Bagi warga Spanyol, sepak bola adalah agama kedua. [musik] Ketimbang pada ideologi, banyak dari penduduknya bersandar pada sepak bola. Negara ini menelurkan banyak sekali pemain juga para pelatih hebat. [musik] Tengoklah seluruh final kompetisi Eropa musim ini. Para pelatih Spanyol membawa timnya ke final Liga Champions, Liga Eropa, Liga Konferensi Eropa, bahkan Liga Champions Wanita. Ada enam pelatih asal negeri matador di final kompetisi Eropa musim ini. Jumlah itu melampaui Italia di musim 202324 [musik]
yang mengirim tiga pelatihnya ke final. Bagaimana ini bisa terjadi? Sehebat apa para pelatih Spanyol yang membawa timnya masing-masing ke final Eropa musim ini? [musik] Jika kita perhatikan musim lalu persebaran pelatih di [musik] tiga final kompetisi Eropa beragam. Simone Inzagi yang berpaspor Italia berjumpa Luis Enrique dari Spanyol di final Liga Champions. Sementara Ruben Amorim yang berasal dari Portugal bertemu Ang Poste [musik] Koglu yang berpaspor Australia di final Liga Eropa. Sedangkan di liga
konferensi Enzo Mareska yang berpaspor Italia melawan pelatih Real Betis Manuel Pellegrini yang tercatat sebagai warga negara Chile. Hal ini berbeda dengan musim sebelumnya. Pada musim 2023-2024, pelatih Italia mendominasi. Ada Carlo Anceloti di final Liga Champions, [musik] Gian Piero Gasperini di final Liga Eropa, dan Vincenzo Italiano [musik] di final Liga Konferensi Eropa. Nah, kalau musim ini semuanya dikuasai pelatih Spanyol. Di Liga Champions terjadi All Spanish Manager final antara Luis Enrique yang membesut PSG [musik]
dan Michel Arteta pelatih Arsenal. Lalu di Liga Eropa Unai Emry mengantarkan Aston Villa ke final. Di Liga Konferensi Eropa, pelatih [musik] muda Spanyol, Inigo Perez tak terduga membawa Rayo Fayekano menantang Crystal Palace di puncak. Menariknya, bukan cuma final Liga Champions versi pria saja yang mempertemukan dua pelatih asal Spanyol, tapi juga di final Liga Champions wanita. Pere Romeu, pelatih yang membawa Barca Femeni ke final akan menantang Jonathan Geraldes yang mengantarkan All Liones ke [musik] final usai menekuk
perlawanan Arsenal Woman di semifinal. Uniknya atau mungkin lebih tepat disebut naas, ketika Spanyol mengirim enam pelatih ke final kompetisi Eropa musim ini, Italia negara penghasil pelatih tak mengirimkan satu wakil pun. Ini menambah citra buruk sepak bola Italia karena klubnya pun enggak ada yang ke final. Hanya Italia yang tak mengirim wakil dari lima liga top Eropa di final. Bila kita kerucutkan lagi, [musik] tidak Spanyol tapi Barcelonal yang mendominasi. I, Barca tersingkir duluan, tapi DNA-nya ada di final bahkan di dua
final Liga Champions. [musik] Kita bahas yang Liga Champions pria dulu deh. Luis Enrique dan Michel Arteta akan bertemu di Budapest akhir Mei nanti. Ini untuk kali pertama Arteta berjumpa Enrique di panggung tertinggi. Maklum selama ini Arteta khusyuk di liga domestik. Nah, baik Arteta maupun Luis Enrique punya DNA Barcelona, Michel Arteta adalah alumni Lamasia. Sedangkan Enrique Tidak. Pria 56 tahun ini mengawali karir sepak bola di klub tanah kelahirannya Sporting John. Enrique baru hijrah ke Barcelona
pada 1996 setelah lima musim berseragam Real Madrid. Jika Luis Figo dijuluki pengkhianat oleh fans Barca, Enrique sebaliknya. Tapi ia dengan cepat menjadi idola di Kemno. Malahan Enrique akhirnya memahami betul budaya di Barcelona. Buktinya setelah pensiun, Enrique kembali lagi ke Kemnu sebagai pelatih. Kita tahu bagaimana kisahnya Luis Enrique merengkuh kesuksesan dengan meraih tribel winner di musim 2014-15 itu di final Liga Champions pria. Bagaimana dengan final Liga Champions wanita? Pere Romeu dan Jonathan Giraldes
pernah bekerja sama di Barcelona. Giraldes yang sekarang menukangi Oliones setelah malang melintang di tim wanita. Geraldes sempat menukangi tim wanita usia muda dari timnas Catalonia sebelum akhirnya merapat ke Barcelona Femini tahun 2019. Geraldes bergabung di staf kepelatihan Luis Cortes. Selama dua musim ia menjadi asisten Cortes dan tim ini mencapai final Liga Champions tapi tak pernah memenangkannya. Perpaduan Cortes dan Geraldes baru mencapai puncak terbaiknya pada musim 2020-2021. Kala itu Barca Femini meraih tribal
winner. Namun Cortes memilih pergi. Hubungannya yang retak dengan para pemain jadi [musik] pemicu. Dua hari kemudian Geraldes mengambil kursi pelatih. Geraldes lalu menunjuk Pere Romeo untuk jadi asistennya. Romeo sudah lebih dulu bekerja di Lamasia. Tahun 2017 ia sudah masuk staf kepelatihan Sergi Mila. Romeo membantu Mila mengembangkan generasi kelahiran tahun 2004 yang di dalamnya ada pemain seperti Gavi. [musik] Sempat pergi ke Rumania untuk menjadi asisten Ruben de la Barrera di Vitorul Konstanta. Romeu lalu menemani Geraldes
di Barca Femini sejak 2021. Geraldes dan Romeo menelurkan banyak trofi buat Barca Femini, termasuk tiga gelar liga dan dua trofi Liga Champions. Karena hubungannya dengan pemain kuat, Bere Romeo dipilih menangani Barca Femini ketika Giraldes pergi ke [musik] Liones pada 2024. Musim ini keduanya bertemu di partai puncak. Dari Romeu, Geraldes, Enrique, dan Arteta punya kesamaan. Keempatnya memiliki standar yang khas Barcelona sekali. [musik] Prinsipnya berakal dari permainan total football. Keempat
pelatih ini sama-sama mengandalkan kolektivitas meski tak selalu menguasai bola. Khusus Enrique semakin ke sini semakin kelihatan bahwa ia masih menggunakan total football. Setiap pemain bisa mengisi posisi manapun. Contoh saat melawan Bayern Munchen, Zerh Emry yang jadi back sayap atau Fabian Ruis yang bergerak ke sayap. [musik] Strategi yang dianggap karatan ini ternyata masih sanggup untuk menyingkirkan tim seperti Bayern Muncan. Selain kolektivitas, keempat pelatih ini juga mengandalkan transisi cepat. Selain
itu, pakem formasi yang dipakai pun cenderung [musik] sama. Kalau tidak 433 ya 4231. Meskipun di lapangan situasinya [musik] bisa berubah. Karena empat sudah berdna Barcelona sisanya tidak. Tak terkecuali Unai Emerry. Emry membawa Aston Villa ke final Liga Eropa setelah menaklukkan sesama tim Inggris [musik] Nottingham Forest. Ini adalah final Liga Eropa keenamnya kecuali Arsenal. Tim yang dibawanya ke final selalu merengkuh gelar. Emery bukan pelatih berdna Barcelona, belum pernah bermain juga
belum pernah melatih Barcelona. Tidak hanya jauh dari Barcelona sekalipun orang Spanyol, pendekatan yang Emri terapkan sangat tidak Spanyol. Bukan penguasaan bola, tikitaka, kolektivitas dan permainan indah. [musik] Sepak bola Emer justru sepak bola yang sangat terstruktur. Jika Total Football identik dengan siapapun bisa mengisi posisi manapun, Emri tidak menghendaki demikian. Ia menuntut para pemainnya untuk disiplin pada posisi [musik] Emery. Seperti Vergi. Ia pengguna formasi 342 yang bisa bertransformasi menjadi 4231.
Cara menggunakannya pun hampir mirip. Emery fokus pada pressing ketat, kontrol ruang, dan menitik beratkan serangan pada backk sayap [musik] yang aktif menyerang. Sementara dalam pertahan, Emer meniru sepak bola Jerman yang memakai high defensive [musik] line. Tujuannya untuk mempersempit ruang operan lawan dan menjebak mereka dalam posisi offside. [musik] Terkesan kaku, tapi strategi Emry efektif buat Aston Villa. Kenapa begitu? Menurut mimin sih karena taktik emry memang sudah proven. Tidak ada pelatih
Aston Villa dengan taktik sebaik Emerry di era modern. Buktinya cuma di era emery, Aston Villa melangkah ke final kompetisi Eropa sejak era Premier League. Kehadiran Emry membuktikan bahwa Spanyol tidak hanya identik dengan penguasaan bola dan tikitaka. Tapi ada pula yang sepertinya. Tapi bukan cuma Emery. Ternyata musim ini kita disuguhkan satu lagi pelatih hebat asal Spanyol yang mengkhianati mazhab negara. Orang itu adalah Inigo Perez yang membawa Rayo Fayekano ke final Liga Konferensi Eropa. Pelatih 38 tahun itu
tidak terpengaruh oleh Pep Guardiola yang masyur atau sepak bola ala Vicente Del Boske. Tapi taklid pada Andoni Iraula mentornya. Sebab dulu Inigo asisten Iraula di Rayo Fayekano. Apa yang dipelajari Inigo dari Iraula? Sepak bola high pressing dan permainan direct. Alih-alih umpan pendek dari kaki ke kaki, Inigo memainkan sepak bola yang penuh dengan umpan direct. Tidak hanya itu, dalam pressing Rayo juga lebih brutal dengan man to man marking. Strategi semacam ini mengingatkan kita pada [musik] Marcelo Belsa. Ya, wajar
karena ini terpengaruh Iraula, sedangkan Iraula muridnya Belsa. Musim lalu hanya Enrique yang meraih titel Eropa, tapi musim ini dipastikan ada dua pelatih Spanyol yang meraih gelar Liga Champions [musik] Eropa. Menurut kalian, apakah Liga Eropa dan Liga Konferensi juga akan diraih oleh pelatih asal Spanyol? Yeah.
Komentar