Kalah jadi cacing, menang jadi naga. Begitulah [musik] sepenggal cerita yang tersisa dari Segiri. Di bawah langit Senja Samarinda, Persija telah berubah jadi cacing di hadapan Maung Bandung. Pupu sudah harapan macan Kemayoran bermimpi jadi juara. Kini harapan perlawanan tinggal tersisa di pundak Borneo FC. Pesut Etan terus menggila dengan menempel ketat poin Pangeran Biru. Aksi comeback luar biasa yang terjadi di Bali membuktikan kematangan mental mereka. Siapa yang menyangka tim dari luar Jawa ini bisa bersaing dengan
Persip untuk jadi juara? Tim yang sudah jatuh bangun melewati rintangan yang amat terjal dari awal musim. Dari mulai keraguan hingga upaya penggembosan sempat dialami mereka. Di video ini kalian enggak hanya akan mengetahui kenapa Borneo bisa bersaing [musik] jadi juara, tapi juga kecerdasan mereka membangun tim ini dengan finansial [musik] terbatas. [musik] Musim ini adalah lembaran baru bagi Borneo FC. Mereka merombak sebagian besar pemain sekaligus staf ke pelatihan. dari mulai mendepak pelatih
Peter Huistra hingga pemain asing seperti Berguinho yang kini berada di Persip. Perubahan ini terjadi bukan tanpa alasan. Pemilik Nabil Husein dan Chief Operating Officer Ponario Astaman ingin adanya penyegaran di tim ini. Tidak muluk-muluk menargetkan untuk jadi juara. Mereka hanya ingin membangun tim dengan sebuah sistem dan perekrutan yang terarah sesuai kapasitas finansial mereka. Manajemen Pesut Etam tidak asal dalam melakukan perombakan. Mempertahankan beberapa pemain hebat di tiap posisi jadi hal krusial seperti
kiper Nadeo Argawinata, bekistope Duar Rugira, gelandang Kai Hirose hingga Mariano Peralta. Mereka ini ibarat tiang penyangga untuk membantu wajah baru dalam beradaptasi. Sebab sebagian besar pemain baru yang didatangkan belum pernah merasakan atmosfer sepak bola tanah air. Wajah baru Borneo musim ini dibangun tidak berdasar kemewahan, tapi efektivitas. Mereka bukan seperti Persip, Dewa United, Malut United, atau Persija yang sudah gila-gilaan belanja pemain bintang mahal. Pesutetam justru memilih tanpa gembar-gembor kemewahan
saat mendatangkan pemain. Tapi lihatlah, justru wajah baru Borneo yang sederhana ini tampil di luar dugaan sejak awal musim. Salah satu aktor di balik keberhasilan ini adalah pelatih baru mereka, Fabio Leevundes. Di sini peran kecakapan manajemen Borneo. Mereka tidak asal comat pelatih, tapi melihat TRK rekord. Profil pelatih asal Brazil ini enggak sembarangan. Mentalnya sudah terasah sejak menjadi pelatih fisik di John Book, Hyundai [musik] hingga asisten pelatih di Botavogo. Lefundes memang bukan pelatih dengan nama besar,
tapi dia adalah sosok yang dibutuhkan tim ini. Strategi dan karakter bermainnya yang cepat, fisikal, agresif, dan menyerang dianggap cocok dengan materi yang dimiliki Borneo. Leevundes membangun tim ini tidak seorang diri. Ia menunjuk staf pembantu berkualitas di pos-pos krusial. seperti pelatih khusus kiper Jao Gabriel hingga video analis Vinicius Argirita yang sama-sama dari negeri Samba. Mereka menyulap Borneo menjadi tim yang tidak hanya produktif tapi juga kuat secara fisik dan pandai dalam fase transisi. Fleksibilitas lini
serang adalah salah satu strategi luar biasa yang diterapkan Borneo musim ini. Duo kreator mereka Juan Villa dan Mariano Peralta diberi banyak ruang kebebasan untuk berkreasi. Keduanya ibarat monster yang bisa mengancam pertahanan lawan dari berbagai sisi. Mariano Peralta terbukti lebih subur dengan strategi ini. Lihat golnya musim ini dua kali lipat lebih banyak dari musim lalu. Menariknya, Fabio Leevundes membangun tim ini bukan hanya bermodal kekuatan pemain asing, melainkan juga kekuatan pemain muda lokal. Ia cerdik
memanfaatkan kapasitas pemain lokal yang berkualitas. Siapa yang menyangka pemain muda seperti Rivaldo Pakpahan, Komang Teguh hingga Enzi Buffon disulap jadi kerangka utama tim ini? Tangan dingin Le Undes boleh jadi salah satu faktor keberhasilan Borneo musim ini. Tapi di luar itu jangan juga dilupakan peran tim ini dalam strategi kebijakan transfer. Inilah yang selama ini jadi rahasia dapur manajemen Pesut ETAP. Mereka selalu dipuji banyak orang tentang kesuksesannya merekrut talenta asing berkualitas. Dalam sebuah acara podcast
