Saya orang kampung yang menilai depan saya. Pernyataan Jusuf Kala tentang perannya dalam mengantarkan Joko Widodo ke kursi kepresidenan bukan sekedar nostalgia politik. Ia membuka kembali satu realitas yang kerap disederhanakan. Kekuasaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Namun respon Jokowi, saya ini orang kampung justru menghindari inti persoalan itu. Kasih tahu semua itu termul itu. Jokowi jadi presiden karena sayaasas kan tanpa gubernur mana bisa jadi presiden. Coba dia datang ke rumah ucapan terima kasih
karena setelah ke ib dulu sebagai baru sama saya. Klaim Jusuf Kala bisa dibaca sebagai pengingat bahwa proses politik [musik] selalu melibatkan aktor-aktor kunci, kompromi, dan lobi tingkat tinggi. Termasuk peran Megawati Soekarno Putri dalam menentukan arah pencalonan. Artinya jika iklan tersebut benar atau setidaknya sebagian benar, maka perjalanan Jokowi bukan semata-mata cerita [musik] rakyat biasa naik ke puncak, melainkan juga hasil konfigurasi kekuatan politik yang kompleks. Di sisi lain, respon Jokowi tidak membantah,
tapi juga tidak mengkonfirmasi. Ia memilih mengulang citra lama, kesederhanaan, kerendahan hati, dan jarak dari elitisme. Pernyataan orang kampung bisa dilihat sebagai strategi komunikasi yang efektif, sederhana, kuat. secara emosional dan mudah diterima publik. Namun dalam konteks ini, ia juga bisa dibaca sebagai bentuk [musik] pengalian. Alih-alih menjawab substansi. Klaim apakah benar ada peran signifikan Suksfala dalam proses politiknya, Jokowi justru menggeser percakapan ke ranah identitas personal.
Ini bukan kebetulan dalam politik. Mengontrol narasi seringkiali lebih penting daripada menjawab pertanyaan. Di sisi Jusuf Kala, pernyataan tersebut juga bukan tanpa kepentingan. Mengklaim peran dalam menciptakan seorang presiden adalah bentuk legitimasi bahwa dirinya bukan sekedar bagian dari sejarah, tetapi salah satu penentunya. Namun, klaim seperti ini juga problematis jika tidak disertai bukti yang terbuka. Ia mudah berubah menjadi personalisasi berlebihan atas proses yang sejatinya kolektif. Publik akhirnya dihadapkan
pada dua cerita. Cerita tentang king maker, elit yang mengatur jalannya kekuasaan. Cerita tentang orang biasa yang naik karena kerja keras dan dukungan rakyat. Keduanya tidak sepenuhnya salah, tapi keduanya juga tidak sepenuhnya utuh. Jika hanya percaya pada narasi Jokowi, kita mengabaikan realitas struktur politik. Jika hanya percaya pada klaim Jusuf Kala, kita mereduksi peran publik dan dinamika demokrasi. Yang paling mencolok justru bukan perbedaan pernyataan, melainkan absennya transparasi. Tidak
ada klarifikasi rinci, tidak ada pembuktian terbuka, dan tidak ada paya menjelaskan kepada publik. bagaimana sebenarnya proses politik [musik] itu berlangsung. Padahal di tengah isu lain seperti polemik ijazah yang juga disinggung Jusuf Kala, kebutuhan akan kejelasan justru semakin penting. Dalam politik, [musik] narasi sering menang atas fakta. Jokowi konsisten menjaga cerita orang kampung. Jusuf Kalah mencoba menegaskan perannya dalam sejarah. Tapi bagi publik yang lebih penting bukan siapa yang paling
meyakinkan, [musik] melainkan siapa yang paling bisa diverifikasi. Tanpa itu, perdebatan seperti ini hanya akan berputar pada klaim dan citra, bukan pada kebenaran yang bisa diuji. Saya orang kampung. Eh, tapi gimana, Pak? E ini kan kemarin Pak Jika juga sempat menyinggung kalau misalnya Bapak menjadi presiden bisa rusak negara ini gitu. yang menilai depan saya. Pak, kemarin eh Polda Metro telah mengeluarkan SP3 ke Pak Rismon bahwa sudah ada restorasi justice. Ini tanggapannya seperti apa? Ya itu kewenangan dari Polda Metro Jaya,
kewenangan dari penyidik. Kalau sudah diberikan artinya semuanya sudah clear. Ada peluang untuk yang kedua, Pak? Yang untuk Risorio sama Dr. Tifa mungkin yang lain untuk yang lain. Makasih [tertawa] Bapak Ibu masak apa, Pak? [tertawa] Jumatan di mana, Pak? [tertawa] Ahmad banget Ahmad. Ayo, Mas. Sudah, Pak. Malah iki loh sudah melaku loh gara-gara tak l kasih tahu kasih tahu semua itu termul-teremul itu Jokowi jadi presiden karena sayaas kan tanpa gubernur mana bisa jadi presiden. Panggung politik nasional kembali
memanas. Bukan sekedar isu kebijakan, kali ini sorotan tertuju pada pengakuan mengejutkan dari sosok senior Jusuf Kala. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI tersebut secara terbuka mengungkapkan perannya yang ia klaim krusial dalam meniti tangga karir politik Presiden keet7 Joko Widodo. Dalam sebuah jumpa pres di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu 18 April 2026, Jusuf Kala menegaskan kembali narasi lama yang kini kembali menghangat dengan nada lugas. Pria yang akrab disapa JK ini memposisikan dirinya sebagai pintu masuk
bagi Jokowi ke kancah politik ibu kota. Kasih tahu semua itu termemul-teremul itu. Jokowi jadi presiden karena sayaasas kan tanpa bubunuk mana bisa jadi presiden. Bagi JK rekam jejak itu nyata. Ia mengklaim sebagai sosok yang membidani kepindahan [musik] Jokowi dari Solo untuk bertarung di Pilkada DKI Jakarta 2012. Kala itu [musik] Jokowi berpasangan dengan Basuki Cahya Purnama Ahok dan berhasil menumbangkan petahana melalui dua putaran pemilihan yang dramatis. [musik] JK bahkan mengklaim bahwa kesuksesan tersebut diakui
langsung oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri. Narasi ini pun berlanjut pada Pilpres 2014 di mana JK melangkah lebih jauh dengan mendampingi Jokowi sebagai wakil presiden. Sebuah [musik] duet yang mengukir sejarah kepemimpinan Indonesia selama 5 tahun ke depan. Namun pengakuan ini muncul di tengah suasana yang jauh dari tenang. JK tampak gerah dengan dinamika media sosial yang belakangan menyudutkan istilah termul singkatan dari Ternak Muliono. Sebuah istilah sindiran yang kerap digunakan untuk melapeli loyalis
Jokowi. Keberanian JK untuk bicara blak-blakan ini diduga dipicu oleh beredarnya potongan video ceramahnya di Masjid Kampus Universitas [musik] Gadjah Mada pada Maret 2026 lalu. muncul dugaan bahwa penyebaran video tersebut merupakan respon atas kritik JK [musik] sebelumnya mengenai isu ijazah Jokowi. Situasi semakin pelik bagi sang mantan wakil presiden. Tak hanya perang narasi, JK kini menghadapi jeratan hukum. Pada Minggu 12 April 2026, ia dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh kelompok yang menamakan diri gerakan angkatan muda
Kristen Indonesia. Pemuda Katolik dan beberapa organisasi masyarakat lainnya. Mereka menuding JK melakukan penistaan agama terkait isi ceramahnya di UGM. JK sendiri mencium adanya aroma konspirasi di balik pelaporan tersebut. Ia menduga tekanan hukum yang menerpannya merupakan serangan balik pasca keputusannya melaporkan ahli digital forensik Chris Monsianipar ke Bares Kim Polri atas dugaan penjemaran nama baik pada awal April lalu. Kisah ini menjadi pengingat betapa dinamisnya persekutuan politik di
Indonesia. Hubungan antara JK dan Jokowi yang pernah begitu erat dalam satu kursi kepemimpinan kini tampak berada di titik nadir. Apakah ini hanyalah babak baru dari gesekan politik biasa atau tanda berakhirnya hubungan mesra antara seorang mentor dan muridnya? Di tengah riuh laporan polisi dan klaim jasa masa lalu, publik kini hanya bisa menunggu ke mana arah angin politik akan membawa keduanya. Mempelajari itu di mana letak. Mudah-mudahan Tuhan Allah memaafkannya. Para peng para berfitnah itu
alfitnah itu asyaddu minal katli fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. semuafitnah saya semua apa dia bikin pada waktu itu kasih tahu mereka semua orang yang besar ngomongnya apa dilakukan pada saat ini semua kita akan pertimbangkan karena kalau tidak di dituntut ini akan terulang lagi hati-hati ngomong ke mana-mana minta maaf orang harus Islam mau dew jangan saya bilang kau tahu semua itu di jangan jangan karena itu saya undang sek DMI dan masjid supaya kasih tahu masjid tenang masjid banyak yang berteriak bagaimana
Pak kita lawan jangan jangan di Makassar mau dewo besar-besaran jangan itu di Subhan tahu kan Ini yang kasih pengumuman tidak boleh di tapi secara hukum kita serahkan kepada tim hukum serahkan ke masyarakat banyak masyarakat yang mau karena tersinggung ter di bukan saya yang mau masyarakat yang mau mengadukan saya diam aja tapi masyarakat tidak bisa di apa itu ditahan kalau dia mau sudah puluhan orang se Islam akan adukan semuanya terserah mereka saya sendiri mudah-mudahan Tuhan memaafkan dia mengampuni bukan maaf
berarti Bapak tidak akan mengambil langkah ya karena organisasi sudah banyak yang mau buat apa saya terserah tapi hukum akan berjalan bagi yang memfitnah yang tidak benar. Benarkah dia kalau Anda lihat ini benarkah ada yang benar enggak yang fitnah itu? Bagaimana Anda melihat filem ini dan sejarahnya? Ada lagi? Silakan dulu. ke belakang Eh, selamat sore, Pak. Selamat sore, Pak JK. Saya dari Kompas TV. Eh, izin saya tidak berdiri, takut menutupi kamera teman-teman yang lain di belakang. Ee Pak JK berarti penegasan
Pak kemarin kan juga sempat ada laporan ke polisi ya ee terkait dengan pernyataan Pak JK di UGM tersebut. Nah, ini artinya Pak JK melihat apakah ada upaya politisasi atau seperti apa begitu. Terima kasih. Saya tidak tahu. Saya saya tidak tidak menuduh politik. Tetapi ini kenyataannya bahwa ini timbul setelah saya ee mengadukan si ee siapa? Rismon. Rismon. Dan kedua saya mengatakan bahwa ini sel 2 tahun rakyat ini ber konflik bertentangan ke saling mengadu saling ee apa itu berteriak-beriak demon sudahlah Pak apa ee Jokowi
sudahlah kasihlah ijazah saja itu saja timbulah ini sensitif sekali itu ijazah. Kenapa sih dan saya itu asli? Kenapa tidak kasihan? Kenapa tidak kesilan? membiarkan masyarakat ini berkelahi diri sendiri saling membangsi masyarakat 2 tahun ini saya saya ingin kasih tahu sama anda. Saya berpasangan dengan saya wakilnya Pak Jokowi. Tapi karena sudah selesai ini maka kita sebu warga negara biasa. Saya lebih tua dari Jadi sebagai orang yang lebih senior saya nasihati banyak yang mengatakan apalagi Pak JK
itu ee apa kurangnya Pak Jokowi ke Pak JK sea begini apa satu Pak JK ada enggak ada satu enggak ada enggak salahwan enggak Pak Jokowi gak Si Rismon mau ketemu saya dengan tujuh orang, saya tidak terima. Mana jadi? Hah? minta waktu minta waktu nanti di WA-nya oleh ee temannya yang minta saya tolak roi roi sur mau ketemu saya tolak demi saya mau netral mana itu ah ini baca 2 Maret Dia mau ketemu saya dengan tujuh orang berikan buku dia kasih bawa buku saya mau di ditemani oleh berapa orang saya tolak saya tidak mau campur dengan
lulusan Tapi ini soal Rismoni sudah melibatkan semua orang. Dituduhlah saya, dituduh puan, dituduh SBI, dituduh siapa itu pengalihan aja. Jadi saya marah kenapa apalagi saya dituduh kasih 5 M. Mana saya kasih 5 M ketemu aja tidak tahu saya. Kenal pun tidak. Ini buktinya WA-nya. Tidak saya bilang jadi jangan terima bilangnya tidak tadi bilang lagi bohirnya menemu saya tidak mau saya kenapa tiba-tiba sensitif sekali saya katakan saya seniornya buat siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta saya bawa ke Jakarta di Solo untuk jadi
gubernur saya bawa Pak saya ke Ibu Mega. Ibu ini calon baik orang PDPN. Ah, jangan dari saya datang lagi. Akhirnya beliau setuju. Jadilah gubernur itu pun saya iya kasih. Sehingga waktu nah ini waktu dia menang jadi gubernur setelah keu ibu datang sama saya ucapan terima kasih. Apa kurangnya saya coba? Saya bawa ke Jakarta kasih tahu semua itu termulem itu. Jokowi jadi presiden karena sayaas kan tanpa gubernur mana bisa jadi presiden. Coba dia datang ke rumah ucapan terima kasih kepada karena setelah ke ibu mereka dulu
sebagai orang baru datang sama saya coba. Jadi jangan bilang apa Jokowi saya yang bantu Jokowi boleh tanya sama beliau kasih lihat foto ini. Itu masih pakai baju kotak-kotaknya ngerti. Jangan macam-macam itu hoos itu bahwa saya yang bantu, saya yang bawa. Memang ini 2 tahun dia gubernur. Oke, silakan. Saya tidak campur. Saya tidak pernah datang bu gubernur. Tiba-tiba jadi presiden. Saya bilanglah eh belum cukup pengalaman. Jangan nanti rusak negeri ini. Ah, tapi Ibu Bega kasih tahu saya dia tidak meket kalau saya tidak wakilnya.
Kenapa Bu saya mesti wakil? Kalau Pak JK yang paling berpengalaman,

Komentar