Gubernur Ban Indonesia Peri Wargio optimistis nilai tukar rupiah akan mulai menguat pada Juli hingga Agustus 2026 setelah tekanan permintaan dolar Amerika Serikat yang tinggi mulai mereda. Dalam rapat kerja bersama Komisi 6 DPR RI, Peri menjelaskan pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan faktor musiman. Mulai dari kebutuhan pembayaran dividen, utang luar negeri hingga kebutuhan devisa untuk perjalanan haji yang biasanya meningkat pada April hingga Juni. Meski begitu, Feri meyakini rata-rata
nilai tukar rupiah sepanjang 2026 masih akan berada dalam kisaran asumsi APBN yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar Amerika Serikat. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah juga dipicu kenaikan harga minyak dunia, [musik] konflik geopolitik, dan naiknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang membuat dolar semakin kuat secara global. Namun, Peri menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Ia bahkan menyebut nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervaluet atau lebih lemah dibanding fundamental
ekonominya. Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bayi mengaku telah menyiapkan berbagai langkah strategis. Mulai dari intervensi pasar valuta asing, penguatan instrumen moneter SRBI, pembelian surat berharga negara atau SBN hingga perluasan transaksi mata uang lokal atau local currency transaction. Senada dengan Peri, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Deni Prakoso [musik] juga optimistis rupiah berpotensi menguat setelah periode tingginya permintaan dolar berlalu. Menurut BI, optimisme itu didukung
pertumbuhan ekonomi yang masih baik, [musik] inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa Indonesia yang dinilai masih memadai. Keputusan bisnis terbaik datang dari data, bukan tebakan. Mudah berlangganan bisnis insight. dengan subscribe with Google. Download aplikasi kontan [musik] sekarang di App Store atau Play Store.
Komentar