Kesehatan
Beranda / Kesehatan / Tidak Boleh Dianggap Remeh Tikus di Rumah! Perhatikan Ancaman Tidak Diketahui Selain Hantavirus

Tidak Boleh Dianggap Remeh Tikus di Rumah! Perhatikan Ancaman Tidak Diketahui Selain Hantavirus

Aku juga penasaran nih, Prof. Terkait dengan apa nih ee situasi di Indonesia. Kembali lagi deh tadi kan juga mungkin Prof sudah menjelaskan sedikit terkait dengan kelompok-kelompok yang mungkin Prof belum belum menjelaskan secara lebih detail gitu ya. Ini mah pasti ada urusannya mau jual vaksinnya sebagai mantan direktur WHO. Begitu. Mungkin Prof bisa memberikan statement apakah benar ini adalah agenda dari para produsen vaksin atau ya ini tuh ya memang naturally hadir aja penyakitnya di masyarakat begitu

ya. Sebelum lupa tadi karena ngomong ermecttin. Evermcttin itu adalah obat cacing. Iya betul. Pada waktu COVID mulai kita tidak punya obat. kita belum tahu kan karena belum tahu obatnya kemudian dicobalah beberapa obat termasuktin itu ya [berdehem] karena itulah ceritanya waktu itu dicoba. Nah, kenapa saya ngomong ini? Karena kemudian dilakukan penelitian. Jadi di dalam ilmu kedokteran ini ada yang namanya uji klinik. Oh iya betul. Fase 1, fase 2, fase 3, fase 4. Fase 1 dan fase du utamanya untuk mengetahui

aman apa tidak aman obat ini. Katakanlah si Evermct ini mungkin aman karena dia tok sudah terpakai buat obat cacing. Jadi buat manusia aman. Betul. Kemudian masuklah [mendengus] fase dan fase fase ini dia dibandingkan. Jadi ada sekelompok orang dikasih obat ini, sekelompok orangnya tidak dikasih obat itu. I kemudian dilihat angka kesembuhannya. Kalau ini ada perbedaan yang sangat bermakna antara yang sembuh dengan obat ini dengan obat dengan yang tanpa obat itu baru kita kita bilang obat ini ee ee bermanfaat.

Iya. Nah, kenapa harus saya bilang sangat bermanfaat? Karena bukan tidak mungkin orang ini juga sembuh gara-gara daya tahan tubuhnya. Ya. Jadi, jadi jangan dipikir obat itu satu-satunya yang menyembuh kan belum tentu. Jadi, harus ada perbedaan yang bermakna antara obat satu dengan obat lainnya baru kita bisa nyatakan oh obat ini bermanfaat. Nah, bahkan kalau penelitian itu dilakukan di satu rumah sakit di salah satu negara ya mungkin bermanfaat di situ. Belum. Jadi kalau bisa dilakukan multicenter

multenter multiry barulah sampai pada kesimpulan oh memang obat ini bermanfaat begitu. Nah, belakangan dicoba juga. Saya ingat waktu COVID dan ternyata hasilnya tidak berbeda bermakna antara ini dan ini. Karena itu tentu bukan bukan bukan pengobatan yang tepat buat COVID. Dan saya juga walaupun saya belum pernah baca penelitiannya untuk yang hantal tapi hampir pasti tidak akan ada perbedaan bermakna karena itu memang obatnya belum ada untuk hanta. Karena kalau sudah ada akan dideclare inilah obatnya gitu ya. Jadi, jadi itu, itu.

Seandainya Ri Kelaparan, Presiden Indonesia Prabowo: Saya Tanggung Jawab!

