Pemandangan berbeda terjadi ketika nama Norwegia yang ditempatkan di grup I justru keluar di akhir pembacaan kontestan potig. Semua mata dunia langsung tertuju pada grup tersebut. Semua lalu latah menyebutnya grup neraka. Tak pernah terbayangkan bagaimana bisa skuad mengerikan Prancis, Senegal, Norwegia, dan Irak harus saling bunuh di etape awal. Grup ini bukan lagi tentang perang bintang kepagian, tapi juga kuburan bagi para bintang. Kejamnya baku hantam yang tak terelakkan pada akhirnya harus memakan korban. Bagaimana
kekuatan tim-tim di grup ini? Siapa yang akan angkat koper lebih dulu? Prancis datang ke Piala Dunia 2026 sebagai unggulan. Kalau kata Opta, Leblue ini jadi kandidat juara setelah Spanyol dengan persentase sekitar 14%. Sangat layak jika menempatkan tim ayam jantan sebagai kandidat juara. Wong di dua edisi sebelumnya saja pasukan Didi Di Shong berhasil jadi sang finalis. Bedanya mereka hanya gagal di edisi terakhir karena keok dari Argentina. Leblue menatap Piala Dunia 2026 dengan kekuatan yang sangat mengerikan. Siapa
yang gak takut coba hadapi lini serang mereka yang diisi oleh pemain macam Osmani Dembélé, Kilian Mbappe hingga Michael Olisse. Sudah begitu mereka juga punya pertahanan kokoh seperti William Saliba hingga Upao. Namun di luar itu banyak publik yang bilang bahwa lini tengah Prancis adalah salah satu celah kelemahan. Tapi apakah benar begitu? Materi lini tengah mereka sebenarnya gak buruk-buruk amat sih. Meski tak ada Kamavinga dan Antoan Griezmann, mereka masih punya Warren Zer Emry, Ryan Cherky
hingga Choameni. Sang arsitek Didong yang juga mantan gelandang tentu sudah tahu betul bagaimana merambuk kekurangan lini tengahnya tersebut. Salah satu caranya adalah dengan mempertahankan pola pakem 4231 yang bertumpu pada kekuatan lini tengah yang sudah dipakai sejak Euro 2016. Itulah mengapa kita sering melihat pemain tengah seperti Ngolok Kante, Blaze Matuidi, Adrian Rabio hingga Paul Pogba sangat solid sebagai salah satu kekuatan. Prancis memang tak banyak cela. Mereka datang ke Amerika Serikat juga dengan rekor mulus
tanpa kekalahan di fase kualifikasi. Di laga persahabatan melawan tim seperti Brazil pun mereka berhasil menang. Namun yang justru harus diperhatikan Prancis ini sering terjegel karena masalah internal atau di luar teknis sepak bola. Kita enggak pernah tahu jika Ego Mbappe jadi makin tak terkendali atau Choam yang tiba-tiba baku hantam seperti di Real Madrid. Kegagalan di Euro 2020 juga berasal dari konflik internal sebelum kompetisi. Baik itu renggangnya hubungan Mbappe dengan Jirut atau Mbappe dengan
Griezmann. Selain soal non teknis, Leblu juga masih memiliki trauma. Kita masih ingat di Piala Dunia 2002, Prancis yang dielu-elukan justru terjegal di laga pertama oleh Senegal. Bahkan yang lebih menyakitkan, Prancis saat itu harus puas menjadi juru kunci grup. Itulah yang membuat Prancis sampai sekarang enggak bisa tidur nyenyak. Lengah sedikit saja, trauma pahit itu bisa saja datang menghantui. Bukan hanya Senegal yang akan jadi ancaman bagi Prancis, tim Viking dari Nordik Norwegia bisa menjelma monster yang sangat menakutkan
di grup ini. 28 tahun lamanya rakyat Norwegia menanti momen tampil di Piala Dunia. Era generasi emas, mereka telah terbukti berhasil menjungkalkan para raksasa. Timnas Italia, salah satu korban keperkasaan tim berjuluk Lovine ini. Bicara soal kekuatan Norwegia, kita tidak hanya bicara tentang Erling Halan, lihat juga bagaimana Alexander Sorlot yang moncher di Atletico Madrid dengan 20 gol atau Martin Odegard yang baru saja memimpin Arsenal mengangkat trofi Liga Inggris. Namun di balik melimpahnya
materi lini serang tersebut justru tersimpan celah kelemahan. Lini belakang Norwegia kali ini jadi fokus perhatian. Beker Christopher Aer hingga Julian Ryon bukanlah nama mentereng. Hal itu terlihat jelas ketika mereka kena comeback Belanda di laga persahabatan. Pertahanan Norwegia sangat rawan dihukum serangan balik cepat. Terlepas dari kelemahan itu, kehadiran Norwegia tetap jadi bumbu yang membuat grup ini jadi menarik. Pertarungan epik antara top skor Liga Inggris Erling Halan versus top skor La Liga Kilian Mbappe.
Bagaimanapun akan jadi tajuk utama. Maka jangan sampai melewatkan laga panas ini pada 27 Juni mendatang. Apalagi ini mungkin akan jadi laga penentuan siapa yang akan lolos ke fase gugur. Bagi Norwegia, mereka kini hanya bisa berharap mengulang kisah kelolosan mereka dari grup di Piala Dunia 1998. Style Solbacken yang juga merupakan mantan punggawan Norwegia saat itu akan berjuang mati-matian agar timnya tidak jadi korban dari panasnya grup neraka ini. Sudah seru melihat gontok-gontokan antara Norwegia dan Prancis. Eh, di grup
ini masih ada Senegal. Tim dari benua Afrika ini juga enggak kalah mengerikan loh materi suu itulah mengapa mereka tergabung ke grup neraka ini tanpa rasa takut. Sedikitp the Lion Soft Teranga datang ke Piala Dunia 2026 dengan catatan mulus tanpa kalah di fase kualifikasi. Pasukan Papiau ini sebelumnya juga jadi jawara Piala Afrika 2025. Namun karena keputusan kontroversial gelar mereka dicabut paksa. Bahkan saking enggak mau gelarnya dicabut, mereka menyimpan trofinya di pangkalan militer. Di tengah kondisi
pasca dizalimi itu, Senegal tentu tak tinggal diam. Sebagai pelampiasan, mereka akan coba melawannya di Piala Dunia. Itulah mengapa Auman Singatera enggak bisa sangat menyeramkan di Amerika nanti. Kunci dari kekuatan utama Senegal tetap akan ada pada lini serang. yang akan jadi sosok pemimpin adalah Sadio Mane. Ini akan jadi ajang pembuktian pemain yang baru saja meraih gelar bersama Alnasar. Sebab di Piala Dunia 2022 lalu ia gagal tampil karena cedera. Sadio Mane tidak bekerja sendirian menanggung beban berat di lini
serang Senegal. Ia juga akan ditopang pemain seperti Nicholas Jackson, Ilimanayey hingga Ismailazar. Tapi yang jadi soal melimpahnya kekuatan lini serang ini enggak sebanding dengan kekuatan lini belakang mereka. Kualitas kiper Edward Mendy hingga bekalidou Kibali enggak lagi sehebat dulu. Terbukti di laga persahabatan melawan tim besar seperti Brazil mereka keteteran. ini akan jadi PR besar Pape Tiao. Ia gak boleh mengulangi kegagalan Alioise di Piala Dunia 2022 dengan materi back yang enggak jauh beda. Saat
itu, Senegal Suuan Chise dihempas Inggris gol tanpa balas di 16 besar. Dua laga awal melawan Prancis dan Norwegia akan jadi penentuan bagi nasib mereka. Satu kekalahan saja akan membuat langkah mereka tertatih-tatih menuju ke lolosan. Menarik untuk dinanti apakah di endingnya nanti nama Sadio Mane akan lebih harum daripada Halan dan Mbappe. Di antara tiga tim dengan materi skuad yang menakutkan terselip satu wakil dari Asia yakni Irak. Apa sekali Irak ini? Mereka susah payah lolos lewat jalur playoff. Namun kini hanya dianggap
sebagai penggembira saja di grup neraka ini. Kendati begitu, musuh timnas Indonesia di babak kualifikasi ini datang ke Amerika Serikat bukan untuk jadi pecundang, apalagi jadi korban perang. Singa Mesopotamia menolak disepelekan. Ini adalah sebuah hadiah dari penantian jutaan rakyat Irak yang sudah menunggu selama 40 tahun untuk tampil di Piala Dunia. Di atas kertas, materi kekuatan mereka ada di bawah tiga musuhnya. Tapi secara kolektivitas dan daya juang tim Irak punya. Itulah modal besar mereka untuk mengarungi panasnya
grup neraka ini. Secara amunisi Irak hanya punya pemain kaliber Aimin Husin yang bermain di Liga Irak, Ali Jasim yang dibuang komo ke Liga Arab Saudi hingga pemain yang baru saja meraih hatrick juara Liga Indonesia, Fran Putros. Hebatnya, materi sederhana tersebut berhasil diramu dengan strategi bertahan kolektif ala pelatih kawakan Graham Arnold. Tak sedikit tim-tim yang frustasi menghadapi pertahanan solid racikan mantan pelatih Australia tersebut. Termasuk apa yang pernah dialami timnas Indonesia hingga Bolivia
di babak playoff. Prancis, Norwegia hingga Senegal boleh jadi akan menargetkan Irak jadi lombung poin. Namun siapa tahu dengan kekuatannya itu Irak justru bisa membuat kejutan besar. Kita enggak akan pernah tahu jika mereka tiba-tiba cosplay jadi Arab Saudi di Piala Dunia 2022 saat mengalahkan Argentina. Iya, bukan tidak mungkin justru Irak inilah yang akan membalikkan semua prediksi. Ingat di Piala Dunia 2022 lalu Jepang yang diremehkan di grup neraka justru bisa keluar jadi juara grup di atas Spanyol dan Jerman.
Inilah yang selalu membuat grup neraka jadi menarik. Di awal kita mungkin mudah untuk menebak siapa yang akan lolos, tapi pada kenyataannya justru sering berbalik. Well, kalau disuruh milih siapa yang pantas jadi korban keganasan grup neraka ini, kalian pilih siapa?

Komentar