JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan dan tertahan di zona merah saat berhadapan dengan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS).
Laporan dari Detik Finance mengungkapkan bahwa kombinasi antara tekanan eksternal dari kebijakan moneter global serta dinamika pasar keuangan domestik menjadi pemicu utama loyonya mata uang Garuda.
Faktor Eksternal Pendorong Penguatan Dolar AS
1. Kebijakan Suku Bunga Bank Sentral AS (The Fed)
Arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang masih berfokus pada ketidakpastian pemangkasan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) membuat mata uang dolar AS tetap perkasa. Investor cenderung memilih mengamankan aset dalam bentuk dolar AS yang memberikan imbal hasil (yield) lebih menarik.
2. Gejolak Geopolitik Global dan ‘Safe Haven’
Meningkatnya ketegangan geopolitik di beberapa wilayah dunia mendorong pelaku pasar global mencari instrumen investasi berrisiko rendah (safe-haven assets). Kondisi ini memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Sentimen Domestik yang Memengaruhi Pergerakan Rupiah
Selain tekanan dari pasar global, beberapa faktor internal turut membayangi pergerakan nilai tukar rupiah:
-
Tingginya Permintaan Valas: Meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri untuk pembayaran impor serta kewajiban utang luar negeri berdenominasi valuta asing menekan posisi rupiah.
-
Sikap ‘Wait and See’ Para Investor: Pelaku pasar modal dan obligasi domestik cenderung menahan diri sembari mencermati indikator makroekonomi nasional serta respons kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Bauran Moneter Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Rupiah
Guna menahan laju pelemahan mata uang yang lebih dalam, Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan strategi intervensi di pasar valas:
-
Intervensi di Pasar Triple Allocation: BI melakukan intervensi terukur pada pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekunder.
-
Penguatan Instrumen Moneter: Penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus dioptimalkan guna menarik aliran masuk modal asing dan menjaga daya tarik imbal hasil investasi dalam negeri.
Comment