Nah, sebenarnya uji klinik ini juga merupakan salah satu cara untuk menjawab yang tadi pendapat salah begini begitu ya. Ee misalnya vaksin, ada perbandingan antara kelompok orang yang divaksin dan kelompok orang yang tidak divaksin. Berapa yang terlindungi oleh vaksin ini? Berapa yang tidak? Untuk semua vaksin yang ada selalu dikeluarkan data sudah sekian puluh ribu atau sekian juta penyakit atau kematian yang bisa dicegah karena vaksin ini diberikan. Jadi, dia jelas punya manfaat. Kalau mau pakai yang lebih

ekstrem lagi, ada penyakit yang hilang cacar misalnya gara-gara vaksinasi diberikan pada dunia pada waktu itu. Ya. Sekarang kita sedang menunggu polio. Polio itu juga juga bisa dicegah dengan vaksinasi. Ada vaksinasi polionya. Ee dan sekarang saya kira tinggal selalu disebut-sebut dua tiga negara yang ada polio. Kalau dua tiga negara itu selesai maka dunia akan bebas biasanya. Oh. Oh, ya. Jadi karena ngomong eliminasi ada dua pengertian di sini ya. Ya. Oke. [tertawa] Apa tuh? Karena kalau bebas total tuh enggak ada

masak sama sekali. Itu namanya eradikasi sebenarnya. Eradikasi. I kalau eliminasi jumlah kasusnya sedikit sesuai dengan kriteria tertentu. Itu namanya eliminasi. Jadi kalau diharapkan kalau kayak kayak cacar itu dia sudah eradikasi sudah dunia sudah tidak ada kasus cacar tidak ada satu satu cacar pun. Cuman kalau memang si [mendengus] virus Tar sekarang masih disimpan di beberapa laboratorium di di Amerika, di Rusia itu lain lagi ceritanya. Nah, he tapi itu terjadi karena vaksin. Berhasil karena vaksin. Sementara si polio ini

juga sedang berproses. Nah, sebenarnya COVID juga punya peran besar vaksin untuk menurunkan penyakit itu gitu ya. Nah, cuma memang kan vaksin COVID itu ee waktu itu efektivitasnya tidak terlalu tinggi karena pada waktu kita sedang COVID. By the way, kenapa namanya COVID-19? Ee COVID-nya kan tadi itu corona viralis 2019 31 Desember 2019 dilaporkan 31 Desember. Jadi kalau dilaporkannya telat sehari namanya COVID ya. [tertawa] Jadi kan tadi kita sudah ngomong soal hantal virus ada namanya this outbreak news. I

dis this outbreak newis outbreak news-nya yang kemudian jadi COVID itu 31 Desember keluarin 2019. Kalau telat sehari aja itu 20 namanya COVID20 [tertawa] ya. Si Covid itu kan katakanlah 2019 itu dilaporkan ee vaksin pertamanya ketemunya Desember bukan ketemu vaksin pertama disuntikkan pada orang Desember 2020 jadi 1 tahun jaraknya dan itu pendek sekali karena vaksin lain I betul panjang. bisa puluhan tahun, ratusan tahun karena itu efektivitasnya tidak terlalu tinggi. Tapi kenapa diberikan? Karena pandikan

Menteri Kesehatan Spanyol Pemindahan Pasien Hantavirus dari Kapal Pesiar MY Hondius

pada Oke. Oke. Oke. Jadi sebenarnya kalau ini berarti kalau bisa disimpulkan apakah ini agenda setting para elite elite global untuk menjual? Sepertinya enggak ya. Begitu ya, Prof ya. Nah, kalau kita ngomongin vaksin lagi nih ya, Prof ya. Kan ee beberapa informasi juga ternyata vaksin lagi dibikin di Korea Selatan. Katanya sih karena berhubung itu ee asal bukan asal pertama kalinya ditemukan. That’s why Korea Selatan lah yang mengembangkan. Apakah itu benar, Prof. Seperti itu pernyataannya ya bahwa bahwa Korea

