Bisnis
Beranda / Bisnis / Dor Dor Adu Mekanik AS-Iran di Hormuz, RI Berputar Putar Impor Minyak

Dor Dor Adu Mekanik AS-Iran di Hormuz, RI Berputar Putar Impor Minyak

Ya pemirsa, masyarakat dunia semakin khawatir dengan adu kekuatan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormus. Hal ini dipicu langkah Iran yang kembali menutup Selat Hormus setelah sempat dibuka selama 24 jam. Padahal Amerika Serikat sebelumnya juga sudah membuka blokade. Perhatian masyarakat internasional kembali lagi ke Selat Hormus. Hal ini setelah pemerintah Iran menyatakan pada Sabtu lalu untuk menutup lalu lintas pelayaran kapal di Selat Hormus. Penutupan kembali dilakukan

sebagai respons terhadap blokade angkatan laut Amerika Serikat yang masih berlangsung terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kondisi ini pun kembali meningkatkan ketegangan dan ketidakpastian pasokan energi global mengingat Selat Hormus merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair di dunia. Padahal ketegangan ekonomi global sebelumnya sempat meredah seiring langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan militer Iran yang memutuskan untuk membuka blokade Selat Hormus.

Bahkan pembukaan sementara Selat Hormus telah menimbulkan kembali optimisme pasar global terhadap konflik Timur Tengah dan membuat harga minyak mentah turun. [musik] Sementara itu, militer negeri Pamansam tengah bersiap untuk menindak tegas kapal-kapal tanker minyak yang berafiliasi dengan Iran. Amerika Serikat berencana menaiki hingga menyita kapal-kapal komersial tersebut di perairan internasional dalam beberapa hari ke depan. Sikap keras ini diambil untuk meningkatkan tekanan ekonomi sekaligus menekan Iran segera membuka

kembali Selat Hormus serta memberikan konsesi terkait program nuklir. Berbagai sumber IDX Channel. [musik] Baik pemirsa, untuk membahas tema kita kali ini, adu kuat penguasaan Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormus. Kita sudah tersambung melalui Zoom bersama dengan Bapak Opit Adi Suryo, Wakil Bendara Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. Kemudian juga sudah bergabung Prof. Telisa Aulia Valianti, ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Langsung saja kita sampai ini. Halo, Pak Opit. Apa kabar?

Alhamdulillah salam sehat. Gimana kabarnya? Kabar baik juga. Terima kasih atas waktu yang disempatkan Pit. Kemudian Prof. Telisa, apa kabar? Iya, baik. Sehat selalu semuanya. Terima kasih. Baik, terima kasih juga atas waktu yang disempatkan. Langsung saja kita akan review nih, Prof. Ya, terkait dengan kondisi yang tadi sudah disampaikan perkembangan terkini ini nampaknya buka tutup ini menunjukkan dominasi sebenarnya siapa yang kuat sih kalau kita lihat begitu ya. Amerika Serikat dan Iran. Kemudian seberapa strategisnya

DPR, OJK dan Danantara Beraktivitas Adanya Kunjungan Mendadak Di Kantor BEI

juga si Selat Hormus dalam peta ekonomi global dan mengapa konflik antara Amerika dan Iran di wilayah ini juga akhirnya ya menentukan stabilitas dunia baik secara ekonomi maupun secara politik. Begitu Prof. I artinya yang kami baca ya ee kami dari sisi ekonomi bahwa ini faktor ekonomi tetap selalu menjadi alasan ya dari suatu negara juga. Jadi tapi selain faktor ekonomi tetap ada faktor geopolitik. Jadi bahwa ini berimplikasi kepada ekonomi. Namun ee ada alasan-alasan geopolitik yang mempengaruhi. Jadi adu kuat ini

menunjukkan bahwa ee masing-masing negara itu tetap kokoh pada tujuannya. Iran tidak mau tunduk pada Amerika. Begitupun sebaliknya Amerika tidak ingin disebut kalah dari Iran. Jadi keduanya ini memiliki tujuan untuk menjadi hegemon dan kemudian kalau Iran kan lebih kebertahan ya dan tidak tunduk itu kepada hegemon tersebut. Nah, tetapi ini menunjukkan bahwa mereka memiliki ee strategi apa game changer sendiri. Jadi, Amerika dengan game changer-nya dan kemudian juga Iran dengan game changer sendiri. Tapi ini akibatnya apa?

Judulnya ujung-ujungnya adalah ini adalah ketidakpastian global akan makin panjang. Iya, disruption ini lebih berkepanjangan. Nah, yang itu yang harus kita antisipasi. Jadi, eh ada banyak skenario ya. Kemarin juga sempat diskusi sama ahli-ahli geopolitik gitu. Jadi banyak sekali skenario. Kalau dulu mungkin skenario tiga gitu, tapi sekarang skenario bisa lima, bisa enam. Jadi karena apa? Begitu tingginya ketidakpastian yang ada. Jadi artinya bahwa harapan baru bahwa akan dibuka ternyata ditutup lagi seperti itu. Nah,

ini mungkin akan berkepanjangan dan kita yang penting tuh dari sisi ekonomi mengantisipasi dampak ekonomi dengan berkepanjangannya ee konflik yang terjadi gitu. Jadi kita enggak bisa berharap bahwa konflik ini ternyata hanya temporary gitu loh. Bisa jadi ini bisa dalam 6 bulan ke depan bahkan sampai akhir tahun. Nah, ini jadi kita harus menyiapkan nafas yang panjang untuk ee karena tadi hasil dari konflik ini itu seperti apa, itu sulit untuk diprediksi dan kapan berakhir itu pun sulit diprediksi.

Artinya bahwa kita harus siap dengan segala kapatasan tuh dan bagaimana kita memiliki di tingkat global tuh harus ada solusinya nanti gitu. Karena ini enggak mungkin kita biarkan terus-menerus juga harus ada waste out gitu apabila ee ini berkepanjangan seperti itu. Seperti jalur ee migas ini. Apakah nanti kita harus segera mencarikan di luar selat hormus atau seperti apa? Karena kalau kita terus-menerus tergantung kepada Selat Hormus ya akibatnya ini ketidakpastian dan harga energi ini akan terus melonjak dan itu ke ekonomi akan

4 Langkah Jejak Indonesia Dari Yang Disiapkan GOTO Gojek Tokopedia Yang Hijau

cukup disruptif gitu. Baik, Prof. itu ya ketidakpastian yang semakin tidak menentu ya berarti dan tidak ee bisa ditebak begitu akan berakhir kapan dari pelaku usaha sendiri Pak Pit seberapa besar kekhawatiran dunia usaha begitu terhadap eskalasi adu kekuatan begitu Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormus saat ini ya. Baik Mas Pras. ee saya pikir ee melihat kondisi dan kontestasi yang ada antara Amerika dan Iran memang ini meningkatkan ee posisi ketidakpastian dan perlu kita antisipasi bersama dengan

ee posisi yang volatile seperti ini ee ee dengan kondisi moderate ya artinya ee saat ini posisinya masih aduk kekuatan. Nah, ini eskalasinya tentunya ee harus kita cermati dari waktu ke waktu. Jadi ee sentimen pasar pun senantiasa berubah-ubah. Masing-masing pihak ada claim statement. Nah, ini yang ee saya pikir ee belum menunjukkan ke arah yang ee hijau gitu ya. Jadi kita sebagai pengusaha wajib mengantisipasi berbagai skenario termasuk ee apabila ee skenarionya ee ternyata memburuk ee ini kita harus melakukan stres tes ke bisnis

