Ketua Komisi 11 DPR RI Muhammad Misbahun meminta otoritas fiskal dan moneter segera memperkuat langkah mitigasi menyusul tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Ia mengingatkan pelemahan rupiah harus diantisipasi serius agar tidak berubah menjadi imported inflation atau inflasi impor yang dapat menekan daya beli masyarakat. Menurut Miss Bahun, tekanan terhadap rupiah dipicu dinamika global mulai dari arus modal asing hingga meningkatnya ketidakpastian pasar internasional.
Namun, ia menegaskan tekanan eksternal tidak boleh dibiarkan langsung menghantam sektor ril dan kehidupan masyarakat. Jika tidak dimitigasi cepat, dampaknya bisa terasa pada biaya produksi, harga barang impor, hingga kebutuhan sehari-hari. Karena itu, Miss Bahun mendorong Ban Indonesia terus aktif menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar spot, domestik non deliverable forward atau DNDF hingga pasar surat berharga negara. Menurutnya, langkah stabilisasi harus dilakukan secara presisi agar mampu
menjaga kepercayaan pasar tanpa terlalu membebani cadangan devisa. Dari sisi fiskal, ia juga meminta pemerintah mengoptimalkan kebijakan devisa hasil ekspor atau DHE agar pasokan dolar di dalam negeri tetap kuat. [musik] Selain itu, Kementerian Keuangan diminta menyiapkan langkah antisipasi APBN untuk menjaga sektor industri dan stabilitas harga pangan. Miss Bahun mengingatkan jangan sampai pelemahan rupiah membuat biaya produksi naik lalu dibebankan ke harga barang masyarakat. Sebab jika itu terjadi, daya beli
masyarakat bisa semakin tertekan. Komisi 11 DPR pun memastikan akan terus memantau kondisi ekonomi dan mengawal koordinasi pemerintah agar gejola global tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional. Keputusan bisnis terbaik datang [musik] dari data, bukan tebakan. Mudah berlangganan bisnis insight dengan subscribe [musik] with Google. Download aplikasi kontan sekarang [musik] di App Store atau Play Store.

Komentar