SpaceX kembali membuat geger dunia keuangan dan teknologi. Perusahaan antariksa milik Elon Musk ini berhasil mengantongi dana fantastis sebesar 75 miliar US dolar atau setara lebih dari Rp1.200 triliun melalui penawaran umum perdana saham atau IPO. Tapi yang lebih menarik, angka itu ternyata belum final. SpaceX masih berpotensi mendapatkan tambahan dana hingga 11,25 miliar US dolar atau sekitar Rp180 triliun lagi melalui mekanisme yang dikenal sebagai Green Shoe option.
Dalam IPO terbarunya, SpaceX melepas sekitar 5% dari total saham yang beredar kepada investor publik. Dari aksi korporasi tersebut, perusahaan berhasil menghimpun dana segar sebesar 75 miliar US dolar. Namun, di balik transaksi raksasa ini terdapat mekanisme penting yang sering digunakan dalam IPO berskala besar di Amerika Serikat, yaitu Green Shoe Option atau opsi penjatahan lebih. Secara sederhana, Green Shoe adalah hak yang diberikan perusahaan kepada penjamin emisi untuk membeli saham tambahan hingga 15% dari jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO.
Dalam kasus SpaceX, perusahaan menunjuk Morgan Stanley sebagai agen stabilisasi pasar. Bank investasi tersebut memperoleh hak untuk membeli saham tambahan dengan harga IPO sebesar 135 US dolar per saham dalam jangka waktu hingga 30 hari setelah saham mulai diperdagangkan. Jika seluruh opsi ini digunakan, Morgan Stanley dapat membeli sekitar 83,34 juta saham tambahan. Jumlah tersebut berada di luar 555,6 juta saham yang sudah dijual dalam penawaran awal. Artinya total saham yang bisa diserap investor mencapai hampir 639 juta saham. Apabila skenario ini terjadi, SpaceX berpotensi memperoleh tambahan dana hingga 11,25 miliar US dolar.
Green Shoe pada dasarnya memiliki dua fungsi utama. Pertama, membantu menjaga stabilitas harga saham setelah IPO. Kedua, memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk mendapatkan tambahan modal apabila minat investor sangat tinggi. Cara kerjanya cukup unik. Morgan Stanley dapat menjual saham tambahan kepada investor terlebih dahulu melalui posisi short atau penjualan saham yang belum dimiliki. Jika harga saham SpaceX di pasar naik jauh di atas harga IPO, Morgan Stanley dapat membeli saham tambahan langsung dari SpaceX melalui Green Shoe Option untuk menutup posisi short tersebut. Sebaliknya, jika harga saham justru turun di bawah harga IPO, Morgan Stanley tidak perlu membeli saham baru dari perusahaan, melainkan membeli saham yang lebih murah di pasar reguler untuk menutup posisi short. Langkah ini sekaligus membantu menopang harga saham agar tidak jatuh terlalu dalam.
Nama Greenshoe berasal dari perusahaan Greenshoe Manufacturing, perusahaan pertama yang menggunakan skema tersebut saat melakukan IPO pada tahun 1960. Sejak saat itu, Green Shoe menjadi salah satu instrumen paling penting dalam transaksi IPO global. Contoh sukses terlihat pada IPO Alibaba Group tahun 2014, di mana permintaan yang tinggi membuat penjamin emisi mengeksekusi penuh opsi ini untuk mengendalikan gejolak pasar. Di sisi lain, IPO Uber pada tahun 2019 menunjukkan skenario berbeda di mana harga saham turun di bawah harga IPO, sehingga penjamin emisi tidak mengeksekusi opsi dan justru melakukan stabilisasi dengan membeli saham langsung dari pasar.
Kasus SpaceX menjadi salah satu IPO terbesar yang pernah terjadi dan menunjukkan besarnya kepercayaan investor terhadap bisnis teknologi antariksa. Keberhasilan penggalangan dana sangat bergantung pada pergerakan harga saham pada beberapa minggu pertama setelah pencatatan. Bagi investor retail, penting untuk memahami bahwa euforia IPO tidak selalu menjamin keuntungan instan. Selalu perhatikan prospektus perusahaan, model bisnis, valuasi, serta mekanisme pasar yang dapat mempengaruhi pergerakan harga. Jangan hanya membeli saham karena popularitas nama besar perusahaan, lakukan riset terlebih dahulu dan pahami risiko investasi sesuai dengan profil masing-masing.

Komentar