kita masing-masing. Kira-kira gitu, Mas Pres. Oke. Dan kita tahu juga bahwa SLAT rooms ini kan juga dilewati oleh seperlima lah ya pasukan energi global begitu. Potensi gangguan ini akan berdampak seperti apa terhadap biaya produksi industri di Indonesia ini Pak Opit? Ya, yang pasti logistik cost akan ee cenderung meningkat ee minimal dari ee apa ee dan kita perlu melakukan hedging ya terkait dengan ee potensi-potensi ee volatility dari kurs misalkan. ee tapi kami optimis ee di bawah pemerintahan

sekarang ee ini akan ee sangat ee diperhatikan gitu ya sehingga ee pemerintah akan berupaya semaksimal mungkin untuk membentuk ee iklim usaha yang kondusif. Nah, ini yang saya pikir ee ee kita ee patut apresiasi dan kita sebagai pengusaha tetap perlu mengantisipasi ya resikonya eh shortage of supply ya. ee satu yang kedua juga ee resiko kurs dan juga ee logistik ee cenderung pasti meningkat. Ee itu Mas Pras dan yang paling kita bisa lihat memang sekarang ee plastik misalkan ya itu harganya juga sudah cukup banyak ee

naik dan ee ternyata plastik ini memegang peranan yang sangat besar ee dalam kita punya ee supply chain ya. Bahkan kabel pun komponen plastiknya juga cukup besar dan lain sebagainya. Jadi, jadi kita perlu juga ee mengantisipasi hal tersebut ee Mas Pras. Oke, Pakit. Nah, lantas bagaimana kalau kita lihat dengan kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik ini, Prof. Telisa ini bersifat sementara saja sok geopolitik begitu atau berpotensi menjadi krisis energi jangka panjang begitu yang menjadi kekhawatiran banyak

GRAB Indonesia Tutup Program Langganan Akses Hemat Buat Mitra, Ini Katanya

pihak? Ya, silakan Prof. Iya. Ya, jadi memang tergantung dari skenarionya tadi ya. Jadi ada beberapa skenario, tetapi banyak para ekonom yang melihat trennya ini sekarang bisa jangka menengah ya, dalam arti tidak hanya jangka pendek. Jadi ini disebut sebagai higher for longer. Jadi ada kemungkinan harga minyak itu akan berada di atas rata-rata dunia selama beberapa tahun terakhir ini dan itu cukup akan lama gitu. Kecuali kita menemukan solusi baru yang cukup agresif misalkan ya, misalkan mencari jalur pipa lain karena sekarang

sudah mulai dibicarakan bagaimana ee kita tidak tergantung pada selat hormus. Nah, mudah-mudahan ada solusi tersebut ya. Karena kalau kita belum menemukan solusi itu ee karena slat hormus itu 20% dunia dan kemudian efeknya itu juga mempengaruhi yang sisa 80%-nya itu sendiri. Jadi sangat tight, sangat kompetitif ya. Ee itu pastinya ini bisa jadi jangka panjang gitu cost push inflation-nya. Nah, eh kemarin beberapa lembaga dunia sudah memprediksi ee ini bisa terjadi kalau dalam jangka menengah berkepanjangan ini bisa menggerus

pertumbuhan ekonomi dunia itu hingga one percentage point gitu ya. bisa menurunkan. Jadi tadinya misalkan prediksinya 3,3 bisa ke 2,3% dan kemudian bisa menaikkan inflasi dunia gitu. Nah, di kira-kira inflasi dunia 1 sampai 2%. Nah, jadi ada cost inflation. Nah, perlambatan ekonomi yang disertai dengan cost inflation itu lama-lama kalau itu terus terjadi bisa mengarah kepada stock flasi. Dan ini tentunya tidak kita inginkan ya di dunia. Makanya harus ada solusi agar skenario stakflasi ini tidak terjadi seperti itu. Jadi

karena kalau sudah stakflasi ekonomi dunia itu akan sulit ya istilahnya kebijakan moneter saja enggak bisa tuh hanya kebijakan moneter misalkan ingin ekspansi atau seperti apa itu sulit untuk mengeluarkan dari stap plasasi karena stak plasi itu membutuhkan penyelesaian dari sisi suplainya sendiri gitu. Jadi makanya secara ekonomi nih kita punya bantalan-bantalan di dunia ataupun di nasional ya. Jadi nasional bagaimana dan diplomasi di dunianya tuh harus ada lah semacam mungkin ada KTT ya kalau kita ingat dulu ada AsiaAfriika

ada urgency seperti itu ya. Terus dulu kita waktu COVID di G20 itu ada pandemic eh pandemic meeting gitu-gitu ya WHO dan sebagainya. Jadi harus lalah pertemuan di tingkat global karena ini harus diselesaikan enggak cuma di nasional ini harus diselesaikan secara global. Jadi diplomasi di globalnya juga harus kita mainkan bukan hanya di ee bagaimana kita domestik. domestik sangat perlu untuk ketahanan ekonomi kita, tapi juga di ee eksternalnya tetap perlu ada ee diplomasi global juga yang mendukung

seperti itu. Itu dia diplomasi global. Kemudian juga harus ada mitigasi dalam negeri. Kita akan lihat seperti apa. Mengingat ini ee dua-duanya memiliki kartu trf begitu ya dalam artian egonya cukup kuat. Kita akan bahas lebih jauh nanti di segmen berikutnya. Kita akan jeda dulu sebentar Prof. Telisa dan juga Pak Opan pemirsa tetaplah bersama kami ya. Terima kasih Anda masih bergabung bersama kami dalam Market Review pemirsa. Dan berikut ini kami akan sampaikan sejumlah data. Kita akan cermati bersama seperti apa

pergerakan dari harga minyak mentah dunia ya, baik dari sisi brand maupun juga WT atau West Texas Intermediate. Ya, ini dia untuk brand. Kita lihat dari tanggal 14 April sampai dengan 18 April 2026. Seperti yang bisa Anda saksikan di layar televisana. Ini dia fluktuasinya sebenarnya tidak jauh berbeda. Sempat turun di 18 April kemarin karena kita tahu juga sempat dibuka blokade ee Selat Hormos oleh Amerika Serikat dan Iran sebenarnya juga melakukan blokade. Tapi di hari Sabtunya justru Iran melakukan

ee blokade ataupun penutupan kembali selat hormon seiring dengan langkah Amerika Serikat yang masih melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Iran. Begitu di sepanjang Selat Hormus di 89,4 Amerika per barel untuk harga minyak mentah brand. Berikutnya kita lihat untuk WTI seperti apa pergerakannya. Luktuasinya memang kita lihat juga tidak jauh berbeda. 14 April masih di 99,45 kemudian cenderung turun sampai tanggal 16 April. 17 April naik sedikit ke 95,07 Amerika Serikat per barel. Di 18 April

turun lagi menjadi 83,52 Amerika Serikat per barel. Dan selanjutnya kita lihat bagaimana dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. dilihat seperti apa ini dari beberapa lembaga keuangan dunia begitu ya. OECD memproyeksikan Indonesia tumbuh 4,8% di tahun 2026 lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 5,05%. Tahun depan di 5% sementara proyeksi sebelumnya di 5,1%. Sementara untuk Bank Dunia tahun ini diproyeksikan 4,7% sementara sebelumnya 4,05%. Sementara dari sisi eh kita lihat untuk IMF di tahun 2026 5%, sebelumnya

5,1% sementara ADB di tahun 2026 ini proyeksinya 5,2% lebih tinggi daripada proyeksi sebelumnya di 5,1%. Itu dia beberapa data beberapa ee lembaga keuangan dunia begitu ya. Memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kita lanjutkan kembali perbincangan bersama dengan Profesor Telisa dan juga Bapak Opit ya. Dengan beberapa informasi yang tadi sudah disampaikan, lantas sejauh mana sih pergerakan dari harga minyak mentah dunia, kemudian dampaknya seperti apa transmisinya begitu dari konflik di Selat Hormus ini bisa berdampak langsung

terhadap ekonomi Indonesia nih Prof. Tulis kalau kita lihat dari potensi harga BBM kemudian daya beli masyarakat yang masih terus kita upayakan untuk tetap terjaga ini, Prof. Iya. Jadi tadi kan sudah ada ya prediksi-prediksi ya dari beberapa lembaga internasional bahwa enggak ada yang memprediksi kita lebih tinggi dari tahun 2025 gitu. Kalau dilihat 2026 cenderung lebih rendah karena itu seluruh dunia juga trennya seperti itu. Jadi kita enggak bisa terlalu gimana ya artinya mereka kan pasti punya judgement. Nah, justru

bagaimana caranya supaya itu prediksi tersebut ya enggak serendah itu tapi kita bisa lebih di atas prediksi tersebut ya kita tetap berusaha. Nah, tetapi artinya apa? Kalau kita lihat ini kan channelnya satu lewat trade channel, kedua lewat financial channel, ketiga itu lewat eh fiscal channel. Nah, sekarang efeknya ke trade kan itu sudah pasti tadi Pak eh Opit sudah menyampaikan ya ke biaya logistik, biaya impor bahan baku, tekanan langsung pada neraca perdagangan kita. Nah, takutnya tuh ke CADEv. Nah, nanti kalau CADEv itu

ke financial channel ke rupiah. Nah, rupiah kita kan sudah di atas 17.000 selama beberapa minggu terakhir meskipun BI melakukan intervensi ada batasnya karena memang devisa kita turun terus untuk bayar utang untuk bayar impor yang lebih mahal kayak gitu. Nah, cadev ini yang harus kita jaga karena kalau tidak rupiah kita ini akan jadi korban. Nah, sedangkan kalau rupiah itu jadi korban eh itu efeknya ke imported inflation lagi. Jadi sudahlah harga barangnya memang naik karena logistiknya naik. Double hit itu tadi ya. Jadi rupiah yang

melemah juga menyebabkan importedlation. Nah, itu semua akan ke daya beli, ke konsumsi. Kemudian investasi juga dengan adanya ketidakpastian kan investor pun akan merasa ee weight and see ya. Artinya bahwa mereka belum mau untuk meningkatkan investasinya dalam kondisi yang serba tidak pasti sekarang gitu. Jadi, investasi juga bisa turun. Nah, karena konsumsi turun, investasi turun, government spending juga di satu sisi kan ada efisiensi yang sedang besar-besaran ini gitu kan. Nah, itu kemungkinan akan menurunkan dari ee apa

proyeksi PDB sebelumnya. Jadi kalau kita misalkan punya proyeksi 5,4 sampai 6, jika tidak ada bisnis as usual apa not bisnis as usual yang kita lakukan secara cepat, itu khawatirnya 5,4 ini enggak akan tercapai gitu. Mungkin kita bisa mempertahankan lima ya, tetapi 5,4 yang penginnya lebih tinggi dari 2025 ini memang jadi lebih sulit karena memang ada gangguan dari energi. Meskipun kita memang kemarin di kuarter 1 sih mungkin ya, tapi di Q2 Q3-nya kan ee belum tentu ada stimulus-stimulus lagi seperti hari

raya dan lain sebagainya. Jadi daya beli masyarakat ini juga sudah mulai ee terpengaruh ya kalau kita lihat tuh konsumsi masyarakat pasca lebaran ini juga sudah mulai normalisasi lagi seperti itu. Nah, ini yang mungkin harus kita waspadai sih bagaimana kita setidaknya tidak lebih buruk dari tahun lalu setidaknya ya walaupun memang angka 5,4 memang agak lebih walaupun pemerintah masih optimis sih tetapi again kan ketahanan energi ini akan menjadi challenge yang menjadi downsis itu tetap harus kita akui. Namun tadi mitigasinya

tetap harus kita siapkan dengan baik seperti itu. Baik, Prof. Nah, Pak Opid sebagai negara yang memang masih bergantung pada impor energi, lantas sejauh mana dunia usaha melihat melihat kesiapannya begitu ya menghadapi lonjakan? Adakan kita tahu potensi harga BBM bisa ada naik lagi, gas juga untuk naik lagi, apakah ini akan berdampak juga? Ya, lagi-lagi bicara mengenai operasional kemudian e biaya ee harga yang harus dijual misalnya begitu pada konsumen atau masyarakat begitu. Iya. Jadi ee terkait dengan hal tersebut

ee saya baca berita beberapa waktu yang lalu ya yang diterbitkan kurang lebih oleh JP Morgan di akhir Maret ya yang menunjukkan sebenarnya Indonesia ini termasuk negara yang termasuk paling resilient dari sisi ee energi. Ee artinya karena bauran energi kita cukup banyak. kita ee bersyukur ee sekali Mas Pras kita dianugerahi negara yang ee memiliki baruan energi yang sangat kaya ya. Ada batu bara, ada minyak, gas dan lain sebagainya yang at least kita punya alternatif. Nah, makanya di momentum seperti ini ee saya pikir terkait dengan

energi ini adalah momen di sisi lain adalah momen yang pas melakukan transisi energi yang terukur ya. Artinya yang kita lihat visibel, biayanya tidak mahal ee itu kita lakukan ee terus meningkatkan ee bauran apa namanya ee bauran energi yang dulu seperti batu bara mulai ditinggalkan. Saya pikir dengan sekarang ee apa namanya ee juga momen yang pas untuk ee batuara ini sebagai salah satu streng point kita ya bisa diteruskan bahkan bisa terus dikembangkan dalam batas-batas yang ee ee oke gitu ya. Jadi

saya pikir ee kita masih beruntung ee dibanding ee ee negara-negara lain yang exposure impor energinya jauh lebih besar dan di bawah pemerintahan yang sekarang saya optimis dengan komunikasi yang baik dengan diplomasi yang baik. ee itu akan em apa namanya akan ee ee ee melakukan ee diplomasi yang baik sehingga ee ini masih bisa ee ee terukur dan sejarah ini kan berulang, Mas Pras. Artinya kalau dulu kita pernah lalui ini dengan baik ee pendahulu-pendahulu kita ee kita optimis bahwa ee kita pun akan melewati ini

dengan ee baik. Kira-kira gitu, Mas Pras. Bakit lantas sejaw mana sih peran sinergi begitu antara pemerintah BUMN kemudian sektor swasta ya dalam menjaga stabilitas rantai pasok dan juga harga. Kita bahas lagi nanti di segmen berikutnya kita akan jeda sebentar eh Prof. Telisa dan juga Pakit dan pemirsa kami akan segera kembali usai jeda berikut ini. I masih bergabung bersama kami dalam market review dan kita akan lanjutkan kembali perbincangan bersama dengan Prof. Dalisa Valianti dari Universitas Indonesia. Kemudian juga

Bapak OP Tadi Suryo dari HIPMI. Nah, bicara mengenai sinergi nih, Pak, dari pelaku usaha kacamata Anda melihat seperti apa sih yang perlu dilakukan antara pemerintah, kemudian BUMN, sektor swasta begitu untuk bisa menjaga kondusivitas dunia usaha, ee stabilitas rantai paso, kemudian harganya yang masih ee terjangkau bagi masyarakat kita. Begitu, Pakit ya. ee kami melihat bahwa ee pemerintah BUMN ataupun danantara dan pelaku usaha swasta perlu e bergandengan tangan untuk ee berkonsolidasi menentukan langkah dan berbagi peran.

Kita perlu untuk saling menguatkan dan bertumbuh bersama. Dan ini harapannya bukan hanya slogan. Em harapan kami em apa ee dana mengambil peran yang lebih strategis di industri hulu yang untuk turut membantu iklim ee usaha yang ee kondusif ya. tadi masuk kepada sektor-sektor ee transisi energi. kemudian dia dalam kondisi yang tidak normal seperti sekarang ee pembangkit batubara juga boleh ee ditambah ya ee dan toh yang bikin apa namanya yang bikin ee kebijakan ee itu juga ee Amerika juga tidak mematuhi misalkan

artinya ee ya ini kondisi yang tidak wajar yang semua orang juga berusaha memperkuat ee struktur ee ketahanan nasionalnya gitu dan kekuatan kita adalah salah satunya di Batuara. Jadi ini momen konsolidasi yang baik ee yang perlu ee bergand tangan ee dan ee berbagi peran ya. Jangan juga semuanya misalkan diambil sama BUMN artinya ee kemudian ee sinergi antar anak cucu itu ee terlalu erat sehingga porsi swasta itu ee ee sampai enggak kebagian. Nah, ini juga di momen-momen seperti ini ee kita perlu bergandingan tangan dan

berbagai peran gitu, Mas. Baik, Povit. Nah, kalau kita bicara mengenai sinergi kemudian ini menjadi momentum yang tepat untuk saling ee bergandengan tangan, Prof. Telisa. Lantas bagaimana Anda melihat kekuatan kita begitu untuk bisa menahan gempuran ee tekanan ekonomi global, lonjakan potensi dari kenaikan harga energi di internasional, kemudian juga bisa menjaga ketahanan fiskal kita juga ini, Prof? Iya. Eh, tadi betul kalau kita bicara resiliensi tuju yang disampaikan Pakit. Memang dalam sisi historis kita cukup

terbukti resilience, tapi bukan berarti kan kemudian kita kurang waspada ya karena kita sudah resilience dari historisnya. Jadi artinya karena kan setiap syok itu berubah dan bisa jadi lebih eksponensial. Maksudnya kita pernah ngalamin COVID, pernah ngalamin krisis global 200728, krisis Asia 9798. Jadi sudah banyak melalui tapi kan ee bentuk formatnya berbeda-beda ya. Nah, ini kan sekarang ee dari sisi energi. Nah, tadi kita beruntung bahwa Indonesia memiliki energi baru terbarukan yang cukup masif seperti adanya B40 yang

menolong kita. Nah, ke depan akan B50 dengan ada sawit batu bara. Tadi setuju banget sebenarnya ketahanannya. Cuma di sisi fiskal memang gini, Indonesia tuh kan baru aja kena hits COVID ya. Jadi ee ada dampak COVID kepada fiskal yang disebut sebagai ee dampaknya tuh ee cukup menengah ya apa namanya ya eh caring effect dari pandemi itu ada. Nah, kita sudah baru pulih nih, baru pulih dari scaring effect. Kemudian ada lagi nih guncangan. Nah, makanya kita harus banget nih. Artinya kita sudah biasa jatuh bangkit lagi. Nah,

sekarang ee baru baru selesai mau bangkit, tiba-tiba ada guncangan lagi. Nah, ini yang challenge di sisi ketahanan fiskal tadi itu memang harus kuat banget. Makanya apresiasi ya kemarin pemerintah mendengarkan masukan untuk ada salah satu program prioritas yang memang perlu lebih ditajamkan karena memang anggarannya itu juga bisa digunakan untuk shifting ke subsidi energi. Nah, itu akhirnya mendapat ee apresiasi apa mendap dan pemerintah pun mulai ee apa ya menajamkan. Nah, jadi artinya bahwa di

sini ada proses feedback dan itu menurut kami akan sangat bagus untuk meningkatkan ketahanan fiskal kita. Kita masih punya PR dari bunga utang dan itu harus kita hadapi bersama. setuju banget tadi kita harus sinergi. Yang penting juga kita bangun bahwa kita punya public trust, bahwa ini ketahanan ekonomi sebetulnya kita punya peluang. Nah, namun peluang itu harus kita realisasikan dalam bentuk kebijakan yang tepat. Nah, kebijakan yang smart ini untuk menghadapi guncangan ini. Satu, tidak boleh ada ego sektoral. Kita enggak

boleh memelihara tuh yang namanya ego sektoral. Masing-masing sektor yang menang sendiri. Nah, itu harus kita hilangkan. Karena sekarang kita menghadapi musuh yang sama yaitu musuhnya adalah eh supply chain disruption akibat energi ini gitu. Itu yang pertama. Terus kemudian yang kedua dari sisi ee adanya eh sense of belonging terhadap kebijakan. Jadi artinya bahwa ada masukan-masukan dari masyarakat itu didengarkan oleh pemerintah. Itu juga satu hal yang positif ya. Pemerintah juga m-take into account apa

konsep-konsep dari masyarakat itu juga sangat baik. Itu harus di apa tingkatkan lagi ke depannya. He. Terus kemudian yang ketiga terkait dengan dari sisi moneter fiskalnya, sinergi kan tetap harus diperkuat ya, bahwa ini kan kita takutnya y kita naik ya. Kemudian dengan adanya tekanan harga energi kan defisit anggaran bisa membengkak. Nah, itu juga mempengaruhi eh capital info ataupun kepercayaan investor. Nah, kita bersyukur kemarin pemerintah sudah menjelaskan di forum IMF World Bank and well Meeting tentang

kondisi ekonomi Indonesia. Nah, itu mendapatkan respon yang positif. Nah, respon itu harus kita jaga dengan membuktikan bahwa ekonomi Indonesia memang ee cukup baik dan kita polisinya itu bisa adaptif gitu. Itu juga yang perlu kita tunjukkan ke dunia juga sih gitu. Kemudian ee downside-downset ris yang mungkin terjadi kayak ee tadi rupiah yang bisa ke imported inflation. Nah, itu harus kita inikan ya, kita kendalikan dan tadi peran dari BEWN swasta itu juga ee perlu sinergi. Jadi setuju banget ee juga bahwa kita

memberikan ruang untuk swasta karena swasta ini sudah cukup terpuruk ya dengan kenaikan harga energi ini. Mereka juga harus diberikan ruang. Jadi kalau misalkan sektor-sektor yang ee bisa dilakukan oleh swasta, mungkin BUMN tidak perlu terlalu banyak ee apa mengambil share di situ gitu. Tapi ada sinergiah kemitraan. itu kita lebih menonjolkan kemitraan dibandingkan dengan ee persaingan. Jadi biasanya BUMN tuh masuk di sektor-sektor yang ada market failure, sektor-sektor yang terkait hajat hidup orang banyak yang

ada monopolinya. Tapi kalau dia sudah berjalan baik oleh pasar ya itu sebetulnya enggak apa-apa diserahkan kepada priv. Jadi memang betul sekali sinergi ini harus kita perkuat apalagi kita menghadapi musuh yang sama seperti itu. Oke, itu dia sinergi yang harus diperkuat antara pemerintah kemudian juga mungkin pemerintah daerah BUMN, BUMD dan juga dari ee perusahaan-perusahaan swasta begitu untuk bisa menghadapi tekanan global. Mengingat kita tadi juga sudah sampaikan rupiah juga terus ee mengalami

depresiasi nyaris 17.200. Kemudian bagaimana dengan harga e global untuk harga minyak mentah dunia ini yang juga menjadi perhatian banyak pihak sehingga tidak akan memberikan tekanan yang lebih jauh lagi dengan kita menguatkan pangsa pasar di dalam negeri. Itu yang menjadi game changer kita begitu ya di tahun 2026 ini. Baik Prof. Telisa kemudian Pak Opit terima kasih banyak atas informasi update dan juga insight yang sudah disampaikan kepada pemirsa pada hari ini. Selamat melanjutkan aktivitas Anda

kembali. Salam sehat. Sampai berjumpa kembali Prof. Telisa. Pak Opi. Terima kasih. Salam sehat. Terima kasih. Terima kasih. Iya pemirsa. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlilah Hadalia menegaskan Indonesia tetap akan mengimpor minyak mentah dari Rusia meski telah terikat dengan perjanjian impor energi dari Amerika Serikat dalam kerangka perjanjian agreement on reciprocal trade. Dan bahlil menyebutkan diversifikasi impor minyak mentah menjadi penting dalam menghadapi dinamika perekonomian global.

[musik] Di tengah kondisi global yang seperti ini, kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber, tidak hanya di satu negara, tapi di hampir semua negara. Alhamdulillah kemarin atas arahan Bapak Presiden sudah saya bertemu dengan Menteri ESDM dan Utusan Khusus daripada Presiden e Putin dan kabarnya alhamdulillah cukup menggembirakan bahwa kita akan mendapat pasokan krut dari ee Rusia dan juga dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur yang penting dalam rangka

meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita. Pasti pertanyaan kemudian adalah apakah dengan kita membeli krudut dari Rusia kemudian bagaimana perjanjian kita dengan negara lain termasuk dengan Amerika? Saya katakan bahwa kebutuhan krud kita setiap tahun itu kurang lebih sekitar 300 juta ton eh 300 juta barel. Jadi semuanya kita ambil. Mana yang menguntungkan untuk negara kita harus kita lakukan. Demikian pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahli Lahadiah yang menyatakan pemerintah akan tetap

mengimpor minyak mentah dari Rusia di tengah pelaksanaan perjanjian impor Migas dari Amerika Serikat yang tercakup dalam perjanjian agreement on reciprocal trade atau ART yang telah ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump. Bahlil menegaskan langkah ini murni diambil sebagai strategi diversifikasi pasokan untuk menjaga ketahanan energi nasional. Menurut Bahlil, kebutuhan minyak mentah nasional saat ini mencapai sekitar 300 juta barel per tahun, di mana sebagian besar masih bergantung pada impor. Oleh

karena itu, pemerintah akan mengambil pasokan minyak mentah dari berbagai sumber asalkan menguntungkan bagi kepentingan negara. Kerja sama Indonesia dengan Rusia merupakan upaya diversifikasi sumber pasokan minyak khususnya di tengah gejolak pasar energi global. Bah menekankan Indonesia tetap konsisten memegang prinsip politik luar negeri bebas aktif dalam menjalin kemitraan ekonomi di sektor energi. Fleksibilitas ini memungkinkan Indonesia menjalin kerja sama dengan berbagai pihak mulai dari Rusia, Afrika, Nigeria hingga

Amerika Serikat tanpa mengabaikan komitmen yang telah disepakati sebelumnya. Tim liputan IDX Channel. Baik pemirsa, untuk membahas tema kita kali ini, peta baru impor minyak jamin ketersediaan energi nasional. Kita sudah tersambung melalui Zoom bersama dengan Mas M Rizal, ketua komite investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional Aspermigas. Kemudian sudah bergabung juga Mas Bratalatov, Head of Center of Food Energy and Sustainable Development Ind. Langsung saja kita sapa ini. Halo, Mas Mose, apa kabar?

Baik, terima kasih atas undangannya, Mas Pras. Baik, terima kasih juga atas waktu yang disempatkan Mas Mose dan Mas Sabra. Apa kabar? Halo, Mas Pras. Alhamdulillah baik Mas Pras. Terima kasih atas waktu disempatkan juga Mas Abrar. Sebelum membahas lebih jauh, Mas Mose, kita akan review nih terkait dengan Asper Migas. Seperti apa sih memandang rencana pemerintah yang tadi untuk memperluas pasukan minyak mentah kita begitu dari Rusia khususnya di tengah masih belum redanya konflik geopolitik di Timur Tengah. Bahkan ini

semakin memanas lagi ya. blokade Iran kembali dilakukan ini, Mas Mose silakan, ya. Ya, jadi memang saya sangat setuju dengan apa yang dilakukan oleh Menteri. Ee diversifikasi itu sangat penting. Eh, pada saat kondisi sekarang kita lihat bagaimana manfaatnya diversifikasi ee apa ee suplai minyak kita ya dari luar negeri. ee kita lihat negara-negara tetangga kita itu jauh lebih tergantung daripada kita terhadap tengah dibandingkan kita ee exposure kita misalkan untuk minyak mentah itu sekitar ee dan juga makin ee minyak mentah ya

itu sekitar ee 20 atau ee 20-an% atau kurang dari 20% lah ya. Sedangkan kita juga impor juga dari Nigeria, Angola kita juga impor juga dari Australia dan lain sebagainya. Jadi diversifikasi itu ee penting untuk mengurangi terhadap isu-isu yang sekarang terjadi ya. Kalau kita lihat Filipina, kita lihat Malaysia, e Singapura sekarang juga ee ketergantungannya jauh lebih besar terhadap ee Timur Tengah dibandingkan kita. Nah, di satu sisi yang menjadi isu adalah yang lebih kritikal adalah LPG. LPG itu setengah

dari LPG kita ee itu dari Timur Tengah ya. Jadi ee itu juga perlu disikapi. Nah, saya senang dengan Pak ee Menteri ee berkunjung dengan Pak Presiden juga berkunjung ke Rusia ee salah satunya adalah untuk ee diversifikasi tadi ee ee migas kita dan semoga berhasil ya. Ee dan itu ee kita harap akan bisa memperluas tadi jaringan kita, suplly kita ee guna mengurangi resiko-resiko yang ada sekarang. Sebenarnya masalah dengan Rusia ini kita sudah, saya sendiri sudah ee menganjurkan sejak awal peran Ukraina, Rusia untuk kita

memanfaatkan waktu itu harga minyak dari Rusia itu sangat sangat rendah. Mereka kasih diskon besar-besaran dan banyak negara yang memanfaatkan itu ya e seperti India eh beszin dan lain sebagainya memanfaatkan ee pasokan dari Rusia dengan harga yang jauh lebih murah. Nah, itu kita bisa saving sebenarnya kemarin itu kalau ditotalin bisa ratusan triliun kita bisa saving ya sampai sekarang ee sekarang sudah enggak ada diskon lagi nih dari Rusia. Tapi bukan berarti kita ee enggak beli lagi dari Rusia, kita harus ee diversifikasi

itu tetap ee tetap harus kita pertahankan karena itu penting sekali. Jadi ya saya sangat setuju dengan Pak Menteri ee diversifikasi kita harus ee harus tekankan dari Amerika ya sahsa aja kita beli dari Amerika tapi kita juga harus lihat jangan sampai kita ketergantungan hanya terhadap ee terhadap Amerika ya yang kita khawatirkan kemarin dengan ART itu 15 miliar dolar waduh itu bisa apa merusak perdagangan kita ya dan juga tadi resiko-resiko yang ee ee apa yang ada dengan kita hanya ketergantungan

dengan dari satu negara gitu. Baik. Nah, semoga ini bisa ee lebih luas lagi jaringan ee suplly kita untuk mengurangi risiko ee dagangan kita. Oke, itu dia pandangan dari Aspar Migas ya. INDF sendiri melihat bagaimana dengan rencana pemerintah tadi untuk memperluas ya diversifikasi nampaknya saat ini menjadi gap changer bagi Indonesia nih untuk bisa mendapatkan lagi minyak mentah. kita begitu mengingat kebutuhan energi di Indonesia juga cukup tinggi nih Mas Abra. Iya Mas PR. Saya melihat memang langkah

pemerintah untuk mempercepat mencari sumber alternatif ya baik minyak mentah maupun BBM ini memang menjadi ee langkah rasional baik secara ekonomi maupun politik. Tentu ini adalah pilihan yang realistis karena tidak bisa lagi kita ee hanya mengandalkan dari Timur Tengah di tengah sekarang ketidak pastiannya masih besar. Jadi ada fase di mana ekspektasi kita bahwa eskalasi itu akan reda tetapi baru menjelang e sat du hari kemudian tegang lagi. Artinya kita memang harus bisa mengurangi risiko tadi. Tetapi

memang meskipun secara operasional ee tentu ee apa ee potensi pengadaan dari Rusia maupun dari negara-negara lain itu ada. Tetapi kan juga tentunya ada risiko-risiko lain khususnya risiko politik ini yang paling besar. I secara teknis mungkin masih apa bisa dipertimbangkanah apakah hilang kita memang kompatibel ee untuk diolah ee krut dari Rusia. Tetapi ada beberapa catatan menurut saya yang perlu dipertimbangkan. Pertama adalah bahwa e bagaimanapun Rusia ini kan menjadi negara yang saat sampai saat ini menjadi

rival dari Amerika Serikat dan aliansi. Nah, sedangkan Indonesia sendiri meskipun kita mengambil langkah ee apa politik bebas aktif tetap kita juga tidak bisa terhindar dari osur tadi. Nah, yang menarik memang ee pemerintah Amerika Serikat sendiri dalam 1 bulan terakhir ya sebetulnya sudah mengizinkan kepada beberapa negara e seuntunya untuk mengimpor dari Rusia dan bahkan dalam 1 bulan itu sudah ee Rusia sudah berhasil apa mengekspor sekitar 100 juta barel minyak mentah terhadap negara-negara sekutu Amerika. Artinya kalau dilihat

dari potensi Indonesia masih ee berpeluang ya untuk bisa melakukan importasi tadi dari sisi penerimaan Amerika. Nah, yang kedua adalah resiko dari bagaimana ee kita ee melakukan ee transaksi ee pembayaran. Karena ini kan kita tahu bahwa Rusia juga masih di apa blokade dan sistem pembayaran internasional melalui shift. Nah, itu juga kita ada potensi ada kendala nih dalam proses pembayaran. Nah, itu juga perlu dipikirkan apakah kita akan menggunakan ee alat tukar lain misalkan ee bilateral ee apa currency ya ee itu juga sejauh

mana ee potensi dan risikonya ataupun ee kita tetap ee perlu mempertimbangkan ee alat pembayaran yang lain gitu. Nah, ini saya pikir secara teknis akan ada risiko tadi. Kemudian juga risiko terhadap badan usaha khususnya Pertamina. Nah, meskipun pemerintah secara G2J mungkin sudah melakukan ee apa korespondensi ataupun kesepakatan, tapi secara bilateral nantinya B2B apakah memang eh apa eh visibel bagi badan usaha untuk melakukan importasi tadi khususnya terkait dengan adanya resiko reputasi buat ee buat perusahaan. Karena kan

Pertamina ataupun badan usaha ini juga di sisi lain ee masih tetap membutuhkan e penerbitan global bond. Nah, dalam penerbitan global Bond tadi itu kan ee ada klausul bahwa ee badan usaha ee akan menjaga ee relasi terhadap pihak-pihak yang dianggap e akan mendapatkan sanksi internasional. Nah, artinya resiko-resiko ee hukum tadi juga perlu dimitigasi. Apakah memang secara ee teknis nantinya Busia bisa melakukan ee upaya importasi minyak mentah maupun BBM tadi? Masas. Baik, Mas. Nah, Mas Mosi dengan

informasi yang sudah disampaikan oleh Mas Sabra tadi, bagaimana Seperikas melihat begitu potensi Indonesia? Berarti kan sekarang peta barunya sudah mulai muncul nih. Kita tidak hanya bergantung dari Timur Tengah lagi untuk bisa mendatangkan ee pasukan energi kita, minyak mentah maupun gas sendiri, Mas Bos ya. Iya. Kalau dibilang geopolitik ya jelas penting ya kita harus memikirkan segala hal. Tapi di satu sisi memang ee Indonesia ini adalah bebas aktif. tadi yang di resisiko-resiko yang di ee apa

ee disampaikan oleh SASRA memang betul ada tersebut. Tapi kalau kita lihat lagi realitanya seperti apa, India itu luar biasa mereka impornya dari Rusia. Mereka sahsah aja enggak ada masalah. Apa mereka disanksi oleh e Amerika? Enggak. Ee kalau kita lihat Eropa, Eropa itu justru ee tahun 2025 tahun lalu itu mengimpor lebih besar dibandingkan tahun 2024. Jadi ada peningkatan impor memang secara ee jangka panjang mereka akan berusaha untuk mengurangi impor dari yang berusia, tapi mereka impor-impor

saja. Tadi masalah pembayaran, pembayaran enggak masalah. Oh, coba kita lihat ee Iran ya. Iran itu juga disanksi sudah 47 tahun ya. Ee mereka transaksi dengan Cina bagaimana caranya ya kan. India transaksi dengan Rusia gimana caranya? Itu semua ada caranya kok. Enggak ada masalah. Jadi kalau dibilang ee apa kita ketergantungan sama Swift, enggak juga. Saya punya ee teman yang punya perusahaan ee bertransaksi antara Bank Indonesia dengan bank ee di Rusia melalui ee jalur lain selain Swiss ya. Jadi itu semua bisa di ini kita kan

bebas aktif enggak ada masalah kita enggak ada yang dilanggar dari ee dari sisi internasional. Baik. Jadi kita harus bisa apa mengexercise itu dan menunjukkan kepada dunia kalau kita ini ya negara yang berdaulat dan tidak ketergantungan terhadap ee satu pihak mau itu barat mau itu timur ya. Jadi ee itu semua ada caranya. Kalau mau bisa diskusi saya kasih saya kasih jalannya itu semua bisa ee bisa di bisa ditanggulang enggak ada masalah. menarik dicermati juga selanjutnya begitu tadi Pak Bal menyampaikan bahwa Rusia

tertarik juga untuk berinvestasi pada fasilitas storage ya, tangki penyimpanan serta kilang. Nah, ini seberapa penting dan urgen juga begitu bahwa ada investasi masuk dari Rusia begitu setelah kita tahu ada beberapa negara yang sudah masuk ke Indonesia. Kita bahas lebih jauh di seken berikutnya. Mas Abra, Mas M kita akan kejeda dulu sebentar dan pemirsa tetaplah bersama kami ya. Anda masih menyaksikan market review pemirsa dan berikut ini kembali kami sampaikan sejumlah data untuk Anda. Kita akan cermati bersama seperti apa

sih nilai importasi ya untuk minyak mentah Indonesia khususnya ini kita lihat dari Federasi Rusia ya. Seperti yang bisa Anda saksikan di layar television range dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2025 ini trennya cenderung naik begitu ya. Di tahun 2018 hanya sekitar 130,88 juta dolar Amerika Serikat kemudian terus mengalami peningkatan hingga tahun 2025 mencapai 1,7 miliar dolar Amerika Serikat. Itu dia untuk importasi minyak mentah Indonesia dari Rusia. Dan berikutnya kita akan lihat dari sisi

nilai importasi minyak mentah Indonesia secara keseluruhan. Kita lihat dari tahun 2020 sampai dengan tahun 2025 seperti yang bisa Anda saksikan, tahun 2022 ini mencapai ya level yang cukup tinggi ya, paling tinggilah bisa dikatakan 11,46 miliar dolar Amerika Serikat namun cenderung turun sampai dengan tahun 2025 menjadi 9,31 miliar dolar Amerika Serikat. Itu dia dari sisi nilai importasi yang sudah kita sampaikan. Kita akan lanjutkan kembali perbincangan bersama dengan Mas Mus Rizal, kemudian juga Mas Abra Talatov.

Ya, dengan beberapa informasi tadi yang sudah disampaikan, mungkin Asper Migas juga bisa melihat dan juga me-review seperti apa sih potensi kalau memang Rusia benar-benar tertarik untuk berinvestasi ee pada fasilitas tangki penyimpanan, kilang begitu dan mungkin infrastruktur lainnya. I ya saya setuju dengan Pak Menteri. Kita harus welcome ya. ee kita butuh ee apa ee pasokan ee minyak kita, cadangan minyak kita juga perlu ditingkatkan yang dari 20 hari katanya Pak Menteri mau meningkatkan sampai 3 bulan ya kan.

[berdehem] Nah, memang itu butuh ee banyak storage. Nah, dan itu enggak bukan suatu hal yang mudah karena dari satu sisi infrastrukturnya dan juga pasokan [berdehem] minyaknya itu sendiri untuk ee atau BBM ya untuk ee memenuhi kebutuhan itu tidak ee tidak mur dan tidak ee kecil gitu kan. Jadi memang harus bertahap. Nah, kalau memang ada ee potensi investasi investor mau masuk dari Rusia ya kita welcome mau masuk dari Amerika. Iya. Halo. Ya, nampaknya kami mengalami gangguan sinyal komunikasi dengan Mas Mose Rizal

ya terkait pertanyaan terkait dengan adanya investasi ataupun rencana investasi dari perusahaan Rusia ataupun pemerintah Rusia ke Indonesia. Nah, kita ke Mas Abra terlebih dahulu. Bagaimana Anda melihat begitu diversifikasi impor ini benar-benar akhirnya akan memperkuat posisi Indonesia juga kan begitu dalam diplomasi energi tingkat. Mas I, Mas Mose e apalagi ya. Baik, Mas Mose. Nah, Mas Abras silakan kalau kita lihat seperti apa nanti posisi Indonesia dalam diplomasi energi di tingkat global ini dengan

rencana-rencana melakukan importasi dari beberapa negara. Ya, Mas Pras. Jadi memang ee strategi diversifikasi impor ini tentu apa urgensinya sebetulnya harus kita ee tekankan untuk jangka pendek ya. Kebutuhan jangka pendek memang tidak bisa di ee apa hindari. Kita ee butuh besar sekali sekitar 1 juta bar per hari dan kalau ada disrupsi dari Timur Tengah e ini akan apa mengurangi ee stok BB nasional kita yang sekitar hanya 20 sampai 25 hari. Nah, tapi ee strategi diversifikasi tadi ya memang harusnya

juga dibarangi dengan tetap fokus pemerintah meningkatkan lifing migas nasional itu. Jangan sampai nanti kita terlenakan ketika nanti justru kita bisa mendapatkan sumber alternatif dari Rusia atau dari negara lain ya pemerintah terlena ya kita ee oke tadi membangun ee apa kilang ataupun storage tapi dari sisi hulumigasnya ya itu tidak di ee akselerasi. Jadi juga harusnya ya ee potensi kerja sama tadi dengan Rusia ataupun negara lain itu bukan hanya dari aspek pengadaan impor minyak ataupun BBM ataupun bahkan storage dan kilang,

tetapi juga bagaimana negara-negara yang maju tadi dari sisi ee apa hulu migasnya bisa berkontribusi juga dalam peningkatan produksi di dalam negeri. Jadi ee pada akhirnya nanti dalam jangka menengah panjang kita juga bisa mengurangi ketergantungan impor ee minyak mentah maupun BBM kita meskipun kita ee tetap akan ee butuh ee impor dari luar. Yang keduai dari sisi ee potensi investasi di kilang maupun storage Mas ya kita tahu ee pemerintah Pertamina sudah menyelesaikan ee apa RDMP ataupun revitalisasi kilang di

balik papan yang meningkat dari 290.000 sampai 360.000 bar per hari kapasitasnya. Nah, itu kan sebetulnya arahnya ketika terjadi peningkatan ee kapasitas kilang tadi, importasi perut-nya juga bisa menurun termasuk juga ee apa penurunan ee untuk kebutuhan LPG. Nah, ini harus konsisten artinya harus bisa kita monitor pantau apakah betul setelah nanti kilang itu sudah beroperasi importasi minyak kita akan mengalami penurunan. Nah, apalagi kalau untuk kita bicara biaya investasi hilang maupun storage saja kita bicara yang

paling ee apa? Pragmatis saja. storage. Pemerintah punya target akan meningkatkan stok nasional itu sampai 90 hari dalam jangka pendek setahun 2 tahun ke depan sampai 30 hari. Nah, itu paling tidak ya untuk bisa mendekati eh stok WBM sampai 90 hari butuh investasi lebih dari 20 miliar dolar per apa 20 miliar dolar gitu. Dan ee bukan hanya kita butuh biaya yang besar tetapi juga dari sisi ee apa teknologi dan juga ee bahan baku dan sebagainya. Jadi memang menjadi relevan ya bagi pemerintah untuk ee satu

sisi e berpeluang melakukan importasi ee apa minyak mentah, tapi di sisi lain juga meningkatkan kapasitas eh storage nasional juga sehingga kita tidak terlalu volatile ya Mas eh apa sangat ee rentan terhadap gejolak harga energi dunia tadi. Baik Masra dan kita kembali lagi ke Mas Mos ini tadi sempat tertunda Mas Mose. Lantas sebagaimana Anda melihat dengan potensi Indonesia ini benar-benar menjadi harapan baruah begitu untuk sektor energi kita? Ya, storage storage dan kilang itu penting untuk dibangun dalam negeri ya.

Itu tidak ee apa ee mengesampingkan bahwa sektor hulu yang tadi ee Mas Abra bilang memang harus ditingkatkan dan kita memang berusaha sekali itu sudah belasan tahun gitu. Oke. Gimana meningkatkan produksi dalam negeri ini. Cuma memang ee kondisi lapangan kita kan memang sudah ee dipleted ya, sudah memang ee secara natural itu ee jadi butuh investasi tambahan. Jadi kuncinya adalah di iklim investasi ini ya sasa aja ee apa ee Rusia ataupun Amerika ataupun negara lain mau investasi yang tadi Mas ee bilang butuh

20 bilion US dolar untuk storage saja tuh. Kalau kilang itu bisa sampai ee bisa sampai belasan bilun dolar itu kilang saja ya. Kemarin ee kilang balik papan menambah 100.000 barel aja itu membutuhkan sekitar 5 sampai 6 bilun US dolar dan itu ee apa costnya meningkat pula dan ada delay ya. Jadi memang kilang ini bukan hal yang mudah dan enggak banyak juga investor yang ee tertarik untuk membangun kilang. Jadi kalau ada kita harus ee harus welcome ya. Ee semoga yang kilang Tuban yang sebenarnya mau direncanakan dengan

Rosnef akhirnya tertunda bisa bisa jalan lagi. Nah, itu ee suatu yang bagus karena itu kilam baru ya, grassroot. ee nah itu bisa ee bisa meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri kita itu ee jauh lebih tinggi dan tadi mengurangi apa neraca perdagangan ee defisit neraca perdagangan kita ya. Makanya apapun yang bisa kita lakukan di dalam negeri, kita harus lakukan dalam negeri. Ya, storage itu tidak bukan berarti kita harus impor besar-besaran dari luar. storage itu ya kita juga harus bisa fokus meningkatkan

produksi di dalam negeri juga untuk apa mengisi storage-storage tadi gitu. Oke. Butuh berapa lama, Masm? Berapa lama yang dibutuh waktu dibutuhkan begitu untuk proses pembangunan kilang kemudian sampai dengan beroperasi? Nah, kalau kita bicarakan ini baru rencana investasi begitu sehingga kita benar-benar paralel menyiapkan dengan ee existing yang ada. Kemudian bagaimana dengan ee ada investasi baru begitu misalnya dari Rusia tadi ya. Kita lihat aja kayak kilang balik papan ya 100.000 barang tadi rencananya

mungkin 3 tahun sudah bisa beroperasi akhirnya molor sampai 5 tahun. Oke ya 100.000 barel aja ya. Nah kita kalau storage memang lebih mudah karena memang e tidak membutuhkan teknologi tinggi ya walaupun memang ee nilai investasinya luar biasa yang tadi dibilang 20 bilion itu untuk meningkatkan dari sekarang 20 hari sampai ke 90 hari. Hm. Oke. Kan luar biasa dan itu masih cuma hanya infrastrukturnya aja. Belum lagi nanti kita harus impor ee bahan bakunya untuk mengisi ee storage-nya tersebut. Jadi

kita mungkin membutuhkan belasan tahun ya ee untuk bisa mencapai ke sana. Itu pun kalau memang uangnya ada, kalau itu pun kalau ada investornya gitu kan. Jadi ini bukan hal yang mudah dan kompleksitas kayak kilang minyak ee itu sangat tinggi di ee dan ee keekonomiannya sangat rendah apalagi untuk daya beli masyarakat di Indonesia. Oke, gitu. Nah, itu yang ee harus dipertimbangkan. Makanya biasanya kilang itu ee kayak misalkan di Malaysia itu dikombinasikan dengan ee petrokimia dan lain sebagainya untuk meningkatkan ee

nilai ekonominya dari ee proyek tersebut. Nah, itu bukanlah hal mudah. Kompleksitas tinggi, ee keekonomian kecil ya. Investor juga enggak ee enggak apa eeak enggak banyak apalagi sekarang lagi masa transisi energi ya. ee hanya spesifik investor yang ee mau. Jadi kalau memang ada yang mau memang kita harus bisa logowo, harus bisa lihat gimana ee deal yang saya alami ya selama banyak saya juga partisipasi di kilang balik papan kemarin RDM untuk ee investor kami itu masuk ke sana juga gitu. Cuma akhirnya kan enggak ada enggak ada

investor itu dibiayai sendiri oleh Pertamina ya. Oke. Nah, itu yang ee sangat disayangkan karena resiko dan ee nilai kapitalnya itu sangat tinggi untuk bisa hanya di ee apa ee dipegang atau di di apa menjadi beban suatu ee perusahaan. Makanya kayak Rapid 1 di Malaysia itu dia Arampo dan eh Petronas ya, D50-50. Jadi itu mengurangi resiko dan mengurangi kapital yang harus digelontorkan di depan. Nah, ini yang [berdehem] ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Iklim investasi harus bisa dijaga. Kita masih butuh investor dari

luar. Baik. Ee dari manaun mau itu dari Rusia, mau itu dari barat, mau dari timur ee silakan. Nah, ini kita kita harus ee bisa welcome dan bagaimana membentuk suatu iklim investasi yang menarik dan kita ini saingan dengan negara-negara lain juga. Kayak kemarin Aramko enggak jadi dengan ee di kilang Cilacap di Indonesia, akhirnya dia jadi dengan Malaysia, ya kan? Oke. Nah, itu kan berarti kita bersaing antara ee apa antara negara ya, gimana kita bisa lebih menarik dibandingkan negara lain gitu. kita harus ee perhatikan

iklimnya iklim investasi nampaknya yang memang harus terus dijaga begitu ya oleh pemerintah untuk bisa menarik ee minat bagi investor asing untuk bisa menanamkan modal mereka untuk berinvestasi di infrastruktur kilang minyaknya maupun pada saat mungkin ee proses produksi ya pengeboran dan lain-lain begitu untuk ee kilang-kilang dan juga mungkin sumur-sumur ee minyak di Indonesia. Baik, sayang sekali waktu terbatas ini Mas Mose. Kemudian Mas S Abra terima kasih banyak atas informasi update dan juga insight yang sudah

diberikan kepada pemirsa pada hari ini. Selamat melanjutkan aktivitas Anda kembali. Salam sehat. Sampai berjumpa kembali. Terima kasih, Mas Me. Mas Sabra. Terima kasih, Mas. Baik pemirsa 1 jam sudah saya menemani Anda dalam market review dan berbahari terus informasi Anda hanya di IDX Channel, your trustworthy and comprehensive investment reference. Karena urusan masa depan harus di depan. Aku investor saham. Saya Prasetyo Wibowo beserta seluruh kerabat kerja yang bertugas pamit undur diri. Terima kasih

dan sampai jumpa. [musik] Yeah.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *