Kita bisa bilang Manchester City adalah klub paling gila yang ada di dunia saat ini. Gimana enggak kalau kalian udah nonton video kejeniusan keluarga Hartono membangun Como dari nol sampai bisa bersaing di Seri A dan strategi Red Bull membeli banyak klub di seluruh dunia buat promosiin brand mereka. Gimana kalau dua strategi itu dijadiin satu? Dan itu yang terjadi sama Manchester City yang mereka namai sebagai City Football Group. Bedanya Shefg melakukan ini dalam skala yang jauh lebih besar, jauh lebih cepat dengan modal yang ya
kita tahulah, unlimited money. Dan yang bikin menarik bukan cuma soal seberapa banyak klub yang mereka punya, tapi bagaimana mereka merancang semuanya supaya saling nyambung, satu filosofi, satu sistem, tapi tersebar di banyak negara dan benua sekaligus. Nah, pertanyaannya sekarang, emangnya ini beneran bekerja atau enggak? Ide gila ini itu sebenarnya lahir dari satu orang yang namanya Feran Soriano yang justru strategi City Football Group ini dia kembangkan waktu dia masih di Barcelona. Feren Soriano lahir di
Barcelona 1967. Dia adalah seorang konsultan bisnis murni yang enggak ada hubungannya sama sepak bola sama sekali. Dia pernah kerja di perusahaan konsultan The Mac Group, pernah diit Bankister, bahkan juga ikut cfounding perusahaan konsultannya sendiri. Di 2003, Juan Loperta itu terpilih jadi presidennya Barcelona dan dia butuh seorang yang bisa beresin keuangan klub yang waktu itu dalam kondisi sangat buruk. Barcelona waktu itu rugi sekitar 73 jutao per tahun. revenue mereka cuma sekitar 123 jutao dan 3 tahun sebelumnya
mereka itu gak menang satuun trofy. Dan ketika Veran Soriano ditunjuk masuk ke Barcelona, dia itu langsung bikin gebrakan. Dia ubah cara Barcelona jualan. Dia push habis-habisan soal sponsorship, merchandising, dan ekspansi brand ke luar Eropa. Salah satu gebrakan yang paling ikonik waktu itu adalah kesepakatan dengan UNICEF. Barcelona itu sejak awal enggak pernah pakai sponsor di depan baju mereka. itu udah jadi identitasnya Barcelona. Kalau mereka bukan sekedar bisnis tapi lebih dari itu. Nah, kegilaan Fenoriano, dia mau
mutus tradisi itu dengan naruh brand UNICEF di jersey mereka. Tapi uniknya bukan UNICEF yang ngebayar Barcelona, justru Barcelona yang membayar UNICEF supaya logo mereka bisa ditaruh di jersey-nya Barcelona. Dari situ semakin memperkuat identitas Barcelona kalau mereka memang bukan sekedar bisnis biasa. Dan hasilnya 5 tahun kemudian di 2008 revenue Barcelona itu naik dari 123 jutao tadi jadi 38 jutao. Kerugian 73 jutao per tahun berubah jadi keuntungan 88 jutao. Tapi yang lebih menarik dari angka-angka itu adalah apa yang Saano
pikirkan selama dia di Barcelona. Di dalam kepalanya dia mulai punya suatu pertanyaan besar. Kenapa sebuah klub bola harus tetap jadi bisnis lokal? Barcelona punya ratusan juta fans di seluruh dunia. Tapi sebagian dari mereka yang ada di Asia, Amerika, Afrika enggak bisa berkontribusi ke revenue club secara berarti. Mereka paling banter itu beli jersey. Sisanya cuma nonton di TV. Sorano mikir, gimana kalau kita kasih mereka tim lokal yang terhubung ke Barcelona? Dari sinilah gagasan ini pertama kali muncul. Soro bahkan sempat
kontak langsung dengan komisioner MLS Don Garber untuk bikin franchise baru di Amerika Serikat dengan brand Barcelona. Mereka bahkan udah mulai men-survei beberapa kota, tapi rencana itu enggak pernah jadi kenyataan. Di 2008 ada gesekan internal di jajaran direksinya Barcelona dan Soriano beserta tujuh anggota dewan lainnya akhirnya milih buat mundur. Di September 2012, Sek Mansur lewat Abu Dhabi United Group menunjuk Soriano sebagai CEO Manchester City menggantikan Gary Cook. Dan waktu masuk kondisi City bukan tanpa masalah.
Manchester City waktu itu sedang rugi 97 juta pound per tahun. itu udah jadi pelanggaran berat aturan financial fairplay yang membatasi kerugian cuma 45 juta pound. Di 2011 belum masuk ke Manchester City, Soriano itu nerbitin sebuah buku yang judulnya The Ball Doesn’t Go In by Chance. Dan di dalam buku itu dia udah nulis dengan sangat jelas evolusi alami dari sebuah klub besar adalah menjadi global entertainment seperti Walt Disney. Jadi kenapa Disney Soriano melihat suatu yang menarik dari model
bisnisnya Disney? Kalau kalian suka Disney, kalian pasti enggak cuma beli satu filmnya aja. Kalian juga beli merchandise-nya, pergi ke team park, nonton semua serialnya, dan beli paket streamingnya. Disney membangun ekosistem dan semua ekosistem itu berputar di sekitar satu brand yang kuat. Soriano mau bikin hal yang sama dengan sepak bola. Manchester City sebagai brand utama dan klub-klub di berbagai negara sebagai team park-nya. Setiap orang di dunia bisa punya klub lokal mereka sendiri yang terhubung dengan Manchester
City. Dengan masuknya ke Manchester City dan dukungan penuh dari Shik Mansur, mimpi itu akhirnya bisa dia wujudkan. Di Mei 2013, City Football Group resmi berdiri. Shef dibentuk sebagai perusahaan induk yang menaungi Manchester City dan nantinya semua klub-klub lainnya. Dan langkah pertama mereka itu dengan membeli franchise MLS ke-20 yang kemudian menjadi New York City FC dengan New York sebagai mitranya. Dan hampir bersamaan mereka mengakuisisi Melbourne Hart di Australia yang kemudian diganti menjadi Melbourne
City. Bukan kebetulan kalau dua klub pertama ini semuanya dari negara yang berbahasa Inggris. Amerika dan Australia adalah dua target komersial terbesar untuk pertumbuhan brand sepak bola Inggris. Waktu video ini dibuat di 2026, CFG itu udah menaungi 12 klub di lima benua. Sempat 13. Tapi di 2025 kemarin mereka itu ngelepas Mumbai City. Dan kemungkinan besar jumlah ini akan terus bertambah di masa depan. Banyak orang yang salah ngira kalau tujuan utama CFG itu untuk memproduksi pemain-pemain muda berbakat yang
tujuannya untuk menyuplai pemain tersebut ke tim utama mereka Manchester City. Itu cuma salah satu dari tujuan mereka. Tujuan utama mereka adalah untuk mencari fan base-fan base baru buat nge-support Manchester City ini dari seluruh dunia. Tapi masalahnya enggak semudah itu bikin orang Jepang, India atau Uruguay dari gak kenal Manchester City terus tiba-tiba mereka dukung City. Mereka masuk dengan membuat orang-orang lokal ini suka dulu dengan klub lokal mereka. Dan secara enggak sadar, klub lokal yang mereka dukung selama ini itu
masih terkoneksi dengan Manchester City. Dan tujuan mereka, mereka itu enggak butuh konversi fans secara paksa yang bisa dihitung pakai data. Mereka mainnya pelan-pelan lewat kedekatan dengan klub-klub lokalnya kayak mereka beli Yokohama Marinos. Orang Jepang udah sejak lama support KPI ini. Secara gak langsung Yokohama itu udah terhubung sama ekosistemnya CFG dan itu bikin orang yang tadinya cuma dukung Yokohama Marinos mereka mulai familiar dengan logonya Manchester City, birunya Manchester City, filosofi bermain yang
