Sekarang saya sudah ada di dalam ruangan rapat DPR ini Komisi 3 ini. Tapi lagi sepi ya karena memang lagi enggak ada jadwal. Nah, karena enggak ada jadwal kita gangguin yuk ketua komisinya Bang Habib. Sehat. Alhamdulillah. Ini lagi enggak ada jadwal biasanya emang seminggu sepadat itu atau ada waktu-waktu kosong si? Jadi Senin sampai Kamis itu biasanya rapat komisi ya kan ya. Rapat komisi itu ada RDPU, ada raker ya, ada rapat dengar pendapat. Di hari Jumat itu kami ada namanya hari fraksi. Oh hari Jumat atau hari fraksi.
Hari fraksi. Jadi kita rapat di fraksi masing-masing seharian jam kerjanya. Kalau anggota DPR dari jam berapa? Jam berapa sih kalau jam itu? Itu jam 10.00. 10. Mulai jam .00 jam .00 itu biasanya agenda rapat tiga. Kalau saya aktivitas pagi nyampai ke sini kita rapat dengan tim sekretariat dan tenaga ahli gitu. Kenapa sih Bang waktu itu kok ke komisi 3 milih atau emang dulu ditempatin sih? Milih milih. Oh milih waktu itu ya? Milih dan ditempatin. Banyak yang milih tapi dengan parttainya enggak ditempatin. Ada juga.
Oh bisa juga gitu ya. Iya kan saya kan background-nya advokat ya kan. Advokat. ee saya ini masuk gerinder dalam posisi sebagai advokat juga. Lalu tugasnya di partai sebagai ketua bidang advokasi waktu itu. Iya semuanya linear ya. Iya hukum. Lalu sekarang wakil ketua umum bidang advokasi. Kayak dulu partai digugat atau partai menggugat. Kader-kader kami punya masalah apa dikenakan masalah hukum dan lain sebagainya. Itu tugas kami, tugas saya ya. Oke. Nah, begitu saya masuk DPR disuruh isi ini isi kayak semacam kuesioner ya kan ya.
Maunya ke komisi berapa pilih 1 2 3. Kalau saya isinya satu komisi hukum, dua komisi hukum, tiga komisi hukum tiga pilihan semuanya komisi hukum semua. Saya sempat waktu itu ada almarhum Pak Desman, “Bib, lu kalau mau bagus ke komisi 11.” Saya bilang, “Bang, daripada saya di Komisi 11 lebih baik saya enggak usah dilantik aja jadi anggota dari DPR.” L Allah segitunya ya. Karena kita ini passionnya kan di situ ya. Fion kita kan di situ. Penting ya dan apa ya begitu banyak hal yang ingin
kita lakukan di Komisi Hukum. Alhamdulillah ee pertama anggota biasa lalu wakil ketua, kemudian ee Pak Prabowo le Pak Dasko menunjuk saya jadi ketua di periode ini. Kalau ngomongin ee Bang Habib itu ini tuh banyak yang ngomong di luar sana, “Bang, abang itu katanya mirip sama satu artis.” Waduh, siapa tuh? Tom Cruz ya. Oh e siapa dikit dikit ini kelasnya internasional kelas internasional Bruno Mars. Oh ya saya bawa ini nih. Oh gitu ya. Ini topi yang yang kayaknya e katanya identik banget. Oke.
Udah benar sama dong. Kurang-kurang ngikutin Bruno Mar yang itu. Tapi okelah yang jelas artisnya artis internasional. Anak saya protes apaapa jadi artis gitu kan. Kesempatan langka bisa ngobrol sama Bruno Mars KW. Bruno Mars dari Condet. Mbah ini tempat duduknya Bang ya? Iya. Ini pimpinan itu ada berapa sih kalau komisi? Ada lima. Lima ketua. Ketua terus wakilnya empat. Empat. Menyesuaikan aja. Saya kadang-kadang kan duduk di pinggir ketika ee sedang tidak memimpin kan tergantung siapa yang mimpin.
Boleh duduk si boleh dong boleh nih palunya nih yang ini. Oh ini palunya nih ya bisa merubah anggaran, bisa merubah nasib orang ni. Oh gimana kalau kalau mimpin gimana Bang? Duduk gini mendengerin gitu ya. Ah tapi kalau kalau kalau Bang Habib itu saya tahu gini kamu keluar kamu keluar keluar enggak efektif rapat sama kamu. Enggak bisa gak bisa. Ayo pam tolong keluar foto dulu. Jati nih ini ketok palu ya? Iya keluar keluar keluar keluar gitu ya. Enggaklah itu saya cuma pertama kali begitu cuma kan akhirnya kan selesai.
He itu kan ee orang baik juga Pak Lukman namanya. Heeh. Dari Hasan Adam Putra. Kemarin yesterday saya menghadiri pelantikan musala yang menjadi masalah itu atas bantuan beliau itu Pak Lukman itu. Oh. Akhirnya musalanya bisa digunakan ya kan ee bentuknya permanen, fungsinya permanen, tempatnya bagus, asri, mewah, gitu kan di-support Pak Lukman itu. Jadi banyak yang orang enggak tahu J ya kan ini kan kayak panggung aja. Seolah-olah hanya selesai di panggung depan. Tapi di belakang orang enggak tahu bahwa relasi interpersonal kita itu
sebetulnya enggak ada masalah. Yang paling penting itu kan outputnya cari solusi buat warga. Kayak di kasus itu kan musala yang tadi enggak bisa digunakan. Alhamdulillah sejak Ramadan ya kemudian Idul Fitri sampai sekarang bisa digunakan warga. Jadi Oh kalau jati teman-teman ngelihat saya marah-marah itu bukan secara umumnya gitu kan. Itu hanya kalau diperlukan ya kan. Kalau diperlukan memang situasinya kan tugas pimpinan rapat itu adalah mengatur lalu lintas jalannya pembicaraan. Heeh. He. Itu tugas kita.
Enggak gampang kan ini ada 46 orang. Heeh. Anggota komisi tiganya. Anggota ada lagi berapa belas orang. Kita kan harus atur supaya efektif. Yang saya pengin di komisi tiga periode ini di mana saya ketua, kita benar-benar berdampak. Sekecil apapun rapat di sini harus ada solusi. Dulunya ee waktu saya awal di DPR itu saya dikatakan bahwa Pak kalau RDPU itu kan yang kalau ada pengadu-pengadu RDPU namanya. Rap dengar pendapat UNya itu umum. Umum. Oke, Pak. Kalau RDPU kita enggak bisa ada kesimpulan. Kita hanya mendengar,
menyerap lalu nanti kita diskusikan dengan mitra. Saya tanya, ya kalau enggak ada kesimpulan, ngapain orang ke sini capek-capek? dari Sumatera, dari Kalimantan gitu kan mereka kan nunggu hasil. I sejak saat itu saya katakan, “Sudahlah sekarang kalau selama yang kita urus adalah rakyat, umat, orang kecil, orang teraniaya ya kan saya bilang ya kita harus pastikan semuanya bisa. Ada kesimpulan itulah kenapa kemarin yang kasusal si Tepu itu Nabila, AB kasus Sleman, kasus ABK itu semuanya kan ada solusi ya kan ya dan akhirnya kan
alhamdulillah didengar memang kita enggak intervensi dalam konteks hukum acara pidana ya karena enggak bisa memang tapi kita tegaskan ke mitra kalian harus jalankan tugas dengan baik kalau enggak loh kami punya kewenangan bidang budget bidang penyusunan undang-undang loh he kita bukan yang ngancam Tapi ngancam gitu loh. Asal untuk kasus-kasus yang namanya kami namakan atensi keumatan. Saya batasin yang di er DPU itu jangan yang terkait dengan duit. Misalnya orang dituduh korupsi sekian ratus miliar.
Heeh. Yang dituduh juga orang kaya. Ya kan ya. Oke. Jangan yang kayak begitu. Karena walaupun dia juga orang yang dizalimi pasti ada celah ee potensi conflict of interest. Oh, oke. Tapi kalau orang-orang yang orang susah, orang yang memang sangat berharap keadilan hanya dari sini, kita harus all out. Kalau orang berduit, mohon maaf memang diperlakukan tidak adil, tapi dia bisa-bisa bayar lawyer. Jadi ee kalau dikatakan intervensi ya kita kembalikan ke rakyat. Toh intervensi enggak intervensi positif
atau negatif yang nilai rakyat nantinya. Iya. Jadi kan tapi akhirnya jadi mikirnya gini, Bang. Kalau misalkan ada beberapa kasus dan belakangan ini ee kejadiannya hampir mirip ya selalu ketika dipanggil ke sini diintervensi baru kelar gitu kan. Kayak gini J Jadi kayak saya dulu kan mahasiswa Fakultas Hukum. Saya tahu betul saya ini bukan sekedar praktisi berpraktik sebagai advokat tapi juga berpraktik sebagai tersangka. Iya kan ya sebagai tahanan politik zaman Orde Baru. Oh iya. Saya tahu sekali apa rakyat ini susah
mendapatkan keadilan. mendapatkan keadilan karena KUHP dan KUAP KUHP produk Belanda ya kan KUAP produk order baru ya itu dua produk hukum yang memungkinkan penyelenggaraan negara menjadi otorit h ya kan dengan menggunakan hukum itu dua-duanya ya berkat ee support full dari Pak Prabowo sudah kita rubah KUHP baru ya kan ya asasnya tadinya formalistik menjadi substantif keadilan substantif yang tadinya restitif hukum sebagai pembalasan dendam menjadi hukum apa namanya ee restoratif perbaikan ya kan ya
sejak saya jadi ketua itu mungkin hampir 500 aduan 500 aduan oke tetapi ya sebagian besar ya memang bisa kita selesaikan enggak terlihat kamera oh ya ya kita telepon ya kan ya kita kita surati gitu kan kita ingatkan ada ee bapak-bapak di dapil saya kebetulan Jakarta Timur dia naik ojek Jek penumpangnya jatuh dia di ee pidana itu apa namanya undang-undang lalu lintas karena lalai mengakibatkan orang lain meninggal. Heh. Dia dengan si keluarga, si penumpang yang meninggal itu sudah berdamai, tapi
kasusnya dilanjutkan, terus berjalan. Ya, kita yang begitu-begituan banyak sekali. Kita telepon ke satker-satker penegak hukumnya ya, Pak Kapores. Kalau masih muda saya panggil, “Bro, Bro, enggak bisa begitu, Bro.” Ya kan yang penting kan keadilan substantif ya kan mau pidana orang apa manfaatnya? Orang korbannya sudah memaafkan. Iya. Iya kan? kok masih mau mempidana lagi? Justru kalau dia dipidana enggak bisa bantu si korbannya. Hm. Banyak sekali. Jadi dari 500-an itu mayoritas tuh selesai. Tapi kenapa mesti
ada RDPU? Karena memang ada kasus-kasus yang urgen sekali. Sudah begitu viral ya kan ya orang teriak mendapat perlakuan tidak adil dan lain sebagainya demi mengkanalisasi agar institusi yang bersangkutan tidak yang dihakimi publik. Hm. Coba bayangkan yang kayak si ee mulai dulu ada tahanan meninggal di Polesta Palu. Heeh. Ya kan awalnya dikatakan wah itu meninggal sakit segala macam. Kita bongkar di sini bukan sakit ternyata kita tugaskan kepada Propam untuk cek ulang. Ternyata terbukti itu di aniaya
ya kan ya. Itu kan berarti kan e putusan kita didengar Robert Tanur yang yang ada ibu apa perempuan meninggal ya kan ya. Iya iya iya. Awalnya kan diis bebas kita rekomendasikan pada penegak hukum untuk cek nih iya kan di balik pondis bebas ini ada apa ternyata dicek oleh kayu dan lain sebagainya ketahuan ketemu ada masalah ditangkap semua sudah ya iya terima kasih juga berarti ya sama komisi 3 akhirnya bisa benar-benar mewakili rakyat akhirnya mencari solusi utamanya bagi masyarakat yang ada di
kelas bawa tadi yang kayaknya agak sulit untuk mendapatkan keadilan tapi akhir pertanyaan berikutnya soal intervensi tadi Bang he ini penegak hukumnya jadi kok kayak enggak belajar dari kasus-kasus yang sebelumnya gitu itu gimana dong? Itu dia yang kita masih apa namanya belum mampu juga ya. Kita mau tunjukkan ke masyarakat begitu banyak kasus yang selesai ya kan ya tanpa perlu RDPU dan ini kan tentu masih periode transisi jadi ya kan ya perilaku penaga hukum kita kan tergantung ee produk perundang-undangannya.
orang tuh belum ngeh sampai ke bawah sudah baca tapi belum ngeh gitu kan KUHP itu spiritnya apa begitu juga KUHAP banyak sekali apa namanya aturan-aturan baru yang mungkin belum paham tapi banyak juga yang sudah diterapkan ya tanpa lewat Komisi 3 di Aceh ada vonis pidana permaafan ada anak kecil karena lapar mungkin melakukan pencurian di rumah ee tetangga atau saudaranya tengah malam kalau itu menurut KUHP dan KHP lama itu kan harus dihukum 9 tahun karena pencurian dengan pemberatan di malam hari.
Tapi si korban memaafkan ya kan ya si pelaku juga berjanji tidak akan mengulangi dengan hakim divonis pidana permaafan divonis bersalah tapi tidak menjalani hukuman. Oh, dimaafkan itu sudah ada berapa belas jadi ini dengan dengan peraturan-peraturan yang baru ya dengan KUHP dan KHP yang baru kasus nenek Minah kalau kita ya kita evaluasi kan saat itu hakimnya nangis ngetok palu kenapa korbannya enggak merasa dirugikan karena memaafkan gitu kan ya tapi berdasarkan KUHP lama yang mengedepankan azas formalistik kalau sudah masuk ya
harus diproses harus terus di mengabaikan keadilan substantif gitu kan ya diproses hakimnya nangis menjatuhi hukum hukuman tidak harus jatuh hukuman menurut hakim hakim, tapi berdasarkan kepastian hukum dia harus dijati hukuman. Nah, itu dia KUHP KU baru kita ini sangat progresif. Kita sudah kasih apa namanya ruangnya ke penegak hukum kedepankan keadilan gitu loh ketika berhadapan dengan kepastian hukum. Ini banyak banget kasus viral di yang dibahas di ruangan ini. Iya. Ini kalau Pak Safarudin yang
purnawirawan yang usia-usia duduknya di sebelah sini. Yang mudah-muda ni banyak. Kenapa begitu? Kenapa? Karena di sini AC-nya tidak sedingin yang di sini. Oh, gitu ya. Di sini AC-nya karena ini gedung tua. Gedung tua. Asi yang di sini. Wah, masyaallah kayak ngucur dari atas. Ini ASI di gedung tua yang enggak bisa dibenerin. Dulu ada pengusaha yang punya perusahaan ASI Nasional itu. He. Jadi anggota DPR kebetulan di sini. Heeh. Dia bawa teknisinya dari perusahaan dia benarin ini. Enggak bisa juga. Saya dulu
kan waktu anggota di sini nih. Ini tempat saya di sini nih. Paling ini sudah ngomongnya sayap kiri. Sayap kiri, sayap kanan. Tapi enggak ada makna politiknya. Hanya sayap kiri dalam konteks menghindari AC aja. Kalau pakai batik itu dalamnya pakai long. Oh iya iya. Karena biar lebih tebal. Iya pakai long. Oh jadi sebenarnya pakai jaz itu ah itu ilmu kita sama sekali buat ngangetin. Pak Hinca panjaitan kan pakai ulos di itu sih motifnya bukan sekedar mengkampanyekan ulos. Ada modus tersendiri beliau menghindari AC gitu
kan. Dingin cuy. Bang boleh dong kita sambil jalan-jalan ada apanya aja sih kalau komisi 3 ruangannya adik-adik magang nih. Kalian ngapain kok magangnya gedung komisi 3 ngapain banyak sih kerjaan kita lumayan ee setiap ada rapat kita biasanya bikin notuland. Oke. Nah nanti notulennya itu dipakai ya kasih ke kita. Mereka juga ngomong di rapat internal juga kita kasih kesempatan ngomong waktu kuhap mereka kasih salat khusus ya kan menyampaikan aspirasi waktu kuhap ya kamu ada enggak waktu kuhap ada Pak
iya kan di situ kan ya menyampaikan semua dan saya minta mereka semua bicara gitu kan enggak gampang dapat kesempatan seperti mereka magang di sini saya enggak mau mereka sia hanya hadir lalu di sini apa namanya ee apa main handphone main iPad ya kan game Z ya soalnya biar bisa bermanfaat gitu loh dan mereka Kan mahasiswa punya idealisme, Bro. Benar. Jadi menyampaikan pendapat itu tanpa el-embel kepentingan apapun. No filter. Makanya pintar kalau kita ini ya harus jujur ya kan kadang-kadang harus menyesuaikan juga
banyak filternya ya Bang. Harus menyesuaikan juga gitu loh. Tertarik untuk jadi anggota DPR bisa doang. Tertarik jarang-jarang nih anak muda mau jadi anggota DPR jarang-jarang nih. Oh kamu harus masuk partai dulu. Tapi kan udah ketarik e udah kepikiran mau partai apa belum mau mau gabung sama Bang Habib kemungkinan partai mahasiswa dulu ya partai mahasiswa dulu ya kalau Bang Habib gimana biasanya lewat nyampa gitu ramah ya Bang Habib ya iya bedanya oh beda banget kalau lagi marah-marah kalau marah hanya dengan mitra gitu
kalau marahnya sama mitra kalau sama mereka enggak ya baikbaik oke terima kasih ya oh keren loh ternyata anak-anak muda Udah gini lumayan juga ya harus diberikan hasil pemikiran pintar-pintar bos. Jangan dianggap remeh mereka ini. Ini dapurnya kita. Siang Bapak-bapak dapurnya komisi tiga istilahnya sekretariat mereka harus siap menderita. Kalau Pak Habib Rahman apa namanya minta dokumen nanya dokumen apa mau malam mau pagi mau subuh mereka harus siap. Iya. Selamat siang dengan Pak siapa? Faisal.
Pak Faisal. Pak Faisal sudah berapa lama di sini? Komisinya 10 tahun. 10 tahun di sini. 10 tahun ya? Dari zaman Aziz Samsundin. Siap. Wah. Oh. I 10 tahun yang lalu. Nah, dari berbagai macam ketua yang sudah lalu-lalang di sini, kalau Bapak yang sebelah saya ini gimana? Pak Habib aktif. Aktif banget. Iya. Ya. Untuk apa menerima RDPU tuh sering itu. Oh, gitu. Menerima aspirasi. Oh, aktifnya itu kalau dulu-dulu mungkin enggak terlalu banyak RDPO gitu, kalau sekarang banyak. Jadi makin banyak kerjaannya dong.
I mereka rajin. Jadi lebih rajin. Jadi lebih rajin. Apa tanda-tandanya kalau Pak Habib udah mulai waduh nih mulai mulai nih kayaknya udah nyusahin nyusahin itu apa biasa yang paling nyusahin apa? Enggak ada. Enggak ada ya? Enggak berani, enggak berani kayak perang di depan. Soalnya kita emang udah jadi sport ya, sporting sistemnya dewanan gitu. Tapi enggak 24 jam juga kan, Bang? Enggak, enggak enggak ada hadir enggak 24 jam. Cuma saya tuh bisa WA jam 12.00 malam, jam .00 malam dan ini Pak apa namanya? Posesif.
Waduh setengah jam enggak dibalas. Hello. Terus kalau enggak mau mereka nih mungkin ini apa ee ronda gitu gantian sip yang memantau WAg. Kemarin terakhir soal penyiraman air keras Andi Yunus itu kalau dari Abah melihatnya seperti apa sih, Bang? Ini kananya ada yang mengatakan bahwa itu seperti ee pembungkaman kepada masyarakat agar tidak bersuara. Kalau dari Bang Habib itu yang disampaikan Pak Prabowo kan ini biadab kata Pak Prabowo bahkan kata Pak Prabowo ini adalah terorisme. Nah kalau ada orang yang melakukan penyiriman air
keras hanya berdasarkan perbedaan pendapat itu kan konyol satu enggak akan efektif yang namanya aktivis itu enggak akan mungkin efektif ditangani dengan kekerasan. Kami kan mantan aktivis. Iya itu semakin ditekan justru akan semakin apa namanya gigih melawan. Kalau dikatakan pembungkaman secara teori itu sesuatu yang sia-sia. enggak mungkin bisa membungkam ya apa namanya orang untuk bersuara gitu kan. Karena itu kita supportful ya, TNI ini sekarang sedang bekerja, sudah ditangkap, diproses ya. Kita tunggu saja peradilannya seperti
apa. Kalau peradilan itu banyak juga pro kontranya ya. Karena kan sejauh ini ada di peradilan militer tapi masyarakat banyak yang minta di peradilan sipil karena kalau peradilan militer tuh enggak bisa dipantau. Perad sipil masih lebih bisa dipantau. Kalau dari Bang Habib kita kan aturannya aja 170 KUHAP ya. Ketika yang melakukan militer maka memang diperadan militer. Tapi sejauh mana Komisi 3 akan memantau jalannya peradilan itu agar tercapai keadilan tadi? Ya, saya pikir bisa sampai terungkap itu
kan kerja kita juga ya, kerja komisi 3 ya. Kan sejak awal kan sudah bersikap tegas sejak awal kejadian langsung dalam 2 hari atau 3 hari kami menggelar rapat khusus. Kalau Anda ingat ya, intinya adalah meminta Rori waktu itu untuk mengusut siapa yang melakukan, menyuruh melakukan, memberikan perintah, ya kan? Seterang-terangnya apa motifnya. Kalau dalam waktu enggak nyampai seminggu, kalau enggak salah sudah terungkaplah ada alurnya, ada rangkaian CCTV lari ke mana, apa namanya asalnya dari mana, ada yang sampai dia kena air
keras juga. Itu kan sudah terungkap. I kita sudah all out ya kan kita tunggu saja nanti ya itu komisi bentuk komitmen komisi 3 terhadap penegakan hukum ya. Oke. Nah nanti karena memang sekarang ini adalah mitranya bukan mitra Komisi 3 TNI ya kan ya. Tapi kami secara umum tetap akan memantau prosesnya. Ada lagi ramai juga soal ee pengamat yang dibilang inflasi pengamat dan mau ditertibkan. kita enggak bisa mengeneralisir ya apa namanya kritikan itu tidak baik enggak bisa tapi enggak bisa juga mengeneralisir semua kritikan baik
ya kan kita kanak enggak ada di ruang hampa cuma memang mensikapinya kita enggak bisa dengan represi ee sejelek apapun kritik ya kita harus hadapinya dengan edukasi kepada rakyat sampaikan bahwa yang disampaikan si pengkritik yang tidak baik itu ya tidak benar orang bebas berbicara kita juga tentu bebas berbicara berbicara orang bebas mengkritik maka kita juga bebas juga boleh juga mengkritisi para pengkritik. Oh, yang itu yang saya terapkan bukan hanya di ini kemarin ya, inflasi pengkritik waktu KUHAP kita undang ya kan ya kalau
dikatakan wah ini ugal-ugalan kami sampaikan ya kan enggak transparannya di mana yang dihilangkannya di mana ini rapat seluruh rapat 100% terbuka live setelah diberlakukan setelah diterapkan publik menghargai sekali KUHP dan K baru anda lihat kan ketika RDPU semuanya diselesaikan berbasiskan KUHP dan K baru ya saya kan aktivis juga gitu ya. Bukan bukan kesel kita biasa meny apa ada mekanisme kritik autokritik. Kami biasa mengkritik tapi bisa juga kami dikritik karena kan kita di era terbuka apalagi era post truth ya
bisa juga kritikan yang tidak tepat kalau disikapi dengan tidak tepat membawa dampak yang buruk. Oke. Iya. Jangan yang dianggap bahwa ketika mereka bicara yang tidak pas, tidak tepat, tidak berdasarkan fakta, enggak bawa dampak apa-apa. bisa karena post mereka bisa membuat orang bergerak menentang. Ya kadang-kadang orang ngomong, “Pak Habib, Habiburrahman keras enggak?” Bukan keras. Saya hanya orang yang ini apa adanya. Saya senang apa dihujat, dikritik saya biasa sekali. Tapi ee saya juga punya apa namanya? Hak
untuk ee berpendapat juga kan. Nah, itu yang saya lakukan karena saya tahu apa yang kita lakukan ini bagus gitu kan ya. Ini ruangan apa ini, Bang? Nah, ini kalau ini ruang apa? Holding room sebetulnya. Holding room pimpinan. I ini ini kalau Pak Kapori, Jaksa Agung, Menteri Hukum, lain sebagainya hadir sebelum R apa sebelum RDP nunggu di sini. Nah, ini tokoh-tokoh yang pernah e jadi ketua komisi 3 itu ada Pak Teras Narang, Terasar, Pak Media. I masih jadi anggota DPR sekarang, Pak. ini ya Pak namanya rupanya Harman
Benediktus Kabur. Nah, makanya ini teman-teman yang belum tahu nama Pak Ben ini Pak Azizamsudin dua kali ya ini ya sekali diganti Paksud Pak Kaharmuzakir lalu Pak Aziz lagi sebentar lagi ini senior saya Pak Erwan Herry ini L komandant L komandante Bambang Pacul Bambang Pacul terakhir namanya ya Bambang Urianto bukan Pacul bukan bacul terakhir si peci merah terakhir peci kenapa sih peci merah ini identik banget enggak itu kultur betawi Pak ba pakai anak-anak yang pesilat-pesilat parang pintu itu kan b merah jadi jagoan-jagoan
Betawi itu pakai baju merah jawara. Iya jawara jawara. Saya tuh bawain tadi yang saya bilang saya ada surprise buat ee Bang Habib. Inilah dia. Wow. Ini ada makanan. Ini namanya seruit ya? Iya. Makanan orang Lampung ini. Makanan orang Lampung kan? Dari Lampung kan? Dari Lampung. Tapi ngomong-ngomong makan katanya seorang Bang Habib ini tidak makan nasi. Oh iya ya. Kesehatan aja. Jadi ee orang tua saya kan dua-duanya ini diabetik. Oh gitu. Oke. Saya harus jaga sejak umur 40an 45 lah ya. Saya enggak makan nasi putih gitu kan.
Enggak makan nasi. Tahu sendiri DPR pagi sudah ada kotak snack jam 10. Masuk ruangan kotak snack kedua. Rapat yang jam . Kotak snack ketiga, rapat jam yang jam . Ke bisa 4 l kali kotak. Dalam waktu 1 tahun pertama di DPR berat saya naik 11 kg. Waduh 11 kilo. Iya. Tahun kedua mungkin hampir ee 1617. Jadi saya dari pertama DPR ke tahun kedua tu berarti tahun 2021 di zaman pandemi itu 21 kg naik berat badan saya. Wow. Iya. Sekarang sudah balik normal lagi atau lagi proses? Balik normal. ee turun ee turunnya
kemarin ee 20-an kilgram naik yoyo dikitlah ya bangsa sekarang 15 kg lah dari yang gemuk itu. Ee sudah turun 15 kg. Setelah bertahun-tahun justru saya jadi bingung kalau ngelihat orang makan nasi putih apa enaknya gitu kan. Ini kan makanan mohon maaf ya enggak ada rasanya enggak ada ininya. Iya putih gitu doang ya. Iya jadi beban aja gitu kan buat ngabisin kan. Terus jadi apa nih sekarang katanya suka apa makan rebusan ya. Kalau pagi istri masak ini apa namanya? Rebusan ya. Apa aja rebusannya? Ada tales ya? Tales tuh paling bagus
katanya ya. Tales paling bagus. Ada si yang jelas enggak kentang ya? Ubi. Ubi yang ungu tuh ya. Oh lebih ke ubi. Kentang enggak ya? Oh jagung. Jagung enggak enggak enggak saya jagung. Iya jagung karena manis juga tuh Pak. Jagungnya tinggi juga buat energi protein lah. Proteinnya aman apapun ya. Ikan. Ikan lebih banyak ikan. Aduh. sebenarnya ikan. Tapi sayangnya karena Bang Habib lagi puasa kalau kita kita singkarkan aja ya daripada n Habib adalah seorang aktivis dari lama sempat ada di PRD gitu
ya kan sempat di HMI HMI itu kan dulu itu kalau bisa dibilang ee Bang Habib itu adalah sisi berseberangan dari pemerintah baru i kan kencang banget tapi sekarang akhirnya menjadi politisi yang di sisi pemerintah 2009 itu dengan Kak Nazaruddin Kimas adiknya Pak Kimas Mas diajak masuk PDI Perjuangan. Oh, awalnya PDI Perjuangan diajaknya. Iya. Di waktu Megap itu saya dari unsur meganya itu. Oh. Oh. Bukan dari Pak Prabowo awalnya. Iya. I kan ee karena saya lihat memang paling mungkin mewujudkan perubahan itu enggak
hanya dari luar tapi dari dalam juga sangat mungkin. Lalu saya lihat ee Partai Gerindra itu antrinya pendek. Kalau PI Perjuangan kan antrinya panjang gitu kan ya. Betul. Oke, oke, oke. Karena sudah settle duluan ya, partai yang pas lah kalau kita mau perjuangkan sejak awal gitu kan. Ya, tahun itulah setelah kampanye pemilu kita ee masuk ee Partai Gerindra dengan ini kalau kenal Poyono Arif Poyuono. Ah iya ya kan kita berdua banyak diskusi dengan Pak Prabowo zaman itu ya bagaimanapun kan saya PRD Pak itu dulu
dikejar-kejar Kopasus kan betul yang ngejar Pak Prabowo. Iya dan pasukannya dan ada orang-orang di sekitarnya ada gitu kan. Hmm. H yang di mawar dan lain sebagainya. Tapi saya pikir sketsa zamannya kan sudah berubah ya kan ya itu hal lain. Sekarang kita ini kan ada tantangan-tantangan baru ya. Nah saya ketemu Pak Prabowo saat itu PRD adalah satu-satunya organisasi yang paling vokal menentang namanya neoliberalisme dan satu-satunya partai elit dan elit politik yang menyampaikan penentangan terhadap neoliberalisme itu adalah
Prabowo dan Gerindra. Hmm. Itu nyambung. Dan kita banyak diskusi, oh rupanya Pak Prabowo ini cara berpikirnya kurang lebih sama dengan aktivis juga. Sekarang-sekarang ini saya googling yang di video-videonya Pak Prabowo, pidato bahkan sejak zamannya beliau Pangkostrat yang disampaikan hal-hal yang fundamental semua ee apa namanya ekonomi kerakyatan dan lain sebagainya lah. Jadi tahun-tahun itu saya sering sekali ketemu Pak Prabowo berjam-jam. Oh, datang sebelum makan siang, pulang setelah makan malam, ngomong ngobrol
soal bagaimana membangun partai. Saya sempat menyarankan agar Pak Prabowo membikin namanya party school, sekolah partai. Kalau teman-teman lihat di Hambalang kan sekarang ada kayak begitu kan. Bagaimana kita mendidik kader dan lain sebagainya itu banyak diimplementasikan. Bukan saya, bukan saya hanya saya yang usul, tapi banyak orang ya. Tapi saya mengusulkan itu saat itu kan, Pak ee kami kan di oposisi terus kan ya. Akhirnya kita apa namanya ya? Karena memang politik itu ya harusnya kita harus pegang kekuasaan. Akhirnya saya
nyalek di 2014 kalah, 2019 baru berhasil. Nah, di DPR dan saya bilang Jati tadi kan kita minta dimasukkan ke Komisi 3. Tujuannya apa? Mengubah yang pertama mengubah KUHP dan KUH baru terwujud setelah Pak Prabo jadi presiden di 2024. Dan bisa dilihat teman-teman ya kan sikap kita dengan kekuasaan itu kan tetap kritis walaupun kita dari partai penguasa tapi Pak Prabo justru ingatkan ke kita kan kamu harus tetap kritis gitu kan ya kalau ada yang enggak benar siapapun ya kamu ingatkan kalau soal yang lain Bang U perampasan
aset ini juga mungkin bukan jadi jagoannya Bang Habib tapi kan ini kalau di pikir-pikir udah lama banget nih kan kita sudah berapa kali ee RB peramp mungkin sudah ada 6 sampai del pihak yang kita dengar di LDPO. Kita terus membuka diri terakhir kemarin dari Perhimpunan Mahasiswa Hukum ya kita berikan kesempatan bahkan Undang-Undang Perampasan Aset ini angan-angan saya jauh lebih sempurna dari KUAP. Kalau KUAP itu kan kemarin ada pertentangan. Maka itu sekarang di penyusunan kita sudah partisipasi
membuat membuka partisipasi publik. Teman-teman ada di DPR namanya lembaga namanya Badan Keahlian itu PNS ya kan ya. Saya tugaskan keliling universitas. Oh iya menyerap aspirasi ya kan ya. Kami juga membuka diri se ini sebanyak-banyaknya untuk membuat draf RUU draf naskah akademik. Oke. Nah, jadi ini dari sangat-sangat beginner beginning dari paling awalnya dulu kita sudah harus sangat partisipasi. Tapi pernah enggak sih, Bang, ngerasa kayak gitu kayak aduh ini masyarakat ribet banget sih. Harusnya enggak kayak
gitu. Enggak harus harus harus realistis, Pak. Namanya undang-undang tidak mungkin ee sebuah produk DPR 100% mengakomodir 100% pendapat orang. Kadang-kadang berbedanya ekstrem. Tapi kan kita wakil rakyat, kita harus bisa benar-benar termati mana yang paling pas pada akhirnya. Jadi ya sama kayak KUHP KUHAP di bagian sini kelompok ini merasa diakomodir, kelompok yang lainnya protes, di bagian sini kelompok yang ini merasa tidak diakomodir, kelompok lainnya senang gitu kan ya. Itulah dinamikanya di sini. Tapi kalau menurut ee Habib
yang ideal kayak gimana sih, Bang? R Undang-Undang Perampasan Aset nantinya kalau misalnya sudah jadi itu kalau bayangannya Bang Habib yang jelas ee pelaku tindak pidana ya apakah korupsi, terorisme itu harus dimintai pertanggungjawaban ekonomi berupa pengembalian ee kerugian keuangan negara. Apa, Bang, hambatannya sejauh ini untuk menggolkan si RUU peran pasangan ya. Ada saya pikir enggak kalau teman kalau Jati lihat ee semua aspirasi kawan-kawan bagus semua kok. Semua fraksi ya bagus dan ee animo masyarakat hadir ke
sini banyak. Ini sekarang sudah ada mungkin 5060 lembaga 50 sampai 60 institusi. Minta didengar pendapatnya oleh kami di sini. Katanya sih ini workolik hobinya kerja. Benar ya? Enggak juga gini. kami ini kan outsourcing. Jadi maksudnya yang DPR ini kan outsourcing 5 tahun sekali ya kan. Jadi kalau kita enggak maksimalkan waktu kerja kita di sini sayang sekali gitu loh ya kan susah payah kita jadi anggota DPR. Saya pengin ya selama kita dipercaya rakyat ya kita maksimalkan gitu loh. Semoga selalu sehat Bang.
Terima kasih. Karena kita sebagai rakyat pasti berharap para wakil rakyat yang ada di sini gunung DPR ini bisa benar-benar mewakili dan bisa menyuarakan apa yang menjadi keinginan masyarakat secara luas. Terima kasih Pak Habib. Itulah tadi perbincangan bersama Habiburrahman, Ketua Komisi 3 DPR RI. Sampai di sini point of view. Sampai jumpa. Salam STV.

Komentar