Hari ini rupiah kembali menyentuh rekor terendah tembus Rp17.700 per dolar Amerika Serikat. Imbasnya enggak cuma dirasakan warga yang menggunakan dolar, tapi sepiring gado-gado yang kita santap. [musik] Beli seporsi gado-gado memang enggak pakai dolar. Harganya pun sama, tak berubah. Rp20.000 masih kembali Rp2.000. Tapi dalam sepiring gado-gado yang kita makan, ada tahu dan tempe yang terdampak mahalnya harga kedelai impor. Sadar atau tidak, potongannya mulai dikurangi agar penjual seperti Deddy tak makin merugi.
Saya beli kan paling sehari tuh Rp60.000 tempe sama tahu, cuman ukuran aja jadi berubah ya. Agak ngaruh sih. Jadi kita dikit pakainya agak dikurangin porsinya. Eh halo Ibu. Aku mau dong, Bu. Beli Rp20.000 dicampur ya. Oh, tahunya belum matang ya. Gorengan yang jadi jajanan sehari-hari pun ikut [musik] terkena dampaknya. Tahu, tempe, singkong, sampai minyak gorengnya harganya terus meroket sejak lebaran. Fatimah dan suami yang sudah 20 tahun berdagang belakangan di ambang dilema. Takut pelanggan kabur kalau
menaikkan harga. Padahal sulit, untung, dan tak jarang merugi. Kadang pas-pasan, kadang enggak balik modal kita nombok kadang. Per Selasa 19 Mei, dolar Amerika Serikat [musik] Kian Perkasa rupiah kembali melemah bahkan menyentuh level 17.700 per dolar Amerika Serikat. Di tengah nilai tukar rupiah yang terus tertekan, Menteri Keuangan meminta masyarakat tak khawatir. Ia menjelaskan sentimen melemahnya rupiah akan berakhir dalam pekan ini. Akan ada APBN kita, laporan APBN kita sampai April itu hasilnya bagus pasti di
luar perkiraan para para pengamat itu. Jadi pondasi kita memang betul-betul bagus. Jadi, Anda enggak usah khawatir. Jadi, dampak melemahnya rupiah terasa hingga seluruh lapisan warga. Di gorengan yang kita makan atau sepiring gado-gado yang kita santap. Tim Mtek Media melaporkan dari Jakarta. Yeah.
Komentar