Banyak yang bilang kalau sudah masuk musim pemilu, semua cara seolah dihalalkan. Calon petinggi, apalagi calon presiden, memang suka mengumbar janji selangit, seperti halnya Enrique Riquelme, sang calon presiden Real Madrid. Masalahnya, Riquelme ini bukan sekadar mengumbar janji biasa; ia menyeret-nyeret nama pemain dan klub lain yang tidak ada hubungannya dengan dia. Bayangkan jika kalian punya pasangan, lalu tiba-tiba ada orang asing yang mengklaim bahwa pasangan kalian itu mau jadian dengannya. Tentu saja itu sangat menyebalkan, dan itulah yang dirasakan Manchester City saat Riquelme secara sembarangan mengklaim bahwa Erling Haaland akan bergabung ke Real Madrid.
Enrique Riquelme, pria berusia 37 tahun, tampil di acara televisi El Hormiguero pada 3 Juni 2026. Dalam kesempatan itu, ia menyatakan bahwa Erling Haaland dan Pedri akan menjadi pemain Real Madrid apabila dirinya memenangkan pemilihan presiden klub pada 7 Juni mendatang. Ia tidak hanya menjadikannya sebagai target atau ambisi, melainkan mengklaim bahwa kepindahan tersebut sudah tinggal menunggu waktu dan pihak pemain sudah memberikan lampu hijau. Bahkan, ia sempat memamerkan jersey Real Madrid dengan nameset Haaland, sebuah tindakan yang dinilai sangat agresif dan melanggar etika karena Haaland masih terikat kontrak dengan Manchester City.
Manchester City awalnya menanggapi klaim tersebut dengan santai, mungkin mengira Riquelme hanya sedang mencari perhatian. Namun, reaksi keras segera muncul dari pihak pemain. Agen Haaland, Rafaela Pimenta, menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak benar, sementara ayah Haaland menyebutnya sebagai guyonan yang tidak masuk akal. Akhirnya, Manchester City memberikan respons resmi yang tegas melalui juru bicara mereka. Mereka menyatakan bahwa berita tersebut adalah omong kosong, tidak ada klausul kontrak yang memungkinkan kepindahan tersebut, dan pihak klub siap menempuh jalur hukum atas penggunaan citra pemain mereka tanpa izin.
Strategi yang dimainkan Riquelme ini dianggap sebagai upaya meniru trik lama Florentino Perez, sang petahana yang memang dikenal sering memberikan janji transfer besar setiap kali mencalonkan diri. Namun, cara main Riquelme dinilai tidak secantik Perez. Sebagai contoh, saat Perez mengklaim transfer Luis Figo ke Madrid di masa lalu, Figo memang memiliki klausul yang memungkinkannya hengkang. Sebaliknya, Erling Haaland masih memiliki kontrak jangka panjang di Manchester City hingga 2034, sehingga klaim Riquelme dianggap sangat tidak realistis dan ceroboh.
Akibat blunder ini, elektabilitas Riquelme justru anjlok. Suasana markas kampanye kedua calon pun terlihat kontras; markas Perez ramai dikunjungi pendukung, sementara markas Riquelme sepi seperti toko kelontong. Kepercayaan adalah kunci dalam sebuah pemilihan, dan dengan klaim yang terbukti tidak berdasar ini, publik mulai mempertanyakan kredibilitas Riquelme. Pada akhirnya, tindakan ini justru merugikan rencana transfer masa depan Real Madrid itu sendiri karena membuat Manchester City merasa tidak nyaman dan kemungkinan besar akan berpikir berkali-kali jika suatu saat nanti Madrid benar-benar serius ingin mendekati pemain mereka.

Komentar