sama kayak Manchester City. Dari situ pintu masuk ke Manchester City bakal terbuka secara organik. Mereka dapat fans baru bukan karena orang ini dipaksa, tapi karena orang ini beneran suka sama Manchester City secara perlahan-lahan. Dan strategi ini mereka lakukan di banyak klub tadi. Setelah mereka berhasil membangun sistem fan base di seluruh dunia tadi, mereka sadar kalau sebenarnya mereka itu punya jaringan dan infrastruktur scoating yang tersebar di seluruh dunia dan mereka mulai buat manfaatin itu. Chefgeklaim
kalau mereka punya database informasi tentang lebih dari 500.000 pemain di seluruh dunia. 500.000 itu bukan angka yang sembarangan. Angka itu bisa mereka capai karena setiap klub di CFC di setiap negara berfungsi sebagai antena scouting lokal. Sistem bekerjanya seperti ini. Ada bakat muda di Brazil, Bahaya yang pantang. Ada talenta di Jepang, Yokohama Marinos yang lapor. Ada pemain potensial di Amerika Latin. Klub mereka yang di Amerika Latin yang bakal awasi. Semua data itu mengalir ke pusat scouting mereka di Manchester. Dan ini
bukan sekedar teori. Kita bisa lihat bukti nyatanya. Ada seorang pemain muda berasil bernama Savinho yang main di Atletico Miniero. Chef ngelihat dia dan langsung bergerak. Mereka beli Safihnya cuma dengan harga sekitar 6,5 jutao. Dan resminya dia dikontrak oleh Troyes, klub CFG di Prancis. Tapi gak pernah main 1 menit pun di Troyes. Dia langsung dipinjamin ke PSV Endoven. Lalu musim berikutnya dipinjamin ke Girona yang juga klub dari CFG. Di Girona dia jadi salah satu pemain terbaik di La Liga terlibat dalam
19 gol dan asis. Membantu Girono finish ketiga dan lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka. Dan setelah itu, Safinya pindah ke Manchester City dengan nilai transfer 33,7 juta pound. Hitungannya simpel, CFG beli dia 6,5 juta euro, kembangin di dalam jaringan mereka tanpa keluar biaya tambahan, lalu dijual ke tim utamanya sendiri dengan nilai lebih dari tiga kali lipat. Dan ini dilakukan dalam satu sistem yang mereka kendalikan sendiri. dan Savinho bukan satu-satunya contoh.
Ada pemain namanya Tati Castellanos berawal dari Montevideo City Torque di Uruguay ke New York City FC di Amerika lalu ke Girono, Spanyol dan akhirnya dijual ke Lasio. Dari harga beli awal cuma 150.000o mereka berhasil jual jadi hampir 19 jutao. Sistem inilah yang disebut Soriono sebagai seamless movement of players. Dan sistem ini nyaris enggak mungkin ditiru klub biasa. Semua klub di dalam jaringan CFG enggak cuma berbagi pemain, mereka juga berbagi cara bermain. Berdasarkan filosofi taktiknya Pep Guardiola, semua klub CFG
diberikan akses ke database taktik dan metode kepelatihannya Manchester City. Satu kurikulum, satu DNA bermain dari tim junior sampai tim utama. Kenapa ini penting? Karena ketika seorang pemain berkembang misal di Montevideo City Torque lalu naik ke Lomel di Belgia lalu pindah lagi ke Girona dan terakhir ke Manchester, dia udah enggak perlu adaptasi taktik dari nol. Dia udah familiar dengan sistemnya dan itu berarti waktu adaptasinya bakal jauh lebih singkat, resikonya bakal lebih kecil yang bikin investasi mereka di
awal bakal lebih efisien. Di 2019, Silver Lake, salah satu perusahaan investasi teknologi terbesar di dunia, dengan aset lebih dari 43 miliar US Dar masuk ke CFG dengan investasi sebesar 500 juta. Do dengan kesepakatan itu, CFG itu divaluasi sekitar 4,8 miliar US. Rekor valuasi untuk sebuah organisasi olahraga waktu itu. Pertanyaannya, kenapa Silver Lake mau investasi ke sepak bola? Jawabannya mereka percaya ada pertemuan besar antara entertainment, olahraga, dan teknologi. CFG bukan cuma bisnis bola,
ini adalah platform konten global yang kebetulan mereka dibungkus pakai sepak bola. Dan kalau kita lihat dari sisi itu, angka-angkanya jadi masuk akal. Shf ngeklaim punya lebih dari 1 miliar followers di seluruh dunia jika dijumlah dari semua klub mereka. Manchester City sendiri di musim 2023-2024 mencetak revenue R15 juta pound sekitar R13 triliun lebih dengan profit 73,8 juta pound. Revenue itu tunggu 50% dalam 5 tahun terakhir. Dan berdasarkan laporan Deloit Football Money League 2024, Manchester City menepati posisi kedua
klub dengan pendapatan tertinggi di dunia di bawah Real Madrid. Itu bukan sebuah kebetulan. Ini adalah hasil dari suatu grand design yang udah dipikirkan Feran Sorano sejak dia masih di Barcelona. Tapi sif juga enggak lepas dari yang namanya kontroversi. Kembali ke kasusnya Savinho. Dia dikontrak Troyes, tapi dia enggak pernah main untuk Troyes. Dan sementara Savinho malah membantu Girona finish ketiga di La Liga. Dan apa yang terjadi dengan Troyes? Troyes justru terdegradasi dari League Ang dan itu
semua bikin fans Troyes jadi mengeluh. Kami digunakan untuk mengembangkan pemain orang lain tapi tidak mendapat manfaat apapun dari itu. Itu bukan hanya Troyes. Investigasi dari Maale on Sunday menemukan bahwa dalam satu dekade Manchester City telah membeli 36 pemain yang enggak pernah bermain 1 menit pun untuk tim utama mereka. FIFA punya aturan baru soal batas loan pemain. Tapi aturan itu juga punya celah. Aturan loan hanya berlaku antar klub berbeda pemilik. Kalau satu pemilik punya banyak klub, mereka bisa memindahkan pemain
antar klub dalam satu grup dan itu enggak dihitung sebagai loan. Itu sama sekali enggak melanggar aturan meskipun praktiknya tetap sama kayak Lun biasa. Di musim 2023-2024, Girona itu finish ketiga La Liga dan lolos ke Liga Champions. Manchester City juga lolos ke Liga Champions. Keduanya di bawah CFG. UEFA punya aturan yang sangat jelas. No individual or legal entity may have control or influence over more than one club participating in UEFA club competition. CFG waktu itu punya 100% saham Manchester City dan 47% girona.
47% ini udah di atas ambang 30% yang UEFA definisikan sebagai decisive influence. Solusinya CFG itu minta menaruh saham Girona ke dalam blind trust dikelola pihak independen selama musim 202425. Dan selama periode itu, klub CFG dan Girona enggak boleh transfer pemain satu sama lain, enggak boleh sharing database scoting dan enggak boleh kerja sama apapun. Begitu musim 2024-2025 selesai, per 1 Juli 2025 saham itu langsung dikembalikan lagi ke CSG. Jadi, gimana menurut kalian soal City Football Group ini? Tulis pendapat
kalian di kolom komentar. Terima kasih sudah menonton. Jangan lupa like, comment, share, and subscribe kalau kalian suka. Dan sampai jumpa di video selanjutnya. Yeah.

Komentar