Sport 77, pemilik Borneo Nabil Husein secara blak-blakan membuka rahasia tersebut. Ternyata Borneo musim ini menggunakan bantuan dua aplikasi untuk beroperasi di bursa transfer. Dua software canggih itu berasal dari Rusia. Meski tak spesifik [musik] disebutkan namanya, tapi yang jelas aplikasi itu berbayar. Borneo kabarnya bahkan mengeluarkan puluhan juta tiap tahun untuk itu. Dari software itu, Borneo bisa melihat detail semua data pemain-pemain asing di seluruh dunia. Mulai dari blunder, skill, hingga
potensi riwayat cederanya semua lengkap. Tidak hanya itu, dari segi standar harga proyeksi nilai jualnya juga ada. Jadi dengan aplikasi itu Borneo tidak mudah ditipu oleh permainan agen dalam merekrut pemain. Pemain yang mereka datangkan musim ini cenderung enggak dikenal. Wan Villa dan Jofinicius didatangkan dari Liga Bahrain. Caksambu dan Douglas Coutinho dari liga Brazil. Lalu Marcos Astina dari liga Argentina. Mereka bahkan belum pernah mencicipi atmosfer sepak bola Indonesia. Tapi dengan aplikasi canggih dari Rusia
tersebut, manajemen Borneo percaya ada prospek cerah dari mereka. Kolaborasi antara sentuhan Lefundes dengan strategi perekrutan yang canggih inilah yang membuat performa Pesut Etam jadi makin tak terbendung. Dan celakanya di momen inilah keperkasaan Borneo justru mulai diuji. Ibarat skenario film atau permainan politik, upaya penggembosan tiba-tiba menimpa mereka. Para rival yang tak ingin melihat Borneo hebat mulai berupaya menggerogoti kekuatan mereka seperti apa yang kita lihat di paruh musim kedua. Bayangkan satu demi
satu pemain andalan Borneo Hengkang dari Segiri dari mulai keran gol Joinicius yang pergi ke Arema. Bekap Fajar Faturahman yang ke Persija hingga bek tengah Maikon ke Semen Padang. Bahkan Mariano Peralta diganggu dengan isu transfer ke Persip. Apa boleh buat separuh kekuatan hilang di saat mereka sedang tampil merona? Manajemen Pesut Etam benar-benar dibuat pusing memikirkan penggantinya. Di sisi lain, kondisi finansial Borneo juga terbatas. Mereka bukan Persip atau Persija [musik] yang bisa seenak jidat pamer transfer
mahal di paruh kedua. Tapi perombakan di paruh kedua musim ini juga mesti dilakukan. Menggunakan aplikasi yang dibayar puluhan juta itu, Pesut Etam tak gegabah dan mencari pemain lebih selektif. Berkolaborasi dengan tim ke pelatihan plus aplikasi tersebut, sejumlah pemain pun didatangkan. [musik] Menariknya, sebagian besar dari mereka bukan nama terkenal macam Kayu Nunes yang direkrut dari Liga Bahrain, Coldo Obiet dari Liga India hingga Muhammed Anes dari Liga Lebanon. Karena tak punya nama, pemain-pemain tadi diragukan.
Kendati begitu penampilan rekrutan Borneo justru sebaliknya. Contoh Caldo Obita, striker asal negeri Matador ini sudah bisa mencetak 7uh gol dan 4 as laga. Di sini kita bisa melihat meski adanya upaya penggembosan, Borneo tetap berdiri tegak. Dengan kecerdasan yang dimiliki, mereka tidak mudah goyah meski dikoyak dengan berbagai cara. Penggembosan ini bukan jadi kiamat bagi mereka, tapi justru jadi titik balik perlawanan Pesut Etam. Borneo sekarang adalah satu-satunya pesaing kuat Maung Bandung dalam perebutan gelar juara. Dua
laga tersisa jadi penentuan. Di sinilah mental mereka akan diuji. Perjalanan jatuh bangun Borneo dengan segala rintangan dan keterbatasan akan ditentukan di laga melawan Persijab dan Malut United. [musik] Sapu bersih laga adalah harga mati jika mereka ingin merebut mahkota. Di sisi lain, Borneo juga berharap Persip tergelincir di salah satu dari dua laga sisa. Entah melawan PSM Makassar atau Persijap Jepara. Namun sepertinya mengharapkan Persip tergelincir [musik] juga sama sulitnya. Pada akhirnya Borneo
mesti menerima takdir. Sekalipun tak juara nantinya perlawanan ini layak diapresiasi. Ya, perjuangan keras mereka seharusnya sudah membuat bangga para pusamania di seluruh tanah air. Mereka bukan cacing seperti Persija. Mereka [mendengus] juga tidak mau dianggap sebagai naga. Dengan segala keterbatasan, Borneo berupaya melawan kemewahan Pangeran Biru hingga akhir. Iya, ini adalah cerita soal keberanian sang kesatria. Cerita sebuah klub dari Kalimantan berani tampil menantang kutukan untuk bisa menjadi juara liga.
Yeah.
Komentar