mengembangkan itu benar. Tapi kalau sekarang kan berbagai pihak bisa saja mengembangkan. Saya tidak tahu e mana saja yang mengembangkan, tapi ee ee vaksin itu dikembangkan oleh berbagai berbagai industri begitu ya. Industri. Nah, ngomongin itu sebenarnya saya kan mengusulkan ke Anda bicara pandemi dari tadi. Anda enggak mau bicara, saya terusin aja gitu ya. [tertawa] Nah, bicara soal kemungkinan pandemi yang akan datang sebelum kita masuk ke sana kan ada beberapa penyakit yang mungkin jadi trigger pandemi mungkin. Nah, untuk

itu vaksinnya disiapin dari sekarang termasuk si Hanta ini juga. Ah. Kenapa? Karena pengalaman yang tadi COVID yang cuman setahun itu ternyata kita tidak mendapatkan hasil yang efektivnya besar colongan waktu. Iya. Oke. Oke. Oh, baiklah kalau gitu kita ngomongin pandemi ya. Karena benar juga, Prof. karena beberapa orang juga nganggapnya ah udahlah ini jualan, ini pasti nanti lockdown lagi. Apakah memang posibel gitu si Havs ini untuk menjadi pandemi? Walaupun WHO eh Dr. Teders juga menyatakan sangat kecil kemungkinan

walaupun mungkin kasusnya bertambah tapi tidak menjadikan ini sebagai pandemi. Nah, kalau dari Prof. Chander sendiri. Apakah benar nih si Hanta virus ini akan menjadi pandemi berikutnya? Jadi yang pertama si Hanta ini kalau si WHO bilangnya risiko pada orang di kapal itu i memang moderate. Iya betul ya. Tapi risiko pada general population is low. Oke. Jadi ini risiko bukan ini bukan soal pandemi nih soal kemungkinan ketularan ya. Pada orang yang di kapal itu memang resiko. Tapi buat yang general

population itu low itu satu. Heeh. Dan yang kemudian pandemi itu kan terjadi karena ada penularan yang sangat mudah begitu. Iya. Dari dari orang ke orang utamanya dari orang ke orang walaupun pertama ee mungkin pertama tahunnya lewat binatang tapi belakangan dari orang ke orang dan itu tidak terjadi pada pada si hantta. seperti Anda tadi bilang ini harus ee kontak erat lama baru terjadi penularan dengan orang dan ee walaupun kita tidak ingat persis apa yang terjadi pada waktu Covid-19, tapi kan kita lihat ini dari dari dua kasus

Ramai! Pongrekun Bilang Di Balik Nama Hantavirus Adanya Arti Tersebut Tersembunyi

yang meninggal begitu hebohnya dunia mencoba me mengkonnya begitu sehingga kemungkinan penularan lebih lanjut memang kelihatannya jadi kecil sekali penular ee penyakit yang akan ada pada 143 orang itu kalau karena masa inkubasinya panjang bukan tidak mungkin dari waktu ke waktu mereka muncul tapi kalau dia sudah muncul orangnya kemudian diisolasi di karantina dan segala macam sehingga kemungkinan penularan kelihatannya kecil sekali artinya to make the long story shot kalau yang hanta ini kemungkinan pandemi sih

nampaknya tidak hanya saja nah ini yang saya mau masuk hanya sa saya mau masuk yang tidak terlalu banyak orang ee setuju adalah kita sudah menghadapi ee ee kenyataan pahit pandemi Covid-19 i mau tidak mau kita mesti mengakui bahwa pandemi yang akan datang itu akan ada. Oke ya. Jadi kalau mau pakai bahasa Inggris apa? It is not if but when ya hanya kita kita jadi hampir kita tahu bahwa pandemi yang akan datang tuh akan ada kita tidak tahu dua hal. Kita tidak tahu kapan itu terjadi. Artinya bisa 5

tahun lagi, bisa 500 tahun lagi di mana kita semua sudah enggak ada begitu. Dan kita memang belum tahu penyakitnya apa yang menjadi trigger pandemi. Oke gitu. Nah, jadi karena kita punya pengalaman tragis pada waktu COVID, karena orang tahu pandemi akan datang, he dan kita tidak tahu dua ini, makanya orang mulai sekarang bersiap menghadapi kemungkinan itu, gitu ya. Oke. Oke. Nah, kalau yang kapan agak sulit barangkali kita perkirakan, tapi yang apa saja ini akhirnya dibuat list apa saja apa tuh

