kasus daripada e MSI sendiri kan berakhirnya Juni ini untuk ditentukan apakah kita akan tetap difreze atau tidak dengan ancaman diturunkan lagi ke frontier. Nah, kalau itu turunkan ke frontier mungkin akan jadi petaka juga buat kita sebenarnya. Jadi kalau kita lihat apakah ini menjadi masalah ya akan selalu menjadi masalah sampai akhir tahun karena ini bicara tentang kepercayaan inf asing dan mereka cabut mereka sell off saham Indonesia [mendengus] dan kita akan terus ditekan dengan resiko yang paling jauh. memang
masih ada resikonya di 5.400 ISQ-nya ya. Tapi kan dari serial beberapa minggu ini kalau teman-teman juga ngelihat saya di channel-nya Astronachi maupun di sosial media yang lain saya melihat bahwa di level 6088 sampai 5980 itu merupakan daerah yang sudah seharusnya ISQ itu kembali naik dulu sampai 6.700. Oh oke gitu. Jadi masih ada ruang sekitar e 8 sampai 10% untuk recovery dulu. Dan ya itu memang terkait dengan juga Indonesia sudah mencoba comply dengan MSCI ya dengan free float-nya naik 15% terus
kemudian kepemilikan 1% itu menjadi wajib. [mendengus] Ya saya rasa ini harus diapresiasi juga sama MSI ya enggak bisa terus menekan begini kan kita juga enggak tahu sebenarnya tujuan utamanya apa. Apak ke politik ataukah mereka mau ambil barang yang lebih murah. Ini yang masih dipertanyakan sebenarnya. Oke. Tapi sebetulnya betul tadi ee upayanya harusnya MS sudah apresiasi ya orang regulator yang memang sudah dilakukan. Tapi kalau kita gali lebih dalam sih ee Pak Gema sebetulnya seberapa powerful sih MSI ini
untuk kemudian menentukan atau menjadi pertimbangan investor global sehingga ya sell off kemarin? Iya. Karena gini, ini pertanyaan bagus sekali karena kita harus lihat selama ini kan orang yang mampu beli dana besar itu selain dari local aset managemen kan juga dari hatet managemen dari luar negeri. Dari [mendengus] zaman pertama kali saya masuk di dunia institusi itu tahun 2010 waktu itu saya sebagai analis di salah satu sekuritas asing di Indonesia itu kita serve eh fund manager dari luar negeri ya. Mereka memang kalau beli,
oke saya mau taruh uang 300 miliar. Itu satu hatchge fund kecil itu baru yang kecil itu yang kecil aja 300 miliar. Yang gede itu bisa sampai 34 triliun sampai 10 triliun. Nah, jadi artinya peran daripada investor asing itu yang benar-benar swasta asing, bukan asing yang ada unsur politik. Ya, itu saja size-nya bisa sampai 1 2 triliun, paling kecilnya 200 300 miliar. Dan ikut sertanya mereka itu tentunya mendorong pasar saham kita itu untuk naik. Dan mereka-mereka ini adalah longterm holder. Long term itu bisa dikatakan 2
tahun, 3 tahun dan pada saat mereka nge-hold itu ya pada saat harganya naik nanti mereka take profit tapi mereka beli lagi di bawah sehingga market itu ketahan. Sehingga kalau misalnya para owner-owner itu pada keluar pun masih ada yang nampung. Heeh. He. Nah, Indonesia sekarang ketika total emiten sudah 950 lebih kan juga bobot daripada saham-saham konglomerasi itu kan cukup besar i kan. Nah, konglomerasinya sendiri mereka merasa bahwa wah ini banyak restriksi nih ini dan itu free float lah apa segala
macam sehingga membuat mereka tidak nyaman untuk bermain dan suatu ketika bisnisnya sendiri mungkin kehantem dengan ee ekonomi global. Akhirnya apa? Mereka sell off misalnya. Karena bagaimanapun IDX ini kan masih banyak saham-saham komoditi he atau metal mining yang berpengaruh kepada bobot ISG sehingga ketika tekanan eksternal dan internal problem ini datang bersamaan akhirnya orang sell off keluar. Nah, ketika asing itu check out jumlahnya yang tadi saya sebutkan tuh 2010 loh. Sekarang mungkin lebih gede
lagi kan. Plus saham-saham konglomerasi dihantam maka YG-nya langsung runtuh karena mereka juga tidak punya kekuatan untuk menahan gitu. Oke, ini akhirnya kenapa kemudian fenomenanya ya cukup apa ya terlihat begitu ya di pasar dari awal tahun bahkan sampai Mei kayaknya masih lumayan bolak-balik masih terus diuji nih benar karena kan dimulai dari konglomerasinya dihantem duluan kan mereka sell off kalau tahun kemarin kan semuanya kemarin bintang-bintang ya tahun makanya waktu Pak Purbaya bilang oh ya
akan ke 9000 gitu nah astronachi itu yang pertama kali di Indonesia saya berani ngeklaim pertama kenapa Apa? Karena memang pada saat mau ke 9.000, baru mau ke 9.000 saya sudah bilang targetnya 9150 lalu drop ke bawah bisa sampai 6.000. Itu footprint digitalnya ada di Desember 2025. Kok bisa sih, Pak? Udah dari 9900 ke 6.000 udah di you kenal saya sudah lama kan [tertawa] saya pakai financial astrology IL Future itu kegambar. Jadi ee forecast-nya tuh kegambar bahkan sebelum Pak Purbaya bilang ke 9.000 itu saya kasih 9150
sampai 92. Heh, benar-benar kena lalu turun itu Desember 2025 footprintnya ada. Nah, sekarang ini lucu banyak influencer. Wah, saya ucapkan yang pertama saya ketawa gitu. Kemarin waktu mau all time high semua euporia semua bilang akan naik tapi enggak ada yang bilang turun. Nah, ciri-cirinya dua. Selain saya menggunakan e model dari astrologi itu, saya melihat yang naik itu adalah saham konglo semua. Hm. Hm. Jadi IG itu didorong karena bobot saham Konglo ini besar berlomba-lomba tapi saham core market mover-nya itu enggak
jalan. Jadi begitu mereka kehantam kehantamlah juga kehantam semua. Jadi kenaikan ke 9.000 itu benar-benar dipush denganuporia dari statementnya Pak Purbaya pada saat itu semuanya akhirnya kena target 9.000-nya waktu itu kita sudah mulai check out dan itu Desember 2025 kontennya astronachi di YouTube ada. Saya sampaikan kepada members kita juga klien check out dulu karena satu dari sisi IO future astrologinya format statistiknya kita masukkan. Kedua, Saham Kong lo semua nih yang ng-drive market.
Hm. Oke oke oke. Menarik nih Pak Gema. Saya mau ngutip dikit ya. Tadi Pak Gema bilang ya banyak di luar sana sekarang kan yang berani speak up nih mungkin influencer ataupun mungkin menganggap sudah mengerti begitu ya. Tapi buat kita-kita yang mungkin masih cukup awam belum sepanjang pagem lah perjalanannya. Apa sih, Pak, yang bisa kita indik indikasinya atau indikatornya biar kita juga enggak terjebak tuh sama pernyataan-pernyataan yang mungkin menguntungkan buat mereka, kitanya lah yang kena.
Iya, ini menarik. Jadi, kita bicara dulu para influencer abal-abal yang menyampaikan terlalu yuporia dulu ya, bagaimana caranya. Satu, saya menggunakan konsepnya Warren Buffet. Ketika semua orang itu optimis, gila-gilaan that’s the time to check out. Sebaliknya, Astronaci punya tagline dari 2025 awalnya. Market merah ingat astronaci gitu. Karena setiap market lagi merah kabur semua nih orang-orang dan saya yang konsisten bertahan mau salah mau benar pokoknya harus ada gitu ya. Dan ketika orang pada fear Warren Buff
bilang itulah saatnya kita greit. sampai orang sudah muntah-muntah, udah waduh nangis-nangis itu kita harus beli. Itu yang pertama. Yang kedua, kalau orang bilang wah ini market akan tembus pada saat harga menjelang Rp9.000, semua orang bilang ini akan ke 10.000 akan naik. Terus perhatikan yang bikin naik market ini apa. Oke. Saham apa? Heeh. Nah, dulu di IDX Channel itu ada program namanya Mover and Shakers kan kalau saya masih ingat. Nah, itu kata-kata kuncinya bagus. Jadi, IDX Movers-nya itu siapa?
Harusnya yang ngendorong market benar-benar solid naiknya itu adalah saham-saham yang memiliki core bisnis bagus dan menjadi backbond utama. Bukan hanya segelintir saham gorengan yang berlomba-lomba naik ngangkat ISG. ISG bisa keangkat karena kebetulan dia kapitalisasinya gede misalnya ya. Tapi ini [berdehem] saham receh semua yang kebetulan dikuasai hanya satu atau dua atau tiga konglomerasi terus naik bersama-sama ini rapu. Oke. Nah, yang ketiga Anda juga bisa lihat target weekly weekly chart itu targetnya
resistance utama weekly jadi berapa dan ada divergence atau penurunan volume atau enggak? Kalau naik sih naik, tapi begitu volume atau momentumnya kelihatan dia declining momentum ketika harga naik itu siap-siap check out. Oke. Gitu. Ini berarti jadi kita-kita bisa pintar nih di tengah banyaknya arus informasi mungkin rekomendasi sana sini ya tiga panduan dari boleh kita jadi catatan lah ya. Iya itu secara general gitu. Yang paling penting kita lihatlah sektor apa yang ngedorong gitu. Dan yang kejadian paling
sulit itu memang tahun ini karena biasanya kalau market crash sekarang kan 35% nih turunnya COVID tuh 65%. average di Indonesia market crash mini mini crash itu 25 sampai 27% itu terjadi setiap 2 tahun.

Komentar