Inilah klub yang terpatri sebagai salah satu pendiri English Premier League pada musim 199293 silam. Sebuah klub dengan logo burung hantu yang ikonik dan stadion Hillsboro yang monumental. Sheffield Wednesday yang lahir pada 1867 bahkan termasuk dalam klub profesional tertua di Inggris. Soal prestasi, klub ini adalah pemilik empat titel first division dan 3 FA Cup. Tapi segala keagungan di masa lalu itu runtuh akibat kesalahan dari sang pemilik yang otoriter. Keputusan yang tidak kompeten berujung pada kehancuran yang
menyedihkan. Sang burung hantu kini terlunta-lunta dan berpotensi mengulang semuanya dari nol. Lalu bagaimana kisah Pilu Sheffield Wednesday yang tersiksa karena ulah sang pemilik? Benarkah tak ada harapan bagi klub ini untuk bangkit? Kronologi kebangkrutan Sheffield Wednesday merupakan akumulasi dari krisis keuangan yang pelik. Awal dari ketidakstabilan terjadi pada rentang waktu antara Juli 2024 hingga Juni 2025. Dikutip The Independent selama kurun waktu itu, klub mencatatkan keterlambatan pembayaran gaji pemain dan
staf lebih dari 30 hari. Merisnya ada beberapa bulan klub tidak membayarkan gaji sama sekali. Tepatnya terjadi pada Maret sampai Mei 2025 di mana Sheffield gagal membayarkan speser pun khususnya kepada pemain. Kondisi pelik ini memantik perhatian dari IFL yang kemudian turun tangan dan menjewer Sheffield. Akibat masalah gaji yang macet, IFL pun menjatuhkan hukuman larangan membeli pemain di tiga bursa transfer terhitung sejak musim panas 2025. Dengan begitu, Sheffield hanya bisa merekrut pemain secara gratis atau
meminjam pemain dari klub lain. Karena ketidakpastian kapan gaji mereka dibayarkan, banyak pemain memutus kontrak secara sepihak sebelum bergulirnya musim 2025-2026. Alhasil, skuad utama Sheffield hanya menyisakan 14 sampai 16 pemain yang bertahan. Menurut The Guardian, sang pelatih Danny Roll juga ikut memutus kontraknya dan pindah ke Rangers. Derita Sheffield belum usai sampai situ saja. Selain larangan beli pemain, The juga dikenakan sanksi oleh IFL berupa pengurangan 6 poin bahkan sebelum bertanding di Championship. Jadi saat
klub lain poinnya masih nol sebelum musim dimulai, Sheffield sudah kena minus 6. Setelah pengurangan poin berlaku, kondisi di Sheffield Wednesday semakin keos karena gelombang mosi tidak percaya kepada sang pemilik Deon Chansiri. Pemasukan di hari pertandingan anjlok drastis sekitar 35% karena suporter melakukan boikot terhadap penjualan tiket dan merchandise itu dilakukan sebagai bentuk protes keras terhadap Chan Siri. Situasi semakin buntu ketika Chan Siri menolak dua tawaran akuisisi bernilai R juta dan 40
juta pound yang sebenarnya bisa menjadi jalan keluar bagi krisis keuangan tersebut. Penolakan ini justru memperparah kebuntuhan finansial dan menutup harapan bagi adanya perubahan struktural di dalam manajemen klub. Memasuki bulan Oktober, Sheffield akhirnya secara resmi dinyatakan pilot dan berada di bawah pengawasan tim administrator untuk menyelamatkan aset yang tersisa. Dikutip Sky Sports, penyebab utamanya adalah pendapatan yang terus merosot akibat boikot supporter. Ditambah dengan penghentian total
dukungan finansial dari pemilik yang membuat operasional klub tidak bisa berjalan normal lagi. Sebagai konsekuensi dari status pile tersebut, IFL menjatuhkan hukuman tambahan berupa pengurangan 12 poin otomatis secara langsung. Hukuman berat ini menjadi pukulan telak yang membuat posisi Sheffield semakin terbenam di dasar klasemen Championship dengan total pengurangan 18 poin. Setelah Sheffield Wednesday resmi dinyatakan pilot dan terpaksa mencari pemilik baru untuk menyelamatkan masa depan mereka. Para
fans kompak menunjuk satu nama sebagai biang keladi kehancuran klub yaitu Dechpon Chan Siri. Chansi Siri sendiri merupakan seorang pengusaha asal Thailand dengan latar belakang bisnis di bidang perdagangan. Dilansir BBC, ia merupakan bagian dari keluarga besar pemilik Thai Union Group, sebuah perusahaan raksasa yang dikenal sebagai salah satu produsen tuna kaleng, serta makanan laut beku terbesar di dunia. Harapan suporter sempat membumbung ketika Chan Siri secara resmi mengakuisisi 100% saham dari pemilik
sebelumnya, Nilan Mandarik. Kesepakatan itu terjadi pada Januari 2015 dengan nilai mencapai sekitar 37,5 juta pound. Sebenarnya perjalanan Chansi Siri yang berlangsung selama 10 tahun tidak selalu buruk sejak awal. Pada 2 tahun pertama masa kepemimpinannya, Sheffield sempat menikmati periode kesuksesan yang menjanjikan. Chansi Siri menggelontorkan hampir 167 juta pounds untuk pembangunan tim. Puncaknya terjadi saat tim berjuluk The OS ini hampir saja kembali ke Premier League setelah terakhir berpartisipasi pada 1999-2000.
Sayangnya impian besar tersebut harus sirna setelah mereka mengalami kekalahan tipis 1-0 di final playoff musim 2015-16 saat menghadapi Hul City. Namun seiring berjalannya waktu masa kepemimpinan Dejpon Chansiri mulai menunjukkan tanda-tanda kebobrokan yang sangat nyata di hadapan publik. Masalah utamanya terletak pada gaya kepemimpinan Chansiri yang sangat otoriter di mana hampir semua proses pengambilan keputusan penting dilakukan secara sepihak oleh dirinya sendiri. Menurut ESPN, kondisi ini diperpara dengan struktur manajemen
yang kosong di mana tidak ada direktur sepak bola, kepala eksekutif, bahkan tidak ada satuun orang kepercayaan Siri di Inggris yang memegang tanggung jawab atas pengelolaan operasional klub sehari-hari. Alhasil, manajemen klub menjadi sangat carut-marut karena Chansi Siri mulai kehilangan fokus. Apalagi setelah bisnis pribadinya dikabarkan sedang mengalami penurunan pemasukan yang cukup drastis. Sebelum krisis ini terjadi, sumber dana utama untuk membiayai segala kebutuhan Sheffield memang murni berasal dari
kantong pribadi Chansi Siri. Nah, karena perusahaan keluarganya sedang seret, otomatis aliran uang ke rekening pribadinya pun ikut terimbas secara langsung. Dalam situasi terjepit tersebut, ia justru mulai menarik diri dan enggan untuk terus membiayai operasional klub yang membutuhkan dana besar sebagai jalan pintas untuk menutupi kebutuhan mendesak. Ia nekad mencari pinjaman utang jutaan pounds kepada kantor pajak Inggris. Sayangnya, Camsiri gagal melunasi kewajiban tersebut tepat pada waktunya sehingga
aroma kegagalan finansial ini akhirnya tercium sebagai pelanggaran berat oleh pihak IFL yang kemudian berbuntut panjang. Meskipun Sheffield Wednesday sudah dipastikan harus turun kasta dan terdegradasi ke LIK untuk musim depan, ternyata penderitaan mereka masih jauh dari kata usai. Ancaman pengurangan poin yang sangat berat rupanya belum benar-benar berakhir pada rival sekota Sheffield United ini. Berdasarkan aturan ketat dari IFL, masa depan mereka sangat bergantung pada bagaimana proses akuisisi oleh pemilik baru nantinya
berjalan. Dilansir Talk Sport, jika proses pengalihan pemilik klub tidak menyertakan kesepakatan untuk melunasi hutang kepada para kreditur minimal 25%, maka sebuah hukuman yang sangat menyakitkan telah menanti di depan mata. IFL tidak akan segan untuk menjatuhkan hukuman tambahan berupa pengurangan 15 poin secara otomatis saat mereka memulai perjuangan di Lag One musim depan. Kabar mengenai kemungkinan datangnya penyelamat sempat muncul ketika Mike Ashley, mantan pemilik Newcastle United, mencuat ke permukaan untuk mengambil
alih kepemilikan klub. Kehadiran sosok pengusaha seperti Ashley awalnya membawa sedikit titik terang bagi suporter yang sudah putus asa. Namun hingga saat ini dirinya dikabarkan masih terus pikir-pikir dan belum memberikan kepastian resmi terkait langkah akuisisi tersebut. Menurut Football Insider, keraguan besar ini muncul karena Ashley menyadari bahwa menjadi pemilik baru berarti ia harus ikut memikul beban berat membantu melunasi hutang klub yang ditinggalkan Dech Pon Chan Siri. Kondisi yang serba tidak pasti ini membuat masa
depan tim berjuluk The Olds tersebut semakin terhimpit di tengah ketidak pastian finansial yang terus menghantui. Wi.
Komentar