ya dibocorkan. Iya, mungkin Prof bisa Corona yang paling yang paling banyak ya. Oke. Influenza kemungkinan lainnya dan penyakit-penyakit zoonosis. yang menular melalui berbagai jenis binatang. Dan ada satu lagi yang namanya disis X. Pada waktu kita sekolah SMP, SMA begitu kalau sesuatu yang kita kita ketahui kan namanya X. Iya. Kita belum tahu ini X. Nah, ini juga begitu. Jadi diisnya kita belum tahu namanya. Nah, daftar itu dengan daftar itu kemudian dipelajarilah mana yang paling mungkin dan kemudian dicari kemungkinan

vaksinnya, dicari kemungkinan obatnya supaya kalau nanti salah satu di antara itu ada sudah ready dunia. Kita sudah relatif ready. Relatif ready. Nah, dan itu soal dari kacamata ilmunya, dari kacamata uangnya waktu pandemi Covid kan juga uang enggak ada segala macamnya. Jadi sekarang dunia sudah bikin yang namanya pandemic fund. Ah, ya. Jadi ada fun yang akan tersedia buat sebenarnya buat buat dari mulai persiapan begitu. Itu yang kedua. Yang ketiga juga aturan internasionalnya. Aturan internasionalnya yang ada adalah

kita punya yang namanya International Health Regulation, IR ya, IHR. He itu dibuat tahun 2005 dan mulai berlaku tahun 2007. Aturan itu cukup cukup ketat. Tapi ternyata dengan aturan itu pandemi Covid terjadi dengan dengan sekian juta orang meninggal. Oke. Karena itu IHR ini kemudian diamandemen. Oh. Dan itu baru baru selesai 2 tahun lalu 2014 ee IHR amandemen pada waktu kebetulan saya terlibat dalam beberapa kali pertemuan itu di WHO pada waktu membuat mengamandemen IHR itu orang terpikir nih amandemen IHR tidak

terlalu kuat. akhirnya selain IH amen dibuat satu lagi yang namanya pandemic agreement bukan agree agree bagaimana menangani pandemik. Jadi sekarang kita punya dua tools internasional. Yang satu namanya IHR amandem, yang satu namanya pandemic. Eh ada yang bilang pandemic agreement, ada yang bilang namanya pandemic accord. Pokoknya aturan tentang pandemik. Walaupun yang aturan yang kedua ini masih ada aneksnya yang belum sepenuhnya disetujui. Jadi itu upaya untuk ee mempersiapkan diri. Walaupun kalau cerita tadi orang yang

tidak setuju bilang lagi, “Oh, ini dibikin-bikinnya.” Padahal maksudnya tidak maksudnya untuk ee mempersiapkan diri ee lebih baik. I. Nah, itu soal yang yang yang pandemi yang itu ada satu yang saya mau tapi lupa Anda nanya sambil saya mikir. [tertawa] Sejujurnya sudah diberikan tanda. Oh, gitu. Tapi mungkin sebelum kita mengakhiri begitu, Prof. By the way, thank you so much sudah datang. Tapi mungkin ini sebagai closing statement kepada pendengar maupun juga penonton gitu. Apa sih upaya yang mungkin bisa kita lakukan

gitu? Sekali lagi, Prof. bisa menjelaskan supaya si Hanta ini tidak hadir di lingkungan kita terkecil yaitu di rumah ya supaya ya biar kita tetap sehat dan si Hanta ini tidak menjadi sesuatu yang dikhawatirkan berlebih gitu. Apakah memang memasang sarang tikus aja sudah cukup atau mungkin ada hal-hal lain yang harus dilakukan sesederhana mungkin menjaga kebersihan dan segala macam. Mungkin Prof bisa memberikan ya. Saya mau ngomong tiga hal. Nomor satu tentu saja kita harus jaga kebersihan di rumah. Heeh.

Kalau kalau kebersihannya terjaga dengan baik enggak akan ada tikus berkelaran di dalam [tertawa] kamar sederhana aja ya. Jadi mau pakai sarang tikus kayak mau pakai menutup celah tergantung tapi kita jaga kebersihan dalam rumah karena kebersihan itu ya kalau karena Anda tadi ngomong ee insyaallah jadi kebersihan itu kan sebagai iman gitu. Artinya kebersihan dalam rumah itu ada. Jadi kalau kalau perlu celah silakan tutup segala macam itu silakan itu. Nah tapi untuk pemerintah saya mengusulkan tiga

hal. Oke. Nomor satu surveilance yang tadi sudah kita bicarakan itu terus di dijaga, ditingkatkan gitu. Yang kedua ini ada pendekatan yang namanya pendekatan one health. Jadi kalau orang e kesehatan tuh tidak bisa hanya kesehatan manusia saja. Harus ada kesehatan hewan, ada kesehatan lingkungan. Jadi berjalan bersama-sama kesehatan manusia, kesehatan hewan, kesehatan lingkungan. Itu yang kedua. untuk untuk pemerintah yang ketiga karena saya bilang saya sedang acara di universitas tadi tadi acaranya dengan ee

apa Kementerian Pendidikan Tinggi dan Risetch. Jadi saya sangat menganjurkan agar perguruan tinggi ini diberi apa insentif gitu dukungan agar keluar riset-riset antara lain tentang penyakit hanta ini. Wah itu kita aminkan banget karena bagian yang itu. Iya itu poin kedua. Poin ketiga tentu saja sedikit banyak berhubungan dengan poin-poin pertama. Mari tentu saja kita tidak ingin ada penyakit apapun juga. Tapi harus saya sampaikan bahwa menjaga hidup sehat tetap sehat itu sama pentingnya daripada orang sudah sakit

menjadi sehat. Jadi marilah kita manfaatkan ini dan menjaga sehat tetap sehat. Dan waktu saya di Kemenkes saya menggunakan istilah cerdik itu sekarang ya. itu iya waktu saya waktu saya bukan saya buat tapi waktu waktu saya jadi cek kesehatan secara berkala enyahkan asap rokok dan polisi udara rajin olahraga dan aktivitas fisik diet yang bergizi dan seimbang istirahat yang cukup dan kelola stres. Wah luar biasa. Jadi kebiasaan-kebiasaan yang mungkin sudah dibangun dari pandemi Covid dulu dikembalikan lagi karena ya

ternyata itu bermanfaat ya. That’s why salah satu ee kalau saya ngomongin sedikit aja ternyata eh virus influenza Yamagata juga hilang gara-gara pandemi Covid karena kita hidup sehat, Guys. Ketika kita hidup sehat ternyata si virus-virus bisa tersingkir. Tersingkir. Mungkin dia tidak bisa hidup di tubuh kita karena e virus hanya bisa tubuh eh bisa hanya bisa hidup di tubuh manusia. Betul, Prof. Binatang bisa. Iya, [tertawa] bisa binatang juga. Binatang juga. Pokoknya dia harus ada inangnya. Tapi kalau inangnya bersih,

insyaallah kita bisa bebas dari segala macam penyakit. Amin. Oke, terima kasih banyak Prof. Candra sudah hadir di Holl Doc. Semoga enggak bosan-bosan hadir ke sini dan kalau diundang lagi mau hadir karena kita tapi kalau undang lagi tolong saya dikasih minuman jangan putih doang. [tertawa] Baik, siap pokoknya dinot. Terima kasih banyak untuk para pendengar Trijaya maupun juga penonton setia atau sobat INWS di mana pun Anda berada. Kita bertemu di kesempatan berikutnya. Selalu pantau kesehatan dan jaga kesehatan

terus. Terima kasih banyak, Prof. Dah [tertawa] terima kasih.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *