Ada masanya ketika Juventus menjadi seperti bos besar di Serie A yang kalau datang ke pesta tim lain cuma kebagian remah-remahnya saja. 9 musim beruntun dari 2012 sampai 2020 Juventus telah menjadi penguasa absolut. Kasta tertinggi Italia itu seperti kompetisi yang sudah dikunci sebelum mulai. Namun anehnya setelah dominasi tersebut Juventus justru hilang arah. Tak cuma gagal sekali melainkan sampai enam musim berturut-turut. Yang menggelitik ini bukan fenomena normal. Lihat Bayern Munchen, dominasi mereka cuma retak
sekali. PSG paling banter cuma dua kali terpeleset. Tapi Juventus seolah lupa caranya Scudeto. Dari raksasa yang ditakuti, Juventus berubah menjadi tim yang tiap musim bikin fansnya frustasi. Sebenarnya apa yang salah? Apakah ini sebatas fase yang mau tak mau wajib dilalui Juventus atau yang mungkin lebih parah? Ini adalah pertanda bahwa fondasi Juventus memang sudah rapuh sejak lama. Cerita akan kita mulai dari Juventus mendominasi Seri Y selama 9 musim beruntun. Sekali lagi 9 musim beruntun. Kapan itu terjadi? Tepatnya pada musim
2011-2012 hingga 2019-2020. Ini adalah dominasi terlama di Serie A. Sepanjang sejarah terhitung sejak 1930 ketika kompetisi ini baru dinamai Serie A, tidak pernah ada klub yang menjuarai selama 9 musim berturut-turut. Gendati demikian, embrio dominasi Juventus sudah lahir sejak saat itu. Memang betul bukan La Vecia tidak juara di edisi pertama, melainkan Ambrusana Inter yang kelak saat tren kicau mania merebak. Kita menyebutnya sebagai internasional Milano alias Inter Milan. Tapi di musim kedua
persisnya pada 19331, Juventus menggondol gelar tersebut. Raihan gelar di musim itu tak disangka menandai dimulainya dominasi Juventus. Iya, setelah juara musim tersebut, Juventus kembali menyabet gelar di empat musim berikutnya. Jadi total Juventus mendominasi selama 5 musim dari 19301 hingga 193435. Setelah tahun 1935, tim-tim Italia mulai bermekaran, namun tidak ada yang berhasil mendominasi selama Juventus. Rekor dominasi panjang itu bertahan hingga 77 tahun. Dan uniknya yang memecahkan rekor tersebut tiada lain
adalah Juventus itu sendiri yang dimulai musim 201112 tepatnya saat tim ini dibesut Antonio Conte. Luigi Delner pelatih sebelum Konte membesuh Juve selama musim 2010-11. Namun Juventus mengalami kehinaan yang begitu menyakitkan karena cuma finish di posisi ketujuh. Karena hanya finish di posisi ketujuh, tiket bermain di kompetisi Eropa baik di Liga Champions maupun Liga Eropa raib, Luigi Delneri. Lalu diperhentikan. Juspe Morato yang saat itu menjabat direktur olahraga menunjuk Konte sebagai suksesor. Pengalaman
sebagai mantan gelandang yang dicintai penggemar meyakinkan Marota bahwa Konte sosok yang tepat menangani Juventus. Sebelum Keturin, pria yang saat itu berusia 42 tahun membawa Siena promosi ke Serie A. Konte peletak fondasi dari dominasi Juventus. Ia mengembalikan mentalitas dan kedisiplinan taktik yang selama ini redup. 10 bulan pertamanya, Konte sudah menciptakan tonggak sejarah seperti kemenangan 5-0 atas sang rival Fiorentina. Tak sampai di sana, Konte juga menyamai Fabio Capelo dengan membawa Juve tak terkalahkan dalam 28
pertandingan. Konte merevolusi taktik Juventus. Ia merancang sistem yang berbasis formasi 352 yang fleksibel untuk memaksimalkan skuadnya. Juve sudah punya Leonardo Bonucci dan Giorgio Cielini sebagai penopang sistem tiga bek di belakang. Nah, pada Januari 2011, Konte menambahkan satu orang lagi, yakni Andrea Barzagli. Terbentuklah trio lini belakang yang kita kenal trio BBC yang terdiri dari Bonucci, Barzagli dan Cielini. Ketiganya membangun unit pertahanan kokoh dalam skema tiga bek. Trio ini secara sistem membantu
gelandang macam Arturo Vidal, Andrea Pirlo, dan Claudio Marcisio untuk mengorkestrasi permainan. Hasilnya melebihi apa yang diperkirakan. Juventus dibawanya Skudeto di akhir musim 2011-12. Tak hanya Skudeto biasa, Konte menyamai rekor Fabio Capelo yang pernah mengantarkan AC Milan meraih Scudeto pada musim 19919 tanpa tersentuh satuun kekalahan. Usai juara dengan status unbeaten, Konte kembali membawa Juventus meraih dua gelar Scudeto lagi secara beruntun dalam dua musim berikutnya. Jadi Konte mengantarkan tiga skudo beruntun dari
musim 2011-12 hingga 2013-14. Konte menyulap Juve menjadi tim yang tidak hanya kokoh dalam bertahan tapi terus memberikan tekanan. Setelah tiga musim Skudeto bersama Juventus, Konte mengaku lelah dan menanggalkan jabatannya. Selama tiga musim melatih Juve, Konte memenangkan Pacina de Oro atau penghargaan manajer terbaik Serie A di tiap musimnya. Well, setelah Konte pergi, apa yang terjadi pada Juventus? Juve mencari pengganti dengan cepat menunjuk masih Allegri yang pernah membawa AC Milan Scudeto. Berbeda dengan konte yang
disiplin alias kaku, Allegri membawa fleksibilitas taktik dan pragmatisme yang lebih tinggi. Ia menggunakan formasi yang dipakai konte maupun formasi lain yang basisnya empat bek macam 4231 maupun 4312. Pertahanan Juve kian solid di tangan Allegri. Juve sering menerapkan blok rendah yang rapat, memaksa lawan bermain melebar dan tidak menyerang area sentral. Allegri cenderung membebaskan pemain berimprovisasi. Di sinilah rekrutan seperti Paul Pogba maupun Paulo Dybala sangat berguna. Tidak hanya Pogba dan Dybala, sejumlah
pemain mahal juga datang di era Allegri. Salah satu yang cukup fenomenal adalah Gonzalo Higuain. Ia dibajak dari Napoli seharga R0 jutao. Lalu pada 2018, Juve berani mendatangkan Cristiano Ronaldo seharga jutao dari Los Blancos. Jorjoran ini menunjukkan bahwa Juventus sejahtera, finansial stabil. Kombinasi antara kekuatan finansial dan taktik Allegri membuat Juve Kian baik. Konte membawa Juventus tiga musim beruntun Scudeto. Allegri memantapkan dominasi dengan menjadikan Juve juara tetap Serie A dari 2014-15
hingga 2018-19 alias 5 musim berturut-turut. Tak cuma Serie A kecuali yang terakhir, Juve selalu mengawinkan Scudeto dengan Kopa Italia. Sayang perbedaan pandangan dan arah klub terjadi pada 2019. Allegri tak menghendaki rencana para petinggi. Ia pun memutuskan pergi atas kesepakatan bersama. Selepas era alegri, Juve menunjuk Mauri Zioari. Sari ibarat kata tinggal pakai saja apa yang dibangun Konte dan dikembangkan Allegri. Tapi setiap pelatih tentu punya gaya mainnya sendiri pun begitu dengan Sari. Gaya
main Juve berubah lagi dari pragmatisme menjadi penguasaan bola. Ia menyesuaikan filosofi aslinya. Sari bol ke para pemain Juve, terutama untuk mengakomodir Dybala dan CR7. Selain penguasaan bola yang terkontrol, Juve lebih dinamis di lini serang. Tak lagi bermain low blok melainkan garis pertahanan tinggi. Sari Bol ampuh membawa Juventus meraih skudeto kees9 beruntun. Namun ketika musim 2019-20 berakhir, kerja sama Juve dan pelatih yang doyan ngudut itu juga berakhir. Juve mendepak Sari dengan alasan hasil
mengecewakan di Liga Champions. Musim itu, Juve memang mempertahankan gelar Serie A, namun kalah memalukan dari Olimpik Long di babak 16 besar Liga Champions. Pertanyaannya, setelah Erasari, siapa yang melatih Juventus selanjutnya? Dengan menunjuk Sari menggantikan Allegri, Juventus telah mengubah total gaya permainan. Usai Sari pergi, Juve masih belum kapok untuk bereksperimen lagi. Tapi untuk yang satu ini, eksperimennya memiliki resiko yang cukup tinggi. Betapa tidak, Juventus menunjuk mantan pemainnya sendiri untuk melatih
yaitu Andrea Pirlo. Sebagai seorang regista, Pirlo emang jago, tapi sebagai pelatih, pengalamannya masih seumur jagung. Pirlo baru menangani tim muda Juventus. Penunjukannya di tim utama terkesan mendadak. Pirlo ditunjuk hanya beberapa saat setelah mendapatkan lisensi UEFA Pro. Ia melompati tahap belajarnya di tim muda dengan langsung menangani tim bertabur bintang. Apesnya lagi Plo ditunjuk ketika dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Saat itu persiapan Juventus jelang musim baru kalang kabut. Mereka cuma menggelar satu
pertandingan uji coba pramusim. Karena cuma menggelar satu pertandingan pramusim, Pirlo tidak punya cukup waktu untuk mematangkan strateginya. Akhirnya ketika musim dimulai, Pirlo kebanyakan bereksperimen pada taktik. Pirlo beberapa kali mengalami dilema. Apalagi ketika pemain kunci seperti Dybala cedera panjang. Pirlo juga kesulitan memaksimalkan potensi para pemain kunci. Ketergantungan pada Ronaldo juga menunjukkan bahwa Pirlo miskin taktik. Musim lalu Juventus juga terkendala skuad yang sudah tua. Pemain seperti
Giorgio Ciel ini sudah 36 tahun. Trio BBC tak ada lagi karena Barzagli sudah memutuskan pensiun sejak 2019. Tidak cuma itu, Pirlo terlalu memaksakan strategi. Memaksakan filosofi tanpa adaptasi jelas tidak membuahkan hasil positif. Tirlo sudah membawa Juventus menjuarai Kopa Italia dan Super Kopa Italia. Tetapi dominasi 9 musim di Serie A justru terputus. Benar. Setelah 9 tahun Juventus lalu Scudeto, musim itu untuk pertama kalinya Juve gagal. Inter yang kala itu dilatih mantan pelatih Juve Antonio Contela yang juara
Juventus. Mereka cuma finish di posisi keempat. Pada titik tertentu, penunjukan Pirlo menjadi pertanda betapa buruknya manajemen Juventus. Era Pirlo juga sebagai titik pijak kawal Juventus memasuki ketidakpastian yang ditandai dengan keluar masuknya pelatih. Pirlo menjadi korban yang pertama. Setelah dinilai kurang memuaskan sang regista didepak dari kursi ke pelatihan pada 2021. Pirl sangat baik sebagai sutradara saat jadi pemain. Tapi ketika duduk di kursi pelatih, ia sutradara yang jauh dari kata layak mendapat piala Citra.
Usai menyingkirkan Pirlo dari kursi pelatih, Andrea Aknelli memanggil lagi masih Miliano Allegri. Aknelli merasa cuma Allegri yang bisa mengembalikan kejayaan Juventus usai terputus gelarnya di tangan Pirlo. Maka Agneli membujuk mati-matian pelatih yang saat itu juga diincar Real Madrid. Allegri mendengarkan tawaran Akneli. Perasaan kuat terhadap Juventus selalu mendorongnya menerima pinangan Agneli. Di sisi lain, daripada pindah ke Spanyol, Allegri ingin menetap di Italia demi dekat dengan keluarganya. Gaya main
Allegri yang pragmatis memang disukai Akneli. Namun, di hadapan sepak bola modern dan banyaknya opsi gaya bermain, strategi Allegri tersebut tampak usang. Juventus jadi cenderung bermain lebih pasif. Selain itu, tim ini terlalu mengandalkan kualitas individu daripada permainan kolektif. Allegri dipertahankan selama tiga musim dan hanya memenangkan satu trofi yaitu Kopa Italia musim 2023-2024. Tetapi setelah itu Allegri berkonflik dengan manajemen. Perbedaan pandangan membuat Allegri memutuskan pergi untuk
kedua kalinya. Siapa yang gantikan? Juventus gambling lagi dengan menunjuk pelatih bau kencur bernama Thiago Mota. Manajemen terpikat akan portofolio Mota yang berhasil mengamankan tiket Liga Champions pertama untuk bolonya sejak 1964. Pendekatan taktik yang berbasis fluiditas alih-alih kaku juga menjadi alasan kenapa Juve menunjuk Mota. Tapi Mota ternyata cuma sebentar menangani Juventus. Hasil kurang memuaskan membawa Mota ke gerbang pemecatan. Ia diusir dari Juventus pada Maret 2025 alias baru
9 bulan dari penunjukannya. Juve lalu menunjuk Igor Tudor. Ini perjudian lagi. Tapi Juve tetap punya alibi. Kenapa menunjuk pelatih asal Kroasia itu? Tudor dianggap mampu memecahkan masalah jangka pendek. Juventus berharap bisa mengamankan spot Liga Champions musim itu dan Tudor dinilai orang yang tepat. Awal melatih Tudor lumayan meyakinkan ia disebut-sebut telah mengembalikan budaya Gerta. Namun Juventus era Tudor rupanya cuma manis di awal saja sebelum pemecatannya. Pada 27 Oktober 2025, Juventus mengalami rentetan pertandingan
di segala kompetisi tanpa satu pun meraih kemenangan. Musim 2025-2026 baru berjalan sebentar. Pelatih asal Kroasia itu didpak dari kursi pelatih. Sungguh miris, Tudor dipecat padahal baru melatih selama 7 bulan. Setelah memecah tudor, Juventus memberi gebrakan dengan menunjuk Luciano Spaleti. Penunjukan Alenatore berkepala licin itu menimbulkan sentimen negatif dari para penggemar. Spaleti dinilai sangat Napoli karena tato di lengan kirinya. Para fans Juve mendesak Spaleti menghapus tato tersebut. Tapi Spaletti tak mengindahkan
desakan itu. Well, poinnya adalah setelah era Pirlo, lebih tepatnya mungkin usai era Allegri jilid 2, Juventus mulai sering mengganti pelatih. Hal ini memperlihatkan bahwa manajemen tak sabaran dan menginginkan hasil instan. Dibaca dalam konteks lain, manajemen Juventus sepertinya frustasi karena gelar Serie A tak kunjung didapatkan. Namun rasa putus asa itu sepertinya tidak hanya karena hasil di atas lapangan. Lebih dari itu, Juventus mesti menelan badai yang mereka tuai sendiri. Apa itu? Iya, soal finansial, jor-joran
di musim-musim sebelumnya membikin Juventus tertekan secara finansial, terutama ketika mendatangkan Cristiano Ronaldo pada 2018 silam. Harus diakui Ronaldo meningkatkan pendapatan dari sisi komersial. Namun keberadaannya juga membuat biaya yang dikeluarkan klub menjadi lebih besar. Terutama setelah dihantam pandemi Covid-19. Menurut laporan laga Zelo Sport, Juventus menguras kocek hingga 86 jutao per tahun untuk Ronaldo. Itu bukan gaji bersih. Angka 6 jutao tersebut meliputi 57 jutao gaji kotor dan biaya amortisasi
transfernya sebesar 29 jutao per tahun. FYI aja gaji bersih yang diterima Ronaldo sendiri menyentuh 31 jutao per tahun di Juventus. Biaya ini menghabiskan sekitar 22% dari total pendapatan operasional Juventus yang nilainya 100 jutao lebih. Pada musim pertama Ronaldo, kerugian Juventus juga meningkat dua kali lipat menjadi 40 jutao. Walaupun pendapatannya juga naik melebihi 100 jutao. Kalau begini kesannya, Ronaldo penyebab Juventus merugiah. Padahal tidak sepenuhnya Juve sama halnya dengan tim lain juga
dihantam pandemi. Lave sendiri emang cukup sering merugi. Pada musim 2023-2024 saja Juventus merugi hampir 200 jutao. Dalam 7 tahun berturut-turut menurut laporan media Italia, Il Soley, kerugian Juventus bahkan hampir menyentuh 900 juta euro atau kalau sesuai kurs hari ini lebih dari Rp1 triliun. Buset. Sedihnya para pemain yang dibeli dengan harga yang tidak murah macam Arthur Melo, Dejan Kulusevski dan Mattis Delicit justru inkonsisten. Inilah yang sedikit banyak mengakibatkan Juventus goyah di liga domestik. Persoalan
kemudian tidak berhenti sampai di sana. Ada sejumlah skandal yang menyeret Juventus. Pertama, Nyonya Tua harus menghadapi skandal yang dinamai manovra stipendi atau manuver gaji. Ini adalah skandal penipuan gaji dari 2020 hingga 2021. Juventus diselidiki terkait skandal ini lantaran para pemain kabarnya setuju merelakan gaji selama 4 bulan demi menyelamatkan keuangan klub dan memperbaiki laporan finansial di tengah krisis pandemi Covid-19. Namun setelah penyelidikan ditemukan bahwa pemain sebenarnya cuma melepaskan
1 bulan gajinya bukan 4 bulan sebagaimana yang dilaporkan Juventus. Lave Casinora hanya melaporkan gaji 1 bulan pemainnya sedangkan pembayaran 3 bulan lainnya dibayarkan di bawah meja. alias melalui kesepakatan rahasia di luar laporan keuangan resmi. Mengutip laporan The Atlantik, penyelidik menemukan buktinya lewat dokumen Ronaldo yang dikenal dengan Karta Ronaldo atau Ronaldo Paper. Dokumen ini berisi surat perjanjian sampingan atau sidel yang menunjukkan bahwa Juventus berjanji membayar Ronaldo sebesar 19,6 jutao.
Nilai sebelumnya diklaim sebagai gaji dilepaskan oleh pemain. Dokumen itu terungkap setelah aparat keuangan Italia melakukan penggeledahan dan menemukan bukti percakapan dari para petinggi Juventus tentang dokumen yang disembunyikan itu. Dengan kata lain, Juve telah berbohong soal laporan keuangan mereka. Ronaldo Paper tersebut juga kelak menjadi alat buatan Ronaldo menuntut Juventus. Ketika pindah ke Manchester United, si R7 menuntut Juventus untuk membayarkan sisa gajinya itu. Tapi pihak Bian Coneri berdali
tidak wajib membayarkannya karena Ronaldo tidak menandatangani dokumen tertentu. Ronaldo lalu membawa sengketa ini ke pengadilan arbitrase. Pada 2024, pengadilan arbitrase memutuskan Juventus bersalah. Tetapi karena Ronaldo dianggap terlambat menuntut, maka Juventus hanya diwajibkan membayar 9,8 jutao atau separuh dari tuntutan plus bunga. Itu baru satu kasus. Kedua, kasusnya ini cukup fenomenal namanya Plus Valenza. Kamu pasti pernah mendengar skandal ini, bukan? Simpelnya, Plus Valenza merupakan
kasus penggelembungan transfer yang menyeret Juventus. Modus operandinya, klub diduga menggelembungkan nilai transfer pemain secara artifisial atau tidak alami atau dibuat-buat. Tujuannya untuk apa? Untuk meningkatkan modal atau bahasa buleknya capital gains. Fungsinya apa? Kok harus meningkatkan modal? Dengan meningkatkan modal, neraca keuangan klub bisa seimbang. Ini tidak hanya terjadi pada satu pemain saja, melainkan beberapa pemain yang direkrut Juventus. Mari kita urai satu persatu dari yang paling fenomenal dulu. Kalian
ingat saat Juve menukar Miralem Bejanik dengan pemain Barcelona Melo pada 2020 lalu. Saat itu Arthur gabung ke Juventus dengan biaya 72 jutao. Sedangkan pihak blau gerana membayar 60 jutao untuk pejani lupakan tentang pertukaran pemain yang menjadi salah satu pertukaran pemain terburuk sepanjang sejarah itu. Pertukaran itu sendiri saja mencurigakan. Angka 60 jutao yang dikeluarkan Barca untuk membayar pejanik dianggap tidak sesuai dengan nilai pasarnya. Nominalnya dicurigai telah digelembungkan oleh pihak Juventus.
Barca terlihat diuntungkan karena membayar lebih sedikit dari Juventus. Tetapi sebenarnya mereka juga mendapatkan uang yang sedikit. Ditambah pejanik tak lagi berada pada performa terbaiknya. Harga 60 jutao dianggap terlalu besar untuk sang pemain. Setelah diselidiki, semuanya pun terbongkar. Bukan hanya dalam kasus pertukaran Pejanik dan Arthur, Juventus juga menggelembungkan nilai transfer beberapa pertukaran pemain lainnya. Pada 2019, Juve pernah menukar jauh Cancelo dengan Danilo. Pihak Manchester City membayar
65 jutao untuk Cancelo. Sedangkan Juve membayar 37 jutao untuk Danilo. Nominal keduanya ternyata sama-sama diakali untuk menyeimbangkan neraca keuangan. Transfer pertukaran Arthur dan Pejanik serta Cancelo dan Danilo hanya dua contoh. Sebab kalau disampaikan semuanya di sini sangat banyak. Totalnya ada 42 transfer mencurigakan dalam skandal plus Valenza yang menyeret Juventus dari 62 transaksi yang diselidiki oleh pihak berwenang di Italia. Dari dua skandal tersebut, Juventus mendapat hukuman yang
berbeda. Untuk kasus manuver gaji, Juventus mencapai kesepakatan pada Mei 2023 sehingga hukumannya sekedar membayar denda. Juventus diwajibkan membayar 718.000o 000o kepada FIGC. Nah, hukuman paling berat diterima karena kasus Plus Valenza. Pada musim 2022-2023, Juventus mendapat hukuman pengurangan 10 poin. Aslinya bukan 10, tapi 15 poin. Namun, Juve berhasil naik banding. Tapi pengurangan 10 poin saja cukup membuat Juventus melorot dari posisi du ke posisi 7 keluar dari zona Liga Champions. Mirisnya lagi, hukuman tidak
berhenti di sana. Pada Juli 2023, UEFA memberikan hukuman tambahan karena Juventus melanggar regulasi financial fairplay dan perjanjian penyelesaian. Apa bentuk hukumannya? Tak main-main, Laveia Sinora dilarang bermain di kompetisi Eropa selama musim 2023-2024. Itu artinya Juventus kehilangan hak untuk bermain di Liga Konferensi Eropa. Masih belum selesai, otoritas tertinggi sepak bola Eropa itu juga memberikan hukuman berupa denda sebesar 20 jutao. Tapi Juve beruntung hanya membayar setengahnya saja karena 10 juta sisanya
hanya akan ditagih bila laporan keuangan tahun 2023 sampai 2025 kembali melanggar aturan. Apakah sudah hukumannya? Tidak, Abangku. Para petinggi Juventus juga kena hukuman. Andrea Akneli, sang presiden yang berperan menyetujui laporan palsu di vonis 20 bulan penjara. Namun, hukumannya ditangguhkan, Akneli hanya menjalankan hukuman kedua, yakni pelanggaran aktivitas sepak bola selama 24 bulan. Setelah Aknelli, ada Fabio Paratichi. Paratichi adalah arsitek di balik transfer yang dianggap fiktif atau
digelembungkan nilainya. Paraticii divonis 18 bulan kurungan. Tapi sama seperti Akneli, hukumannya ditangguhkan, ia hanya menjalani larangan 30 bulan beraktivitas di sepak bola. Kemudian mantan pemain Pavel Netfet. Netfet yang menjabat wakil presiden dinilai ikut menyetujui laporan palsu. Netfed juga dihukum penjara selama 14 bulan, tapi juga ditangguhkan. Mantan pemain Republik Ciko ini hanya menjalani hukuman skor sing pelarangan 8 bulan terlibat dalam sepak bola. Kemudian ada satu lagi, Maurizio Arifa Bene sang
mantan CEO. Ia dijatuhi larangan sanksi beraktivitas dalam sepak bola selama 24 bulan, tapi bebas dari tuntutan pidana. Berbeda dengan nama-nama sebelumnya yang divonis penjara tapi ditangguhkan, Arifa Bene tidak terbukti bersalah. Lalu apa yang terjadi di Juventus setelah para petingginya dilarang terlibat dalam sepak bola? Juventus terpaksa menyusun ulang atau merestrukturisasi jajaran petinggi dan ini mengakibatkan klub kian goyah. Pergantian pelatih dalam waktu singkat dari Thiago Mota ke Igor Tudor lalu ke
Luciano Spaleti. Salah satu akibat dari restrukturisasi. Urusan transfer Juventus sempat dipimpin Cristiano Giuntoli yang terbukti sukses di Napoli. Namun transfernya kurang efektif. Pun begitu saat Damien Komoli masuk sebagai CEO yang baru pada 2025. Nyonyatua telah menginvestasikan dana besar kabarnya mencapai 250 jutao pada musim 2024-2025. Tapi banyak rekrutan yang dianggap gagal. Contohnya seperti pembelian Tun Cop Maners dan Douglas Lewis yang gagal memberikan dampak instan. Setelah tak dipimpin Akneli, Juventus dipimpin
Gianluca Ferrero yang kering pengalaman di dunia sepak bola. Pekerjaannya sebagai Presiden Juventus adalah pekerjaan pertamanya di ranah sepak bola. Pada Januari 2026 lalu, Juventus juga merekrut Marco Otolini sebagai direktur olahraga, tapi keberadaannya tak membantu banyak. Di bursa transfer Januari kemarin saat otol ini sudah masuk, Juventus justru kurang bergairah di bursa transfer. Beberapa incaran seperti Marco Senesi gagal direkrut. Juventus juga tak berhasil menemukan pengganti Dusan Flahovic. Di bursa
transfer Januari kemarin, Juve cuma mendapatkan pemain seperti Emil Holm dan Jeremy Boga. Itu pun lewat peminjaman. Perubahan struktur pimpinan membuat arah Juventus ke depannya masih belum jelas. Saat ini Nyonya Tua cuma mengandalkan Tuas Paleti untuk lolos ke Liga Champions. Target mereka mungkin sudah mengendur. Juve tak lagi bergairah untuk meraih gelar Serie A. Yang terpenting buat mereka hari ini hanyalah lolos ke Liga Champions sama kayak Manchester United.
Komentar