bilang, “Ini anak saya enggak boleh kayak ini.” Ya, bapaknya juga kalau mau umrah jangan disuntik juga gitu ya. Pasti dia enggak bisa pergi umrah gitu di sana karena dilarang oleh pemerintah Saudi. Nah, kemudian yang ee Sumatera Utara kita sampaikan
dampaknya bahwa kita termasuk yang paling cepat Pak Mindagri juga bilang ya, kalau semua rumah sakit dari yang terdampak 9 berhenti beroperasi sama sekali itu dalam waktu 2 minggu sudah beroperasi semua ya. Ini teman-teman di Kemenkes dan juga teman-teman Rumah Sakit Adam Malik sudah luar biasa bekerja dengan cepat. Ini kasih contohnya Bapak Ibu. Ruangannya tuh seperti itu semua tuh kondisinya. Saya waktu hari pertama juga ke Padang, hari ketiga juga ke Aceh. Saya sudah ke Aceh mungkin sudah lebih
dari en kali gitu ya. Memang sekarang semuanya udah udah kembali normal ya. yang di Aceh Tamiang yang benar-benar di halaman selanjutnya yang benar-benar enggak beroperasi sama sekali dalam waktu 4 minggu dia sudah bisa beroperasi ya. Nah, Puskesmas juga sama dari 1265 Puskesmas yang 867 152 tuh total berhenti beroperasi ya. Sekarang semuanya sudah beroperasi dan itu ada dua yang benar-benar secara fisik sudah rubuh kayak di halaman selanjutnya tuh sekarang sudah dibangun baru di halaman selanjutnya. Jadi kita
kerja sama sama PU sama sama jembatan ini di akhir Februari sudah hidup sudah beres semua ya malah jadinya jadi lebih jadi lebih bagus gitu karena baru ya karena lebih baru bagus jadi Puskesmas sudah berjalan normal semuah ya dan ini dibantu banyak oleh PU kita masih utang ada pustu ya pusu itu masih ada sekitar tujuh yang hilang kayak Puskesmas yang karena kemarin kita ngejarnya ke rumah sakit sama Pusas Pembantu dulu ya dari 2.500 ini yang sekarang sedang kita rapikan. Saya berharap sebelum Juni harusnya sudah selesai semua nih
2.52 pustu ya. kita sudah identifikasi tujuhnya di halaman selanjutnya dan memang karena rusak ini hampir semuanya butuh pembangunan baru. Kita sudah koordinasikan juga dengan Kementerian PU sudah disetujui. Anggaran Kemenkes juga termasuk yang disetujui karena dua kali meeting dengan DPR dipimpin Pak Dasko waktu itu. Kita termasuk yang pertama kali setujui. Jadi dana untuk pembangunannya juga sudah jalan ya. Ini contoh-contohnya kondisi pusunya yang kemarin banjir dan diharapkan nanti sudah akan selesai
sebulan bulan Juni ya. Ya, ini ada beberapa yang sudah jalan. Nah, selain itu butuh alat-alat. Nah, alat-alat ini banyak juga mulai dari apa? refrigerator vaksin gitu atau yang di rumah sakit yang paling banyak tuh tempat tidur, kasurnya segala macam lah, sumur bornya ada yang rusak yang sampai ke ekstrem, mesin anestesi dan karena anggarannya baru diapprove sekitar du ee 3 minggu yang lalu ya, kita buka donasi waktu itu dan alhamdulillah Kemenkes itu termasuk yang donasinya masuk banyak ya, donasinya masuk banyak jadi dalam waktu
singkat kita sudah bisa langsung kirim ke teman-teman di sana. Ambulansya kemarin saya ngantar dapat berapa ya, Pak Jaya? 39. 39 donasi ambulans ya. Langsung kita bagi-bagi ke Rumah Sakit dan Puskesusmas di Aceh ya. Dan partisipasi masyarakat ini luar biasa ya. Jadi di selanjutnya ini kita lihat ini adalah nama donator-donatur kita yang bantu ya. Semua donatur ini kita list, kita langsung map kebutuhannya kepala dinasnya suruh list saja kebutuhannya apa, donaturnya langsung berhubungan mereka yang penting mereka daftar. Ya,
kita dapat banyak salatur-donatur dan kita ucapkan terima kasih juga ke mereka ya. Di halaman selanjutnya juga yang kita mau sampaikan ini adalah tenaga kesehatan. Jadi waktu kena orang Aceh dokternya aja sudah enggak bisa mikir. Kenapa? Karena rumahnya juga hanyut ya. Jadi sebenarnya di luar TNI dan PORI diam-diam Kementerian Kesehat ee di sektor kesehatan kita tuh mengerahkan paling banyak nomor tiga sesudah TNI dan PORI. Jadi 6.500 tenaga kesehatan dari 500 organisasi kita kirim ya. Dan ini sifatnya benar-benar sosial.
Beberapa di Kementerian Kesehatan kita bayarin tiketnya gitu ya sampai yang kemarin sempat ramai dari Malaysia karena enggak bisa masuk ke Medan karena mahal. Jadi akhirnya kita belokin dari Malaysia dan ini sekarang dengan di transformasi pilar ketiganya kita itu transformasi apa ee ketahanan kesehatan ini sudah diregister. Jadi orang-orang ini seperti tentara diregister dia sudah pernah bencana berapa kali bencananya banjir aja apa gunung meletus apa gempa bumi sudah kita catat dan dia akan dapat
tanda penghargaan dari Kementerian Kesehatan dan masuk database-nya kita. Jadi kita tahu nih siapa relawan-relawan yang suka melakukan kerja sosial kalau ada bencana dan kita tahu tempatnya di mana untuk semua jenis organisasi. Organisasi profesi dari NU, Muhammadiyah dari dokter without border, rumah sakit-rumah sakit, perguruan tinggi kita ada datanya. Nah, mungkin yang terakhir adalah tentang jantung stroke Bapak, Ibu ini. Nah, buat Teman-teman di DPR halaman 38 ini penyakit-penyakitnya kita tahu penyebab kematian paling
tinggi stroke, jantung, kanker, terusnya ginjal. Ya, kalau dari JKN beban BPJS ah enggak cocok tuh stroke di bawah nomor 4. Kenapa? Karena memang saya cek tarif stroke itu enggak masuk. Jadi dokter-dokter spesialis struktur kalau bikin apa tarif kalah sama dokter jantung sama ginjal sama kanker tuh bukan berarti yang meninggal enggak ada, tapi memang kayak trombektom aja itu rugi tuh rumah sakit jadi enggak dilakukan itu. Artinya itu yang kita perbaiki di IDRG ini supaya benar-benar ini merefleksikan insidennya. Jangan
stroke paling tinggi tapi bayarannya paling rendah. Itu pasti banyak yang meninggal karena tidak kerawat gitu ya. Ada juga beberapa angka menarik misalnya ginjal tuh naiknya sampai 476% tuh dalam 5 tahun terakhir ya. Itu menunjukkan benar-benar kenapa kita keluarin nutri level ini. Karena ginjal itu penyebab utamanya gula, Pak. Itu sebabnya kita mau tekan gula ini supaya jangan orang Indonesia gagal ginjal sampai 13 triliun sendiri BPJS hanya untuk bayar beban ginjal. Tuh nomor dua. Sesudah jantung
malah di atas dari kanker ya. hemodialisa ini. Nah, kita sudah bikin halaman berikutnya bagaimana apa saja yang bisa dilakukan di rumah sakit madia utama paripurna tapi intinya kalau saya bilang meminimalisasi rujukan. Jadi kalau bisa 80% layanan itu selesai di rumah sakit madia yang ada di kabupaten kota. Nah, ini contohnya misalnya kita pengin untuk jantung misalnya yang madia bisa kateterisasi 514. Nah, posisinya dulu masih di bawah 100, sekarang sudah 127. Alatnya sudah pasang mungkin sudah 140, tapi ada masalah di
dokter sama izin-izin BPJS bapetennya ya. Kalau yang udah lebih tinggi lagi, kalau udah pasang ring masih ee sakit juga ya mesti dibypass. Nah, bypass-nya waktu saya masuk tuh mungkin di bawah 20 tuh ada 16 atau 15 provinsi. Sekarang sudah 30 provinsi bisa melakukan operasi bypass. Jadi enggak usah antri ke Pulau Jawa gitu ya, ke Pulau Jawa. Nah, kita lihat yang stroke yang masih masalah tuh ya, yang trombolisis sama trombektom coiling-nya itu masih rendah. Ya, itu yang akan kita kejar. Ini kasih contoh
aja ilustrasi Bapak Ibu di halaman selanjutnya ini kalau 2019 yang bisa melakukan bypass ya. Baas itu yang paling banyak ganti katup atau memperbaiki katup jantung atau juga apa bypassing pembuluh darah gitu ya. Kalau ada yang tertutup total itu baru bisa di 9 provinsi. Sekarang sudah di 30 provinsi dan sekarang saya lagi meningkatkan supaya 30 provinsi ini selain bisa ganti katup ee kemudian melakukan bypass ee ya arteri jantung tapi juga bisa melakukan operasi pediatrik jantung anak. Karena banyak
sekali anak-anak kita yang punya kelainan jantung bawaan. Kita lihat yang di halaman berikutnya ini kateterisasi. Dulu baru 43 kabupaten kota. Padahal kateterisasi ini untuk stroke sama jantung ada golden period-nya ya. Jadi enggak mungkin ditaruh di provinsi, harus ditaruhnya di kabupaten kota. Sekarang sudah 127 kabupaten kota yang mampu dan jalan terus. Nah, selain kita pasang alat, Bapak, Ibu, kita enggak hanya ngikutin alatnya. Benar enggak terjadi operasinya? Operasinya pun kita cek. gimana tren operasinya dan ini ada
detail per rumah sakit. Jadi kita tahu rumah sakit yang dikasih alat naik enggak operasinya. Ternyata ada banyak yang enggak naik karena enggak dapat izin BPJS-nya bisa 6 bulan, bisa setahun. Jadi saya ketemu dengan ee Pak Dirut yang baru, Pak Dirut yang baru ini kalau kita kasih alat harus cepat di BPJS diapprove ya. Bapeten juga hal yang sama. Jadi masalahnya ada di alat, di alamat selanjutnya juga masalahnya di orang. Jadi kalau kita mau kirim arat catlab udah datang enggak ada dokternya ya.
