JAKARTA, INDONESIA — Bulan bukan lagi satu-satunya pendamping alami yang mengelilingi planet bumi. Lintasan orbit bumi kini semakin sesak oleh tumpukan objek buatan manusia dengan perkiraan total massa mencapai 16.000 hingga 17.000 ton yang melayang di luar angkasa.
Tumpukan massa raksasa ini terdiri dari wahana antariksa, satelit nonaktif, bekas badan roket peluncur, hingga miliaran serpihan pecahan (fragmentation debris) sisa benturan di masa lalu.
Lonjakan Peluncuran Mega Konstelasi dan Risiko Kepadatan Orbit
Perkembangan pesat teknologi antariksa dalam beberapa tahun terakhir menjadi pemicu utama melonjaknya volume sisa materi peluncuran di ruang angkasa.
-
Fenomena Mega Konstelasi: Peluncuran ribuan satelit sekaligus dalam satu misi untuk membentuk jaringan komunikasi global mempercepat penumpukan materi sisa peluncur di jalur orbit.
-
Bekas Roket Tak Langsung Jatuh: Badan roket yang berhasil menempatkan satelit ke orbit tidak langsung musnah atau jatuh kembali ke bumi, melainkan tetap melayang mengitari lintasan dalam waktu lama.
-
Peringatan Ahli BRIN: Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rhorom Priyatikanto, memaparkan dinamika sisa peluncuran tersebut.
“Jadi roket yang sudah berhasil meluncurkan dan menempatkan satelit itu tidak langsung jatuh, masih melayang-layang di orbitnya, dan sebagian kecil berupa pecahan atau fragmentation debris, serpihan-serpihan yang merupakan produk dari tabrakan yang sebelum-sebelumnya,” kata Rhorom.
Mekanisme Pembersihan Alami dan Bahaya Puing Jatuh ke Bumi
Meski memadati orbit rendah bumi (Low Earth Orbit/LEO), sampah antariksa ini memiliki potensi untuk melambat dan terbakar akibat gesekan atmosfer.
1. Hambatan Atmosfer LEO
Materi yang berada di lintasan LEO secara bertahap akan mengalami perlambatan gravitasi dan gaya gesek atmosfer, yang pada akhirnya menarik benda tersebut masuk kembali ke bumi (re-entry).
2. Ancaman Serpihan Roket Masuk Atmosfer
Sebagian sampah antariksa berukuran besar kerap terbakar dan memancarkan cahaya terang saat menembus lapisan atmosfer sebelum pecahannya jatuh di wilayah perairan atau daratan. Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, mengomentari insiden melintasnya serpihan roket di wilayah Indonesia.
“Objek tersebut merupakan sampah antariksa berupa sisa roket Tiongkok CZ-3B yang memasuki atmosfer Bumi. Serpihan roket tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi dan mengalami gesekan dengan udara sehingga terbakar dan tampak terpecah,” jelas Thomas.
Comment