Jadi pejabat di Indonesia itu sebenarnya pusing. Pusing mikirin kondisi politik dunia maupun kondisi rakyatnya di dalam negeri. Belum lagi urusan bisnis pribadi mereka yang harus tetap cuan. Apalagi nih cewek-caw para pejabat sekarang ini enggak sekedar bab politik semata loh, melainkan sudah merambat ke berbagai lini termasuk sepak bola. Kalian pasti sudah enggak asingkan dengan peran para pejabat negara di balik kepemilikan klub di Liga Indonesia. Trias politika dari mulai lembaga eksekutif, legislatif
hingga yudikatif semuanya terang-terangan terjun langsung mengelola klub sepak bola. Fenomena ini pun kemudian menimbulkan pertanyaan, dari mana para pejabat itu mendanai klubnya? Apakah klub-klub yang dinaungi para pejabat negara itu jadi makin sukses? Daripada penasaran dan hanya disimpan di kepala, silakan tonton video ini sampai akhir. Menarik melihat ada klub Liga 2 yang ternyata dibentuk oleh Kejaksaan Agung. Klub ini bernama Adiaksa FC. Awalnya sih sempat bingung kenapa ya Kejaksaan enggak fokus aja nangkepin para koruptor
alih-alih ngurusin bola. Namun bila ditelusuri, ada satu alasan kuat kenapa mereka akhirnya membentuk klub sepak bola. Apa itu? Ia sebagai wujud dukungan nyata terhadap instruksi presiden tentang percepatan pembangunan sepak bola nasional. Alasan yang mulia, bukan? Kalian juga harus ingat tim ini dibentuk bukan tim salabim langsung jago seperti tim siluman. Tim yang diinisiasi oleh Jaksa Agung ST Burhanudin itu awalnya bernama Adiaksa Farmel FC. Tim tersebut berdiri tahun 2020 dan didirikan oleh
Farmal Cahaya Mandiri, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri pengolahan air bersih. Namun pada 2022, Diaksa Farmel diambil alih secara penuh pengelolaannya oleh Kejaksaan Agung. Mereka lalu bertarung dulu habis-habisan dari Liga 3 hingga akhirnya berhasil promosi ke Liga 2 pada musim lalu. Nah, jelang berlaga di Liga 2 musim ini, Kejaksaan Agung resmi mengubah nama tim ini jadi Adiaksa Banten FC. Hal ini bertujuan untuk mengangkat nama daerah Banten sebagai homebase mereka. Lalu sumber dana tim ini dari mana? Dari uang
yang mereka pamerkan depan publik itu bukan? Kalian harus tahu bahwa klub ini dikelola lewat Persatuan Jaksa Indonesia atau Persa. Namun enggak hanya itu, keterlibatan sponsor besar seperti PT Pertamina juga jangan dilupakan. Kendati klub ini dikelola oleh para jaksa, namun dari segi operasionalnya mereka coba bangun layaknya klub profesional. Mereka punya manajemen sendiri yang dipimpin oleh Eko Setiawan sebagai Presiden klub. Menariknya, Eko ini adalah salah satu anggota Exco PSSI loh. Dengan dukungan
kuat dari kejaksaan ditambah operasional tim yang baik dari manajemen, wajar jika tim ini sehat dan makin kuat. Kalian lihat sendiri deh, tim ini dihuni oleh materi pemain yang berkualitas. Ada sosok senior seperti Hasim Kipu. Ada pula sayap serang seperti Miftahul Hamdi. Jangan lupakan juga kekuatan asing mereka seperti mantan Persip makan Konate hingga mantan PSM Adilson Silva. Materi pemain tersebut lalu diramu dengan pas oleh pelatih muda Ade Suhendra serta asistennya Aang Suparman. Bacanya Aang ya, bukan eng. Karena meski
rambutnya irit, dia tidak melawan negara api. Jadi kalian jangan kaget jika tim ini musim depan akan bersaing di Liga 1. Akan sangat menarik sih jika tim ini bertemu Bayangkara Presisi Lampung. Tajuknya jadi derby yudikatif seperti dulu PS TNI dengan Bayangkara FC atau juga saat mereka nanti bertemu dengan Dewa United. Tajuknya jadi beda lagi yakni Derby Banten. Berikutnya ada Garuda Yaksa FC. Pesaing Adiaksa FC promosi ke Liga 1 musim depan. Tim ini dimiliki langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Garuda
Yaksa awalnya berbentuk akademi yang diresmikan pada tahun 2023 ketika Prabowo masih jadi Menteri Pertahanan. Mirip seperti AdiSa, tim ini juga melewati proses yang panjang. Niatan awal Prabowo adalah membentuk Garuda Yaksa Football Academy hanya untuk mewujudkan mimpi para pesepak bola muda. Mantan Danjen Kopasus itu enggak main-main ngebangun akademi ini. Karena seluas 60 hektar di Bogor dan Bekasi, ia bangun khusus untuk fasilitas latihan tim ini. Tidak hanya soal pembangunan fasilitas mewah saja, Garuda Yaksa juga
lakukan kerja sama selama 10 tahun dengan salah satu akademi terbaik dunia, yakni Espire Academy yang berada di Qatar. Lalu, dari mana dana mereka? Sebagian besar biaya operasional tim ini berasal dari kantong Yayasan Keluarga Prabowo Subianto Joyo Hadi Kusumo. Namun setelah 2 tahun berdiri, Prabowo tidak hanya ingin Garuda Yaksa fokus pada sisi pengembangan akademis saja. Ia ingin Garuda Yaksa mengepakkan sayapnya sebagai klub profesional. Alhasil, tim ini lalu merger dengan PSKC Cimahi. Pada kongres PSSI 2025, namanya berubah
menjadi Garuda Yaksa FC dan resmi berkompetisi di Liga 2. Persiapan tim ini mengarungi musim di Liga 2 juga enggak main-main loh. Semua aspek diperhatikan termasuk memilih jajaran staf ke pelatihan. Kini bercokol nama pelatih ternama Widodo Cahyon Putro yang menggantikan posisi Hamid Mulono di tengah musim. Lalu juga ada mantan pemain Persip Eka Ramdani di pos asisten pelatih. Dari materi pemain tim ini memadukan para senior jebolan Liga 1 dengan para pemain muda. Dari yang senior sebut saja ada Andik Fermansyah
hingga Asep Berlian. Lalu yang muda ada Komang Triarta Wiguna maupun Taufik Hidayat. Dengan komposisi pelatih dan pemain hebat tersebut, tidak heran jika klub Pak Presiden ini berpeluang promosi ke Liga 1 musim depan. Jauh sebelum Presiden dan Kejaksaan punya klub bola, kepolisian sudah lebih dulu punya Bayangkara FC. Bahkan klub coklat ini pernah menjuarai Liga Indonesia pada tahun 2017. Artinya para polisi di Indonesia selain mengurus sawah serius juga mengurus klub bola. Namun di musim ini The Guardian coba
mengubah wajah mereka. Musim ini Bayangkara baru saja pindah home base ke Lampung. Itulah mengapa mereka berubah nama jadi bayangkara presisi Lampung. Alasannya sih untuk meningkatkan gairah sepak bola di Lampung yang sudah lama tak menghiasi kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Lalu siapa yang ngelola tim ini? Tim ini dikelola melalui sebuah lembaga bernama Corps lalu Lintas Polri yang jadi CEO juga Irjen Polus Suryo Nugroho selaku Kakorlantas Polri. Lalu dari mana sumber pendanaan mereka? Dari
duit. Awalnya tim ini banyak mengandalkan sokongan dana dari Koperasi Zebra Jaya, sebuah unit bisnis dari para pegawai dan ekspe pegawai Korlantas Polri. Tapi mereka bertahan bertransformasi menjadi tim profesional yang didukung banyak sponsor besar BNI contohnya. Itulah mengapa Bayangkara FC selalu stabil secara finansial walaupun mereka sempat terdegradasi pada 2024 lalu. Kalian juga bisa lihat dengan pendanaan kuat serta pengelolaan yang baik tersebut, tim ini selalu bisa mendatangkan pemain
berkualitas. Seperti halnya dulu mereka pernah mendaratkan Inter Milan Raja Naing Golan. Selain lembaga yudikatif, lembaga eksekutif macam kepala daerah juga ikut-ikutan ngurusin klub bola. Barito Putra adalah salah satu contohnya. Tim ini dimiliki oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Has Nuryadi Sulaiman yang juga harus kalian catat ternyata sejak menjadi DPR RI dari Golkar Hasluryadi ini sudah mengelola laskar Antasari. Tim ini sudah ibarat warisan turuntemurun. Sebab awalnya klub ini dikelola oleh Ayah Khas Nuryadi yang
merupakan pengusaha ternama Kalimantan, Haji Leman. Lalu dari mana pendanaan klub ini? dari APBD Kalimantan Selatan. Bukan dong, meski menjadi wakil gubernur, Hasnuryadi mengaku tidak pernah mendanai klub ini dari uang negara. Sebab tim ini sudah sejak lama ia kelola dengan sumber dana dari perusahaan keluarga KHN Grup. Ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, logistik, dan energi. Lewat Hasnur Grup, Laskar Rantasari hidup secara finansial dan manajemen mereka juga sangat baik. musim ini
contohnya meski bermain di Liga 2, mereka mengontrak pelatih dan pemain ternama. Pelatih yang membawa Persija juara Stefano Cugura berhasil mereka datangkan. Materi pemain mereka juga enggak kalah mentereng seperti halnya Fabio Beltrame, Gian Zola hingga Bayu Pradana. Sangat wajar jika mereka menargetkan untuk promosi ke Liga 1 musim depan. Berikutnya ada para pejabat legislatif DPR RI yang enggak hanya ngurusin anggaran tapi juga ngurusin bola. Di Semen Padang ada Andre Rosiade. Siapa sih yang enggak tahu orang yang mukanya
wara-wiri di TV ini? Iya, anggota DPR RI dari Gerindra ini seringkiali terlibat pada urusan internal tim Semen Padang. Bahkan lapangan tim lawan seperti Manahan aja pernah dikomentari. Ayah Azizah Salsa itu adalah dewan penasehat klub yang berperan untuk mengontrol langsung jalannya tim dan manajemen. Meski selalu turun gunung hingga penunjukan pelatih baru Yeyen Tumena dan Imran Nahumaruri. Tapi ternyata dari segi operasional tim ini ada manajemennya sendiri. Operasional laskaru sirah dijalankan oleh PT Kabau
Sirah Semen Padang yang jadi CEO Hermawan Ardianto. Sedangkan yang jadi komisaris utama adalah Ilham Aldelano Azre. Lalu dari mana sumber dana mereka selama ini? Selama ini Semen Padang bertumbuh pada sumber pendanaan dari perusahaan BUMN PT Semen Padang. Dana dari perusahaan semen tersebut dikelola oleh PTK Bau Sira Semen Padang untuk dialokasikan ke pembiayaan kontrak pemain, pelatih, staf hingga operasional tim. Musim ini Semen Padang masih struggle untuk bisa keluar dari zona degradasi. Peluang mereka untuk lolos
degradasi cukup kecil. Apalagi situasinya di Liga 2 sudah ada Garuda Yaksa FC yang sudah antri mau promosi. Apakah Andre Rosia de Legowo klubnya digeser klub milik Prabowo di Liga 1. Berikutnya ada klub Liga 2 Persiraja Banda Aceh. Laskar tanah Rencong ini juga sudah lama dikelola oleh anggota DPR RI dari PAN Nazaruddin Degam. Nazaruddin Degam selaku Presiden klub memegang peran sentral dalam pembiayaan klub lewat perusahaan yang ia dirikan bernama PT Persiraja Lantak Laju. Kendati begitu, jangan lupakan juga
peran besar sponsorship pada pendanaan mereka. Musim ini laskar rencong dapat suntikan dana melimpah sebesar Rp5 miliar dari bank syariah nasional. Sebelumnya bahkan Bank Aceh dan Bank Syariah Indonesia juga pernah memberikan suntikan dana bagi mereka. Nazaruddin Degam sebagai pemilik mempunyai misi yang jelas, yakni mengembalikan klub kebanggaan masyarakat Aceh ini ke kasta tertinggi. Sebab jika kita tengok laskar rencong ini terakhir kali bermain di Liga 1 itu musim 2021-2022. Namun musim ini peluang promosi mereka
ke Liga 1 tampaknya cukup berat. Di Liga 2 mereka berada di grup A bersama lawan kuat Adiaksa FC dan Garuda Yaksa FC. Klub yang ditangani oleh pelatih Kawakan Jaya Hartoro ini kerap susah bersaing dengan mereka. Mereka sempat merasa dirugikan dan melayangkan protes ketika bertemu Garuda Yaksa FC. Lalu bagaimana dengan Borneo FC? Klub ini dimiliki oleh Nabil Husein Said Amin yang merupakan anggota DPR RI dari Nasdem. Sumber dana dari tim ini berasal dari PT Nahusam Pratama Indonesia. Di perusahaan itu, Nabil Husein sendiri
yang jadi komisaris utama. Selain pendanaan dari perusahaan pribadi, Pesut Etam juga ditopang dana besar dari sponsor seperti Extra Jos, Ansaf Inti Resort, Borneo, Indobara, Pupuk Kaltim, serta Bank Kaltim. Itulah mengapa finansial Borneo selama ini stabil untuk terus bisa bersaing di papan atas Liga 1. Manajemen Borneo FC di bawah kepemimpinan Nabil Husein selalu fokus pada pengelolaan anggaran yang disiplin. Memastikan gaji pemain, pelatih, dan staf tidak pernah terlambat bahkan saat kompetisi terhenti karena COVID. Wajar
jika klub ini tergolong salah satu klub tersehat di Liga 1. Bahkan jika dilihat dari nilai skuad, Borneo termasuk salah satu yang cukup tinggi. Nilai pasar skuad mereka tercatat mencapai 79,69 miliar pada musim 2025-2026. Ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi klub luar Jawa juga enggak kalah. Secara prestasi, tim ini sempat dibawa Nabil Husein menjadi kampiun pada saat reguler series musim 2023-2024. Bahkan di musim ini mereka berhasil menjadi penantang gelar bagi Persip Bandung. Sebuah prestasi yang di luar
dugaan mengingat banyak pemain mereka yang di lego pada paruh musim. Selain anggota DPR RI, ada juga ketub umum partai politik dan menteri yang ngurusin klub bola Persis Solo. Contohnya, mayoritas saham klub ini dimiliki Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, Kaisang Pangarep dan Menteri Olahraga Erik Tohir. Kalian pasti sering lihat kan pria Solo itu di Stadion Manahan menyaksikan laskar sambernyowo. Meski dekat dengan pria Solo, anaknya dan Erik Tohir, Persisi Solo dibangun tidak secara instan. Kaisang sudah
membangun tim ini sejak 2021 dan itu ketika laskaryowo bermain di Liga 2. Kaisang membangun ini hingga meraih promosi pada 2021. Enggak mudah bagi adik wakil presiden ini membangun sebuah tim bola. Banyak sudah yang ia kerjakan bagi tim ini agar bisa stabil secara keuangan dan juga stabil bertahan di Liga 1. Contohnya di musim ini, Kaisang Turun gunung merapikan jajaran manajemen PT Persi Solo Saestu. Ini perusahaan yang selama ini mengelola finansial laskar sambernyowo. Atas alasan evaluasi dan
penyegaran, Adityo Rimbo ditunjuk sebagai komisaris yang baru dan Ginda Verah Triawan sebagai direktur yang baru. Tidak hanya soal manajemen, suami Erina Gudono itu juga sering terjun langsung memantau latihan persis yang dipimpin Milomir Seslija. Bahkan di paru kedua musim ini, Kaisang sudah mengucurkan dana besar untuk membenahi materi pemain agar Persis bisa bertahan di Liga 1. Sayangnya ketika Persis sedang gacor-gacornya menjauh dari zona degradasi, mereka diterpa isu tak sedap soal penunggakan biaya sewa Stadion
Manahan kepada Pemkot Solo. Menurut Ketua Komisi 2 DPRD Solo, Agung Harsakti Pancasila angkanya sekitar Rp2 miliar. Namun menurut direktur mereka yang baru, Ginda Verah Triawan, polemik tersebut bisa dikonsolidasikan untuk segera diselesaikan. Yeah.
Komentar
Owo dan owi