Jadi itu bisa dilihat misalnya yang per sekarang tuh 136 yang lengkap 123 masih enggak ada dokternya 13 by 200 2026 yang alokasi catlab-nya kita pasang 237 ya yang lengkap tambahannya cuma 33 jadi kita masih kurang 204 ee dokter yang kita masih kejar ya dokter spesialisnya. Nah, itu yang sekarang akan sedang kita kejar. Nah, termasuk mempercepat pendidikannya karena kursinya aja kursi pendidikannya di Indonesia enggak cukup. Karena enggak cukup kita cari ke luar negeri ya. Kita sudah kerja sama sama Cina, sama Jepang,
Malaysia, Korea supaya bisa mengubah ini jadi fellowship aja ya. Jadi enggak usah ambil subsesialis karena ini harus dokter jantung subspesialis intervensi atau dokter penyakit dalam subsesialis kardiovaskular. Jadi kalau itu pendidik 4 tahun enggak kekejar, meninggal semua kan 3 apa 250.000 yang meninggal setahun. Kita nunggu setahun meninggal 250.000 orang ya. Jadi kita kirim aja langsung ke luar negeri ya. Nah ini saya saya lihat ini adalah alat-alat dari ee bantuan program Bank Dunia. Halaman
selanjutnya sudah masuk dan Bapak Ibu sudah lihat di halaman 20 47. Halaman 47 bahwa sekarang rumah sakit-rumah sakit sudah mulai masuk tuh alat-alatnya ya. Jadi bisa dilihat ini banyak sekali rumah sakit-rumah sakit yang sudah alatnya datang, dokter spesialis jantungnya juga sudah ada. Nah, dan mereka bisa melakukan operasi. Nah, masalahnya adalah di sini masalah adalah masih terkendala halaman selanjutnya kerja sama dengan BPJSnya. Karena BPJS juga takut-takut nge-proof katanya kalau ini dia proof nanti dia negatif gitu
ininya ya. Jadi ini kita sekarang berkomunikasi dengan teman-teman di BPJS agar untuk catlab, city scan, mamografi yang kita banyak beli ini supaya bisa dilengkapi mungkin dari kami ee demikian. Coba di di lampiran di halaman 50 saya kasih contoh Bapak Ibu next slide-nya ada enggak? Lampirannya ada enggak di situ? Next slide-nya ada. Enggak ada. Nah, ini contohnya Bapak, Ibu. Jadi untuk setiap rumah sakit yang kita masukin alatnya, kita sudah persiapkan nama-nama dokternya secara rinci, ya. dan dokter ini kita kirim ke
mana? Nah, begitu balik dia harus di sana. Jadi yang kita ambil adalah dokter dari daerah. Jadi kita enggak minta dokter Jakarta kita kirim ke sana. Itu dokter dari sana kita kirim. Nah, dokter-dokter ini yang statusnya kan banyak non ASN nih. Kalau non ASN tuh biasanya kabur tuh dia gampang kabur. Nah, sekarang kita lagi kerja sama sama Menpan RB supaya langsung orang ini dokter spesialis kan. Takutnya mainpan RB kalau misalnya diangkat jadi ASN nanti kemudian orangnya orang yang enggak pas atau enggak diseleksi
harusnya enggak pantas jadi ASN. Tapi kita sudah justifikasi ke beliau kalau dokter spesialis udah pasti enggak mungkin bodoh gitu kan. Udah enggak mungkin gimana itu. Ya sudah jadi kalau bisa langsung diangkat aja sehingga kita bisa kita bisa kunci apa? Tes. Iya tetap tes tapi kita berharapkan dapat afirmasi lah ya. kita tes dapatkan dapat afirmasi karena kalau enggak mereka nanti mudah sekali untuk pindah ya dan ini nama-namanya sudah ada nama-namanya sudah ada semua di sini mungkin dari kami demikian Dr. Beni mau
kasih tambahan cukup terima kasih Bapak Ibu wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ya makasih Pak Menteri ee sudah menyelesaikan paparannya yang cukup banyak ya Pak Menteri. Ee selanjutnya saya persilakan ee kepada Bapak Ibu anggota Komisi 9 yang akan melakukan pendalaman. Kesempatan pertama saya berikan kepada Pak Heru Cahyono. Bersiap Ibu Irma Suryani. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang Ibu Ketua, teman-teman Komisi 9, Pak Menteri, dan seluruh jajaran. Mbak Wamen, selamat
siang. Ee yang pertama, Pak Menteri, penyakit-penyakit menular ini kan sudah ada dari dulu. Zaman dulu ada terus dan berulang. Terus berulang. Nanti kalau sudah berulang ada lomba. Lomba penanganan apa? Penyakit menular dilombakan. Artinya apa? bahwa ini sudah bisa dideteksi bukan hanya imunisasi dan apa namanya vaksinasi, tapi coba kita berpikir di prometor preventif. Tadi Bapak sudah nyampaikan di yang di DJ tadi ada harus ee lingkungan bersih dan lain sebagainya. Itu yang perlu disosial sosialisasikan
karena ini pernah terjadi di salah satu daerah dan tidak menggunakan obat vaksinasi. Seperti waktu kita kecil, Pak Menteri kecil kan vaksinasi itu kan enggak, tapi makanan sehat, lingkungan sehat, itu yang mulai diprove agar pada saatnya nanti kita tidak butuh anggaran banyak untuk vaksinasi, imunisasi, pengobatan, dan lain sebagainya lah. Apa yang harus kita lakukan? Desain ini adalah perlu didesain secara nasional berbagai tempat dan ini pernah dilakukan oleh salah satu kabupaten dan peraturan
termasuk dij tadi. Jadi itu memang ee mau dikasih lingkungan, mengurangi habital larva dan ini benar kalau dilakukan. Yang kedua, imunisasi. Imunisasi campak khususnya Pak Menteri di daerah ini ada yang perlu. Tadi Bapak sudah menyampaikan bahwa dokter-dokter anak ini harus bisa memberikan informasi dengan bahasa daerah. Jadi nangkapnya mereka ibu-ibu ini gampang karena yang banyak itu juga di daerah. Sebenarnya di Puskesmas maupun Postu maupun Posiandu itu sudah 20 tahun yang lalu sudah dilakukan. Itu sudah
dilakukan. Namun demikian perlu adanya terus dilakukan sosialisasi dan sosialisasi dengan bahasa daerah karena apa? Ada yang cernak campak ini penularannya dari kelompok-kelompok kadang-kadang enggak ngerti diobati pakai obat herbal lah. Obat herbal inilah apa mungkin panasnya turun sebentar dianggap sembuh. Dianggap sembuh dan ini terjadi banyak akhirnya meradang ke mana-mana. Dan ini penting kita lakukan sosialisasi yang penting adalah kembali kepada promotif-preventif agar pada saatnya mungkin ee Bapak Ibu yang ada di
Kementerian Kesehatan sudah paham karena belian Bapak ini orang pintar-pintar semua dan tahu ilmunya. Kalau kami bukan dokter mungkin Bapak kumpulnya dokter tahu ilmunya. Namun demikian inilah yang harus dilakukan walaupun panjang mungkin Bapak panjang Pak ini yang sakit sama yang harus diimunisasi wong imunisasinya aja banyak yang bolong artinya tidak selesai pada putus-putus dianggap sudah selesai diimunisasi sembuh gak kembali lagi. Gak kembali lagi dijamoni pakai herbal jamu dan lain sebagainya diat lah
ini. Tapi dalam kurva yang Bapak harus lakukan ada apa pada kurva tertentu diputus itu. Ayo coba sekarang kita melakukan promotif ber agar pada saatnya tahun 2045 yang dianggapkan ee kita Indonesia emas itu ee generasi sebelumnya sudah tidak imunisasi, tidak vaksinasi. Nah, namun demikian ini adalah masalah panjang ke selanjutnya Bapak Pak Menteri ada hal-hal yang memang harus kita lakukan. adalah bukan hanya campak TBC, hiji dan ee hepatitis. Yang satu lagi adalah HIV. HIV ini kami menemukan cukup banyak dan umurnya
masih muda, SMP lah. Ini Kementerian Kesehatan harus betul-beturun dengan pemerintah daerah agar terbuka. Karena apa? Pengaruh ini juga salah satunya kami ketemu dengan diskusi dengan dokter pengaruhnya di salah satu handphone mereka melakukan transaksi dengan handphone SMP dan jumlahnya banyak lah. Ini perlu menjadi sebuah hal yang harus diperhatikan karena apa? Kita pada saat itu sudah lengah. Lengah apa? Karena karena COVID 2 seteng tahun pada saat itu sebelum COVID kita gencar dengan HIV. Setelah
COVID kita konsentrasi di penanganan COVID lah. Ternyata yang kena COVID juga pokemorbit HVIV lah. Inilah 2 seteng tahun kosong sekarang HIV-nya yang muncul kembali dan banyak ibu rumah tangga, banyak anak-anak S sekolah banyak penularannya melalui macam-macam. Kami punya beberapa. Yang terakhir, Pak Menteri, untuk alat-alat yang sudah di ee kirim ke daerah-daerah mungkin perlu dicek kembali. Jadi, utilitasnya katakanlah catlab, “Oh, ini dokternya belum ada. KLB-nya sudah sampai di daerah sampai 6 bulan nganggur, 7 bulan
masih nganggur. Apa yang saya pangin Pak Menteri? Dan ini harus kita lakukan seperti kita penting. Saya diberkelirkan sepeda motor mau ke sekolah sebetulnya enggak perlu sepeda motor. Sepeda motornya seminggu sekali, 2 minggu sekali. Dan ini perlu di evaluasi. Bukan bukan ee tidak butuh tapi kalau dihitung mohon maaf mohon izin kerugian negaranya ada 6 bulan itu alat ini menjadi waste ya. Nah, itu. Tapi saya lihat data di sini sebenarnya sudah mulai banyak dan apalagi sudah ada LPDP dan ini memang
perlu di kami mendapatkan informasi dari rumah sakit juga Pak. Jadi dengan dokter beberapa dokter tapi tidak banyak namun ini pun harus dilakukan termasuk di rumah sakit rumah sakit yang lain. Saya kira itu, Pak Menteri. Terima kasih. Promotif preventifnya harus dilakukan. Sosialisasinya harus dilakukan. Kalau sosialisasi dilakukan, kita bisa bantu anggota dewan bisa bantu untuk melakukan sosialisasi ke daerah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Terima kasih, Pak Heru. Dipersilakan Bu Irma Suryani bersiap eh
Ibu Nafa Urbah. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pimpinan Komisi 9 yang saya hormati, kawan-kawan Komisi 9. Yang saya banggakan mitra kerja yang saya hormati dan banggakan. Pertama-tama tentu saya mengapresiasi apa yang sudah Pak Menkes sampaikan kepada kami semua. Pada tahun 2017, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengeliminasi campak dan rubela di tahun 2020 kalau tidak salah yang kemudian diperbaharui untuk bisa untuk bisa tercapai di tahun 2026. Begitu, Pak. Ya,
Pak MenQ ini bukan dokter tapi menurut saya sangat pantas sekali. jadi apa namanya Menteri Kesehatan karena pola pikirnya out of the box. Jadi enggak seperti ceruk makan jeruk. Banyak yang beliau beliau apa namanya? Beliau hasilkan. Dan menurut saya sejak saya 3 tahun di tiga periode di Komisi 9 ini, banyak sekali kemajuan dari Kementerian Kesehatan yang dilakukan beliau. Kadang-kadang aja saya marah, Pak, tapi kan marahnya sayang, Pak. Mirisnya tahun ini malah ada KLB kasus campak yang mengakibatkan kematian
termasuk salah satu tenaga medis kita, Pak. Hal ini tentu menjadi wake up call bagi kita semua bahwa penurunan cakupan imunisasi di beberapa tahun terakhir berpotensi menjadi bom waktu. Munculnya kembali berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sebetulnya. Tapi memang perlu kita garis bawahi ee masih banyak rakyat kita di daerah itu yang enggak mau diimunisasi anak-anaknya. Dan itu yang jadi masalah besar juga. Kadang-kadang ketika mereka meninggal dunia yang disalahin Kementerian Kesehatan, yang disalahin
juga DPR. Seolah-olah DPR tidak melakukan kontrol terhadap mitra kerjanya. Sementara ya untuk meyakinkan mereka bahwa imunisasi itu penting aja susah, Pak. Faktor pandemi juga kesadaran masyarakat telah menciptakan kelompok rentan immunity gap yang harus kita segera atasi bersama. Kami meminta penjelasan Pak Menkes. Nah, tentu Pak Wamen juga sejauh mana Kemenkes memetakan resiko lonjakan PD31 PD3i sebagai dampak dari penurunan sakupan imunisasi. Dan apakah langkah konkret serta yang bisa diukur
yang dapat dilakukan untuk mempercepat imunisasi, kejar dan strategi lainnya yang dapat memperluas surveilance dan respon KLB. Kami mendesak kepada Kementerian Kesehatan ada perbaikan dan penguatan tata kelola pelaksanaan program imunisasi nasional harus bisa mencapai semua daerah. Sakupan imunisasi sesuai target harus dikejar. Memang tidak bisa kalau kita sekedar menginformasikan, menghimbau kepada pemda. Kadang-kadang, Pak, pemda nih, Pak, kalau kita tanya selalu jawabannya enggak ada enggak ada
anggaran, Pak. Itu menyedihkan sekali, gitu ya. Mereka terima gaji maunya duduk aja, ada anggaran baru mereka jalan. Sementara kan mereka harusnya tahu digaji itu buat jalan, bukan cuman buat duduk. Dan saya sering marah-marah tuh sama pemda karena mereka karakternya seperti itu dan itu harus dirubah sebetulnya melalui bupati, gubernur, walikota ya. enggak cuman bisa ngabisin APBD saja, tapi harusnya bisa menjadi ee pemimpin wilayah yang ee apa bermanfaat bagi masyarakatnya. Khusus terkait dengki. Data yang
disampaikan Pak Menkes hari ini, nah ini Pak, masih berbeda Pak dengan data BPJS kesehatan yang disampaikan dalam beberapa dialog terakhir yang kami ikuti. Data BPJS Kesehatan mencatat lebih dari 1,5 juta kasus pada tahun 2024 dengan beban hampir Rp3 triliun, Pak. Gede banget loh ini, Pak. lebih dari 1 koma sori sori mohon penjelasan Pak Menkes tak tah bisa diukur Pak itu yang memang perlu kami dapatkan dari Pak Menkes, Pak Wamen, dan seluruh jajaran. Kami bersepakat bahwa pendekatan pencegahan dan penurunan
kematian dengki menggunakan pendekatan one heart yaitu pilar lingkungan, vektor dan manusia. Apalagi beban dengki di tertinggi di Indonesia adalah kedua di dunia yang baru-baru ini juga kemudian mengambil korban salah satu petugas kesehatan. Pertanyaan saya secara konkret apa yang saat ini Kementerian Kesehatan bisa kerjakan dari sisi kebijakan agar ketiga pilar ini menjadi salah menjadi salah satu langkah strategi yang terukur dan berdampak termasuk perhitungan kebutuhan pembiayaannya. Sebagaimana yang sering saya sampaikan,
Pak Menteri, saya tuh minta tolong sama Pak Wamen yang dekat dengan Presiden. Bicarain Pak dengan Presiden, Pak. Perlu juga Bapak bicara juga dengan Pak MenQ, anggaran kesehatan primer itu jangan dipotong-potong, Pak. Jangan diefisiensi ya. Itu melanggar konstitusi, Pak. Melanggar undang-undang. Kasihan, Pak. Kalau orang sakit, Pak, bisa bangkrut loh, Pak. Ya, kalau orang punya penyakit dan dia tidak ditopang dengan perlinsos, dia bisa bangkrut, Pak. Karena sakit itu mahal. Maka kemudian Kementerian Kesehatan saya
sering agak keras bicara walaupun saya tahu bahwa Kementerian Kesehatan di periode ini jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Saya ngomong enggak, enggak pernah ngomong sampah, Pak. Pak, saya ngomong apa adanya. Kami mendukung penuh berbagai usaha dan upaya Kementerian Kesehatan agar penyakit KJSU bisa ditangani termasuk dengan adanya dukungan penyediaan alat kesehatan dengan anggaran 27,3 triliun di tahun 2025-2027. Namun sangat disayangkan jika masih banyak kendala yang terjadi termasuk kerja sama rumah
sakit dengan BPJS kesehatan dan juga izin yang harus dilakukan oleh Kementerian Kesehatan adalah bekerja sama secara efektif dengan BPJS Kesehatan dan DJSN. itu, Pak, yang harus Bapak lakukan. Karena terus terang apa yang sudah dilakukan sudah maksimal, tetapi hasilnya memang belum maksimal. Kenapa? Karena memang masyarakat kita masih sulit untuk bisa menerima imunisasi dan lain sebagainya. Tapi kita enggak boleh mundur dan terus melakukan sosialisasi di daerah-daerah. Ya, tanpa sosialisasi langsung, Pak, di daerah.
Kalau hanya menggunakan gadget, Pak, enggak bisa, Pak. Di daerah saya itu, Pak, masih banyak masyarakat yang enggak punya gadget. Nah, selain juga ada banyak blank spot yang belum diselesaikan oleh pemerintah. Oleh karena itu, kami berharap Pak Menteri ya jangan putus harapan. tetaplah berjuang karena saya melihat dengan mata kepala sendiri ya, bagaimana Bapak memperjuangkan tidak ada lagi bully-bully ya, baling-baling di rumah sakit-rumah sakit dan ada ketegasan sikap dari Kementerian Kesehatan yang tidak menutup-nutupi
kondisi ee rumah sakit yang memang harusnya diperbaiki. Banyak dokter kita, mohon maaf yang ee arogan kemudian juga enggak mau dipersalahkan. Sementara sebetulnya mereka salah. Kalau kita enggak mau di dipersalahkan, ya enggak akan ada solusi, enggak akan ada perbaikan. Jadi itu yang mungkin perlu saya sampaikan kepada Pak Menteri dan jajaran. Enggak usah khawatir, Pak ya. Kalau memang itu harus ditegaskan kepada mereka, ya ditegasin juga. Terima kasih. Saya tutup dengan wallahul muwafiq minq. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam. Terima kasih Bu Irma. Dipersilakan Bu Naa Urbah. Bersiap Pak Riz. Baik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Izin pimpinan, Pak Menteri, dan jajarannya. Saya mau langsung aja bicara tentang tiga hal pertama ee kaitannya dengan KLB campak dan imunisasi. Pada tren kenaikan kasus nasional di awal tahun 2026, target imunisasi bayi lengkap IBL nasional belum tercapai. Sementara capaian IBL Jawa Tengah itu 13,7% dan baduta 15,2% di trogistik vaksin terlambat ee terhambat di Medan. Pertanyaan saya,
capaian imunisasi Jawa Tengah di Triwulan 1 2026 masih di bawah target, Pak? Di wilayah dapil saya seperti Wonosobo dan Kabupaten Magelang, kendala geografis seringkiali menjadi alasan. Bagaimana Kemenkes memastikan distributi ee distribusi rantai dingin col chain vaksin MR tetap terjaga hingga ke puskesmas terpencil di lereng gunung agar KLB campak tidak meledak di sana. Karena memang kalau di dapil saya itu termasuk Wonosobo dan Kabupaten Magelang itu ada beberapa memang yang ee medan perjalanannya itu sulit untuk ditempuh,
Pak. Yang kedua tentang stunting. Target penurunan nasional menuju 14%. Tapi yang terjadi di Temanggung mengalami kenaikan prevalensi stunting menjadi 27,3%. Ini anomal sekali, Pak. Artinya ini terjadi backsliding, kemunduran di Temanggung yang butuh intervensi khusus dari pusat. Pertanyaannya, materi raker menunjukkan optimisme penurunan stunting nasional. Namun data di Kabupaten Temanggung justru menunjukkan kenaikan menjadi 27,3%. Mengingat Temanggung adalah wilayah penyangga pangan, mengapa ini tuh bisa
terjadi? Apa langkah afirmatif Kemenkes untuk membantu Pemkap Temanggung agar tren ini tidak berlanjut di sisa tahun 2026? Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Terima kasih Ibu Nava. Dipersilakan Pak Ade Rizki. Terima kasih Ibu Ketua, Ibu Wakil Ketua Pimpinan dan Anggota Komisi 9 yang kami hormati Pak Menteri, Pak Wamen, pejabat eson 1, dan seluruh jajaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang kami hormati. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita
semuanya. Ee pertama kami ingin mengapresiasi juga apa yang sudah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bukan pada hari ini tetapi sejak beberapa waktu yang lalu dalam transformasi kesehatan dan tetapi ee pada hari ini kami ingin juga ee menambahkan beberapa usulan dan mungkin semacam saran agar ee transformasi kesehatan ini berjalan lebih sempurna dalam waktu yang cepat. Pertama, kami ingin menyoroti dari sisi regulasi bahwa kami memahami yang mendukung bahwa apa yang disampaikan oleh Pak Menteri adalah bagian dari
transformasi sistem kesehatan nasional dan sesuai kesepakatan DPR dan pemerintah bahwa seluruh upaya transformasi ini dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 17 tahun 2023 tentang kesehatan. Namun dari apa yang kami pantau pada hari ini, belum semua peraturan pelaksana undang-undang kesehatan sudah diterbitkan. Tanpa peraturan turunan ini, kami khawatir juga bahwa program transformasi kesehatan ini khawatir takut berjalannya membutuhkan waktu yang lama dan akurasinya dikhawatirkan tidak tepat. Dan untuk itu kami meminta ee agar ada
semacam report secara ee sustain atau secara berkala bahwa peraturan turunan dari ee sesuai hasil kesimpulan raker kita di tanggal 19 Februari yang lalu bahwa bulan Maret ini sebenarnya harus ee keluar mengingat deadline dari Undang-Undang Kesehatan ini yang sudah ee mulai terlewatkan. Kedua, salah satu kunjungan Komisi 9 bersama juga Kementerian Kesehatan beberapa waktu yang lalu termasuk di ee terkait dengan ee wabah campak salah satunya di Yogyakarta. Salah satu temuan dan masukan dari pemda
adalah adanya jaminan ketersediaan vaksin. Ketersediaan vaksin. Nah, ini kami ingin tahu juga, Pak Menteri bahwa apakah vaksin ini ada atau vaksin ini ee ada di pusat atau sudah didisbusikan ke daerah-daerah tapi daerahnya yang belum ee memberikan vaksin ya secara menyeluruh. Nah, bahwa itu masukan dari pemda dan kami ingin juga mendapatkan laporan yang cukup komprehensif terkait data baik itu ketersediaan vaksin untuk program imunisasi tahun ini. Mengingat anggaran penyedian vaksin ini kami kira
perlu dimintakan tambahan, Pak, dengan sesuainya dengan percepatan vaksin. Dan kemudian di daerah pemulihan saya, Pak Menteri, Pak Wamen itu di daerah Sumatera Barat itu capaian imunisasi. Imunisasi apa? Imunisasi dasar ya namanya sekarang sudah berubah ya. dulu namanya imunisasi dasar lengkap itu masih sangat masih di bawah itu Pak Menteri dan Pak Wamen, Bapak Ibu Dirjen. Jadi ee ada kekhawatiran daripada sebagian besar masyarakat bahwa setelah pandemi Covid-19 begitu banyak rentetan info-info yang kadang-kadang
benar atau tidak benar sama sekali yang pada akhirnya merubah mindset dari masyarakat kita bahwa vaksin ini memberikan dampak ee atau efek samping yang pada akhirnya membuat orang ketakutan. Nah, saran saya, Pak Menteri, Pak Wamen, agar bisa melakukan ee atau bekerja sama juga atau mengejak tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama atau ulama gitu ya, agar ini bisa menjadi salah satu poin gitu dalam rangka percepatan. Belum tentu juga semua masyarakat ini percaya, Pak, dengan apa yang diajak atau himbauan
oleh pemerintah. Tetapi mungkin masyarakat kita sebagian lagi percaya dengan tokoh agama, tokoh ulama, maupun tokoh-tokoh yang ada di daerah-daerahnya tadi. Kemudian ee terkait dari campak ee kita campak pada hari ini maupun TB, Pak. Ini ada juga yang cukup mengkhawatirkan kita walaupun ini jumlah tidak besar. seperti penyakit ee kaki gajah atau mungkin seperti penyakit-penyakit lainnya yang berhubungan dengan sistem sanitasi yang ada di daerah-daerah ya, Pak. Di daerah ibu kota besar mungkin tidak kelihatan
tetapi ada. Tetapi di daerah itu karena jaraknya jauh-jauh, ketersediaan air bersih aja kadang-kadang sulit dan kemudian ada itu sanitasi maupun jamban-jambanan ini yang belum mereka miliki. Sampai pada akhirnya sampai hari ini di daerah kami masih ada masyarakat itu Bapak kalau buang air besar itu menggali tanah habis itu dikubur lagi. Nah, tapi kami beberapa kali melihat bahwa dengan program pembangunan sanitasi atau jamban sehat tadi, Pak, itu mendapat apresiasi yang besar dan luar biasa. Masyarakat tidak tiba-tiba
datang begitu saja mau ke jamban, tapi mereka butuh jamban di sebelah rumahnya. Jadi, kalau memang ada tu jamban yang sederhana tetapi dekat dengan rumahnya atau di samping rumahnya itu kita mungkin lebih mudah untuk mengajaknya. cuman tinggal bagaimana kuota atau quantity program ini untuk jambanisasi ini mungkin lebih diperbanyakkan mumpung ini masih pertengahan tahun. Walaupun memang lembaga dan kementerian lain juga memiliki program yang sama, tetapi kenapa tidak Kementerian Kesehatan menjadi pionir juga dalam pengentasan
sanitasi yang lebih baik pada hari ini. Kemudian menarik juga tadi disampaikan Pak Menteri menyampaikan tentang imunisasi HPV yang Pak Menkes sampaikan tadi progresnya sudah cukup baik dan sudah sesuai dengan rencana termasuk perluasan sampai ke gender laki-laki. Dan pertanyaannya adalah apakah semua ini sudah ada regulasi teknisnya, Pak? Bahwa ini ee barang baru ya. Dan kami khawatir tanpa adanya juknis yang detail, pemerintah daerah juga melihat program imunisasi ini khawatirnya ada disinformasi, anggapnya ini menjadi
beban daerah mereka dan ini juga harus bisa menjadi mitigasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mungkin itu tambahannya, Ibu Ketua. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Makasih, Pak Ad. Ee dipersilakan Pak Ahmad Ruhiyat. Baik, terima kasih pimpinan yang terhormat pimpinan dan anggota Komis 9. Yang terhormat Pak Menkes, Pak Wamen, serta seluruh jajaran. Yang pertama kami menyoroti anomali dalam tata kelola alat kesehatan. Di satu sisi kita gencar mendorong
pemerataan layanan KJSU itu layanan terhadap penyakit kanker, jantung, stroke, dan uroneologi. Namun di sisi yang lain terdapat 37 layanan krusial catlab, kemoterapi, radioterapi yang tertahan akibat belum selesainya kerja sama dengan BPJS kesehatan serta ratusan unit alat mahal seperti mamografi yang belum bahkan yang belum diajukan. pengizinan perizinannya. Pertanyaannya, bagaimana Kemenkes akan memecah kebuntuhan egosektoral antar lembaga ini agar Alkes tidak mangkrak menjadi pajangan di rumah sakit.
Kemudian yang kedua, mengapresiasi pulihnya layanan operasional rumah sakit dan puskesmas di Aceh dan di Sumatera Utara atas ee presentasi yang sampaikan tadi Pak Menkes. Namun melihat masih adanya sisa kebutuhan pengadaan alkes krusial dan tujuh pustu yang belum kembali ke gedungnya. Bagaimana kepastian timeline pencairan APBN agar standar pelayanan pasca bencana tidak ter degradasi? Kemudian mencermati rendahnya capaian imunisasi bayi per April 2026 di beberapa provinsi sejauh mana strategi mengejar ketertinggalan melalui
pendekatan microplanning guna mengamankan ambang batas toleransi kekebalan ee kelompok. Kemudian kami melihat bahwa penurunan kurva campak seiring implementasi outbreak respon immunization eh menurunnya fatalitas eh penyakit ee serta pulihnya 27 rumah sakit di Sumatera adalah wujud nyata komitmen yang harus dijaga keberlanjutannya. Mungkin demikian beberapa poin penting yang dapat kami sampaikan. Terima kasih. Ya, makasih Pak Ruhiat. dipersilakan Pak Sihar Setoros. Baik, terima kasih. Pimpinan Komisi 9
yang saya hormati. Ee demikian juga dengan Pak di sini Pak ee Pak Kemenkes, Pak Menkes, Pak Wamenkes beserta seluruh jajaran. Ee Pak, saya ada beberapa catatan atau mungkin apa ya, bukan ya, catatan lah, Pak. Eh, pertama tidak ada statistik yang bisa menggantikan nyawa. Mau satu orang itu sudah terlalu mahal buat kita kehilangan kehilangan nyawa. Oleh karena itu tadi kalau Bapak menyampaikan bahwa tenaga kesehatan dan tenaga medis kita juga ada yang belum imunisasi. Mungkin target pertama adalah
yang paling mudah saya pikir adalah 100% mereka harus mendapatkan imunisasi. Ee kemudian tadi kalau data imunisasi bayi lengkap dan yang lain-lain ee masih rendah. Padahal 10 dari 14 imunisasi itu dilaksanakan harusnya di usia 12 bulan ke bawah, 10 sampai 14. Jadi ee sudah lebih dari 50% kesehatan kita nih sebenarnya ee harusnya bisa terkendalikan di usia 12 bulan ke bawah. Nah, oleh karena itu mungkin target kedua juga, Pak adalah bagaimana kita bisa meningkatkan cakupan imunisasi bayi lengkap ini ee untuk suatu angka yang
signifikan. Karena kita enggak tahu habis itu dalam kontinum waktu itu kapan lagi dia akan imunisasi. Yang ketiga mungkin poin yang ingin saya angkat adalah edukasi kepada masyarakat ee tentang pentingnya imunisasi. Kalau tadi BWA bilang R0-nya 12 ke 18, maka probabilitas untuk kemudian itu penularan cepat kan masih sangat berarti sangat tinggi dan kalau ada sampai ada yang fatal maka enggak fair juga gitu, Pak. Ee jadi ini gimana caranya untuk menyampaikan ee edukasi kepada anggota masyarakat supaya
mereka ee mau mengambil imunisasi dan ya saya juga enggak tahu di sini datanya enggak enggak disampaikan ee prevenansi pendapat anggota masyarakat yang mau dengan imunisasi dengan tidak imunisasi kita juga belum belum dikasih tahu ya Pak. Tapi anggaplah bahwa ini apapun itu bahwa edukasi menjadi ee menjadi penting. Ee poin terakhir mungkin dari saya adalah tentang tuberkulosis. Hubungan tuberkulosis dengan mental health. Ee sementara ini kita fokus kepada ee apa ya penyembuhan dari TB itu sendiri, tapi kita agak ee tidak
masukkan mental health itu sebagai komponen daripada penyembuhan. ee sudah banyak riset yang mengatakan bahwa ee ada hubungan antara mental head dengan tuberkulesis, terutama di dalam ee mereka mengambil obat dan melihat ee apakah kalau saya kena TB kemudian saya harus diisolasi dan gimana ni tanggapan orang terhadap saya dan yang lain-lain dan setelah itu saya harus bagaimana apa orang takut ketemu saya dan seterusnya itu menjadi depresi dan stres. Dan itu saya pikir perlu menjadi ee catatan buat
kita ee terutama kita banyak generasi stroberi, Pak. Jadi ini juga ee sekali timpuk dua dua kena tentang mental mental health ini. Mungkin itu dari saya catatan, Pak. Terima kasih, ya. Ee masih ada dari Bapak Ibu anggota yang mau menambahkan, Pak De Rizki. Iya, terima kasih Bu Ketua. menambahkan saja ee sedikit ee jadi bagaimana ini tentang jumlah angka kematian ibu dan anak ini yang masih cukup besar, Pak. Walaupun kita sudah memitigasi dengan beberapa tenaga kesehatan yang sudah disekolahkan maupun dengan berbagai
alat-alat yang memang ee sebegitu canggihnya. Dan kami kira ee Pak Menteri, Pak Wamen, beberapa waktu yang lalu ee kita sempat beraudiensi dan kami ee apa mendampingi beberapa kepala daerah ke Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan dijamu oleh Pak Sekjen beberapa waktu yang lalu di tahun lalu. Dan ada salah satu kota namanya Kota Pariaman, Pak, di Sumatera Barat. ini ee di sini angka kematian ibu dan anaknya cukup tinggi, Pak. Karena bahwa rumah sakit yang ada di sana tidak hanya memberikan layanan kepada masyarakat
kota, tetapi juga memberikan pelayanan kesehatan di masyarakat-masyarakat yang ada di kabupaten, di sekitarnya. Dan oleh karena itu, salah satu permintaan dari walikotanya waktu itu adalah permintaan picu dan nicu Pak Menteri. Dan waktu itu sudah kami kira sudah dialokasikan. Nah, namun sampai pada hari ini ee sesuai dengan sesuai dengan ada surat dari Dirjen Keslan Pak AO waktu itu per tanggal 28 Maret tahun 2026 ini permintaan dari kepala daerah itu yang benar-benar mereka minta itu picu dan Pak Ajo ini
mereka tidak mendapatkan, Pak. Mereka sedih sekali, Pak. Karena memang bagaimana menjaga picu dan micu ee menjaga kesehatan ee kematian ibu dan anak ini jauh lebih minim dengan picu itu. Minta tolong, Pak Dirjen nanti bisa kita akomodir, Pak. Itu mungkin tambahannya, Bu Ketua. Terima kasih. Iya, terima kasih ee dari anggota. Sudah ee izin tambah sedikit. Sedikit. Iya, sedikit ya, Pak Heru ya. I, Pak. Terima kasih, B. Pak Menteri ee di sini ada data stroke 17 persen jantung 14 dan kanker sta ginjal lah.
Ini adalah salah satu kami kemarin juga ketemu dengan teman-teman dokter banyak temannya Pak Menteri juga perilaku anak-anak muda yang mengkonsumsi apa namanya makanan dan minuman kemasan. Makanan dan minuman kemasan. Jadi umur 30 ke bawah itu sudah banyak yang gagal ginjal. Ternyata setelah di kita diskusi banyak anak-anak muda-muda ini yang minum dan makanan kemasan lah. Ini perlu disosialisasikan tentang makanan-makanan kemasan yang mengandung apa ee ee muatan-muan yang bisa menyebabkan penyakit ginjal. Yang
kedua tentang penyakit yang tadi kami sampaikan campak sampai harus mencoba kita mengikutkan guru-guru PAUD dan taman kanak-kanak untuk menyampaikan bahwa ee imunisasi campak dan sebagainya guru-guru PAUD dilibatkan. Dilibatkan termasuk guru-guru TK dan SD agar mereka betul-betul bisa menerima imunisasi campak dan yang lain. Saya kira ini Pak Menteri. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, makasih Pak Heru. Dari meja pimpinan dipersilakan Bu Feli. Oh, Bu Niha. Terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semuanya. Yang saya hormati pimpinan Komisi 9, anggota Komisi 9, Pak Menteri, Pak Wamen beserta seluruh jajarannya. Apa kabar, Pak Menteri? Pak Wamen, Pak Sekjen, Pak Bapak Ibu Dirjen sehat semuanya. Kok sepertinya ketawanya kurang tulus? Yang tulus dong. Ee pertama saya ingin ee berbicara soal imunisasi. Memang dari dulu imunisasi kita ini tidak pernah 100% ya, Pak ya. 90% saja sangat jarang. Apalagi ee setelah kena COVID ini angkanya
semakin turun. Memang sangat butuh yang namanya ee berbagai pendekatan ini imunisasi kita ini. Bahkan kalau kita lihat yang ee data yang terbaru, imunisasi kita masih ee sangat ee jauh sekali dari harapan kita. Apalagi soal campak dan sebagainya. Jadi saya ingat betul, Pak. Saudara saya, saudara saya ini dia juga waktu itu saudara saya laki-laki, Pak. Melarang anaknya untuk vaksin dengan alasan alasan agama. Lalu kebetulan anaknya sakit dan usia 4 bulan meninggal. Setelah itu bapak saya bilang begini,
“Abah saya, kamu yang enggak punya ilmunya, kenapa bisa melarang seorang seorang anak untuk vaksin?” Padahal jelas-jelas antara madaratnya dan manfaatnya sudah jelas-jelas manfaatnya lebih kelihatan. Setelah itu anak kedua sampai anak sekarang 2 3 emp vaksin semuanya. Jadi intinya Pak, sosialisasi itu penting. Sosialisasi itu penting. Dan sosialisasi ini seringki masyarakat pendekatannya tidak bisa hanya pendekatan secara medis, Pak. Kita tahu walaupun penolakan soal vaksin ini bukan hanya soal agama.
Kita tahu kalau di ee Amerika pun juga kita melihat saat masa ee Covid itu orang ee vaksin itu cuma 75% ya, Pak Wamenn ya. Waktu itu vaksin COVID itu di Amerika hanya 75% tidak sampai. 80% pun tidak sampai. Nah, ternyata di masyarakat yang sekelas Amerika pun juga penolakan vaksin pun juga cukup tinggi. Ada juga masyarakat di ee sekitar saya menolak vaksin dengan alasan yang cukup simpel. Malas nanti wong anak-anak anak sehat tiba-tiba divaksin nanti terus panas. Sesimpel itu jawabnya. Sesimpel
itu. Nah, ini perlu pendekatan yang luar biasa. Nah, saya sepakat dengan teman-teman tadi bahwa ini yang namanya sosialisasi ini harus seluruh stakeholder yang harus melakukannya. saya melihat ee Pak Menteri sudah menggandeng beberapa beberapa pihak, cuman ini perlu ee di lebih ditingkatkan lagi soal vaksin ini. Dan memang anggapan masyarakat tadi kami bertiga ee berdiskusi anggapan masyarakat tuh kalau sudah kena vaksin itu sudah tidak akan terkena penyakit itu sama dengan COVID. Kalau sudah kena COVID enggak kalau
sudah kena vaksin COVID enggak akan kena COVID. Padahal bisa jadi walaupun sudah vaksin COVID masih kena COVID, tapi secara apa namanya imunnya itu pasti akan berbeda. Kita semua waktu COVID saya saya waktu COVID saya sudah vaksin lengkap tapi terkena COVID tapi kondisi imun saya berbeda. Walaupun kena delta, kondisinya masih ee apa ee tidak tidak cium saya masih bagus dan ee kondisi tubuh saya tidak terlalu drop dan sebagainya. Jadi, ini yang perlu kita jelaskan kepada masyarakat. Bukan berarti nanti kalau
sudah vaksin berarti benar-benar tidak tidak ee tidak kena penyakit itu sama sekali. Karena masyarakat ketika anaknya sudah divaksin lalu kena penyakit itu loh ternyata sudah vaksin masih kena penyakit juga kok gitu loh. Itu trustnya masyarakat turun dan ini yang perlu memang sosialisasinya harus lebih detail lagi untuk itu. Tidak hanya sekedar ayo vaksin, tidak hanya seperti itu, tapi harus masuk logika yang paling dalam yang reason-nya itu bisa sampai kepada masyarakat. Begitu. Selanjutnya, Pak ee
soal saya mengapresiasi sama dengan ee sahabat-sahabat anggota Komisi 9 yang lainnya soal ee yang dilakukan Komisi ee yang dilakukan Kementerian Kesehatan terkait antisipasi ee recovery recovery daerah-daerah yang terkena ee bencana kemarin, Pak. Cuman saya ingin menyoroti kemarin sempat kita ke Langkat, Pak. Langkat ya. Eh, saya waktu itu ditemani Pak Bayu. Oh, Pak Bayu sudah jadi sudah pindah ruangan ya? Sudah pindah ruangan atau pindah pindah pindah gedung sudah di e BPJS waktu itu, Pak. Satu yang
bikin saya cukup ini nyese itu karena banyak sekali peralatan di sana. peralatan-peralatan saya lupa peralatan yang cukupcukup mahal, peralatan untuk jantung dan sebagainya yang belum pernah dipakai. Masalahnya itu belum pernah dipakai, Pak. Sudah 1 tahun apa 2 tahun belum pernah dipakai karena dokternya dan perawatnya belum ada dan sudah kena banjir. Jadi dobel, Pak. Kalau sudah pernah dipakai, at least kita mengeluarkan uang dari APBN ini at least masih ada manfaatnya. Tapi masalahnya, Pak ini belum pernah
dipakai. Persoalannya dokternya belum lulus. Oke, dokternya baru lulus nih beberapa bulan yang lalu. Perawatnya belum lulus, perawatnya belum ada dan sebagainya. supporting system-nya belum siap karena masih mau apa masih mau disekolahkan ke Medan waktu itu seperti itu. Nah, inilah Pak yang yang membikin saya sedih. Mungkin ke depannya Pak kita kalau harus memberikan peralatan ke rumah sakit harus betul dilihat SDM-nya yang adanya seperti apa, Pak. Jangan sampai mubadir, Pak. Oke. Kalau kasus yang kita temui waktu
sama Pak Kunta di Gorontalo itu karena persoalan daerahnya. Daerahnya yang waktu itu tidak komit. Daerahnya tidak komit. Yang saat itu daerah ee bersepakat untuk memberikan peralatan tambahan. Ternyata daerah tidak memberikan peralatan tambahan. Alhamdulillah ketika kita datangi habis itu ee daerahnya berkomitmen ee langsung keluar dananya untuk memberikan peralatan tambahan sehingga dokternya yang har baru pindah dari Manado sudah 1 tahun peralatan sudah ada akhirnya bisa digunakan. Nah, saya melihat alat-alat
kesehatan ini dengan harga yang sampai 17 M dan sebagainya ini dana negara yang ini mubadir tidak pernah digunakan. lalu sudah rusak duluan karena persoalan ee tenaga kesehatan kita. Ini yang perlu kita kita pikirkan ulang, Pak, ketika membelikan membeli alat-alat kesehatan tersebut, gitu loh. Nah, saya mengapresiasi langkah yang dilakukan Pak Menterian, Pak Menkes selama ini untuk bagaimana mempercepat dokter-dokter ee spesialis yang ada ini dengan dengan terobosan-terobosannya. Cuman sekali lagi kita perlu lebih hati-hati dan
lebih detail lagi untuk memberikan alat-alat kesehatan ee ke rumah sakit. Pastikan SDM-nya sudah ada setahun loh, Pak. Eh, setahun atau 2 tahun. Kan mubadir banget itu kita. Padahal daerah lain ini yang membutuhkan banyak. Apalagi kita tahu dak kita dari 16,8 jadi 1,8. bintangnya enggak turun-turun gitu. Nah, 1,8 ini kan dengan seperti itu kita buang 17 ee 17 M-nya pada sesuatu yang yang ee apa yang yang tidak berguna karena tidak pernah dipakai. Mungkin itu saja, Pak, yang bisa saya sampaikan.
Terima kasih, Bu pimpinan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Terima kasih, Bu Nini. dipersilakan Bu Feli. Baik, pimpinan dan teman-teman yang saya hormati, Pak Menteri dan ee tim yang sudah hadir. Yang saya hormati Pak Menteri. Saya ingin ee soroti untuk halaman 38, Pak. Halaman 38. Di sini Pak Menteri sampaikan bahwa ee empat penyakit ee katastrofik yang mendominasi di Indonesia yaitu stroke jantung, kanker, ginjal. Kemudian pembiayaannya di sini digambarkan pembiayaannya
jantung paling besar yang tadi Pak Menteri sampaikan. Tapi kalau kita lihat di sini, Pak Menteri, ini penyakit stroke ini ee yang paling banyak meninggal loh, Pak. Kalau dilihat 17,98% dari 337.000. Artinya ada 60.000-an lebih, Pak, sampai Desember kemarin. Nah, apa yang Pak Mantri akan lakukan ke depan? Karena mau bilang penyakit apapun ya, Pak, ini ee korban jiwa, Pak. Seperti apa ke depan? Kalau tadi Pak Menteri sudah sampaikan kenapa jantung ee dokter lebih banyak, kenapa stroke dan ini paling banyak
makan korban, Pak. Jadi apa rencana dari Kementerian ee Kesehatan ke depan supaya bisa menekan ee korban jiwa dari penyakit katastrofik yang paling tinggi ini adalah struk. seperti apa kira-kira untuk disampaikan bagaimana kepada masyarakat dan apa yang harus dilakukan ya di setiap rumah sakit atau ee puskesmas dan lain sebagainya. Itu yang pertama. Kedua, dengan semangat Bapak, tadi sudah disampaikan juga oleh teman-teman dengan semangat Bapak sampai ee dari dak dan bper kemudian ada siran tahun
2024 sampai 26 tapi tahun 20240 dipindah ke 2026. Kemudian di sini kan ada bintang ya. Kalau untuk yang city scan untuk tahun 2025, Pak, ini ada bintang du ini maksudnya apa? Jumlah alat yang siap dikirim dan diinstal. Artinya alatnya belum dikirim, Pak. Boleh ee minta penjelasannya. Kemudian ee begitu juga dengan Catlab di sini yang untuk 2025. Sementara 2026 ini kan tentunya berproses, tidak ada bintang. Tapi kaitannya, Pak ini angka ini senilai 27,3 triliun. Nah, ada kaitan dengan halaman 48. Halaman 48 ini
masalah perizinan alat kesehatan masih terkendala. Apakah waktu Bapak mau pesan alat, ya, apakah ini tidak dibicarakan dulu, Pak? Kalau ini terkendala dengan yang namanya ee peten atau badan ee pengawas tenaga nuklir ya. Kalau ini kaitannya dengan badan pengawas nuklir ini sama-sama pemerintah Pak. Tapi kenapa ini bisa seperti ini? Ini semangat Bapak nih untuk mengatasi A B C D. Tapi kan sama aja Pak. Ini enggak bisa langsung dilakukan karena masalah perizinan tadi. Nah, ini mungkin ke depan, Pak. kami ee
lebih ke ini kan anggarannya boleh dibilang selalu kurang, selalu kurang karena banyak yang harus diprioritaskan. Sementara ada seperti ini. Ini jadi semacam kayak prioritas untuk membeli alas sementara izin-izinnya belum siap gitu. Ee di luar yang disampaikan oleh ee teman kami pimpinan Ibu ini yang masalah ee kesiapan dari tenaga ee yang ada di lapangan untuk bisa mengoperate alat-alat tersebut. Saya minta penjelasan, Pak Menteri, untuk menyangkut yang ee pertanyaan kedua ini aja. Ee kemudian yang ketiga, tambahan
satu lagi, Pak, vaksin. Tadi kan Bapak bilang masalah udara, cuaca, dan lain sebagainya ini kan mempengaruhi ya, Pak. Jadi ini kan seperti ada waktunya ya dari waktu ke dari waktu ke waktu. Harusnya kapan lagi musim musim hujan yang ini kan bisa sudah bisa digambarkan ya, sudah ada ya penelitian ke sana, Pak. Jadi daerah-daerah mana yang memang harus disiapkan vaksin-vaksin itu, Pak? Jangan kayak Bapak bilang tadi. Memang kita tahu bahwa kita ini juga persoalan tibi ini luar biasa, tapi bukan berartikan
mengabaikan juga yang lain-lain, Pak. Seperti yang ee vaksin-vaksin yang ee rapat judul rapat kita hari ini untuk masalah campak dan mungkin polio dan lain sebagainya, Pak. Jadi, ini juga jangan diabaikan. Tetap kita mari kita menghitung, kita harus menghitung. ada rumus yang mungkin yang bisa dipakai untuk masyarakat Indonesia ini daerah tropis. Kemudian paling ee kira-kira kalau misalkan waba ini atau virus ini ee masuk ke Indonesia atau dia meledak karena dipengaruhi oleh cuaca di mana kira-kira? Mungkin butuh penjelasan itu
Pak. Demikian terima kasih. Ya, makasih Bu Ketua. dari saya sedikit saja, Pak Menteri, beserta seluruh jajaran Kementerian Kesehatan ya. Artinya tadi sudah banyak disampaikan terkait dengan kejadian ee luar biasalah terkait ee campak gitu ya. ini saya kira menjadi alarm peringatan untuk kita ee menjadi lebih sadar bahwa ya walaupun campak ee atau mungkin beberapa penyakit menular lainnya ini dikategorikan sebagai penyakit yang bisa yang dapat dicegah tuh PD3I penyakit dapat dicegah dengan imunisasi
kan gitu ya. Nah, tapi kan ee karena memang ya enggak bisa dianggap ringan tadi Pak Pak Menteri juga sudah paparkan sangat menular gitu ya. Nah, artinya ya cakupannya mau enggak mau memang harus bisa lebih tinggi terkait dengan ee imunisasi ya. Ambang batas dari immunity heart, kekebalan eh kelompok komunitasnya ini harus bisa tercapai di beberapa wilayah. Jadi saya kira perlu ada peningkatan perbaikan dari tata kelola vaksinasi ya ee program vaksinasi nasional kita untuk bisa lebih ditingkatkan. Kalau menjawab tadi
tantangan-tantangan isu terkait dengan agama sebenarnya sudah cukup berulang ya, Pak. tantangan ini ee selalu ada dari tahun ke tahun. Tapi justru yang juga harus juga di apa namanya ee dijadikan juga ee peringatan bersama adalah terkait dengan disinformasi. Karena ee kalau doktrin terkait dengan isu agama itu kebanyakan mungkin ya di daerah-daerah terpencil. Tapi ini juga ternyata ee banyak muncul antivaksin justru di daerah perkotaan ya. karena disinformasi tadi ya, paparan-paparan apa ya mungkin hoaks yang menimbulkan
kepercayaan ya kepercaya atau ketidakpercayaan terhadap keamanan dan efektivitas ee vaksin gitu ya atau juga keyakinan terkait dengan kekebalan alami katanya gitu kan. ee sebagian orang ngerasa kalau hidupnya sehat, gaya hidupnya baik, sistem imunnya alami itu bisa ee terbentuk gitu ya, bisa cukup kuat melawan penyakit-penyakit yang ee menular. Ya, jadi saya kira ini menjadi satu tantangan selain memang tadi tata kelola ada juga kondisi di mana aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas kesehatan yang masih cukup
jauh gitu ya. Karena kalau di daerah perkotaan rata-rata orang tua itu bekerja ya dan ee ketidaksiapan mungkin layanan fasilitas kesehatan gitu ya yang seringki membuat masyarakat jadi enggan untuk mengantarkan anaknya atau ee sulit gitu ya untuk mengantarkan ee anak-anaknya untuk melakukan ee vaksinasi. Jadi ini saya kira perlu dipikirkan tata kelola perbaikan tata kelola vaksinasi ke depannya. Dan yang ee selanjutnya yang ingin saya ee tekankan tadi sudah disinggung sebenarnya oleh Pak Sihar ya terkait
dengan mental health eh yang dihubungkan dengan ee penderita ee tuberkulosis karena memang banyak saya kira berbagai ee studi gitu ya, berbagai jurnal yang hari ini sudah menunjukkan bahwa ya pasien TIB ini juga mengalami ee satu kondisi ee mental gitu ya. ee beban psikologis yang ee tidak ringan ya. Karena memang kondisi ee ya selain mempengaruhi kondisi klinisnya tentu akan juga ee mempengaruhi bagaimana keberhasilan kepatuhan ee dari mereka untuk bisa terus ee minum obat. Jadi ini bukan hanya angka kejadian, tapi tentu
dampaknya terhadap keberhasilan ee pengobatan ee selanjutnya. Nah, tentu ee hari ini ee program TIB Nasional ini kita belum secara ee sistematis lah memasuki screening ee kesehatan mental gitu ya sebagai bagian dari layanan ee standar. Padahal kan dari sisi evidence-nya mungkin ya, dari sisi ee di masyarakatnya sudah sangat jelas tanpa kita bisa menangani kesehatan mental ya tentu akan sulit juga kita memastikan kepatuhan dari ee mereka penderita TIB di dalam hal ee pengobatannya. Jadi saya kira ee perlu saya ee untuk bisa
berfokus juga pada tidak hanya pada obat, tapi bagaimana aspek kesehatan ee mental ini juga bisa dipikirkan ya integrasi kesehatan mental di dalam rangka target eliminasi TB ya yang ee harus kita capai ya. Kita berkomitmen di 2030 ya. ini sesuai dengan NTB strategi kan secara global ee masih tertinggal sebenarnya secara progres ya ee target 2030 dan Indonesia bahkan ee termasuk negara yang punya kontribusi peningkatan kasusnya ya dalam beberapa tahun terakhir ini juga ee cukup ee tinggi gitu. Jadi ya saya ingin tekankan ya
mungkin Kementerian Kesehatan dalam hal ini untuk bisa memikirkan kebijakan ya yang mungkin mewajibkan skrining kesehatan mental pada pasien ee TIB ya seperti apa karena memang ee gangguan mental ini bukan sekedar corobit saja tapi ya ada bukti ilmiahnya ya yang bisa menj yang bisa di apa ee dijadikan dasar bahwa ya faktor untuk kegagalan terapi ini ee dimungkinkan ya ke apa ke penurunan kepatuhan, putus obat ya dan ee yang ujung-ujungnya bisa resistensi obat ini karena memang ee kondisi ee mental health-nya itu. Jadi ee aspek ini
enggak bisa ditangani sendiri saja. kita sebenarnya ee kalau ini dibiarkan justru akan membiarkan kegagalan program ee TIB ini, eliminasi TB ini secara ee sistematik. Nah, ini yang ee saya kira skrining dan penanganan kesehatan mental khususnya ya depresi ataupun juga ancaman belum lagi menghadapi stigma-stigma negatif dari TB ini harus menjadi bagian yang wajiblah ya dalam standar layanan ee TIB nasional ya. untuk bisa diintegrasikan ee bukan sebagai pelayanan tambahan tapi bagian daripada strategi utama lah ya. Kalaupun
ee saya enggak tahu mungkin ya ada ee tantangan gitu ya ee tinggal saya kira bagaimana dibreakdown saja ee sejauh mana kesiapan dari ee integrasinya ya ee dari program ini dengan layanan kesehatan di Puskesmas-puskesmas selama ini. Walaupun enggak semua Puskesmas memang ee siap untuk memberikan layanan ini, tapi kalau tidak dimulai nanti enggak akan ada terus, ya. Dan ee saya kira juga perlu ada juga mungkin datanya di ee dievaluasi ya terkait dengan ee Kementerian Kesehatan Data yang mengaitkan bagaimana gangkuan metal
dengan angka putus obat ataupun juga gagalnya terapi dari tuberkulosis ini perlu diup juga, Pak ya. Di apa namanya? ee diberitakan sehingga ini bisa memberikan kesadaran untuk ee semua pihak ya dan mungkin juga ya ee kendala-kendala tadi ya dari sisi SDM-nya, dari sisi pembiayaannya, dari desain programnya ya. Saya kira ini perlu dipikirkan. Itu saja ee dari saya. Silakan Pak Menteri untuk bisa memberikan tanggapan dari apa yang sudah disampaikan oleh anggota dan juga pimpinan. Terima kasih Bu pimpinan. Mungkin saya
akan jawab yang pertama memang dari Ibu Irma dulu sama Pak Her enggak ada. Tapi tadi Ibu Irma ini denggi kenapa datanya beda dengan BPJS? Tadi saya baru cek BPJS kan 1,5 juta itu termasuk suspek. Kalau kita tuh sudah yang confirm ya kita yang confirm denggi tadi baru baru dicek bedanya seperti apa karena cukup banyak. Saya juga heran kalau bedanya besar sekali. Kemudian memang ee ini ini banyak anggota dewan yang menanyakan bahwa penyakit menular ini ada beberapa kan seasonality-nya ada. Ada juga yang
kita bisa antisipasi kayak misalnya denggi itu selalu kayak tadi musiman tergantung cuaca lanina gitu. Kalau MR itu bergantung musiman tapi kumpul-kumpul bersama. Jadi kalau anak sekolah ngumpul, nah itu selalu terjadi. Itu kan seharusnya bisa kita antisipasi dan lebih baik preventif dibandingkan kuratif. Betul sekali. Nah, kita sudah lihat bahwa kalau misalnya seperti Campak intervensi yang paling efektif di dunia memang vaksinasi. Harusnya itu divaksinasi. Kenapa? Karena penularannya cepat sekali. Jadi kalau sudah sekali
outbreak udah susah kita ee tanganinnya. Tapi kalau denggi memang lingkungannya harus kita jaga. Jadi intervensinya memang berbeda. Itu sudah kita lakukan belum sempurna. Terus terang ya saya mesti bilang juga ke teman-teman Bapak Ibu DPR belum sempurna sehingga harus terus kita perbaiki dan dengan adanya otonomi daerah kompleksitasnya bertambah. Tapi secara prinsip penyakit menular itu penanganannya belajar dari COVID ada tiga kelompok. Yang pertama surveilance-nya masih bagus. Jadi begitu kena kita mesti tahu
dengan cepat confirm bahwa ini penyakitnya. Kemudian sesudah surveilance-nya bagus terapinya mesti cepat dan tepat dan mesti ditemukan. Kayak COVID waktu itu kan terapinya sempat tidak ditemukan kan. kita nyari-nyari ini penyakit nyerangnya apa, meninggalnya kenapa, kita masih butuh waktu sehingga terjadi kematian yang cukup tinggi di awal-awal COVID. Dan yang ketiga memang yang paling apa paripurna adalah kalau bisa ditemukan vaksinnya karena begitu vaksinnya ada semua penyakit menular itu akan turun drastis
kalau vaksinnya ditemukan. Nah, saya loncat tadi ada Pak yang tanya tadi Pak Sihar sama Ibu Puti ya mengenai tuberkulosis. Ini kebetulan ada dokter Band di sini, Bapak, Ibu. Emang tuberkulosis denggi itu Indonesia nomor dua. Jadi, Indonesia tuh banyak ranking dua tuh di dunia tuh untuk penyakit-penyakit menular. Tapi tuberkulosis nanti datanya teman-teman bisa kasih ya. Khusus untuk 2 tahun terakhir ini saya rasa pertama sejak 10 tahun lah angka estimasinya turun. Jadi, B tuh selalu naikin kita tuh R00.000,
R800.000 apa sekarang sudah Rp1.60. itu saya lihat estimasi mereka 2025 dan 2026 untuk pertama kalinya turun. Jadi turun tuh jadi Rp1.60.000 jadi Rp1.40.000 turun lagi ke Rp1.20.000. Saya sempat konsultasi sama WHO. Kenapa? Karena Indonesia nemuinnya banyak. Mereka kan pakai modeling emang ee menghitungnya kan. Kalau ditemukannya banyak harusnya diobatinya cukup banyak sehingga nanti gradually akan turun. Itu yang terjadi juga di Cina. Jadi Cina itu bisa turun sesudah banyak ditemukan. Justru makin banyak ditemukan makin
naik. Dulu kan saya ingat tuh pertama kali saya masuk. Kenapa TBC naik? Sebenarnya bukan naik jumlah TBC. TBCnya mungkin dari dulu segitu-segitu juga R juta. Yang ditemuin dulu cuma R00.000 sekarang naik. Nah, begitu naik dia diobati obatnya efektif. Jadi kalau saya bisa sampaikan Bapak Ibu yang paling penting adalah surveilance tadi dan dr. Benny ini sama saya sudah bareng-bareng ambil keputusan mulai tahun depan kita mau X-ray ini karena kita melakukan penghematan dari pembelian alat-alat kesehatan. Kita mau lengkapi seluruh
Puskesmas dengan X-ray. Sama seperti kita mau melengkapi seluruh Puskesmas dengan USG dalam 2 tahun ke depan. Kemudian alat deteksi yang mahal yang namanya Gin Experts yang PCR itu sekarang udah keluar versi murahnya yang harganya 1/empatnya ya malah per tesnya turun jadi 12 saya masuk dulu belinya 16 sekarang bisa ke 3 dolar atau 2,5 dan alatnya bisa dipasang ke seluruh puskesmas bahkan bisa pakai baterai dibawa ke posandu ya. Jadi yang namanya molecular testing untuk strategi pertama surveilance itu yang di tuberculosis
tadi ditanya sama Ibu Putih. Kita akan secara masif meningkatkan kemampuan surveilance kita. Dulu yang PCR hanya berhenti di kabupaten kota, rumah sakit, sekarang akan turun sampai ke desa eh 85.000 desa pun bisa ya. Molekular testing itu kita bisa turunin ke sana karena teknologi baru untuk berkembang itu dari surveillance. dari obatnya. Ini yang masalah kan tuberkulosis kan dulu waktu saya masuk 22 bulan Buat yang resistan. Kemudian kita coba dengan Ibu Elina, saya ingat tuh tahun 2022 yang namanya BPAL BPAL M turun ke 6 bulan. 6
bulan. Sekarang saya sama Dr. Benny baru ketemu TB Alliance yang bisa bilang mau turun ke 1 bulan. 1 bulan ganti beda kuilin sama apa? serva kuilin apa-apa itu uji coba clinical trial level 2-nya sudah bisa sekarang mau clinical trial level 3 saya ngotot dimasukin di Indonesia juga supaya bisa pasien kita dapat duluan dan saya minta juga supaya Biofarma dilibatkan dari awal ya kalau ini jadi Bu nanti yang 6 bulan untuk resistance dan 4 bulan yang untuk sensitif itu dua-duanya bisa diturunkan ke 1 bulan. Izin, Bu pimpinan. Itu
vaksinnya sama obatnya dari mana? Bukan vaksin, Bu. Ini ini obat. Ini obatnya yang minum pil itu yang banyak pil. Iya. Heeh. Yang 6 bulan itu kan jadi sebulan itu. Jadi sebulan. Dari mana obatnya itu, Pak? Obatnya ini sekarang clinical trial-nya di Amerika, Bu. Ini kelihatannya di Amerika. Produksinya dari nah produksinya sekarang serva quilin ini masih di Amerika. Nah, sekarang kita minta itu dibikin di masih fase 3 Indonesia. Tapi emang masih masih uji coba Bu. Belum belum jadi ini masih fase
du yang sudah selesai fase du sekarang dalam proses e approval FDA begitu FDA approve untuk fase du nanti mau masuk fase 3 kan masih banyak nah masih banyak kita menawarkan diri sudahudah di Indonesia aja karena kalau ditawarkan Indonesia kan pasien Indonesia bisa dapat bisa dicoba jadi dia 1 bulan minum obat kemudian disuntik jadi sebenarnya secara teori Pak ee Bapak Ibu bakteri TBC itu bakteri susah emang matinya susah jadi memang harus 4 bulan. Cuma kalau 4 bulan minum obat kan susah. Jadi dokter-dokter di sana pintar ya. Minum
obatnya sebulan aja itu 80% mati. Si sayang susah disuntik. Saya bilang kenapa enggak pakai obat? Kalau obat kan masuk keluar kan. Jadi itu makanya kenapa mesti tiap hari kalau disuntik masuk di darah dia muar terus ke tubuh. Jadi yang di obatnya itu servaquilinnya salah satu antibiotiknya diganti yang tadinya obat dipil disuntik. sehingga yang tadinya masuknya lewat pencernaan langsung keluar ini langsung masuknya lewat darah sehingga daya tahannya dia ada di dalam tubuhnya kita lebih lama. Nah, itu yang akan dicoba. Kalau itu
terjadi strategi kedu penanganan kedua dari penyakit menular yaitu terapinya, cara mengobatinya itu akan ada inovasi baru yang sangat besar untuk TBC. Dan yang ketiga, TBC juga Bapak Ibu tahu kita jadi vaksin ya, strategi vaksin ya itu kita sudah hampir selesai itu clinical trial level 3-nya hasilnya bagus dan sekarang Biofarma lagi mempersiapkan fasilitas untuk produksi. Kita berharap kalau bisa diluncurkan di 2029 ya. Tadi mintanya 2032 tapi saya duduk di board-nya Soft TVB tekan supaya bisa 2029. Saya kemarin dipanggil ke
Magelang ngomong sama ketua DPRD seluruh Indonesia. Mereka bilang, “Pak, harus 2029.” Ini yang saya enggak ngerti ya sebagai seorang nonpolitisi. Kenapa? Kalau 2029 bisa dijalankan, kita sebagai politisi bisa me monetisasikan itu. Monetisasikan itu. Saya bilang benar. Saya bilang, “Mah benar juga nih sebagai seorang yang nonpolitisi enggak ngerti kita gitu kan.” Dan itu kan nanti politis daripada iya mesti mesti mesti disiapkan saja anggarannya. Jadi kita mesti pastikan nanti teman-teman di Komisi 9 juga
memastikan anggaran 2029-nya disiapkan dan sekarang Biofarm sedang dalam proses untuk membuat ini. Jadi mudah-mudahan TBC ini di 2000 di ke depannya kita ngelihat obat ini itu juga bisa akan keluar di 2029. Tadi mau 2032 saya bilang enggak mungkin lah dorong. Jadi kita mau coba obat yang 1 bulan dan suntikan vaksinasi itu bisa di 2029 diluncurkan sehingga dengan demikian nanti bisa Indonesia segera turun drastis dan Indonesia take the lead gitu. Jadi di dunia tuh Indonesia sekarang take the lead untuk gerakan
tuberkulosis ini. Nah, kalau ditanya tadi Pak Siar sama Ibu Putih TBC ada mentalnya Bu. Mental itu semua kita baru tahu begitu dicek kesehatan gratis. mental itu emang banyak masalahnya. Dulu tuh enggak pernah dites aja. Jadi mungkin ibu-ibu yang ada di sini atau saya gitu, kita enggak tahu juga bahwa kita punya masalah mental juga karena enggak pernah dites. Beda dengan tekanan darah, gula darah kan kita dites terus. Aku rasa ya mungkin baik yang duduk di sini maupun yang duduk di sana juga kan
pressure mentalnya besar-besar juga. Jadi saya memahamilah mungkin saya yakin cek kesehatan mental pun belum tentu dilakukan. kami sendiri saya belum pernah uji kesehatan mental. Jadi saya enggak tahu mungkin kalau diuji mungkin ee depresi juga saya ya. Saya mungkin teman-teman di DPR pun kalau di suatu saat di CKG mentalnya ya kita enggak tahu hasilnya seperti apa. Nah ini yang memang Oh harus harus harus diperiksa yaitu yang calon yang calon harus daftar calek itu harus tes Pakes tes tes mental kesehatan mental. Iya.
Oh iya iya ya. Betul. Kalau di depan kita yang bahaya. Tapi bagusnya kesehatan mental itu tidak menular Bu. Kesatan mental itu tidak menular ya. 500 500. Nah memang ini kan sudah dilakukan bukan hanya yang TB TB aja Bu Puti ya. Ini kita lakukan untuk seluruh mulai dari usia sekolah, remaja, dewasa, dan lansia. Nah, memang yang harus kita persiapkan nantinya mungkin generasi sesudah saya nih adalah gimana terapinya. Karena begitu ketahuan itu kesehatan mental itu kan perlu terapinya kan ada yang psikologis, ada
yang sifatnya medis gitu kan. Nah, terapi psikologis ini infrastrukturnya kita harus persiapkan, harus persiapkan dengan baik. Dan mungkin ya ini seperti Bapak, Ibu juga harus melibatkan banyak komunitas, mungkin teman-temannya, orang tuanya, guru-gurunya itu juga bisa dibantu sebagai lini pertama untuk terapi psikologis ini ya sebelum nanti masuk ke apa psikolog klinis atau psikiater nantinya. Karena kalau enggak enggak akan cukup. Jadi saya lagi minta Ibu Endang untuk mempersiapkan strategi tata laksana mental ini karena terus
terang belum belum siap karena kita juga enggak pernah tahu besarnya berapa banyak. Nah, tadi selain ee TBC dan mental banyak juga yang mtanya mengenai KJSU ini alat-alatnya seperti apa. Tadi Ibu Feli, Ibu Nini gitu kan banyak yang tanya ini alat-alat dibagi seperti apa? Bapak, Ibu, bedanya kita dengan yang dulu kejadian nanti saya cerita khusus yang langkat karena saya tahu saya datang ke sana banjir kerendam alat itu mesti dibungkus plastik. Itu adalah alat catlab yang harganya 17 miliar belum
pernah dipakai. Saya cek, saya ke dalam bukan untungnya ya. Alat itu dibelinya lewat pemda, Bu. Alat itu dibeli lewat pemda. Kemudian belum ada dokternya jadi enggak pernah diurus. Ya, sekarang yang kejadian di Kemenkes yang tadi saya lihatkan ke Ibu, semua alat itu sudah ada nama dokternya. Semua alat yang kita bagi sudah ada nama dokternya. Masih satu, Bu. Kita penginnya dua, tapi satu aja masih kurang 200-an gitu ya. Harusnya kan satu alat enggak mungkin dokternya satu kan dia enggak mungkin
kerja. Catlab itu harusnya operasinya 24 jam sehari karena begitu kena stroke sampai jantung kan enggak bisa nunggu. Oh, hari libur kena stroke. Nanti dia hari Senin dirawat kan enggak bisa gitu ya. Itu harusnya dua dokter. Tapi sekarang kita masih kejar satu dokter. Semua alat-alat yang Pak Ao mau bagi sudah ada namanya. Ada gap ada mungkin 3 bulan masuk duluan atau 3 bulan sesudahnya. Tapi semua alat yang kita bagi itu sudah ada nama dokternya. Ini ada dokter yang mau kabur-kabur. Kita sudah kirim beasiswa
belajar ke Cina pulang dia mau kabur pindah ketangkap sama kita. Jadi dia dari mana Brebes mau pindah ke Jakarta segala maam ketangkap. Nah bisa kalau sudah ketangkap kita enggak izinkan dia mengadu ke mana-mana. Nah, jadi nanti kalau Bapak, Ibu juga ada yang mengadu dari dokter-dokter spesialis muda, oh kita sama Ibu Yuli izinnya difreze atau dibukukan, itu biasanya karena yang tidak disiplin. Dia sudah dikasih beasiswa sama daerah. Begitu dia lulus cari akal segala macam cara biasa bilang ibunya sakit, orang tua sakit. Jadi
mesti menemani ibu, nanti dia pindah ke Jakarta gitu ya. Itu yang sekarang kita perbaiki. Tapi alat-alat itu sudah ada. Bahwa izin BPJS sama BAPPTN memang masih pending di di BPJS cukup banyak. Ya, karena BPJS ketakutan dia negatif karena alat ini kan alat yang mahal klaim BPJS takut. Saya sudah bicara sama Bapak Ketua BPJS kita sudah mencapai kesepakatan karena kita akui juga beliau kan ahli jantung pasang ring juga. Jadi beliau tahu Pak saya tahu bahwa banyak orang dipasang ring padahal tidak butuh
dipasang. J saya juga agak takut juga loh dipasang tidak butuh kok dipasang ngeri. Nah, tapi beliau bilang nanti kita akan memberikan masukan ke Mkes kita sudah setuju akhir bulan ini kita mau tanda tangan dengan beliau semua alatnya akan dikasih izinnya sama dia. Tapi indikasinya dia minta kita ubah aturan PNPK-nya. Jadi prosedur kapan boleh dipasang ring. Jadi misalnya ada sumbatan kan Bapak Ibu ngerti kan kita kadang-kadang ada sumbat jangan ada sumbatan langsung masang ring ya. itu ada yang namanya FFR apa tuh flow apa
tekanan gitu apa aliran darahnya di jantung kalau ada sumbatan kalau itu masih di bawah 70% enggak usah pasang ring kalau di atas 80% baru boleh di pasang ring nah hal-hal seperti itu biasanya dilanggar dalam praktiknya sehingga BPJS ya bayar juga 30% nanti dibilangin sama dokternya Bapak Ibu nih kalau enggak ini mesti pasang ringnya pasang padahal harusnya secara indikasi medis Karena beliau juga seorang ahli jantung, dia bilang harusnya tidak perlu. Dan kita sudah setuju dengan beliau. Mudah-mudahan janjinya kan akhir bulan
ini ya. Hah? Akhir bulan Mei akhir bulan Mei. Bukan akhir bulan April ya. Akhir bulan Meiubah ee gua lupa saya tuh. Aku pikir akhir bulan April. Akhir bulan Mei ya, Pak Co. Ya, benar ya. Kita akan tanda tangan dengan diri BPJS agar semuanya bisa dielesaikan. Kemudian banyak sekali nanya Pak Heru, Ibu Nini, Pak Sihar semuanya, Pak Bu Irma. Ini masalah sosialisasi itu penting. Saya setuju vaksin itu benar-benar masalah sosialisasi. Dan kita juga melihat saya di WA grup itu semua dokter marah karena merasa
bahwa kok kalah sosialisasi dengan apa ada dokter-dokter apa tuh yang terkenal tuh sekarang. Banyak dokter-dokter IG yang terkenal kan dokter bukan dokter kadang-kadang ada di TikTok, di IG yang apa bukan dokter Gia sama aku dokter benar Bu. Ini ada yang enggak benar nih kemarin-kemarin ada yang ditangkap sama apa gitu aku dibilangin ini enggak ngomongnya ngacau jadi malah dipercaya. Nah, tapi saya sudah kumpulin sama beberapa teman-teman mungkin caranya kita berkomunikasi mesti lebih baik ya. Kalau dokter berkomunikasi kan jangan
ngajarin atau memberikan sesuatu secara ilmiah yang masyarakat juga enggak ngerti gitu. Mendingan pakai yang lebih gampang aja ya. Saya sendiri mempelajari mengalami waktu komunikasi dulu seperti vaksin seperti apa dan cara yang paling baik adalah memang merekrut anak-anak muda untuk berkomunikasi ya. Sekarang dengan apa Mkas-nya taruh di IG, taruh bantal gitu kan. Apa? Iya. Ini minum motor itu itu anak muda yang kasih tahu. Sayaak dulu tuh yang lihat tuh paling 10.000 itu dokter-dokter spesialis anak
yang dulu kalau yang senior-senior itu yang nonton paling 10.000 R5.000. Saya begitu saya dikerjain yang muda itu 4 juta yang nonton 3 juta yang nonton. Jadi saya rasa memang harus ada perubahan cara berkomunikasi lebih banyak dengan dokter Gia. Dokter Gia bukan dokter anak, tapi mungkin dengan dia berkomunikasi semua ibu-ibu akan melihat dia gitu. Karena bapak-bapak tidak ngerti dokter Gia tapi semua ibu sampai istri saya mengerti drter Gia itu siapa. Jadi begitu mau saya mau berdua sama dokter Gia, istri saya minta
ketemu. Saya enggak ngerti juga ini siapa kok demikian populernya. Ya. Terus saya begitu masuk dibilang harus sama dokter Tirta juga. Jadi saya ngikutin juga akhirnya melihat bahwa memang dinamika sosialisasi ini penting dan ini membutuhkan gaya yang berbeda, Bapak, Ibu. Gaya yang sangat berbeda. Saya minta dokter-dokter muda nanti akan kita ajak supaya lebih membantu kita menyampaikan berita-berita ini dengan baik. Izin, Bu. E Bu Putih. Ee tadi ada saya ingin sebenarnya terkait dengan vaksin juga ee saya mau lompat yang pertama
tadi, Pak. Saya jadi mikir tadi mendengar penjelasan Pak Menkes terkait uji coba dan sebagainya. Karena kemarin saya ingat yang waktu kapan itu yang kita ramai diserang soal Bill Gatit itu ya soal apa di jadi negara uji coba ini besok kita juga diuji tempat uji coba lagi. Kita kok jadi kalau takutnya jadi narasinya terbalik Pak. Jadi negara tempat uji coba klinik gitu loh. Clinical trial untuk negara uji coba apa itu vaksin. Lalu clinical trial untuk uji coba nanti apa obat ee TB TB begitu. Nah, ini kan juga jadi PR
buat kita, Pak. Karena narasinya juga tidak akhirnya tidak bagus juga, Pak buat kita. buat kita. Apalagi kan kita juga ee harus melihat hasil dari uji coba yang kedua ini seperti apa hasilnya. Kan enggak mungkin kita bisa melakukan uji coba yang ketiga kalau hasilnya itu benar-benar belum bagus. Hasil dari WHO-nya seperti apa? Seperti itu, Pak. Menurut saya oke kalau kita ingin menangkap bahwa kita menjadi negara pertama yang bisa mengakses obat itu, obat TB dari yang harusnya 6 bulan menjadi 1 bulan, tapi adakah cara lain,
Pak yang kira-kira bisa kita lakukan selain kita menjadi tempat apa clinical trial-nya itu, Pak. Sehingga kita narasi yang ada tidak harus menjadi eh clinical trial area begitu, Pak. Makasih, Bu. Silakan, Pak. Ya, memang ini yang yang mesti narasinya saya saya setuju ya mesti diperbaiki. Sebenarnya clinical trial level 1 2 itu dari sisi safety dan efficacy sudah terjawab. Jadi udah pasti kalau udah lewat clinical trial level 2 itu safety dan efficacy-nya sudah terjawab. Kalau clinical trial level 1 itu ke safety-nya
ya. Nah, clinical trial level 3 emang di dibutuhkan untuk melihat penerapannya di skala populasi besar. Itu sebabnya ini yang paling mahal. Dan pengalaman yang kita lihat kadang-kadang masing-masing negara itu punya apa? genetik yang berbeda juga atau kondisi yang berbeda. Kayak misalnya vaksin malaria kemarin kan sudah keluar tapi karena dia dilakukan clinical trial-nya di Afrika dia tuh malaria Afrika begitu ditaruh di Indonesia beda k karena falsifarumnya berbeda. Falsiparumnya berbeda. Jadi sebenarnya
menjadi lokasi clinical trial itu mendapatkan benefit sebenarnya tinggal narasinya kita menjelaskannya dengan baik ke publik seperti apa. Justru dengan lakukan jadi side clinical trial kecocokannya atau modifikasi nanti dari terapinya bisa lebih disesuaikan dengan populasi kita. Selain bahwa masyarakat kita akan mendapatkan akses duluan dari terapi-terapi modern yang sudah terpuji baik safety maupun efikasinya. Nah, memang narasi-narasi seperti ini harus diterjemahkan dengan baik dan kita saya kalau bisa dib kalau begitu clinical
trial-nya dilakukan di kita, kita tuh memiliki apa? negotiating power untuk bisa melakukan produksinya juga di kita sehingga ekonomi dan job-nya bisa terjadi di sini dan ketahanan sistem kesehatan kita lebih bagus karena kita enggak usah impor. Ya, jadi saya akui memang Bu itu membutuhkan cerita yang cerita yang lebih baik ya. Jadi kalau saya boleh juga nanti Pak De Rizki tuh tadi Oh, Pak De Rizya enggak ada Pak Ahmad Ruhiyat tadi perizinan sudah lama. Saya lihat lagi di sini ee Ibu Irma udah, Pak Sihar udah,
Sosiali TBC udah ya, bencana tadi udah ya, Ibu Fi izin BPJS udah. Oh, MR Campak stok vaksin. Tadi Pak AD juga nanya kita stok vaksinnya lengkap Bu, banyak. Khusus untuk MR berlebih kita vaksinnya ya. Sekarang justru dengan adanya ori ini bagus karena jadi stoknya kita bisa pakai ya. kita bisa pakai. Jadi kalau untuk stok dan distribusi kita sudah baik lah. Saya rasa saya saya akui kita sudah baik ya. Mungkin tadi juga ada pertanyaan mengenai apa tadi Pak Adik? Mengenai kematian ibu dan anak ya. Itu memang
masih tinggi kematian ibu anak kita kan. Ibu-ibu tuh 4.000 lah yang meninggal setiap tahun dari 4,8 juta. Kalau anak-anak tuh 26.000 meninggal. Nah, kalau yang tadi dibilang, “Oh, rumah sakitnya enggak siap, alat-alatnya gimana.” Sebenarnya alat-alatnya sudah kita persiapkan. Jadi, ee anak tuh masuk di program KJSU-nya kita sekarang sedang dalam tahap finalisasi tender. Oh, Pak Der Rizki sudah datang lagi. Jadi, alat-alatnya akan masuk, Pak. Itu hanya menunggu waktu saja. Tapi kalau saya
boleh saran, Pak, kematian ibu anak ini sebenarnya kalau sudah masuk rumah sakit sudah telat, Pak. harusnya dideteksi lebih awal di prevention-nya. Jadi catatan saya tuh misalnya ibu meninggal itu apa? Nomor satu gara gara hipertensi, Pak. Eklamsi preeklamsi itu. Jadi emang harusnya ya jangan hipertensi minum obat atau terkendali CKG itu Dr. Benny bilang kayak tadi ada yang tanya juga mengenai ginjal. Kok ginjal naik terus? Gimana cara ngunain ginjal? Ya jangan punya gula. Jangan punya gula. Jangan punya darah tinggi. Nah, itu
sebabnya kita penginnya kalau bisa lebih ke preventif karena lebih murah. Jadi, aki itu ya jangan punya hipertensi ibunya pada saat hamil. Kalau hipertensi ya dia mesti minum obat. Kemudian juga baik aki maupun AKB meninggalnya tuh karena komplikasi pada saat melahirkan. Itu sebabnya kita bagi USG ke seluruh puskesmas. Itu sudah terjadi sekarang, sudah dipakai. Jadi kalau ada potensi komplikasi dia sudah tahu sebelum umur umur 9 bulan. umur 6 bulan, 7 bulan gitu udah udah kelihatan sehingga bisa
langsung diver ke rumah sakit ya dan enggak harus lahir di pusmp keluar oh ini ada masalah plasentanya di bawah lah atau kelibet sama ininya talinya sehingga dikirim ke rumah sakit terlambat. Nah, itu yang penyebab kematian anak sama ibu dan selain itu anak selain komplikasi melahirkan juga afiksia ya. Afiksia juga sekali lagi itu karena masalah pada saat prosedur melahirkannya ya bisa terlalu lama atau ada komplikasi sehingga terjadi penundaan begitu lahir terlalu lama anaknya sudah enggak bisa bernaapas.
Jadi itu memang yang akan kita perbaiki di di ininya pelayan tata laksananya untuk ibu dan anak ya. Dan kita harapkan harusnya ini turun karena kita termasuk yang paling tinggi di ASEAN juga termasuk yang paling tinggi itu dari kematian ibadahnya. Saya ingat 30.000 24 eh 26.000 itu ibu meninggal sejak tahun 4.000 itu anak-anak meninggal setiap tahun. Dokter Beni ada tambahan Dok mungkin dari kami demikian Bapak Ibu. Izin, Bu Ketua ya, Pak Ad. Masih ada sedikit lagi Bu Ketua. Terima kasih jawabannya Pak Menteri.
Sori Pak, ada satu lagi tadi Pak yang aturan-aturan Pak Ad Rizki aku jawab dulu ya Pak. Itu Undang-Undang kan 17 2023 Pak. 2024 PP-nya keluar. PP-nya juga supaya enggak banyak saya bikin satu kan jadi tebal sekali. Udah keluar. Nah itu Perpres butuh en Pak. Jadi habis PP 2024 kan butuh turunan Perpres. Dari en itu tiga sudah terbit. Yang tiga lagi sudah dalam tahap harmonisasi atau penetapan. Jadi sudah keluar dari Kemen CAS yang enpres sudah terbit 2025 2026 tiga lagi sudah di sudah dietnek ya. Kepres 1 sudah
terbit 2024 juga. Jadi di level presiden tinggal tiga aturannya ya. Nah, di level menteri yang mesti harmonisasi kan peraturan menteri itu dari 15 10 sudah terbit, Pak. 10 sudah terbit ya. Lima sudah lepas dari menterinya gitu. Jadi sudah selesai semua sekarang sedang dalam proses. Nah, memang proses di Indonesia butuh waktu. Saya masih akui butuh waktu. Tapi saya mau, saya di sini memuji Komisi 9. Jadi kalau Komisi 9 ingat itu undang-undang besar yang ada nih yang sifatnya omnibus itu adalah undang-undang keuangan diapprove April
2023. Ini ada Pak itu komisi 11 kan ada undang-undang kesehatan di suji Agustus 2023. Jadi kalau ada yang dibalik boleh tanya undang-undang keuangan itu PP-nya sudah keluar belum gitu? Perpres-nya sudah keluar belum? Kepresnya sudah keluar belum? Jadi sebenarnya yang diprestasi dari Komisi 9 adalah dalam 3 tahun itu tinggal tiga perpres dan lima permen cas. Dan sudah saya lihat history ya gimana mulai dari undang-undang sampai semua peraturan keluar itu 5 tahun aja sudah luar biasa. Ada yang sampai masanya
DPR-nya ganti belum. Ada yang masanya sampai 15 tahun aja enggak selesai-selesai gitu ya. Jadi di sini dalam waktu 3 tahun, Pak, Ibu tolong doain gitu. Tinggal tiga lagi perpes semuanya sudah di sana tinggal tanda tangan dan lima Perband CAS. Dan Bapak Ibu bisa bandingkan dengan produk undang-undang yang lain sudah turunnya sampai mana gitu ya, Pak Rizki ya. Mudah-mudahan menjawab. Silakan. Terima kasih Bu Ketua. Izin ya, Pak Adik. ee ini di halaman 11 tadi tren penyakit demam berdarah 2021 sampai 2026
ini kami mengapresiasi dan luar biasa ya Pak Menteri ini bisa menurunkan secara signifikan dari tahun 2024- 2025 dan di tahun 2026. Nah, ini kami apresiasi memang luar biasa. Tapi kita juga punya tantangan dan ancaman ke depan terkait dengan climate change yang ini berubah-berubah dan kita ee ada tantangan juga di tahun depan 2027 2028 ini bisa jadi juga bisa apakah tetap kita statis atau stabil di sini atau lebih turunkan lagi atau mungkin bisa juga ee malah justru naik. Tapi kalau melihat dari data statistik di halaman
11 ini memang ini cukup signifikan menurutnya. Pertanyaannya adalah Pak Menteri, kita beberapa waktu yang lalu Komisi 9 juga melihat baik itu ke Yogyakarta maupun ke Bali terkait dengan intervensi ee apa ya namanya ya ee perkembang biakan nyamuk Wolbakia waktu itu. Apakah ini penurunan angka dari tahun 2024, 2025, dan tahun 2026 ini merupakan salah satu bukti kesuksesan atau success story dari apa namanya e nyamuk Wolbakia tadi, Pak Menteri. Karena ini waktu beberapa lalu kan Wbakia ini diploating di lima kota
kalau enggak salah. Nah, saya ingin mendapat jawaban Pak, apakah ini succes storynya atau bukan gitu. Terima kasih, Pak Buan. Ya, makasih. Ee masih ada yang lain? Mungkin pertanyaan ya, mungkin pertanyaan saya Pak Menteri yang menyangkut ee ee apa ee alat-alat yang dibeli yang bintang dua kemudian kaitan dengan ee apa namanya perizinan yang dari ee Badan Pengawas Tenaga nuklir sementara barangnya sudah dibeli. Itu kaitan itu yang saya sampaikan tadi pertanyaan itu kenapa itu sudah dibelanjakan sementara
izin belum ada. ee sementara sama-sama ada untuk mempercepatkan ini kan dari ee penyakit-penyakit yang ee keinginan Pak Menteri e luar biasa agar cepat penanganannya. Tapi terkendalah dengan itu. Sementara ini menelankan sekitar 27 triliun sekian dan ee dari 2024 digeser ke 2025 sampai sekarang. Kalau bintang ini tadi saya minta penjelasan apakah memang ini belum terkirim kan baru sebagian. Apakah kaitan dengan yang tadi izin tadi yang baru keluar berapa berapa berapa itu sampai itu belum dikirim?
Mungkin itu yang belum dijawab, Pak Menteri. Silakan, Pak Menteri. Jadi untuk yang volbakia kita pernah presentasikan di dewan juga beberapa kali itu memang secara ilmiah terbukti turun di Jogja, Pak. Kemudian kita dan itu drastis, Pak. Benar-benar penurunannya drastis. Sudah masuk jurnal ilmiah dan saya bangga penelitinya tuh orang Indonesia. Jadi itu dipakai dasar di seluruh dunia karena penelitian yang dilakukan di Indonesia. Nah, agak ironisnya denggi itu paling besar di Brazil, Pak. Bukan itu nomor satu di
dunia denggi di Brazil. Brazil pasang besar-besaran. Jadi saya pernah datang ke Brazil, saya lihat besar sekali dia pasangnya di sana. Serius sekali. Jadi approach-nya Brazil sama dia atur vektornya. Jadi nyamuknya diatur dengan gaya ini. Dia atur manusianya juga dengan imunisasi vaksinasi denggi. Jadi dia kasih dua-duanya intervensinya di sana. Nah, sekarang kita sudah ekspansi ke lima kota. Hasilnya yang laporan saya lihat yang jalan sempurna mirip dengan Jogja. Jadi turunnya itu terjadi. Sekarang teman-teman mau mereplicate itu
ke 100 kota. Jadi kita sudah lihat ada program 100100 jadi 100 kota kita akan cover memproteksi 100 juta orang. Kalau ini kan baru satu kota tadi Jogja naik li kota kita sekarang mau ke 100 kota. Nah sekarang kita sedang cari pendanaannya karena sama di KK pendanaannya kalau yang denggi ini pasti prioritasnya rendahlah gitu kan. Karena memang yang meninggalnya sedikit itu dengki dibandingkan TBC yang 100.000 ini kan meninggalnya ordanya berapa tadi? 600-an gitu kan. HIV yang meninggalnya mungkin berapa puluhan ribu ini ratusan.
Sehingga kita mencoba sekarang mencari pendanaan dari luar dan beberapa sudah mau tertarik untuk bantu ya. Kayak di Brazil itu juga dibantu tuh ada pendanaan yang sifatnya hibah dan grand. Tapi Bapak benar Golbakia itu sudah terbukti dan yang bukti paling bagusnya dipakai di Brazil. berhasil adalah negara denggi insiden paling besar dan jauh bedanya dengan Indonesia tuh berkali-kali lipat Pak Adik Rizki ya. Jadi ada di sana tapi apakah penurunan kita ini disebabkan itu? Saya belum bisa bilang begitu Pak karena baru di lima
kota. Kalau saya ditanya jujur itu yang Bapak pertama bilang lebih benar karena memang musimnya lagi friendly. Begitu nanti dia ada Elnino lagi naik itu pasti naik. itu juga sudah proven historically seperti itu. Begitu ada eh dan perubahan cuaca itu kita enggak ngerti kan sekarang kan karena ini deng ini kan penyakit tropis. Jadi Brazil, Indonesia sekarang sudah mulai naik ke subtropis. Beberapa negara di Amerika bagian selatan itu udah udah mulai kena. Whichis sebelumnya kan enggak kan Mexico
itu sudah mulai kena. Tadinya kan ini hanya penyakit khusus di daerah tropis dan itu kita enggak bisa duga. Jadi kita sambil jalan sambil kita lihat tadi kalau Ibu Feli bilang, “Bu, memang sebagian besar yang kita tertunda itu BPJS lebih besar Bu yang yang tertunda, ya. Bapeten ada tidak sebesar BPJS. Jadi kita sudah koordinasi dengan BPJS rencananya akhir bulan Mei ini ya. Kita mau tanda tangan semua alat langsung mereka setujui. Tapi dengan catatan PNPK-nya atau prosedur pemakaian alatnya
kita mau diskusi dan itu keputusan menteri aja. Nanti kita akan panggil organisasi profesi kolegium termasuk BPJS duduk bareng untuk menentukan yang ini seperti apa. Yang nanti ee Mei sebenarnya kita ingin ubah adalah satu untuk cesar, dua untuk jantung. Karena perminan BP juga cesar itu di seluruh dunia yang caesar wanita hamil 20%. Di Indonesia yang caesar wanita hamil 80%. Jadi kan BPS bilang ini kan ya aneh sendiri gitu. Tapi kalau ngomong kan enggak enggak diterima dengan sisi tenaga medis. Tapi BPJS bilang ini
enggak make sense gitu. Masa sih apa bedanya perempuan Indonesia sehingga 80% masih disesar sehingga di luar negeri hanya 20% yang masih diesesar? Pasti ini bukan alasan medis. itu ini BP jadi kita bantu juga ke BPJS-nya untuk urusan itu Bu yang BPETEN kita sudah ada komunikasi karena enggak seberat BPJS kita enggak dibik ngejarnya enggak si ini sebagai BJS tapi kita monitor itu setiap bulan kita juga sudah ada tanda tangan kerja sama kalau enggak salah sama BAPPEN juga fakultas sudah ada kok Bu
sudah ada kerja sama sama Bapeten supaya bisa dipercepat tapi karena mungkin banyak aja antrian ini ada antrian Dan karena yang banyak kan city scan itu butuh bapeten, Bu. Ee catlab itu butuh bapeten. Itu antriannya juga sekarang banyak dan BPTEN kan organisasinya enggak besar gitu ya. Jadi mereka e SDM-nya terbatas itu agak agak antriannya agak lama. Tapi kalau pengalaman kita yang agak kritikal lebih banyak pendingnya itu di BPJS. pimpinan ya Bu Irma silakan ya sedikit pimpinan Pak Menkes barusan
saya dapat informasi di rumah sakit Bunda itu sekarang banyak sekali yang mengindap campak itu barusan saya ee ketemu sama ada ibu-ibu di luar situ dia jurnalis dia bilang ee adiknya kena campak tapi di Rumah Sakit Bunda itu banyak sekali pasien campak dan anehnya itu Ibu Ibu-ibu, ibuibu yang dari empat anak yang kena campak itu justru malah ee anti anti vaksin. Dia enggak mau anaknya diimunisasi. Nah, dia juga menjadi seolah-olah memberikan informasi kepada yang lain-lain, udah berobat aja, enggak usah
vaksin-vaksinan gitu. Nah, ini tolong juga mungkin Pak Menkes atau ada dari teman-teman dari Kementerian Kesehatan bisa ngecek tuh, Pak. yang di Rumah Sakit Bunda tadi ibu-ibunya bilang minta tolong sama Pak Menkes untuk melihat di Rumah Sakit Bunda karena lebih dari 10 orang Pak yang sekarang dirawat di Rumah Sakit Bunda. Jadi tolong mungkin dari Kementerian Kesehatan ada yang ke sana dan mengecek secara langsung. Terima kasih pimpinan. Iya Buil. Saya tadi aja nih baru terima WA ini dari seorang guru besar terkenal ini. Saya
enggak sebut namanya. Pak, hari ini rumah sakit saya RSCM nih. RSCM ada dua kasus campak komplikasi pneemonia yang satu masih diintubasi ini. Ini kalau sudah intubasi itu sudah parah buat artinya karena masuk RCM pasti sudah parah-parah kan. Umurnya 9 bulan belum diimunisasi. Kemudian yang satu lagi 3 tahun imunisasinya cuma sekali kan itu harusnya tiga kali ya gampang. Dua kali. Hah? Dua kali. Dua kali. Dua. dua kali. Dua kali. Harusnya dua kali. Jadi imunisasi hanya dua kali. Jadi memang benar kita sudah ngelihat semua yang
kena itu korelasinya sangat tinggi dengan tidak imunisasi. Jadi ini yang memang saya juga bilang ke teman-teman, “Dokter, Pak, kenapa ini enggak bisa imunisasi?” I karena masyarakat kita dinamikanya berubah. Yang kejadian dulu di Amerika itu sekarang terjadi di kita. Nah, itu PR kita bareng-bareng lah. Saya sekarang lagi mikirin gimana caranya agar banyak dokter-dokter muda ini yang lebih fasih berbicara dengan gayanya mereka agar proses ini bisa jalan dengan baik. Karena udah ini sih enggak kritis Bu.
Jadi nanti saya minta juga Pak Andi coba lihat di Hermina dan feeling saya seperti yang Ibu Irma bilang itu kemungkinan besar enggak lengkap imunisasi atau belum diimunisasi ya. Karena DKI juga termasuk yang imunisasinya kalau aku lihat sih DKI. Hah? Oh, DKI bagus ya? DKI bagus ya. Oh, ya sudah. Nah, ini masuknya dari mana? Nanti nanti kita cek ya, Bu. Ini masuknya anaknya dari mana. Tapi yang jelas kita mesti kejar karena orang-orang ini pasti menular menularin ke keluarganya dan yang paling ngeri
menularkan ke teman-temannya di sekolah. Teman-teman sekolah. Terima kasih Bu. Masih ada belum cukup ya Bapak Ibu sekalian. Baik ee terima kasih Pak Menteri atas penjelasannya. Selanjutnya saya akan tawarkan kesimpulan sementara pada rapat kerja hari ini. Sebelum saya bacakan kesimpulan sementara, izin untuk mengkoreksi waktu rapat. Tadi disepakati 15.30, sekarang ternyata sudah 16 lewat. Jadi saya izin sampai dengan jam 1645 lah ya. Izin ya Bapak Ibu ya. Setuju ya. Baik, bisa ditayangkan. Kesimpulan
sementara rapat kerja Komisi 9 DPR RI bersama dengan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Saya bacakan poin yang pertama dalam rangka mencegah potensi lonjakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau P3DI. Komisi 9 DPRRI bersepakat dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bahwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk melakukan percepatan dan penguatan program imunisasi nasional termasuk imunisasi kejar guna menutup kesenjangan cakupan atau immunity gap pasca pandemi melalui A. Penguatan tata
kelola program imunisasi berbasis data, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta optimalisasi sistem logistik dan pelaporan. B. Intensifikasi sosialisasi dan komunikasi risiko dengan pelibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan media. C. Penjaminan ketersediaan dan pemerataan vaksin termasuk penguatan sistem rantai dingin hingga fasilitas pelayanan kesehatan. D. penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah melalui target kinerja yang terukur serta monitoring dan evaluasi berkala. E. Pelaksanaan surveilance aktif dan
respon cepat KLB termasuk imunisasi kejar di wilayah dengan cakupan rendah. F. Integrasi layanan imunisasi dalam pelayanan kesehatan primer. Izin saya tawarkan kepada Bapak Ibu anggota terlebih dahulu terkait dengan poin 1 A sampai dengan F. Ada koreksi atau cukup bisa kita sepakati ya. Cukup ya Bapak Ibu. Diilanjut di poin nomor 2. Komisi 9 DPR RI bersepakat dengan Kementerian Kesehatan RI bahwa Kementerian Kesehatan RI untuk AM melakukan harmonisasi dan sinkronisasi data kasus dengi dengan lembaga terkait termasuk BPJS kesehatan
guna memastikan akurasi data sebagai dasar pengambilan kebijakan yang tepat, strategis, dan berbasis bukti. B. memperkuat implementasi strategi penanggulangan dengi melalui pendekatan one health yang terintegrasi mencakup aspek lingkungan, vektor, dan manusia dengan langkah yang konkret, terukur, dan berdampak serta didukung oleh perencanaan pembiayaan yang memadai. Bapak, Ibu anggota bisa disepakati? Sepakat, ya. Lanjut. Poin nomor 3, Komisi 9 DPR RI bersepakat dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
bahwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mempercepat pemanfaatan alat kesehatan dalam penanganan penyakit katastrofik melalui A. Penyelesaian kendala implementasi termasuk kerja sama fasilitas pelayanan kesehatan dengan BPJS kesehatan serta perizinan dari BAPETEN. B. kesiapan dan kecukupan tenaga medis dan tenaga kesehatan melalui pelatihan, sertifikasi, dan distribusi SDM kesehatan yang memadai. C. Dukungan kajian Health Technology Assessment agar pemanfaatan alat kesehatan dapat terintegrasi secara
optimal dalam layanan jaminan kesehatan nasional. Bisa disepakati ya, Bapak, Ibu. Setuju? Nomor 3 ya. Lanjut di nomor 4. Komisi 9 DPR RI bersepakat dengan Kementerian Kesehatan RI bahwa Kementerian Kesehatan RI untuk mengintegrasikan layanan kesehatan mental dalam penanganan tuberkulosis sebagai bagian dari strategi utama eliminasi TIB melalui A. Kewajiban skrining kesehatan mental bagi pasien TIB guna meningkatkan kepatuhan pengobatan dan tingkat kesembuhan. B. Penguatan basis data terkait kondisi
mental. Pasien TBI. C. Kesiapan implementasi di fasilitas pelayanan kesehatan termasuk dari aspek sumber daya manusia, standar layanan, dan mekanisme pembiayaan. Ini tadi saya dan Pak Sihar ini yang keempat bisa disepakati ya, Bapak, Ibu. Setuju ya? Oke, selanjutnya ee koreksi dan juga masukan dari Pak Menteri terkait dengan kesimpulan kita. dipersilakan dari poin 1 A B C D E F. Coba lihat nomor satu dulu, Ibu. Akar bahasa aja. Amanlah, Pak Menteri. Aman. Aman ya. Aman deh. Bisa disepakati ya. Ini yang nomor satu. Benar, Pak. Pak
Sekjen tuh Komisi bersepakat dengan P Kesehatan RI agar gitu, bukan bahwa Bu, agar Kementerian Kesehatan RI melakukan percepatan gitu. Oke. Redaksi agar untuknya dihilangin gitu ya. Ah, Pak. Pak Sekjen bahasa Indonesianya nilainya bagus. Dulu aku enggak bagus. Coba nomor dua. Nomor dua. Oke. Nomor satu ya. Nomor dua. Heeh. Heeh. Betul. Ee untungnya dihilangin. Heeh. Nomor dua. Oke, Bu. Oke, nomor tiga yang mempercepat alat kesehatan dalam melaluiat percap yang beda dukung aja nomor tiga. Oke, dapat
agarnya kasih spasi Bu Mas D. I enggak apa-apa menj bagaimana enggak apa-apa penguatan B dan termasuk dari aspek. Oke, Bu. Oke. Baik. dengan adanya koreksi tadi ya ee rumusan kesimpulan rapat kerja Komisi 9 dengan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Senin 20 April 2026 dapat kita setujui menjadi keputusan rapat pada hari ini. Baik, akhirnya kami tentunya atas nama pimpinan dan juga seluruh anggota Komisi 9 DPRRI mengucapkan terima kasih dan mohon maaf bila ada hal-hal yang kurang berkenan selama jalannya rapat kita pada
hari ini. Untuk sebelum menutup saya persilakan Pak Menteri untuk menyampaikan sepatah dua patah katanya ya sebagai penutup. Silakan Pak Menteri. Jadi Bapak Ibu terima kasih meeting kali ini berjalan lancar dan tepat waktu. Mudah-mudahan jadi pulangnya sehat dan kondisi kesehatan mental kita segar selalu sehingga tidak perlu diobati secara psikis gitu. Dan mudah-mudahan Bapak Ibu berusia panjang amin nantinya. Amin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih dengan mengucap syukur
alhamdulillah rapat pada hari ini saya nyatakan ditutup. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar