Bisnis
Beranda / Bisnis / Indrusti Transisi Ekspor SDA: BUMN, Industrialisasi, dan Stimulus Buat Menguat Kemandirian Indonesia

Indrusti Transisi Ekspor SDA: BUMN, Industrialisasi, dan Stimulus Buat Menguat Kemandirian Indonesia

Ya, pemirsa, memasuki kuartal kedua tahun 2026, industri properti nasional masih terus membangun ASA dalam meningkatkan produktivitas dan penjualan produk. Namun, kinerja industri properti yang semakin menantang seiring dengan langkah bank sentral yang menaikkan suku bunga cuan menjadi 5,25%. Keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan atau Bay [musik] Red dari sebelumnya 4,75% menjadi 5,25% menjadi tantangan tersendiri bagi dunia usaha. Tidak terkecuali sektor perumahan di kuotel

kedua tahun 2026. Kenaikan beririt dinilai akan meningkatkan cicilan kredit pemilikan rumah atau KPR masyarakat konsumen properti di tanah air. Hasil survei harga properti residensial atau SHPR Bank Indonesia mencatat harga properti residensial di pasar primer pada kuotal 1 mengalami perlambatan. Hal ini tercermin dari indeks harga properti residensial yang tumbuh 0,62% secara tahunan atau lebih rendah dibandingkan kuartal 4 tahun 2025 yang sebesar 0,83% secara tahunan. Sementara itu, realisasi

anggaran Kementerian PKP hingga 25 Mei 2026 tercatat sebesar Rp1,381 triliun atau sekitar 13,4% dari pagu anggaran tahun ini sebesar Rp10,308 triliun. dari Jakarta. Tim liputan IDX. [musik] Ya, pemirsa, untuk membahas tema menarik hari ini, strategi bertahan industri properti hadapi kenaikan BI rate sudah terhubung melalui video conference. Ada Bapak Paulus Toto Lucida, Ketua Badan Pertimbangan Organisasi DPP REI dan juga Tenaga ahli Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman atau PKP. Ada Prof. Hermanto Siregar, Rektor Perbanas

Institute. Sehat untuk semua. Terima kasih sudah bergabung bersama kami, Bapak-bapak. Semoga sehat selalu. Saya langsung ke Pak Paulus terlebih dahulu. Pak Paulus bicara kemudian mengenai keputusan dari Bank Indonesia untuk menaikkan beet menjadi 5,25%. Ee sejauh mana ini kemudian imbasnya langsung terasa di teman-teman ee industri properti begitu dan seberapa besar tekanan yang nantinya akan dirasakan oleh industri? ya. Ee terima kasih. Selamat bergabung juga Profanto. Jadi ee yang ingin saya sampaikan bahwa

kondisi kenaikan B rate itu sebetulnya tidak terlalu mempengaruhi. Kenapa? Zaman saya dulu membangun yang puncak-puncaknya laku itu malah bay rate-nya itu atau bunga kredit itu ada di 18%. Yang penting sekarang itu adalah kemampuan dari masyarakatnya untuk membeli. Kedua, bagaimana regulasinya supaya masyarakat itu bisa beli properti. Itu yang sangat mempengaruhi kondisi yang ada. Jadi kalau kita ngomong sekarang turun ya. Tapi sebetulnya tidak terlalu banyak turunnya. Kenapa? Karena yang 2025 itu ada efek

Lengkapnya Jejak Luke Mahony: Mengapa Prabowo Restui WNA Jadi Bos PT DSI, Mengurus Ekspor SDA Satu Pintu Saja

domino effect 2024 batas dari rumah subsidi kuotanya itu habis. Jadi begitu masuk 2025 sama Menteri Perumahan sebagai yang baru kementeriannya meningkatkan subsidi kuota [berdehem] langsung ee antusias ee masyarakat cukup besar. sehingga di kuartal pertama itu sangat besar kenaikan dari properti rumah sederhana bersubsi. Baik. Yang kedua, kalau kita ngomong masalah kondisi ekonomi sekarang ini, kalau kita ngomong ekonomi jelek, bukan saya nanti diolok sama para pengusaha. Enggak. Saya juga megang produk ee mobil. Mobil

kuartal pertama ini naik 10%, Pak. [mendengus] Jadi apakah ini bisa? Bisa. Asal regulasinya mendukung. Itu aja. Terima kasih. Baik. Artinya fokusnya terkait dengan tantangan dari teman-teman properti, bukan naiknya ee suku bunga acuan menjadi 5,25% karena terbukti dari pada ee saat suku bunga acuan ee sangat tinggi begitu ataupun bunga kredit sangat tinggi tapi ee minat masyarakat untuk membeli produk-produk properti masih tetap tinggi tapi ee hal lain bergeser ke ee regulasi lah ya. Sebetulnya regulasi apa yang kemudian

menjadi konsen dari teman-teman industri properti? Pak Paulus sekarang yang pertama regulasi itu kan ee sel memang Pak Menteri sudah memperjuangkan sangat amat bagus untuk 1 juta ke bawah bebas sikit. Tapi bank tetap melihat kalau sekarang dia kreditnya pinjol dua kali misalnya 500 sama 200 tetap di bawah R juta, bank akan menolak karena itu dianggap pekerjaannya untuk memacetkan kredit. Nah, yang kedua nilai 1 juta itu memang ee hanya pro ke rumah sederhana bersubsidi. Mestinya juga bisa ke kelas

menengah misalnya jadi 2 juta. Kemudian dari regulasi-regulasinya nonfix income itu 65% market share dari seluruh market untuk pembelian rumah itu sampai sekarang fix regulasinya itu belum ada. Bagaimana caranya nonfix income ini bisa membeli secara lancar? Kesepakatan di antara para bank pemberi KPR. Itu yang terpenting. Baik. Artinya memang ada segmen-segmen tertentu yang secara regulasi insentifnya sebaiknya kemudian disalurkan ke situ begitu ya. Ee akan memberikan ee dampak positif terhadap serapan dari industri ataupun

produk e properti. Saya ke ee Prof. Hermanto, Prof. Ini kalau kita bicara mengenai kenaikan B rate yang dilakukan untuk menjaga kestabilan dari nilai tukar rupah terhadap dolar Amerika Serikat sendiri, sebetulnya apakah ini kemudian menjadi satu hal yang tepat dan sejauh mana implikasinya ini dapat kemudian menstabilkan ee perekonomian nasional? Iya. Jadi ini adalah suatu kebijakan yang tidak dapat dielakkan karena kalau Bank Indonesia tidak meningkatkan BI rate, maka kurs ee rupiah terhadap dolar atau mata uang

Menkeu Purbaya Memastikan APBN Yang Sangat Aman Saat Rupiah Turun Tidak Jelas

asing lainnya itu akan semakin cepat melemahnya. Jadi ee yang langsung ee diatasi dengan kenaikan ee BI rate itu adalah untuk menstabilkan kurs rupiah. Kemudian juga ee dampak ikutannya adalah apabila kurs rupiah tadi itu dibiarkan melemah tanpa satu intervensi seperti peningkatan BI rate itu inflasi itu justru akan ee meningkat karena antara kurs yang melemah itu korelasinya adalah inflasi yang naik gitu ya. Jadi ee oleh karena itu ee dilakukan ee peningkatan BI rate sehingga ee inflasi itu ee

diturunkan. Tapi memang ee konsekuensinya ya dengan peningkatan bunga dan katakanlah ee tadi ya ada persoalan di dalam ee global ekonomi kita yang berpengaruh terhadap kita, pertumbuhan ekonomi kita bisa ee melambat gitu. Namun kenapa saya bilang merupakan pilihan yang pahit ya, yang yang cukup berat ya, karena ee katakanlah ee inflasi itu tadi ee ternyata tinggi gitu ya, karena tidak dilakukan e peningkatan ee BI rate, berbagai sektor juga akan terpengaruh ya. Jadi ee misalnya saja sektor properti ya ee cukup ee tergantung juga

dengan ee kurs yang makin lemah ataupun inflasi yang tinggi karena juga dia dari impor apa baja ya dan beberapa komponen lain yang pasti berdampak kepada cost gitu. Ba jadi di satu sisi memang biaya untuk kredit itu akan meningkat, suku bunga akan meningkat ya kredit dari perusahaan konstruksi kalau dia mengambil ke perbankan atau katakanlah masyarakat kalau dia mengambil kredit perumahan akan meningkat. Tetapi dikatakan tadi Pak Toto ya dampaknya itu mungkin di dalam jangka menengah itu sudah bisa ee stabil lagi

gitu. Baik, menarik kita akan lanjutkan usaha jeda berikut ini. Kita akan mengadres beberapa ee hal yang dinilai menjadi challenge di industri properti terkait dengan biaya dari ee apa impor lah ya bahan-bahan baku yang memang masih kemudian dilakukan oleh teman-teman industri properti yang berdampak kepada harga rumah. Kemudian juga ya dalam jangka menengah itu kemudian secara dampak tidak akan terlalu signifikan sekali begitu ya. Baik, kita akan lanjutkan usaha jeda berikut ini Bapak-bapak dan pemirsa t

bersama kami usaha jeda kami akan segera kembali. Terima kasih Anda masih bergabung sama kami pemirsa dan berikutnya kita akan simak terlebih dahulu beberapa data yang sudah ee disiapkan oleh tim redaksi di antaranya adalah indeks harga properti residensial di kuartal 1 tahun 2026. Seperti Anda dapat saksikan di layar televisi. Em datanya kemudian ee turun ya 1,07% secara year on year. Kemudian di ya kuartal 1 2025-2026 seperti Anda dapat saksikan di layar televisi, kami em kompile datanya dari SHPR ee Bank

Terbaru Nih Harga BBM Pertamina Versi Per 1 Juni 2026 Di Semua Seluruh Ri

Indonesia. Dan berikutnya pemirsa, data e terkait dengan faktor penghambat penjualan residensial. Di antaranya adalah kenaikan harga bahan bangunan sebanyak 20,97%, masalah perizinan atau birokrasi 18,15%, suku bunga KPR 16,47%, proporsi uang muka yang tinggi atau KPR 12,16%, perpajakan 11,28%, lainnya 20,97%. Dan berikutnya adalah pergerakan BI rate dari bulan Agustus 2025 ee hingga bulan Mei 2026. ya, sebelum kemudian naik di bulan Mei ada di level 4,75% kemudian ee di bulan Mei menjadi 5,25%, di bulan April 4,75%.

Baik, kita lanjutkan perbincangan bersama narasumber yang e tadi kemudian masih bergabung bersama kami. Ini kalau bicara mengenai strategi ee bagaimana kemudian teman-teman di industri properti dapat bertahan walaupun memang secara ee suku bunga dari Bank Indonesia sendiri Anda tadi menyimpulkan memang tidak ada sebuah dampak yang signifikan sekali begitu. Ee dirasakan dampaknya tapi nantinya tidak akan ee begitu terasa. Ee challenge-nya tetap ada begitu ya. bagaimana sebetulnya em strategilah yang yang dilakukan oleh

industri untuk dapat bertahan di tengah tantangan-tantangan tadi? Ee Pak Paulus ya, banyak sekali strategi yang dilakukan oleh para pengusaha tapi salah satunya itu yang ee sulit untuk kita hindari adalah kenaikan harga material. tadi ee kalau saya lihat dari persentasenya yang terbesar kan 20 koma itu di material bahan bangunan karena dengan lemahnya rupiah meskipun kelemahan rupiah ini lebih besar karena ee dunia global, makroekonomi global dunia. Jadi kita juga memasang strategi dan mau tidak mau harus mencoba

memasarkan rumah susun. Jadi, rumah susun kita sudah mulai cadangkan di beberapa daerah untuk kita masukkan sebagai program nasional untuk penyediaan rumah tinggal untuk teman-teman. Kenapa itu kita lakukan? Karena ee mau tidak mau dengan penduduk lebih dari 2 juta. Itu dulu yang menyampaikan adalah Pak Basugi Hadi Mulono. Kita harus menyediakan rumah susun untuk masyarakat dan tempat-tempat yang kita sediakan itu adalah oleh kementerian ini adah strategis. Jadi daerah TOD atau daerah stasiun sehingga untuk bekerja

itu akan menjadi relatif dekat dengan ee tempat bekerja atau mutation-nya itu akan mempermudah mereka untuk ee bisa tinggal dan bekerja menjadi dekat, tinggal dan sekolah menjadi dekat. itu yang kita inginkan sehingga ee apa yang kita canangkan ini kita akan realisasikan mulai setelah Agustus kita bangun di beberapa tempat di Indonesia. Baik, saya ke Prof. Hermanto, Prof. dengan ee bunga kredit yang berpotensi naik, apakah sebetulnya daya beli masyarakat terhadap properti diperikirkan akan melemah dalam waktu

dekat, Prof? Iya, benar sekali. Karena dengan kenaikan BI rate katakan ee 50 basis poin ya, itu ada ee potensi ya peningkatan suku bunga KPR fix ya itu antara 1 sampai ee 1,5% itu artinya kalau harga propertinya sekitar R,5 miliar ya kenaikan cicilan itu antara 1 sampai 2 juta per bulan. Jadi kalau terjadi hal yang seperti itu artinya ada potensi menurunkan ee daya beli daripada ee rumah tangga gitu. Oke. Ada potensi ataupun proyeksi terkait dengan potensi perlambatan sektor properti terhadap pertumbuhan

ekonomi nasional. Ee apakah Anda kemudian memiliki data terkait dengan ini, Prof? Kalau untuk sektor ee propertinya memang ee responsnya kan agak berbeda ya antara katakanlah ee yang ee kelas bawah ya dengan properti menengah ee ke atas ya, menengah ke atas mungkin konsumennya ee mempunyai daya beli yang lebih bagus. Barangkali justru salah satu strategi ya menambahkan Pak Toto adalah ee ada semacam ee cross ya eh di bawah mungkin dia ee menjadi lebih lemah dan artinya daya beli lebih lemah, sales

menjadi lebih ee kecil kecuali pemerintah meningkatkan subsidi gitu ya. Tapi di menengah dan atas ee bisa ee barangkali lebih baik. Baik ke Pak Paulus. Pak Paulus, apakah ee ada kemudian potensi penurunan e penyaluran KPR ee akibat dari masyarakat yang mulai menahan pembelian rumah karena bunga kreditnya ee naik nih? Ya memang pasti ada pengaruhnya karena kenaikan itu berarti me merubah dari jumlah angsurat. Tapi itu untuk menengah atas. untuk menengah bawah itu tidak ada pengaruhnya karena sudah

disubsidi pemerintah penuh. Yang pengaruh yang besar untuk kelas menengah bawah itu adalah itu tadi regulasi untuk mereka bisa realisasi karena 65% itu nonfix income. Oke. Ada beberapa yang realisasi tapi tidak banyak relatif tidak banyak karena apa? Slik kita sudah dibantu sama OJK. He Pak Menteri sudah ketemu OJK en kali kalau enggak salah. akhirnya disetujui. Tinggal sekarang bagaimana masyarakat pedagang bakso misalnya bisa membeli rumah e tanpa dipersulit oleh perbankan yang ada. Jadi harus ada kesepakatan kita

akan jembatani kementerian antara perbankan dengan asosiasi-asosiasi nonfix income. Ini kesulitannya apa sih, Pak, yang ditemui oleh ee industri ketika kemudian ada calon pembeli rumah gitu yang menengah ke bawah begitu? ee yang biasa mereka terchallenge tuh dengan berbagai macam ee penyaringan lah ya ataupun proses screen yang diperbankan. ee apa saja challenge-nya dan sejauh mana challeng-challeng tersebut tervokasi kepada pemerintah agar kemudian ada semacam treatment khususlah untuk segmen tertentu.

Iya, memang dari situ kita ingin dia okelah misalnya seorang nonvex income atau pedagang mau beli rumah disuruh nabung dulu dievaluasi. Evaluasinya cukup 3 bulan. Ada beberapa bank yang menentukannya 6 bulan. Rumahnya sudah jadi, orangnya belum disetujui kredit. Karena membangun rumah sederhana bersubsidi itu kurang lebih 34 bulan yaah otomatis developernya juga enggak mau dong. Dia akan merubah ke pembeli yang lain. Nah, inilah yang membuat menjadikan ee seperti mana dulu cek and kita yang bisa menentukan bahwa

regulasi ini bisa membantu untuk para nonfix income ini secara konkret. Baik, saya ke Prof. Herbanto sedikit sebelum jeda. Mix and match ini yang kemudian diperlukan agar masyarakatnya tetap mau beli rumah, industri juga tetap kemudian dapat mempertahankan growth-nya lah ya di tengah kondisi yang cukup challenging ini. Bagaimana Anda melihat mix and match ini ee menjadi sebuah challenge juga antara industri, pemerintah ee dan juga masyarakat dan bagaimana sebetulnya advokasi-advokasi ee agar em hal ini

kemudian tidak terjadi lagiah. Iya. Jadi yang namanya nonfixed eh income tadi itu ya seperti pedagang kata Pak Toto ya memang dia kan punya potensi ya tapi memang dari perbankan ee mempunyai satu prinsip kehati-hatian gitu. Jadi ee katakanlah ee kalau sekiranya e kredit itu menjadi macet ya kan berbeda dengan kalau dia fixed earner gitu ya. Jadi mekanisme eh risk managementnya juga nanti mungkin ee harus diperlukan menjadi lebih kuat gitu ya. Jadi ee karena ee tadi potensi itu bisa terjadi walaupun OJK sudah setuju.

Nah, konsekuensi berikutnya sebetulnya yang tadi yang justru dibutuhkan supaya demand tersebut tidak terlalu melorot atau terjagalah gitu ya memang konsekuensi subsidi ya subsidi pemerintah. Nah, tantangan atau challenge-nya Mas adalah dengan divisi ee apa anggaran kita yang cukup besar apakah akan ditingkatkan itu ee subsidi gitu. Jadi ini merupakan suatu apa ee yang harus diperhitungkan secara sangat akuratlah gitu. Termasuk oleh Kementerian Keuangan. Baik, sebetulnya masih ada cara tapi kemudian harus betul-betul ditelisik

begitu ya agar insentifnya tetap jalan. Kemudian teman-teman dari industri juga bisa cukup happy dan juga teman-teman perbankan juga ya bahwa ada hal-hal lain yang kemudian dilonggarkan tapi ada semacam quote unquote mekanisme lain yang dapat kemudian menjamin rapor nonperforming loan mereka begitu ya khususnya untuk e segmentasi tertentu. Baik, menarik kita masih ada ee satu segmen lagi Bapak-bapak usah jeda berikut dan pemirsa tetap sama kami usaja. Kami akan segera kembali. Terima kasih masih bergabung sama kami pemirsa

di segmen terakhir di pembahasan ini. Tapi kemudian kita masih punya topik lain ee di segmen berikutnya. Saya ke ee Prof. Hermanto, Prof. terkait dengan peran pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan juga pertumbuhan sektor properti. Tadi sudah disinggung, silakan dielaborasi lagi, Prof. Mudah-mudahan ini kemudian dapat menjadi input yang baik untuk pemerintah. Jadi memang papan atau rumah ini kan merupakan kebutuhan ee azazi ya, hak azazi atau ee kebutuhan dasar dari ee

warga negara Indonesia ya. Jadi sedapat mungkin memang apa yang ditargetkan pemerintah itu bisa di-deliver. Tapi memang ee harus tadi hati-hati sekali karena jangan sampai katakanlah kondisi ya sektoral satu sektor bisa membuat kondisi keseluruhan maksudnya dari segi fiskal menjadi ee apa menjadi ee berbahaya atau berisiko gitu. juga sama halnya ya kita sangat penting untuk memenuhi berbagai kebutuhan tadi tapi mungkin nanti dibuat lebih fokus gitu ya katakanlah dari target yang sekian banyak barangkali sebagian dari itu yang

memang betul-betul membutuhkan gitu ya sehingga katakanlah angka subsidi ee tidak perlu ditingkatkan tetap saja gitu tetapi dia menjadi lebih fokus kepada ee areal-areal ataupun kawasan-kawasan yang membutuhkan termasuk yang tadi Pak Toto katakan ya untuk rusun ya itu sesuatu yang sangat apa penting dan efektif dilakukan ke depan. Kemudian ee satu lagi adalah ee kita jangan lupa hakikat yang pertama tadi bahwa Bank Indonesia menaikkan suku bunga ini kan bukan untuk satu sektor sebetulnya. Tujuannya kan

adalah untuk menstabilkan rupiah. Ee kalau rupiahnya sudah stabil nanti inflasi kita juga risiko yang tadinya meningkat menjadi bisa terkendali dengan baik. memang ada konsekuensi tadi ya, bahwa suku bunga naik ya, kemudian ee apa pinjaman ee akan menurun ya, mempengaruhi sektor ril. Tapi kalau makro tadi dilakukan secara terkendali ee bagus gitu ya, itu punya dampak ee paling tinggi dia paling lama ee pada jangka menengah. Setelah menengah kondisi makroekonomi stabil dia akan bagus lagi. Termasuk satu lagi

sebetulnya yang tadi belum sempat kita bahas itu adalah saham Mas. Karena kalau terjadi kenaikan suku bunga termasuk bunga deposito juga akan meningkat, orang-orang akan cenderung beralih dari saham ke ee katakanlah ke produk-produk perbankan itu sehingga saham turun dan ini mempengaruhi ee perusahaan-perusahaan Tbk termasuk di sektor properti itu. Nah, mekanisme ini juga harus dipikirkan di otoritas yang membawahi itu. Baik, saya kembali ke Pak Paulus. Pakulus e berarti saya ingin kemudian menegaskan kembali seperti apa yang tadi

disampaikan di segmen sebelumnya bahwa artinya dengan kenaikan be rate ini tidak akan terlalu berdampak kepada program ee 3 juta rumah ke depan ya, Pak. Artinya sudah banyak insentif yang kemudian ee sudah diberikan. Lalu insentif-insentif apa yang em diharapkan tetap dilanjutkan agar di segmen-segmen tertentu khususnya untuk menengah ke atas ini ee dapat dijaga ee daya belinya Pak Paulus. Iya. Jadi ee insentif itu kan banyak diberikan ke yang kelas bawah ya. He [berdehem] selama ini dan mulai beberapa saat ini

dari kami dari kementerian dan asosiasi [berdehem] kita berusaha untuk kelas menengah juga dibantu sehingga peningkatan terjadi dan saya harapkan semuanya ini bisa meningkatkan ee omset kita bersama untuk melayani masyarakat. Cuman sekarang B rate yang naik ini sekali lagi tidak terlalu berpengaruh. Tapi berpengaruhnya mungkin di saham tadi yang disampaikan Prof. Hermanto itu benar. Tapi kalau di properti ee 0,5 basis poin itu tidak terlalu berpengaruh terhadap ee dunia properti. Yang lebih berpengaruh dengan melemahnya rupiah

terhadap harga bahan material yang ada. Karena meskipun perumahan itu materialnya hampir dikatakan 100% produk lokal, tapi kan semuanya jadi naik karena rupiah melemah itu tadi. He. Itu yang menjadikan masalah apalagi dengan BBM yang naik. Nah, untuk produksi misalnya genteng kan butuhnya juga bahan bakar. itu yang jadi masalah yang harus ee kita selesaikan dengan terobosan-terobosan out of the box untuk bisa meningkatkan ee omset kita dan mempertahankan omset kita. Baik, eh singkat dari Anda, Pak Paulus,

apa yang diharapkan terkait dengan berbagai macam upaya pemerintah untuk menstabilkan fundamental ekonomi Indonesia salat satunya adalah menstabilkan nilai tukar rupiah. Singkat saja. Kemudian saya e akan beralih ke Prof. Hermanto nanti. Silakan, Pak. Terima kasih. Jadi buat kami dari pengembang dan ee regulator, kami harapkan dukungan dari semuanya dan masyarakat GENI sudah bisa mulai membeli rumah susun karena mereka biasanya pilih praktis tinggalnya. Dan yang terakhir dari semua dukungan ini termasuk dari komentator yang ada di

medsos. Jangan terlalu membuat ee provokasi ee yang negatif gitu aja. sehingga ekonomi bisa tumbuh dengan positif. Terima kasih. Berikutnya Prof. Hermanto, silakan. Iya. Faktor yang paling penting juga di di selain daripada sisi supply kan memang sisi demand ya. Demand ini artinya adalah masyarakat. Jadi bagi Genz atau yang baru akan pertama punya rumah ya ini harus mempunyai suatu strategi juga strategi keuangan yang ee cukup baik. katanlah untuk meningkatkan kemampuannya untuk membeli. Karena kalau

dia sudah mempunyai ee DP ya bungahannya di subsidi ee maka memiliki rumah itu bukan hal yang mustahil atau yang susah ya. Apalagi tadi ya ada mungkin pelonggaran-pelonggaran persyaratan ee sehingga katakan bahkan yang nonfixed income earner juga bisa mengakses kredit itu ya. Ini akan menjadi peluang juga bagi ee Genzet atau generasi muda yang belum punya rumah untuk mempunyai rumah. Baik, Bapak-bapak, terima kasih sudah bergabung sama kami di Market Review. Semoga perbincangan hari ini dapat menimbulkan berbagai macam input kepada

seluruh stakeholders di industri properti di Indonesia agar kemudian pertumbuhannya tetap kita jaga sama-sama di tengah challenge yang kemudian kita hadapi. Baik, terima kasih sudah bergabung. Pak Paul dan eh Prof. Hermanto, sukses selalu, saya selalu untuk Anda. Terima kasih. Terima kasih. Anda masih bergabung sama kami pa, Presiden Prabo Subianto geram Rp15.400 R triliun hasil kekayaan alam Indonesia hilang dimanipulasi bahkan dicuri dengan berbagai modus transaksi perdagangan. Melalui kebijakan tata kelola ekspor

yang baru diterbitkan, Presiden berharap hasil devisa kekayaan alam Indonesia bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat. 900 miliar dolar kita hilang. Bayangkan kalau 900 miliar dolar kita nikmati, kita pakai negara apa Indonesia ini, Saudara sekalian. Ada under invoicing, ada under counting, ada transfer pricing. Saudara-saudara, banyak di antara kalian senyum, mungkin di antara kalian ada pengusaha-pengusaha juga di ruangan ini. Berarti tahu apa yang saya bicara itu keadaan yang sebenarnya, Saudara-saudara sekalian.

kita sudah hitung, kita sudah pakai random, kita tahu bahwa perbedaan antara yang dilaporkan yang tidak dilaporkan itu sering mencapai 50%. yang dilaporkan adalah 50% dari ya pemirsa untuk membahas menarik kita selanjutnya kesiapan integrasi jelang masa transisi ekspor SDA via BUMN sudah tersambung melalui video conference ada Bapak Toto Pranoto, Associate Director BUMN Research Group LMFEB Universitas Indonesia dan juga Bapak Hendra Sinadya Ketua Komite Tambang dan Mineral Asosiasi Pengusaha Indonesia

atau APINDOS. Baik, Pak Hendra dan juga Pak Toto. Apa kabar, Pak? Alhamdulillah kabar baik. Terima kasih. Terima kasih sudah bergabung bersama kami di Market Review. Ee saya ingin ke Pak Hendra terlebih dahulu terkait dengan em untuk eksportasi sumber daya alam Indonesia vi eh via BUMN. bagaimana APIO khususnya para ee pelaku usaha pertambangan ee dan juga mineral memandang rencana pemberlakuan metode ini dan seberapa besar ini kemudian ee akan memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan-perusahaan ee tambang

sebetulnya, Pak Hendra. Baik, terima kasih. Jadi mungkin pertama-tama dari Apindo ya, asosiasi yang cukup tua ya, sudah 75 tahun ini di sektor pertambangan juga perdagangan ya dan juga transparansi dan membesar memperbesar nilai tambah ya kegiatan pertambangan bagi negara dan juga ee untuk peningkatan ee ekonomi. Namun demikian juga APINDO menekankan agar regulasi dan kebijakan itu perlu mempertimbangkan efisiensi ya dan daya saing pelaku usaha dalam hal ini sektor pertambangan sawit yang terdampak dari

kebijakan yang baru ini karena dua sektor tersebut merupakan sektor prioritas ya yang paling besar kontribusi ee penerimaan negaranya dan juga komoditas ekspor terkuat ya bagi Indonesia sehingga kebijakan yang di ee terbitkan pemerintah yang sangat tergesa-gesa ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku usaha mengenai kelangsungan usaha dan juga kepastian rencana investasi ke depan. Nah, ini yang kekhawatiran yang dihadapi oleh pelaku usaha dengan makin banyaknya regulasi yang tentu saja memberikan

sentimen yang banyak negatifnya nih bagi sektor industri di saat ekonomi kita butuh penguatan ya di tengah kondisi ketidakpastian global ekonomi ini. Poin-poin penting yang betul-betul menjadi kekhawatiran gitu untuk ee pelaku usaha apa saja Pak Hendra mungkin Anda dapat sarikan. Nah, tentu banyak sekali ya. pertama tentu ini ee praktik bisnis to bisnis ini sudah berjalan cukup bagus ya, sudah berjalan cukup bagus dan juga memberikan kontribusi nyata bagi pemerintah. Kemudian di dikendalikan oleh satu badan

untuk ee satu atap untuk ekspor ini tentu akan merubah merombak sistem perdagangan komunitas-komunitas unggulan Indonesia. Nah, kita dalam posisi sebenarnya bukan ee penentu ya ee apa namanya kita ini kondisinya buyers market ya. Jadi kita sangat tergantung oleh ee buyer sehingga kebijakan ini tentu akan membuat ee kelisahan di para buyer. Nah, banyak hal yang ee tentu sangat kecil yang kita hadapi. Tentu bagaimana proses yang akan dilakukan oleh ee DSI dalam mengelola ekspor dari komoditas pertambangan ini. Di Batuara

sendiri ada lebih dari 800 eksportir ya. Kemudian di sawit juga tidak terhitung banyaknya. Dan kalau di Batuara sendiri kalau kita lihat ya, kita berurusan dengan beberapa trader ini volume yang dikelola oleh DSI ini luar biasa besar bahkan lebih besar dari berapa trader-trader dunia digabung dengan nilai ekspor kita melebih 30 miliar dolar ini sangat masif. Tahun lalu kita ada ekspor 500 juta ton lebih. Tahun ini mungkin lebih rendah karena RKB di dikurangin ya. Tapi kalau kita lihat rata-rata jika ekspor kita tahun ini 400

juta ton, sebulan sehari itu bisa di atas 1 juta ton ya, 1,2 sampai 1,3 juta ton. Membutuhkan sekitar 20 kapal atau lebih dari 20 ya size PMX. Terus ee jumlah pelabuhan ekspornya lebih dari 200, buyernya ada ratusan. harga komoditasnya masing-masing perusahaan juga sangat berbeda, dokumentasinya berbeda, skema perdagangannya berbeda, kemudian sebagian juga itu sudah priving dan juga ada offakernya. Nah, ini banyak hal ya yang tentu saja akan sangat-sangat ee mengkhawatirkan apakah proses bisnis

ini berjalan dengan baik. Apalagi kita berbicara mengenai transparansi mekanisme harga jualnya yang ee nanti dikendalikan oleh PTDSI yang hingga saat ini sebelum 1 Juni berlaku sementara ini belum ada implementasi juklak yang jelas. Baik. Artinya dari pelaku usaha melihat tidak ada urgensi terkait dengan mekanisme ini dan juga akan menimbulkan berbagai macam kekhawatiran ataupun mungkin ee challenge yang memang sangat tidak mudah begitu ya. Saya ke Pak Toto. Pak Toto, eh bagaimana Anda memandang

kebijakan pemerintah yang akan menetapkan sistem satu pintu bagi ekspor komunitas batu bara, sawit, dan juga e paduan besi melalui pintu e satu pintu yaitu adalah BUMN. Urgencinya seperti apa? Memang harus segera kemudian dibentuk atau seperti apa, Pak Toto? Ya, kalau kita lihat tadi Presiden Prabowo ya kan dia sudah sampaikan misalnya ya ee riset misalnya hampir 30 tahun lebih menunjukkan adanya potensi apa namanya kekurangan penerima negara karena laporan yang diberikan oleh para eksorir tidak mencerminkan angka yang

sesungguhnya begitu ya. Di satu sisi tentu kita ee tanda petik bisa e menduga bahwa kebijakan ini dalam rangka untuk menambah ee kemampuan pemerintah meng-generate ee tambahan devisa begitu ya dari hasil ekspor yang dilaporkan sesuai angka dan lain-lain. Tapi di sisi lain juga tentu kita memperhatikan ee bagaimana ee reaksi dari dunia usaha. Tadi Pak Hendra sudah sampaikan ya, banyak ee kekhawatiran sebetulnya dari sisi dunia usaha bagaimana proses untuk selanjutnya kaitannya dengan soal kegiatan ekspor di tiga komoditas ini

bisa berjalan kreatif cukup lancar. Karena kalau kita perhatikan dari segi eh market share sebetulnya eh BUMN-BMN yang bergerak di bidang ee batu bara atau kelapas sawit itu kan market share-nya kurang dari 10% begitu ya dan sebagian besar berarti pelaku industrinya ada di sektor swasta. Nah, jadi dalam konteks ini tentu kita juga harus memperhatikan kepentingan para stakeholders lah ya. Jadi di satu sisi kita juga berkepentingan negara punya kemampuan untuk bisa mendapatkan income yang lebih tinggi ya dari hasil pajak

yang lebih tinggi, defis yang bisa ditaruh juga di e lokal begitu. Tapi di sisi lain juga tentu kita harus memperhatikan kepentingan para pelaku usaha ya, baik dari sisi korporasi juga para petani ee sawit atau pengusaha batuara yang lain ya. Nah, jadi dalam konteks ini menurut saya ke depan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kemudian ee mekanisme tata kelola itu dijalankan dengan baik sehingga harapan dari semua pelaku ee bisnis para stakeholders ya itu semuanya bisa terpenuhi lah ya. Di satu sisi negaranya

bisa mendapatkan lebih banyak ee income begitu ya. Tapi juga di sisi lain ee pengusaha ee petani juga kemudian mendapatkan hak yang ee lebih baik ke depannya. Saya kira itu yang perlu diperhatikan dari konteks ee pembentukan e DSI saat ini. Baik. Ee terkait dengan beberapa kons yang tadi sudah disampaikan oleh Pak Hendra ee walaupun itu kemudian saya yakin hanya beberapa saja e masih banyak lagi yang lain ee sejauh mana ee beberapa konsen tersebut dapat diakomodir oleh PT dan antara Sumber Daya Indonesia ke depannya. begitu. Ada

practiceesis terkait dengan bisnis to bisnis yang memang sangat custom ee dari satu perusahaan dengan perusahaan yang lain yang memang berbeda begitu. Ee bagaimana Anda melihat ini ee Pak Toto, adakah semacam jaminan bahwa ya konsen-konsen ini akan ee berjalan baiklah begitu ataupun ee ee cukup em apa di dilakukan dengan baiklah oleh ee DSI nanti ya. Ini saya kira ee tantangan ee terbesar DSI ke depan ya. bagaimana mereka sebagai suatu badan baru bisa memberikan keyakinan kepada semua pihak atau trust kepada semua pihak bahwa pada

saat nanti ee perdagangan itu akan lewat satu pintu, maka mekanisme kerjanya betul-betul akan bisa ee memuaskan e semua pihak. Jadi, tidak ada pihak-pihak yang kemudian ee dirugikan dalam konteks ini, ya. Jadi, menurut saya ee problem terbesarnya adalah dari segi aspek e operasionalnya. Jadi tadi sudah disampaikan dari eh AINDO misalnya kaitannya dengan soal bagaimana ee kompleksitas e mengurus ekspor ya di tiga komoditas ini ya. eh bagaimana kita memberlakukan kaitannya dengan soal longterm contrak yang mereka miliki

misalnya ya atau juga bagaimana kemampuan nanti DSI mengelola aspek terkait dengan soal pengurusan, perizinan dan lain-lain ya yang jumlahnya sangat ee besar begitu, cukup ee kompleks. Dan ee untuk itu menurut saya ee perlu nanti organisasi ee DSI itu bisa berjalan dengan cukup ee baik. organisasinya harus punya kapabilitas yang cukup dan juga agility yang juga cukup ya. Sehingga ee nanti pada saat mereka harus berhadapan dengan eh global market dan lain-lain, kemampuan DSI betul-betul kemudian bisa teruji. Nah,

saya kira ini tantangan-tantangan yang mereka harus segera ee buktikan kepada market ee bekerja sesuai dengan harapan publik. Pernyataan Presiden Prabuso sangat clear terkait dengan praktik under invoicing yang dilakukan oleh ee pelaku usaha di sektor ee pertama ataupun komoditas. Bagaimana teman-teman ee pengusaha ataupun ya dari Apindo lah ya mengadress ini. Kita akan bahas sajeda berikut ini. Pak Hendra dan juga Pak Toto dan pusta tap bersama kami bisa saj kami akan segera kembali. Terima kasih, Anda masih

bergabung bersama kami. Sebelum saya lanjutkan perbincangan bersama Pak Hendra dan juga Pak Toto, kita akan saksikan terlebih dahulu data-data yang sudah disampaikan oleh e tim redaksi kami. Di antaranya adalah nilai kumulatif praktik under invoicing ekspor Indonesia dalam satuan miliar dolar Amerika. Secara data ataupun secara tren terus kemudian meningkat di tahun 2024 ee angkanya di ee 908 miliar dolar Amerika. meningkat dari sebelumnya di 866 miliar dolar Amerika di tahun 2023. Dan berikutnya pemirsa, data ee terkait

dengan nilai ekspor tambang nonbigas terbesar. Seperti yang Anda dapat saksikan di layar televisi untuk e yang berwarna merah adalah untuk angka di tahun 2025 dan untuk yang berwarna kuning adalah tahun 2024. Kami em kompile datanya dari BPS. Saya langsung ke Pak Hendra. Pak Hendra melanjutkan tadi ee sebelum ee jeda terkait dengan pernyataan dari Presiden Prabowo Subianto terkait dengan praktik undericing yang dilakukan oleh pelaku ee usaha di sektor pertambangan ataupun sektor komoditas yang merugikan negara.

Bagaimana ee pelaku usaha mengadress ini sebetulnya? Iya. Eh mungkin perlu dipahami bahwa transfer pricing atau under invoicing itu sebenarnya eh tidak selalu identik dengan pelanggaran ya. Praktik bisnis global ya. Eh transfer pricing itu lazim terjadi ya di sektor pertambangan atau komoditas yang melibatkan rantai value chain yang terintegrasi secara global ya. Jadi ini nih yang sudah lazim terjadi dan sudah ee terjadi sejak ee lama dan bahkan ee di sektor pertamangan sendiri kita harus akui bahwa tata

kelolanya sudah terus berkembang ya. Bahkan HBA harga batubara acuan yang diterbitkan 2009 yang lalu itu mengadress sebenarnya isu transfer pricing yang muncul belasan tahun yang lalu. Nah, dalam eh transfer pricing ini yang perlu dipastikan apakah transaksi-transaksi tersebut itu sudah memenuhi prinsip armsleng ya, prinsip harga jual yang wajar dan juga di apa global taxation dunia juga melalui OECD ya dan e badan-badan yang lain itu sudah udah apa menerbitkan protokol atau standar ya bagaimana transfer oppressing

itu dilakukan dan pemeriksaan dilakukan oleh ee otoritas di Indonesia ada dijen pajak, ada BPK dan sistem di sektor pertamaan yang tadi sampaikan itu sudah sangat ketat ya. Bahkan dengan adanya ee apa namanya? Minermawan kemudian diintegrasikan dengan Simbara ini untuk memperkecil ya peluang-peluang terjadinya ee proses-proses yang apa yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran. Nah, terkait dengan isu ini tentu saja harapannya jangan sampai karena banyak juga ya pelaku usaha yang telah melakukan praktik ini secara baik dan

benar. kami tidak menafikan dari ribuan eksportir mungkin juga ada yang tanda kutip masih nakal. Namun harapannya ee solusi atau obat untuk ee menyelesaikan itu tentu saja harus mempertimbangkan keberlangsungan industri secara keseluruhan ya. Nah, ini dengan solusi yang diberikan oleh pemerintah dengan ekspor satu atap ini justru e kami khawatirkan malah kontraproduktif ya alih-alih kita dapat maksimalkan penerimaan negara bahkan ya yang tadi awal kita sampaikan ini justru bisa kekhawatiran kita

kehilangan daya saing kemudian juga potensi ee dari buer yang lain juga nanti akan agak terpengaruh dan juga kompetisi kita dengan berbagai negara yang eksportir juga akan ee jadi terpengaruh. Nah, ini yang harapannya sebenarnya kita harapannya ini dikajil lebih jauh ya dan ee yang satu kurangnya memang adalah di berbagai kebijakan kita mungkin Pak Toto juga punya punya pandangan yang berbeda yang sama kebijakan kita nih harusnya benar-benar diuji dulu ya diuji procons-nya seperti apa karena dampaknya luar biasa kita

berurusan dengan eh value ekspor dari dua komunitas yang itu bisa mencapai 50 60 miliar dolar is a massive ya. Nah, ini yang perlu dikaji. Sementara kalau lihat kemarin prosesnya ini sangat cepat ya. Dalam 2 hari itu sudah tiba-tiba muncul PP-nya, badannya sudah terbentuk. Sementara transisinya yang sangat singkat ya ee en kurang dari 1 tahun ini luar biasa singkatnya. Nah, ini yang menimbulkan keteran di pasar dan bisa terefleksi dari bagaimana pasar bereaksi ya terhadap ee rupiah. Ada konsern-konsern yang kemudian belum

tersampaikan sehingga kemudian ee inginnya sih konsen-konsen tersebut dapat disampaikan kepada pemerintah agar ujung-ujungnya dapat berdampak kepada bentuk-bentuk kebijakan yang bisa dicustom lah ya, menyesuaikan dengan apa yang sebetulnya terjadi ee di lapangan. begitu saya ke Pak Toto. Pak Toto ee terkait dengan praktik suap untuk penambahan kuota ekspor berbagai komoditas. Kita sudah sering dengarlah mengenai hal ini. Ee to bean honest mungkin ini juga adalah hal yang kemudian ee apa namanya ee ada di benak

dari pelaku usaha begitu terkait dengan transparansi untuk izin ekspor jika kemudian dilakukan hanya lewat satu BUMN saja begitu. sejauh mana konsen ini ee ataupun kekhawatiran terkait dengan ilo ya. Ini tentu menjadi ee tadi ya kekhawatiran yang disampaikan Pak Hendra mewakili dunia usaha ya. Kemudian ekspor dilakukan satu pintu. Bagaimana kemudian transparansi kaitannya dengan soal mekanisme harga itu bisa dijalankan. Nah, saya kira juga mungkin ini adalah e harapan semua pihak ya, bahwa dengan

adanya lembaga baru ini tentu jangan sampai nanti kemudian banyak pihak merasa dirugikan ya. Yang dirugikan saya kira bukan hanya di level pengusaha tapi juga di level para ee petani ya. Misalnya di konteks sawit saja begitu ya. Ini kan ee gonjang-ganjing di atas ini kan menyebabkan kemudian harga pembelian buah tandang segar di level petani mengalami penurunan cukup tajam begitu ya. sehingga ini perlu ada segera ee penyelesaian ya terkait dengan soal ee badan ini supaya kemudian harga relatif bisa kembali menjadi stabil.

Jadi dalam konteks ini menurut saya perlu ada ee kejelasan bagaimana kemudian transparansi kaitannya dengan soal mekanisme harer kepada harga ee internasional begitu ya. Dan itulah mestinya menjadi panduan atau referensi yang menjadi ee patokan baik bagi badan baru ini juga maupun para eksportir begitu ya. Sehingga kalau nanti kemudian bisa diaudit secara transparan mekanisme harga betul-betul sesuai dengan e market yang ada begitu saya kira ini bisa e menimbulkan kepercayaanlah dari semua pihak ya. Tapi kalau hal ini kemudian

tidak bisa terjadi begitu saya kira ini akan menimbulkan tanda petik kegoncangan ya kegoncangan terkait dengan soal trust. Apakah lembaga baru ini nanti betul-betul bisa enggak menjalankan ee fungsinya dengan betul-betul baik sehingga kemudian bisa menguntungkan ee semua pihak, semua stakeholdersnya. Baik, terkait dengan transportasi tadi mekanisme untuk pengajuan penambahan e kuota ekspor gitu misalnya ee sejauh mana ini kemudian dapat diakomodir dengan praktik-praktik yang sangat cukup ee fair dan juga transparan gitu,

Pak Toto. Ya, ini saya kira kan mestinya ee mekanismenya sudah ada lah. Nanti kan saya kira mesti ada pemisahan fungsi yang cukup jelas juga ya. mana sisi sebagai regulator, kemudian juga mana sisi sebagai operator, begitu ya kan kalau sisi ee regulatornya dalam konteks ini kan tentu ada berbagai macam ee kementerian terkait ya, Kementerian Perdagangan, Kementerian SDM misalnya begitu ya. Dan DSI betul-betul hanya akan berfungsi sebagai operator sehingga tidak ada overlapping terkait dengan soal kewenangan begitu ya. Jadi dengan

cara ini saya kira ee nanti ee seluruh ee apa namanya ee dunia usaha begitu juga bisa melihat proses ini dengan cukup clear lah begitu ya karena aturannya jelas ee di atas e meja kemudian ee hal-hal apa yang harus diikuti supaya mereka kemudian kuota ekspor bisa terpenuhi ya. Jadi ada segregation of duties ini saya kira akan sangat membantu bagaimana nanti transparansi bisa dijalankan e oleh lembaga baru ini. Baik. eh demand terkait dengan komoditas kita di pasar global ini kemudian tinggi. Jangan sampai chance ataupun

kesempatan untuk mengakomodir ataupun melayani market tersebut menjadi tersendat dan juga ee klien kemudian lari ke eksportir lain. Begitu hanya karena ee ada semacam kemacetan ataupun terjadi battle neck eh jika kemudian ini sudah berjalan secara efektif. Pak Hendra eh dengan kian dekatnya pemberlakuan masa transisi kebijakan ekspor satu pintu tersebut em advokasi-advokasi apa yang dilakukan oleh pelaku usaha agar kemudian nantinya secara kebijakan ee dapat apa ya memecahkan sedikit demi sedikit

konsen-konsen dari ee pelaku usaha singkat setelahnya saya ke Pak Toto. Silakan Pak Hendra. Oke. Baik. Ee Selasa yang lalu tanggal 26 pengurus Inti Apindo telah bertemu dengan pimpinan Danantara membahas ee isu ini ya. Jadi ee APINDO tentu saja upaya pemerintah meningkatkan tata kelola dan Apindo danantara ya sepakat APINDO mengusulkan agar dibentuk satu working tim ya tim bersama APINDO danantara untuk turut mengawal implementasi teknis mekanisme teknis dari ee regulasi ini. harapannya ini bisa berjalan ee segera karena

implementasi yang sangat dekat ini kami juga kesulitan tentu saja dari asosiasi ya bukan asosiasi batuara atau nikel dan lain-lain untuk mengosialisasikan ini ke para buyer, ratusan buyer. Nah, ini tentu saja harapan kami pemerintah sebenarnya yang harus mengambil peran tersebut karena kami dalam posisi yang sulit ya untuk bagaimana menyampaikan ee hal ini ke para buer. ini tentu saja PR bagi pemerintah untuk bisa mendukung kelancaran mekanisme ini dengan memberikan keyakinan bagi para ee pihak

bayar ya mengenai kebijakan ini. Dan tentu saja kita harapannya pemerintah bisa mensosialisasikan ini secara baik karena ini melibatkan global, puluhan negara juga dan jangan dilupakan isu trade ya perdagangan global ini juga ada pengaruhnya nanti ya karena ada kesan dengan adanya satu pintu ini apalagi intervensi pemerintah. terkesan ini keterlibatan pemerintah yang sangat ee ee apa intensif ini bisa berpotensi isu-isu perdagangan global ini bisa menjadi isu dalam pembicaraan baik di tingkat regional, forum-forum ataupun

antar bilateral. Nah, ini yang perlu segera diadress juga. Baik, eh all the best untuk working timnya nanti ya. Kemudian Pak Toto, silakan Pak em apa yang Anda ingin sampaikan di kad terakhir ini ya. Silakan, Pak Toto. Ya, menurut saya yang paling e penting adalah bagaimana nanti ee lembaga baru ini eh lembaga baru ini atau DSI ini bisa berperan lebih optimal dengan cara kemudian pengelolaan kaitannya dengan soal good corporate governance bisa dijalankan dengan prinsip yang sangat ee transparan, punya integritas begitu ya.

Dan juga tadi yang lebih penting juga memahami aspek-aspek operasional yang akan dihadapi ya. Kerumitannya luar biasa besar. Jadi organisasi ini harus punya kapabilitas dan agility yang cukup ya. Maka oleh karena itu menurut saya juga orang-orang yang nanti akan ditempatkan di DSI juga adalah orang-orang yang punya ee kemampuan ee cukup ee tinggi dalam kerangka bisa memahami ee bagaimana kemampuan mereka melakukan negosiasi, kemudian memahami pasar ekspor dan lain-lain ya. Dan untuk itu maka menurut saya juga perlulah ada

semacam e overside komite yang nanti melibatkan banyak pihak begitu ya dari unsur-unsur baik ee pemerintah, dunia usaha ya, regulator yang lain juga memastikan bahwa kemudian meskipun nanti ekspor lewat satu pintu lewat tapi kemudian terkait dengan soal-soal eh agility dari prosesnya terkait dengan soal kemampuan tetap menjaga ya kemampuan daya ekspor dan lain-lain itu bisa ditangani oleh DSI. Ya, itu tentu harapan yang kita ee apa kehendaki dari semua publik supaya DSI kemudian bisa menjalankan fungsinya dengan lebih baik

dan kemudian kemampuan daya saing Indonesia terhadap tiga komunitas ini juga ee ke depan semakin meningkat. Saya kira demikian. Baik, Pak Toto dan juga Pak Hendra terima kasih sudah bergabung bersama kami di Market Review. All the best untuk pertambangan ataupun komoditas di Indonesia. Sehat selalu untuk Anda. Terima kasih. Dan pemirsa, sudah 1 jam kami menemani Anda dalam market review. Ikuti terus beragam informasi pilihan hanya di IDX Channel, TV Bisnis nomor 1 di Indonesia. Saya Wikian pamit undur diri. Terima

kasih. Sampai jumpa.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *