Beranda / Berita Terpopuler / Gatot AS Menyita Tanker di Indo-Pasifik: Iran Membalas Cara Yang Sama, Donlad Terjebak Ancamannya Sendiri

Gatot AS Menyita Tanker di Indo-Pasifik: Iran Membalas Cara Yang Sama, Donlad Terjebak Ancamannya Sendiri

Amerika Serikat boleh saja membanggakan keberhasilannya menyita tanker minyak Iran. Kali ini bukan di Teluk Persia, bukan di Selat Hurmus, tapi ribuan mil jauhnya di tengah Samudra Hindia. Namun di balik selebrasi itu, Amerika Serikat sedang membayar harga yang sangat mahal, yakni meja perundingan yang kian membeku. Cara keras Amerika Serikat itu juga tak mempan membuat Iran bertekuk lutut dan justru balik melawan. Blokade dilawan blokade dan Sita kapal dilawan Sita Kapal. Dan benar saja, 2 hari

setelah Amerika Serikat menyita kapal Iran, Tehran balik menyita dua kapal asing di Selat Hurumus. Ditambah perundingan putaran kedua pun batal terlaksana. Trum yang terjebak oleh manuverennya sendiri hanya bisa meluapkan emosinya kepada wartawan saat ditanya kapan perang akan selesai. [musik] Kapal Iran yang disita Amerika Serikat bernama MT Tifanyi. Sebuah kapal tanker raksasa berkapasitas 2 juta barel minyak mentah. Kapal ini masuk dalam daftar sanksi Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan Amerika Serikat.

Selama setahun terakhir, jejak Tivani tercatat sering bolak-balik teluk Persia dan perairan Asia Tenggara. Perjalanan terakhir Tifani dimulai dari terminal minyak Pulau Car milik Iran pada 6 April 2026. 4 hari kemudian pada 10 April 2026, Tifan sudah melewati Selat Hurumus dan terdeteksi di Teluk Oman bergerak ke arah tenggara. Tapi pada 21 April 2026, tak lama setelah melewati Sri Langka, MTani tiba-tiba melakukan manuver ganjil. [musik] Ia berbelok tajam 90 derajat ke selatan lalu berbalik 90 derajat lagi ke arah

timur. Para analis maritim membaca manu ini bukan sebagai navigasi biasa, tapi tanda kepanikan. Tak lama berselang, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengumumkan proses boarding alias penggeledahan paksa di atas laut. Lokasi penggeledahan tercatat terjadi di antara Sri Lanka dan Indonesia lebih dari 2000 mil dari Teluk [musik] Persia. Wilayah ini masuk ke dalam area tanggung jawab komando Indo Pasifik Amerika Serikat atau Indopekom. Lantas kalau lolos dari penggeledehan dan tidak tertangkap, ke mana Tifan

sebenarnya akan pergi? Melansir dari Citra Satelit yang ditinjau CNN, MTAN ini tengah menuju Selat Malaka. Dan berdasarkan data pelacakan maritim selama setahun terakhir, MTAN memang berulang kali berhenti di titik yang disebut EOPL atau Eastern Utort Limit. Ini adalah titik batas pelabuhan luar timur Malaysia tepat di sisi timur Selat Malaka. Dan di Selat Malaka inilah jalur utama keluar masuknya minyak Iran ke Cina. Di EOPL praktik ship to ship transfer terjadi alias praktik pemindahan minyak antara kapal di tengah

NATO Bubar! Terlihat Dokumen AS Mengancam ‘Hajar’ Spanyol & Inggris jika Melindungi Operasi Militer di Iran

laut untuk menyamarkan asal-usul muatan dan mengelabui sanksi internasional. Pencegatan ini menunjukkan bahwa jangkauan blokade Amerika Serikat bukan lagi di Teluk Persia saja, tapi sampai Indo Pasifik dekat perairan yang berbatasan langsung dengan Indonesia dan Malaysia. [musik] Amerika Serikat mungkin mengira langkah itu cukup untuk membuat Iran gentar. Tapi nyatanya tidak. Iran tak menunggu waktu lama dan hanya selang 2 hari usai insiden MT Tifani, IRGC segera bergerak ke kandang sendiri yakni Selat Hormus.

Dua kapal asing yang melintas Horumus dicegat, ditembaki, dan disita. Kapal pertama bernama Epa Minondas, kapal milik perusahaan Yunani. Kapal kedua MSI Francesca, kapal kontainer berbendera Panama. Keduanya dibawa ke pantai Iran. Satu kapal Yuforia juga dilaporkan ditembaki sebelum akhirnya sempat melarikan diri. Setelah insiden itu muncullah respons janggal dari Amerika Serikat. Sekretaris persis Gedung Putih Caroline Levit menyebut penyitaan dua kapal oleh Iran itu bukan pelanggaran gencatan senjata karena mereka bukan

kapal Amerika Serikat atau Israel. [musik] Pernyataan Levit ini menarik untuk dibedah. Karena di satu sisi Levit menyebut Iran bertindak seperti bajak laut. Tapi di lain sisi dia tak menyebutnya sebagai pelanggaran gencatan. Alasannya mungkin karena Amerika Serikat ingin menjaga stabilitas di pasar saham. Karena tiap timur tengah memanas, harga minyak mentah langsung melonjak drastis dan mempengaruhi harga BBM di Amerika Serikat dan dunia. [musik] Kalau Amerika Serikat menyatakan penyitaan dua kapal oleh Iran itu

sebagai pelanggaran dan mengakui gencatan sudah runtuh, bisa-bisa pasar makin merah. Trump paham betul soal itu. Itulah kenapa di saat yang sama Trump berusaha menenangkan para investor yang mulai gelisah. Trump bahkan menegur menteri energinya sendiri, Chris Wright yang menyebut harga bensin Amerika Serikat mungkin tidak akan kembali normal sampai akhir tahun ini atau tahun depan. Trump langsung membantah dan memastikan para investor bahwa situasi ini akan segera selesai. [musik] Ia bahkan berjanji akan selesai dalam kurun waktu

relatif cepat. Trump seolah terpaksa harus menahan diri dan menunjukkan kepada dunia bahwa situasi baik-baik saja untuk menjaga agar ekonomi dunia tetap stabil agar terhindar dari amukan massa. Di atas kertas gancatan senjata mungkin masih berlaku, tapi di lapangan, Genderang perang tak pernah benar-benar berhenti bertalu. Amerika Serikat mengerahkan segalanya untuk mencekik teh heran. [musik] Mereka tak main-main soal blokade karena lebih dari 10.000 tentara, 17 kapal perang, dan 100 pesawat tempur

AS Ambil Menguasai Selat Hormuz, Angkatan Laut Akan Hajar Kapal Yang Nebar Jebakan Iran

dikerahkan. Hasilnya 31 kapal tanker dipaksa berbalik arah atau meringkuk kembali ke pelabuhan. Tapi Iran merespons dengan cara yang tak kalah brutal. Salat Horumus kini resmi terkunci. [musik] Iran menegaskan tidak ada satuun kapal yang boleh melintas tanpa seizin mereka. Iran yang berkali-kali diklaim sudah lumpuh dan hancur justru menunjukkan taringnya dengan menolak untuk tunduk. Muhammad Bakir Kalib, Ketua Parlemen Iran sekaligus pemimpin delegasi perundingan Iran memberikan pernyataan yang menutup

ruang kompromi. Akibatnya perundingan di Islam Abad Pakistan yang dibangga-banggakan Trump yang katanya akan dimulai dalam hitungan 2 hingga 3 hari menguap begitu saja. Iran Bungkam enggan mengonfirmasi kehadiran. Bahkan Wakil Presiden J. Defense terpaksa menunda kunjungannya. Meja mediasi di Pakistan kini tak lebih dari sekadar perabot kosong yang sepi. Dan Trump yang terus ditekan pertanyaan kapan perang selesai meledak di depan jurnalis. Vietnam was every say oh Trump is under time pressure. I’m not no you know’s under

time pressure. They are. Pencegatan MT Fanny di Indo Pasifik mungkin tercatat sebagai prestasi taktis bagi Washington. Namun secara strategis itu adalah blunder yang membunuh harapan damai. Ketika Trump berusaha menampilkan citra pemimpin yang memegang kendali, realitas di selat rumus dan meja perundingan Pakistan menunjukkan sebaliknya. Iran tidak sedang bertekuk lutut dan dunia tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja. Kini tak ada yang tahu apakah nasib perundingan di Pakistan masih bisa diselamatkan atau

tidak. [musik] Kira-kira sejauh mana ego dua negara ini akan terus beradu? Pantau terus perkembangannya hanya di kanal YouTube Kompas.com. [musik] H

 

Akhir Permainan! LEBANON “Hajar Sampai ISRAEL Buncar Semua” DUNIA Bela LEBANON Mengalahkana ISRAEL!!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *