WASHINGTON, D.C. / JAKARTA — Sebuah satelit mata-mata rahasia militer Amerika Serikat dari era Perang Dingin, USA-32 (yang juga dikenal dengan nama sandi Farrah III), dilaporkan hancur dan terpecah belah secara misterius di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit / LEO).
Misi pelacak satelit U.S. Space Force mengonfirmasi bahwa satelit yang diluncurkan sejak tahun 1988 tersebut hancur di ketinggian sekitar 775 kilometer di atas permukaan Bumi tanpa penyebab pasti yang diketahui hingga saat ini.
Kronologi Hancurnya Satelit Rahasia USA-32 (Farrah III)
1. Rekam Jejak Misi Intelijen Sinyal Perang Dingin
Satelit USA-32 meluncur ke angkasa menggunakan roket Titan II pada 5 September 1988. Dioperasikan oleh National Reconnaissance Office (NRO), satelit ini mengemban misi intelijen sinyal (signals intelligence) untuk mencegat radar dan sinyal radio Uni Soviet selama dekade akhir Perang Dingin:
-
Tujuan Misi: Menangkap emisi radar militer musuh pada frekuensi 2 hingga 18 GHz.
-
Julukan Farrah III: Diberi nama sandi “Farrah III” sebagai bagian dari seri program satelit pengintai era 1980-an.
2. Ledakan Mendadak di Altitude 775 Km
Satelit yang telah lama dinonaktifkan (decommissioned) tersebut tiba-tiba hancur menjadi puluhan hingga ratusan pecahan:
-
Potensi Penyebab: Para ahli menduga pecahnya struktur bisa dipicu oleh sisa bahan bakar yang meledak (internal explosion), degradasi baterai tua, atau hantaman mikro-meteorit, meskipun opsi senjata anti-satelit (ASAT) telah dibantah.
-
Tanpa Peringatan Dini: Tidak ada sinyal atau indikasi anomali sebelum satelit terdeteksi terpecah di sistem pemantauan antariksa.
Ancaman Awan Sampah Antariksa (Space Debris) Bagi Satelit Aktif
Risiko Sindrom Kessler di Orbit Rendah Bumi
Disintegrasi USA-32 menambah ancaman serius bagi keselamatan penerbangan luar angkasa global:
-
Penyebaran Serpihan: Pecahan satelit menyebar di wilayah orbit yang sangat padat lalu lintasnya.
-
Potensi Tabrakan Beruntun: Kecepatan serpihan yang sangat tinggi berpotensi merusak satelit komersial, satelit komunikasi, hingga stasiun luar angkasa jika melintas di jalur yang sama.
Atensi Komunitas Kedirgantaraan dan BRIN di Indonesia
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi pengelola infrastruktur satelit komunikasi dan riset di Indonesia:
-
Pemantauan Satelit Nasional: Lembaga keantariksaan dan peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memantau pergerakan puing antariksa untuk memastikan keamanan satelit Indonesia (seperti Satria-1 dan armada Merah Putih).
-
Kesadaran Regulasi Space Debris: Mendorong kerja sama internasional dalam mitigasi sampah antariksa demi keberlanjutan ekosistem ruang angkasa hulu.
Comment