Presiden Prab Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singga di Nganjuk, Jawa Timur sebagai bentuk penghormatan kepada Marsina. Apa saja yang bisa pengunjung lihat dari dalam Museum Marsinah? Reporter Farah Manhila akan mengajak Anda berkeliling dari dalam museum. Nama Marsina erat kaitannya dengan perjuangan kaum buruh di Indonesia. Dhamma itu selalu dijadikan simbol perlawanan buruh terhadap upah murah. [musik] Pada Mei 1993, Marsinah ditemukan meninggal dunia setelah sempat hilang beberapa hari usai
memimpin unjuk rasa kaum buruh. Kasus kematiannya memicu kemarahan dan gelombang solidaritas dari berbagai kalangan. Pemerintah Republik Indonesia menjadikan Marsinah sebagai pahlawan nasional pada November 2025 lalu. Kini jejak perjuangan Marsin bisa masyarakat kenang lewat Museum Ibu Marsina. Pemirsa, di Museum Ibu Marsin Anda bisa melihat dan menyaksikan langsung sepeda ontel yang digunakan oleh Marsina dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Sepeda yang berusia puluhan tahun ini pemirsa menjadi simbol perjuangan
Marsina dalam memperjuangkan hak buruh. Selain itu pemirsa, di belakang sepeda ontel ini ada diorama khusus yang menceritakan dan juga menggambarkan tragedi ataupun peristiwa Marsin dalam mencari keadilan yang tidak akan pernah terlupa. Pemirsa, ada satu titik yang menarik perhatian saya. Ini adalah barang-barang Marsinah yang masih terjaga dan disimpan yang kini dipamerkan dalam Museum Ibu Marsinah. Ada pakaian Marsinah yang dikenakan. Ada juga dompet yang dipakai sehari-hari. Tempat kacamata dan tas
jinjing warna orange warna merah. Ini pemirsa ini yang paling menarik perhatian saya karena Anda bisa melihat secara langsung bagaimana tas-tas ini sudah mulai mengelupas. Ketidaksempurnaan tas ini sangat terlihat. Tapi justru ini menjadi saksi bisu perjuangan dan juga kerja keras Marsinah kala itu. Pemirsa, di sebelah kanan museum Ibu Marsinah ini berdiri rumah asli Marsinah yang ditinggali sejak dia berusia 2 tahun hingga sebelum memutuskan untuk bekerja di Surabaya dan juga di Sidoarjo. Saya berada tepat di depan
kamar Marsin pemirsa. Dan jika saya lihat ke dalam ini memang bangunannya masih tampak seperti asli atau seperti dulu saat kali pertama Masinah tinggal. Nah, ranjang yang ada di depan ini memang rupanya sudah diganti pemirsa karena sebelumnya Marsina tidak menempati ranjang ini. Namun untuk suasana dinding dan juga lingkungan di kamar ini masih kurang lebih sama seperti semula. Dan di rumah asli yang ditinggali oleh Marsin ini pemirsa, ini juga saya bisa melihat beragam e piagam penghargaan yang diraih oleh Marsina sebagai
pahlawan nasional dan beragam penghargaan lainnya yang diberikan kepada Ibu Marsina. [musik] Lewat foto, dokumen, dan barang peninggalan yang dipajang, pengunjung diajak mengenang sosok Marsinah sebagai simbol perlawanan dan keadilan. Museum Ibu Marsinah dibangun secara gotongroyong dan uluran tangan para dermawan dari Serikat Pekerja [musik] KSPSI. Total anggaran ini mencapai hampir Rp3,8 miliar. R3,8 miliar totalnya 3,8 miliar. Lalu ada juga beberapa aktivis buru yang sudah sukses tadi di UMKM itu kan
beberapa aktivis buru yang sudah ekspor ke Eropa. Luar biasa banyak. Jadi ya dana pembangunan museum dana gotongroyong dari keluarga besar KSPSI AGM itu pun kami lakukan untuk membangun Pusdikat KSPSI yang ada di Purwakarta. Dari mana dananya teman-teman jangan lupa KSPSI agen memiliki basis koperasi yang sangat kuat. Total koperasi dari seluruh pimpinan unit kerja yang kami miliki sudah mencapai R,1 triliun. [musik] Keberanian Marsinah menyampaikan aspirasi kaum buruh menjadikannya sebagai sosok yang dikenang dalam
perjuangan hak asasi manusia di Indonesia. Dari Nganjuk, Jawa Timur, Farahmanilah Nurahman TV1 mengabarkan.
Komentar