Pasar modal Indonesia kembali mendapat peringatan keras dari lembaga indeks dunia. Setelah MSI, kini Futsiasel juga siap mencoret sejumlah saham Indonesia dari indeks global. Apa dampaknya bagi investor? Tekanan terhadap pasar modal Indonesia kembali meningkat. Setelah sebelumnya Morgan Stanley Capital International atau MSI menghapus sejumlah saham Indonesia dari indeks globalnya, kini giliran Futsel mengambil langkah serupa. Lembaga indeks global asal Inggris itu bersiap mendepak saham-saham Indonesia
dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration dari indeks global pada evaluasi Juni 2026. Langkah ini diambil setelah Foodsi Rasel melakukan evaluasi terhadap kondisi pasar modal Indonesia sejak Februari 2026. FUTSI menilai kualitas likuiditas dan struktur kepemilikan saham emiten di Indonesia menjadi perhatian serius investor global. Senior market analis Mirai Aset Sekuritas Navan Aji Gusta menyebut langkah FUTSI Rasel menjadi sinyal penting bahwa pasar global kini tidak
hanya melihat besarnya kapitalisasi pasar. Investor dunia juga memperhatikan kualitas likuiditas saham dan seberapa besar saham benar-benar beredar di publik. Artinya, perusahaan dengan kapitalisasi besar belum tentu dianggap menarik jika sebagian besar sahamnya hanya dikuasai segelintir pihak. Kondisi seperti ini dinilai membuat perdagangan saham menjadi kurang likuid dan harga lebih mudah bergejolak bahkan berpotensi dimanipulasi. Karena itu, Foodsi Rasel dan MSI kini semakin ketat terhadap emiten dengan
free flow terendah. Navan mengatakan perusahaan terbuka atau emiten harus mulai fokus meningkatkan daya tarik investasi atau investability di mata investor global. Masuk ke indeks internasional kini tak cukup hanya mengandalkan ukuran perusahaan. Emiten juga harus menunjukkan transparansi kepemilikan dan perdagangan saham yang sehat. Investor institusi global disebut cenderung menghindari saham dengan free flow kecil karena dianggap lebih berisiko. Futsir Rasel bahkan menegaskan akan menghapus saham terdampak dengan harga
nol pada evaluasi Juni 2026 yang berlaku efektif mulai 22 Juni mendatang. Langkah itu dilakukan demi menjaga integritas indeks global mereka. FUTSI juga mengungkap kekhawatiran bahwa likuiditas saham-saham dengan peringatan high share holding concentration akan semakin menurun sehingga investor pasif kesulitan keluar dari pasar secara wajar. Tak hanya itu, Foodsi Rasel juga masih menunda penambahan emiten baru Indonesia maupun kenaikan bobot free flot hingga setidaknya September 2026. Sementara sebelumnya, MSI juga telah
menghapus enam saham Indonesia dari MSI Global Standard Indexis. Di antaranya saham Aman Mineral Internasional, Barito Renewables Energy, Candra Asri [musik] Pasifik hingga Sumber Alvaria Trijaya. Perubahan tersebut akan efektif mulai Juni 2026. Kini perhatian pasar tertuju pada langkah Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan dalam memperbaiki standar transparansi dan likuiditas pasar modal domestik agar tetap dipercaya investor global. Keputusan bisnis terbaik datang dari [musik] data bukan tebakan. Mudah
berlangganan bisnis insight dengan subscribe with Google. Download aplikasi kontan sekarang di App Store atau Play Store.

Komentar