Badan Gizi Nasional secara resmi mengumumkan penghentian sementara penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah. Langkah ini diambil oleh pihak BGN sebagai bagian dari upaya untuk melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Agustina Arumsari, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang dalam proses menata ulang data penerima manfaat. Dampak dari penataan ini, BGN akan mengevaluasi insentif sebesar Rp6 juta per hari yang selama ini diberikan untuk setiap SPPG. Evaluasi ini dilakukan agar pemberian insentif tidak lagi disamaratakan, melainkan disesuaikan agar lebih tepat sasaran dan efisien.
Sebelumnya, Komisi IX DPR RI telah menggelar rapat bersama Kepala Badan Gizi Nasional, Nani S.D., di gedung DPR Senayan, Jakarta. Rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR, Nihayatul Wafirah, ini membahas anggaran program MBG serta evaluasi tata kelola SPPG. Sayangnya, rapat tersebut digelar secara tertutup untuk awak media. Usai rapat, Kepala BGN tampak berusaha menghindari pertanyaan wartawan terkait anggaran dan data penerima manfaat.
Lebih lanjut, Agustina Arumsari menjelaskan bahwa operasional SPPG tengah dievaluasi untuk memastikan efisiensi anggaran. Sistem insentif yang sebelumnya dipukul rata Rp6 juta per hari, meskipun jumlah penerima manfaatnya berbeda-beda, akan diubah. BGN berencana melakukan refocusing, termasuk kemungkinan menggabungkan SPPG di wilayah tertentu jika dirasa kurang efektif.
Selain efisiensi anggaran, BGN memanfaatkan momen libur sekolah untuk menghentikan sementara penyaluran makanan agar proses audit dapur dapat berjalan maksimal. Diharapkan setelah masa libur berakhir, kondisi di lapangan akan menjadi lebih rapi dan terorganisir. Terkait anggaran tahun 2027, meskipun pagu indikatif sebesar Rp270 triliun telah dialokasikan oleh Kementerian Keuangan dan Bappenas, BGN saat ini masih terus menyusun ulang rancangan program sebagai bentuk komitmen efisiensi.

Komentar